• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompetensi Absolut

Dalam dokumen ISLAM KeluargA (Halaman 128-142)

KEKUASAAN PERADILAN AGAMA

2. Kompetensi Absolut

Yang dimaksud dengan “Kompetensi Absolut atau wewenang mutlak yaitu kekuasaan/wewenang pengadilan untuk mengadili berdasarkan materi hukum (hukum material)”.8 Atau dengan kata lain: “Wewenang pengadilan memeriksa jenis perkara tertentu yang secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh pengadilan lain, baik dalam lingkungan peradilan yang sama maupun peradilan lain.”9 Misalnya: Kewenangan absolut Peradilan Agama hanya memproses (menerima, memeriksa dan memutuskan) perkara- perkara yang berkaitan dengan perdata Islam seperti perkawinan, kewarisan, zakat, wakaf, wasiat, hibah, dan lain-lain, maka perkara ini menjadi kewenangan absolut Peradilan Agama. Sedangkan orang-orang non muslim harus mengajukan perkara-perkara mereka ke Pengadilan Negeri untuk diproses dan diselesaikan.

Namun apabila ada pihak yang berperkara tidak mau menerima putusan Pengadilan Agama tersebut, maka dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama.10 Contoh lain adalah Pengadilan Agama berwenang menyelesaikan masalah waris,

8 Departemen Agama, Beracara pada Peradilan Agama, Jakarta: Ditjen Binbaga Islam Direktorat BPA, 1980/1981, hlm. 2

9 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata di Indonesia, Yogyakarta:

Liberty, 1993, hlm. 2. Bandingkan dengan : R. Soeroso. Praktik Hukum Acara Perdata: Tatacara dan Proses Persidangan, Jakarta: Sinar Grafika, 1994, hlm. 6

10 M. Fauzan, Pokok Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syariah di Indonesia (Cet. Ke-1; Jakarta: Kencana, 2007), h. 33.

wakaf, wasiat, dan sedekah umat Islam, sedang bagi non muslim merupakan wewenang Pengadilan Negeri.

Sesuatu yang telah ditetapkan secara mutlak menjadi kewenangan badan peradilan, maka otomatis menjadi kewenangannya untuk memeriksa dan memutus perkara.

Pengadilan Agama harus bertanggung jawab menyeleksi perkara yang diajukan kepadanya apakah benar-benar kekuasaan absolutnya atau bukan. Kalau tidak termasuk kekuasaan absolutnya, maka Hakim karena jabatannya (ex officio) wajib menyatakan dirinya tidak berwenang, sebagaimana dinyatakan pada pasal 134 HIR/169 RBG. Jika ternyata hakim menerimanya karena kurang hati-hati, maka pihak tergugat dapat mengajukan keberatan lazim disebut dengan “eksepsi absolut”.

Kekuasaan Absolut Peradilan Agama jelas diatur dalam Pasal 49 dan 50 UU No. 7 Tahun 1989 yang telah dirubah dengan UU No 3 Tahun 2006:

Pasal 49:

(1) Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:

(a) perkawinan;

(b) kewarisan, wasiat, dan hibah, yang dilakukan berdasarkan hukum Islam;

(c) wakaf dan shadaqah.

(2) Bidang perkawinan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a ialah hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan Undang-Undang mengenai perkawinan yang berlaku.

(3) Bidang kewarisan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf b ialah penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut.”

a) Perkawinan

113

Ali Hamzah – Analisis Terhadap UU No. 7 ...

“Yang dimaksud dengan perkawinan pada pasal 49 huruf a UU No. 3 Tahun 2006 adalah hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan Undang-Undang mengenai perkawinan yang berlaku (UU No 1 tahun 1974) yang dilakukan menurut syari’ah, antara lain adalah: (1) Izin beristeri lebih dari satu orang (poligami); (2). Izin melangsungkan perkawinan (izin perkawinan) bagi yang belum berumur 21 tahun, dalam hal orang tua atau wali terdapat perbedaan pendapat; (3) Dispensasi kawin, (4). Pencegahan perkawinan; (5). Penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah; (6). Pembatalan perkawinan;

(7). Gugatan kelalaian atas kewajiban suami dan isteri; (8). Perceraian karena talak; (9). Gugatan perceraian; (10). Penyelesaian harta bersama; (11).

