• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompetensi sosial kultural

Dalam dokumen MANUSIA KABUPATEN BANTAENG (Halaman 69-76)

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

3. Kompetensi sosial kultural

Sosial kultural merupakan soft competence karena berasal dari individu.Sosial Kultural juga merupakan pondasi untuk menopang manajerial dan teknis. Jika tidak, maka semua kompetensi strategi ASN akan gagal.

Sosial kultural meliputi semua integritas dan manajemen diri, keteladanan dan kepeloporan, membangun budaya organisasi serta membangun karakter dan Nasionalisme pelayanan publik.

Berikut wawancara dengan Kepala Bidang Pengembangan SDM Bapak Muhammad Arief, S.Sos :

“Kemampuan ASN dalam melakukan komunikasi dalam berinteraksi dalam BKPSDM memang merupakan hal yang sangat penting dalam menjalankan sesuatu yang ingin dicapai dalam suatu instansi.Interaksi yang baik yang dilakukan oleh ASN diharapkan mampu memberikan kenyaman kepada masyarakat.”(Hasil wawancara MA. Selasa, 25 Juni 2019)

Berdasarkan hasil wawancara diatas maka setiap ASN dituntut untuk memiliki kemampuan untuk berinteraksi kepada msyarakat dengan baik, agar memberikan rasa kenyamana kepada masyarakat.Sebab sebagai berokrat Negara ASN dituntut memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat.

Kompetensi sosial kultural antara lain : kemampuan melaksanakan komunikasi yang dibutuhkan oleh organisasi dalam pelaksanaan tugas pokoknya.

Kompetensi sosial dapat terlihat di lingkungan internal seperti memotivasi Sumber Daya Manusia (SDM) dan atau peran serta ASN guna meningkatkan produktivitas kerja, atau yang berkaitan dengan lingkungan eksternal seperti melaksanakan pola kemitraan, kolaborasi dan pengembangan jaringan kerja dengan berbagai lembaga dalam rangka meningkatkan citra dan kinerja organisasi, termasuk bagaimana menunjukan kepekaan terhadap hak asasi manusia nilai-nilai sosial budaya dan sikap tanggap terhadap aspirasi dan dinamika masyarakat.

Berikut wawancara dengan Kepala BKPSDM Kabupaten Bantaeng Bapak DRS. Asri Sahrun Said :

“Kalau untuk social kultural kami memang disini selalu menanamkan jiwa nasionalisme kepada ASN disini, dengan melaksanakan upacara setiap hari senin. Serta kami juga selalu mengadakan lomba-lomba agustusan disini, dan kami memang mewajibkan semuan ASN untuk berpartisipasi”(Hasil wawancara ASS. Kamis, 27 Juni 2019)

Berdasarkan hasil wawancara diatas maka sudah diketahui bahwa pada kantor BKPSDM Kabupaten Bantaeng tidak hanya menekankan kepada ASN nya untuk memiliki pengetahuan serta keterampilan, tetapi juga ASN ditekankan untuk memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.

Nilai Nasionalisme merupakan point yang sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN.Hal ini untuk menguatkan posisi menuju Indonesia emas 2045 dalam perspektif baru untuk menjaga integrasi negara.

Saat ini orang melihat Indonesia memiliki beragam budaya, suku, ras, agama, kekayaan alam yang berlimpah, namun sebagai ASN kita harus merubah cara pandang kegelapan menjadi cara pandang cerah bersahaja. Diharapkan dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap pegawai ASN memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa, dan negara.Nilai-nilai yang berorientasi pada kepentingan publik menjadi nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap pegawai ASN.

Fungsi ASN sebagai perekat dan pemersatu bangsa dan negara merupakan titik tengah nilai dasar nasionalisme yang berarti bahwa setiap pegawai ASN

harus memiliki jiwa nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang kuat, memiliki kesadaran sebagai penjaga kedaulatan negara.

Dengan konsep Nasionalisme maka akan terbentuk ASN yang berkarakter melalui penanaman nilai-nilai pancasila dalam diri ASN serta mampu memahami dan memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara dalam mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam melaksanakan tugasnya.

Didalam pancasila mulai dari sila 1 -- 5 semua menjadi dasar pengingat bahwa ASN sebagai pelaksana kebijakan, sebagai pelayan publik serta sebagai perekat dan pemersatu bangsa.Hal ini perlu dilakukan dan disadari karena harus merubah mindset bahwa ASN BUKAN dilayani melainkan Melayani sesuai dengan amanat UUD 1945 dan nilai-nilai pancasila.