Penguasaan anak-anak; (12). Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak bilamana bapak yang seharusnya bertanggung jawab tidak memenuhinya; (13). Penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami kepada bekas isteri atau penentuan kewajiban bagi bekas isteri; (14).

Putusan tentang sah atau tidaknya seorang anak;

(15). Putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua; (16). Pencabutan tentang kekuasaan wali; (17).

Penunjukan orang lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal kekuasaan seorang wali dicabut; (18).

Penunjukan seorang wali dalam hal seorang anak yang belum cukup umur 18 (delapan belas) tahun yang ditinggal kedua orang tuanya; (19). Pembebanan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang ada di bawah kekuasaannya; (20). Penetapan asal usul seorang anak dan penetapan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam; (21). Putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan perkawinan campuran; (22). Peryataan tentang

sahnya perkawinan yang terjadi sebelum UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan dijalankan menurut peraturan yang lain.”11

b) Waris

“Yang dimaksud dengan waris adalah penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut, serta penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan bagian masing- masing ahli waris.”

c) Wasiat

“Yang dimaksud dengan wasiat adalah perbuatan seseorang memberikan suatu benda atau manfaat kepada orang lain atau lembaga/badan hukum, yang berlaku setelah yang memberi wasiat tersebut meninggal dunia.”

d) Hibah

“Yang dimaksud dengan hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang atau badan hukum kepada orang lain atau badan hukum untuk dimiliki.”

e) Wakaf

“Yang dimaksud dengan wakaf adalah perbuatan seseorang atau sekelompok orang (wakif) untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan

11 Undang-Undang Republik Indonesia No. 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, op.cit., hlm. 72-73. Bandingkan dengan: Mardani, Hukum Islam Kumpulan Peraturan tantang Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013, Cet. ke 1, hlm. 220-223

115

Ali Hamzah – Analisis Terhadap UU No. 7 ...

kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.”

f) Zakat

“Yang dimaksud dengan zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan hukum yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan syariah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.”

g) Infaq

“Yang dimaksud dengan infaq adalah perbuatan seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain guna menutupi kebutuhan, baik berupa makanan, minuman, mendermakan, memberikan rezeki (karunia), atau menafkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa ikhlas, dan karena Allah Subhanahu Wata’ala.”

h) Shadaqah

“Yang dimaksud dengan shadaqah adalah perbuatan;

seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain atau lembaga/badan hukum secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu dengan mengharap rido Allah Subhanahu Wata’ala dan pahala semata.”

i) Ekonomi Syari’ah

“Yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang laksanakan menurut prinsip syariah, antara lain meliputi: bank syari’ah; lembaga keuangan mikro syari’ah; asuransi syari’ah; reasuransi syari’ah; reksa dana syari’ah;

obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syari’ah; sekuritas syari’ah; pembiayaan

syari’ah; pegadaian syari’ah; dana pensiun lembaga keuangan syari’ah; bisnis syari’ah”12

Dengan demikian penambahan kompetensi absolut Peradilan Agama, terdapat pada perkara infaq, zakat dan ekonomi syari’ah.

Rincian perkara dalam bidang perkawinan sama halnya dengan rincian yang terdapat dalam penjelasan Pasal 49 UU No. 7 tahun 1989 yaitu 22 perkara. Sedangkan wali adhol (perkara no. 32) dalam Blanko LI-PA (B.2) Peradilan Agama, tidak ada. Jadi, suatu perkara dapat dikategorikan perkara ekonomi syariah, bila berpijak pada prinsip-prinsip hukum syariah.

Untuk memperlancar perkara ekonomi syari’ah bagi Hakim, maka dikeluarkanlah Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah:

Pasal 1 PERMA tersebut menyatakan bahwa:

1. Hakim pengadilan dalam lingkungan peradilan agama yang memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan ekonomi syariah, mempergunakan sebagai pedoman prinsip syariah dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah.

2. Mempergunakan sebagai pedoman prinsip syariah dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah sebagaimana dimaksud ayat (1), tidak mengurangi tanggung jawab hakim untuk menggali dan menemukan hukum untuk menjamin putusan yang adil dan benar.”13

Perubahan mendasar mengenai kekuasaan Peradilan Agama setelah Undang-Undang No 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama diamandemen dua kali oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, sebagai berikut:

12 Ibid, hlm. 73-75. Bandingkan dengan: Linda Firdawaty, Analisis Terhadap UU no 3 Tahun 2006 dan UU no. 50 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Peradilan Agama, Jurnal AL-‘ADALAH Vol. X, No. 2 Juli 2011, hlm. 216-217

13 Pasal 1 PERMA Nomor 2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah

117

Ali Hamzah – Analisis Terhadap UU No. 7 ...

1. Pengadilan Khusus

“Pasal 3A Undang-Undang No 3 Tahun 2006 mengatur bahwa di lingkungan Peradilan Agama dapat diadakan pengkhususan pengadilan yang diatur dengan Undang- Undang. Yang dimaksud dengan “diadakan pengkhususan pengadilan” adalah adanya spesialiasi di lingkungan peradilan agama dimana dapat dibentuk pengadilan khusus, misalnya pengadilan arbitrase syariah, sedangkan yang dimaksud dengan “yang diatur dengan undang-undang” adalah susunan, kekuasaan, dan hukum acaranya.”

Pengadilan khusus dalam lingkungan Peradilan Agama adalah pengadilan syariah Islam yang diatur dengan Undang-Undang.

Mahkamah Syar’iyah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 15 ayat (2) disebutkan bahwa: Peradilan Syari’ah Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan agama sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan agama, dan merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan Peradilan Umum.14

Kekuasaan Peradilan Agama lebih luas penerapannya setelah diberlakukannya peradilan khusus di Nangroe Aceh Darussalam yang telah menerapkan hukum pidana, walau sebatas perkara hudud dan ta’zir.

2. Pembinaan Teknis Peradilan

Perubahan yang sangat mendasar selain mengenai kekuasaan Peradilan Agama antara lain menyangkut pembinaan teknis

14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman

peradilan. Pasal 5 UU No 3 Tahun 2006 menyatakan bahwa

“Pembinaan teknis peradilan, organisasi, administrasi dan finansial pengadilan dilakukan oleh Mahkamah Agung.”

Peradilan Agama salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman di Indonesia yang berada di bawah Mahkamah Agung secara struktur organisasi, administrasi dan finansial tunduk ke Mahkamah Agung. Dapat dipahami bahwa perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama telah meletakkan dasar kebijakan bahwa segala urusan mengenai Peradilan Agama, pengawasan tertinggi baik menyangkut teknis yudisial maupun non yudisial yaitu urusan organisasi, administrasi, dan finansial berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung.

3. Kewenangan Mengadili Sengketa Ekonomi Syariah

“Pasal 49 UU No 3 Tahun 2006 mengatur bahwa jenis perkara yang menjadi kewenangan Peradilan Agama bertambah luas, dengan kewenangan mengadili sengketa ekonomi syariah.” Juga ditegaskan kembali dalam Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang menyatakan apabila terjadi sengketa di bidang perbankan syariah, maka peyelesaian sengketa diajukan ke Pengadilan Agama. Dalam hal ini Pengadilan agama mempunyai hak dan wewenang untuk menerima, mengadili, dan menyelesaikannya.15

Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI Drs. H. Purwosusilo, S.H., M.H ketika diwawancarai tanggal 21 Desember 2013 tidak menerima pendapat yang menyatakan bahwa peradilan agama tidak siap menangani sengketa ekonomi syariah. “Itu hanya asumsi tanpa bukti,”

katanya.16 Menurut penjelasan pasal 49 UU 3/2006, maksud

15 Muh. Nasikhin, Perbankan Syariah Dan Sistem Penyelesaian Sengketanya, (Kuala Tunggal: Fatawa, 2010), hlm. 141

16 Rahmat Arijaya dan Hermansyah, Mahklamah Agung Republik Indonesia, Jakarta: Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, 2013, hlm 1

119

Ali Hamzah – Analisis Terhadap UU No. 7 ...

kalimat «antara orang-orang yang beragama Islam” dalam pasal 49 adalah termasuk orang atau badan hukum yang dengan sendirinya menundukkan diri dengan sukarela kepada hukum Islam tentang hal-hal yang menjadi kewenangan Peradilan Agama.