Kompetensi Sosial Kultural yang diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan.Ada 2 (dua) unit kompetensi sosial kultural yang harus dimiliki oleh ASN, yaitu (1) wawasan kebangsaan dan (2) mengelola keberagaman.

Berikut wawancara dengan Bidang Pendidikan dan Pelatihan pada BKPSDM Kabupaten Bantaeng Bapak Andi Nilam, S.Sos :

“Sebagai ASN kita harus sadar bahwa kita ini adalah orang yang memberikan layanan kepada masyarakat, maka kita juga harus memiliki etika yang baik dalam pemberian layanan kepada masyarakat.Agar masyarakat juga merasa nyaman dengan setiap pelayanan yang kita berikan, karena sebagai ASN kita dituntut untuk memiliki kemampuan dalam bersikap, serta ketepatan.”(Hasil wawancara AN. Selasa, 25 Juni 2019)

Berdasarkan hasil wawancara diatas maka tidak hanya mengetahui bagaimana cara dalam memberikan layanan kepada masyarakat, tetapi setiap ASN juga diharapkan memiliki etika yang baik dalam pemerian layanan kepada masyarakat.

Hal ini sangat jelas adanya karena dalam memberian layanan kepada masyarakat juga ASN dituntut menerapkan 3S yaitu senyum, sapah dan salam.

Maka masyarakat selalu merasakan kenyaman ketika mendapatkan pelayanan dari ASN itu sendiri.

Etika dapat dipahami sebagai sistem penilaian perilaku serta keyakinan untuk menentukan perbuatan yang pantas guna menjamin adanya perlindungan hak-hak individu, mencakup cara-cara pengambilan keputusan untuk membantu membedakan hal-hal yang baik dan buruk serta mengarahkan apa yang seharusnya dilakukan sesuai nila-nilai yang dianut. Sehingga pola etika kepada publik khususnya diperlukan untuk memperbaiki citra ASN di masyarakat.

Hal ini terjadi karena ASN yang saat ini ada, hampir memiliki etika yang kurang baik dan perlu mendapatkan perhatian.Konsep etika sering disamakan dengan moral.Padahal ada perbedaan antara keduanya.Etika lebih dipahami sebagai refleksi yang baik atau benar. Sedangkan moral mengacu pada kewajiban untuk melakukan yang baik atau apa yang seharusnya dilakukan. Etika juga dipandang sebagai karakter atau etos individu/kelompok berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma luhur.

Bila ASN ingin menjadi ujung tombak perbaikan negeri ini hal-hal yang dapat dijadikan acuan yaitu bahwa perkembangan sebuah negara miskin atau kaya tidak dilihat dari umur negara melainkan pada sikap atau etika terkhusus etika pada publik dalam segala hal yang berkaitan dengan masyarakat.

Nilai-nilai etika publik saat ini yang harus terus dipegang yaitu jujur, bertanggung jawab, integritas tinggi, cermat, disipilin, hormat, sopan, taat pada peraturan perundang-undangan, taat perintah, menjaga rahasia.Selain itu juga terdapat 3 (tiga) dimensi dalam etika publik yaitu dimensi kualitas pelayanan, dimensi modalitas (transparansi, akuntabilitas, netral), dimensi tindakan integritas publik (sempit + luas).Etika publik terbagi dalam tingkatan sumber legitimasi kekuasaan yaitu legitimasi religius (pada sistem monarki), legitimasi sosiologis (secara sukarela), legitimasi etis (basis paling kuat).

Yang tentu saja dalam prosesnya memiliki nilai etika yang berbeda satu sama lain. Sebagai ASN, dalam menjalankan tugas kita sehari-hari harus mampu menjunjung tinggi nilai nilai etika publik dengan memegang kode etikASN, Nilai dasar ASN, Sumpah ASN dan Sumpah Jabatan. Adapun indikator etika publik antara lain memahami kode etik dan perilaku pejabat publik, memahami bentuk- bentuk kode etik dan implikasinya serta mampu menganalisis dan menilai apa yang dikerjakan dengan nilai nilai dasar etika publik.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan sehubungan dengan permasalahan penelitian yang diajukan sebagai berikut :

1. Kompetensi teknik yang merupakan kemampuan kerja ASN yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan juga sikap kerja yang mutlak di miliki oleh ASN sendiri belum dapat dikatakan berjalan dengan baik. Karena ASN yang ada pada BKPSDM Kabupaten Banteng masih banyak yang tidak mengerti dalam penggunaan dan perkembangan ilmu teknologi dan informasi sehingga menyebabkan ada beberapa program kerja yang seharusnya dilaksanakan atau dilakukan menjadi terhalang, disebabkan oleh masih banyaknya ASN yang kurang mengetahui penggunaan perkembangan ilmu teknologi dan informasi saat ini.