4. Kewenangan Mengadili Tidak Meliputi Sengketa Hak Milik Atau Sengketa Lain Antar Orang Islam dengan Non Islam (Pasal 50 UU No 3 Tahun 2006)

Apabila terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara yang menjadi kewenangan Peradilan Agama cara penyelesaiannya adalah:

a) “Apabila objek sengketa terdapat sengketa hak milik atau sengketa lain antara orang Islam dengan selain orang Islam maka menjadi kewenangan Peradilan Umum untuk memutuskan perkara tersebut. Proses pemeriksaan perkara di Peradilan Agama terhadap objek sengketa yang masih terdapat sengketa milik atau sengketa lain antara orang Islam dan selain orang Islam ditunda terlebih dahulu sebelum mendapatkan putusan dari Peradilan Umum.” Sebagaimana diatur dalam pasal 50 (1) Undang- Undang No.3 Tahun 2006: “Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49, khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum”

b) “Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud ayat (1) yang subjek hukumnya antara orang- orang yang beragama Islam, objek sengketa tersebut diputus oleh pengadilan agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49.” 17

5. Pilihan Hukum/Hak Opsi Dihapuskan

17 Pasal 50 (1) Undang-Undang No 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-Undang No 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Yang dimaksud dengan hak opsi adalah pilihan hukum bagi para pihak yang bersengketa khusus dalam perkara warisan untuk menempuh penyelesaian melalui jalur Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) atau Hukum Adat atau hukum Islam.

Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama menyatakan: “Para Pihak sebelum berperkara dapat mempertimbangkan untuk memilih hukum apa yang dipergunakan dalam pembagian kewarisan”.

Sedangkan dalam Undang-Undang No 3 Tahun 2006 rumusan tersebut dihapus. Bagi umat Islam tidak ada pilihan lain, jika ingin mengajukan permohonan penyelesaian perkara waris ke pengadilan, maka harus diajukan ke Pengadilan Agama, tidak dapat diajukan ke Pengadilan Negeri.

6. Memberikan Itsbat Kesaksian Rukyat Hilal, Penentuan Arah Kiblat dan Waktu Salat

Salah satu perubahan terdapat pada “pasal 52 A Undang- Undang No 3 Tahun 2006 bahwa Pengadilan Agama memberikan itsbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan tahun hijriyah”. Penjelasan pasal 52 A adalah sebagai berikut:

“Pengadilan Agama diminta oleh Menteri Agama untuk memberikan penetapan (itsbat) terhadap kesaksian orang yang telah melihat atau menyaksikan hilal pada setiap memasuki bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal tahun Hijriyah dalam rangka Menteri Agama mengeluarkan penetapan secara Nasional untuk penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Peradilan Agama dapat memberikan keterangan atau nasehat mengenai perbedaan penentuan arah kiblat dan penentuan waktu shalat.”18

“Undang-Undang Peradilan Agama baru No. 50/2009 memuat perubahan baru, yaitu:

18 Penjelasan Pasal 52 A Undang-Undang No 3 Tahun 2006 Perubahan Undang-Undang No 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

121

Ali Hamzah – Analisis Terhadap UU No. 7 ...

“Pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Agama, Hakim Adhoc di Peradilan Agama, Pengawasan Internal oleh MA dan eksternal oleh Komisi Yudisial, Putusan bisa dijadikan dasar mutasi, Seleksi pengangkatan hakim dilakukan oleh MA dan Komisi Yudisial, Pemberhentian hakim atas usulan MA dan atau Komisi Yudisial via KMA, Tunjangan hakim sebagai pejabat Negara, Usia pensiun hakim 65 bagi PA dan 67 bagi PTA. Panitera/PP, 60 PA dan 62 PTA, Pos Bantuan Hukum di setiap Pengadilan Agama, Jaminan akses masyarakat akan informasi pengadilan, dan ancaman pemberhentian tidak hormat bagi penarik pungli.”

7. Pengawasan Internal dan Eksternal

Pasal 12 UU No. 50 Tahun 2009, dijelaskan bahwa:

(1) “Pengawasan internal atas tingkah laku hakim dilakukan oleh Mahkamah Agung. Pengawasan internal atas tingkah laku hakim masih diperlukan meskipun sudah ada pengawasan eksternal yang dilakukan oleh Komisi Yudisial.”

(2) “Selain pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim, pengawasan eksternal atas perilaku hakim dilakukan oleh Komisi Yudisial.”

Pengawasan terhadap hakim dilakukan secara ketat dan komprehensif yaitu pengawasan internal dan eksternal. Di samping Mahkamah Agung telah melakukan pengawasan internal terhadap perilaku hakim, namun masih perlu pengawasan eksternal yang dilakukan oleh Komisi Yudisial.

Pengawasan yang komprehensif ini diharapkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim betul-betul dapat terjaga.

Dari poin-poin perubahan yang dijelaskan di atas, kedudukan Peradilan Agama sekarang ini, semakin kuat kedudukannya dalam bidang pengembangan Peradilan Agama di Nanggroe

Aceh Darussalam, juga pengembangan struktur seperti yang dapat kita saksikan pada Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama.19 Dengan adanya penambahan kompetensi ini mengharuskan Pengadilan Agama melaksanakan perkara- perkara yang diajukan oleh masyarakat dapat diproses secara baik dan profesional.

Penutup

Lahirnya UU Nomor 7 Tahun 1989 merupakan tonggak kebangkitan keberadaan Peradilan Agama di Indonesia dan mencapai titik kulminasinya setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman kemudian diubah oleh UU no. 48 tahun 2009 yang menyatakan bahwa semua lingkungan peradilan, termasuk Peradilan Agama, pembinaan organisasi, administrasi dan finansialnya dialihkan dari pemerintah kepada Mahkamah Agung. Eksistensi Peradilan Agama mengalami perubahan di berbagai bidang, antara lain kewenangannya bertambah, tidak hanya menangani persoalan hukum keluarga, tapi juga hukum ekonomi syari’ah sebagaimana yang diatur dalam pasal 49 UU Nomor 3 Tahun 2006 yang diubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009. Namun untuk hukum materiilnya tidak mengalami perubahan yang signifikan. Oleh karena itu, eksistensi Peradilan Agama semakin kokoh dalam sistem hukum nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Daftar Pustaka

Abdillah, Masykuri, 1999, Respon Intelektual Muslim Indonesia Terhadap Konsep Demokrasi, Yogyakarta: Tiara Wacana

Arijaya, Rahmat dan Hermansyah, 2013, Mahklamah Agung Republik Indonesia, Jakarta: Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama

19 Jaenal Aripin, Op. Cit.,, hlm. 313.

123

Ali Hamzah – Analisis Terhadap UU No. 7 ...

Aripin, Jaenal, 2008, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di Indonesia, Jakarta, Kencana

Azhary, Muhammmad Tahir, 2003, Negara Hukum, Jakarta:

Prenada Media

Darmawati, 2010, Kewenangan Peradilan Agama, Jambi: Sulthan Thaha Press

Departemen Agama, 1980/1981, Beracara pada Peradilan Agama, Jakarta: Ditjen Binbaga Islam Direktorat BPA

Fajar, A. Malik, 2001, ”Potret Hukum Pidana Islam: Deskripsi, Analisis Perbandingan dan Kritik Konstruktif”, dalam M.

Arskal Salim GP dan Jaenal Aripin, ed., Pidana Islam di Indonesia: Peluang, Prospek dan Tantangan, Jakarta: Pustaka Firdaus

Firdawaty, Linda, 2011, Analisis Terhadap UU no 3 Tahun 2006 dan UU no. 50 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Peradilan Agama, Jurnal AL-‘ADALAH Vol. X, No. 2 Juli

Mardani, 2013, Hukum Islam Kumpulan Peraturan tantang Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. ke 1

---, 2013, Hukum Islam Kumpulan Peraturan tantang Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. ke 1

M. Fauzan, 2007, Pokok Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syariah di Indonesia, Cet. Ke-1; Jakarta:

Kencana

Mertokusumo, Sudikno, 1993, Hukum Acara Perdata di Indonesia, Yogyakarta: Liberty

Nasikhin, Muh., 2010, Perbankan Syariah Dan Sistem Penyelesaian Sengketanya, Kuala Tunggal: Fatawa

Rasyid, Roihan A., 1992, Huku Acara Peradilan Agama, Jakarta:

Raja Grafindo Persada

Soeroso, R, 1994, Praktik Hukum Acara Perdata: Tatacara dan Proses Persidangan, Jakarta: Sinar Grafika

Ubaydillah, A., 2008, Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education), Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah

Undang-Undang Republik Indonesia No. 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama dan Penjelasaanya, 2010, Jakarta:

Novindo Pustaka Mandiri

Undang-Undang No 3 Tahun 2006 Perubahan Undang-Undang No 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama dan dan Penjelasannya

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.

125

Erie Hariyanto – Dinamika Penanganan Perkara Hukum Keluarga ...

DINAMIKA PENANGANAN PERKARA

Dalam dokumen ISLAM KeluargA (Halaman 128-142)