2. Kompotensi manajerial pada BKPSDM Kabupaten Bantaeng tidak hanya mengejarkan kepada ASN bagaimana manajemen yang baik dalam melaksanakan tugas masing-masing, tetapi juga mengarahkan ASN untuk memiliki pengetahuan tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada ASN. Serta menekankan kepada ASN tentang manajemen waktu yang baik, sehingga dalam pemberian layanan kepada masyarakat juga dapat berjalan dengan baik dan memberikan rasa nyaman kepada masyarakat.

3. Kompetensi sosial kultural pada BKPSDM menekankan pada ASN untuk memiliki komunikasi yang baik kepada anggota maupun masyarakat dalam memberikan pelayanan. Tidak hanya itu tetapi ASN pada BKPSDM Kabupaten Bantaeng juga dituntut untuk memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi salah satu cara yaitu dengan mewajibkan setiap ASN untuk mengikuti upacara bendera dan ASN juga harus memiliki etika agar dalam melayani masyarakat yang mana mereka tahu bahwa mereka adalah birokrat Negara yang dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat dan memberikan perasaan yang nyaman kepada masyarakat. Pemberian pelayanan kepada masyarakat dengan baik merupakan pencapaian yang harus dilakukan oleh ASN.

B. Saran

Dari hasil penelitian dan kesimpulan yang ada, dengan melihat prospek kedepan, maka penulis dapat mengemukakan beberapa hal yang kemudian dijadikan sebagai saran, yaitu sebagai berikut:

1. Kemampuan ASN dalam bidang kompotensi teknik diharapkan selalu bisa mengikuti perkembangan dalam bidang teknolgi karena untuk menjalankan beberapa program kerja yang harus dicapai dalam BKPSDM juga harus memiliki pengetahuan dalam bidang tersebut.

2. Sebagai Aparatur Sipil Negara yang langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat selalu diharapkan mampu memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat, yang dimana masyarakat selalu mengharapkan adanya

pelayanan yang tidak berbelit-belit dan terkesan mempersulit yang berikan oleh ASN kepada masyarakat.

3. Memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat merupakan tujuan dari ASN sebagai badi Negara, ASN juga diharapkan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, komunikasi yang baik serta etika yang baik. Sebab ASN adalah abdi Negara yang bersentuhan langsung dengan masyarakat yang diharapkan selalu bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Badjuri, Abdul Kahar, dan Yuwono, Teguh, 2002, Kebijakan Publik Konsep 7 Strategi, Semarang, Universitas Diponegoro.

Burhan, Bungi. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surabaya: Rajagrafindo.

Hasibuan, Melayu S.P., 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.

https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/amwaluna/article/view/3815

https://media.neliti.com/media/publications/1330-ID-kompetensi-sumber-daya-manusia- sdm-dalam-meningkatkan-kinerja-tenaga-kependidika.pdf

https://www.seputarpengetahuan.co.id/2017/06/15-pengertian-kompetensi-menurut-para- ahli-jenis-manfaat-lengkap.html

Mangkunegara, Anwar, Prabu. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Moeheriono. (2009). Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi: Competency Based Human Resource Management. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Palan, R. 2007. Competency Management. Jakarta: Penerbit PPM.

Peraturan Bupati Bantaeng Nomor 11 Tahun 2007 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah Kabupaten Bantaeng Pasal 1 Tentang Susunan Organisasi

Peraturan Dirjan Pajak Nomor 31/PJ/2009 tentang Penegrtian Pegawai

Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara No.13 Tahun 2011 tentang Standar Kompetensi Jabatan

Sedarmayanti. 2016. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi. Bandung: PT Refika Aditama.

Sudiman. 1998. Bahan Diklat Prajabatan Golongan III: Kepegawaian. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara – Republik Indonesia.

Sulistiyani, A., dkk., 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia, Graha Ilmu: Yogyakarta.

Tim Dosen Mata Kuliah MSDM. 2009. Buku Ajar Manajemen Sumber Daya Manusia.

Surabaya: Universitas Wijaya Putra.

Ulfiarahmi. 2011. Teknik pengumpulan data. http://www.google.co.id. Diakses pada tanggal 06 November 2018.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) Wibowo (2012).Manajemen Kinerja. Jakarta: raja Grafindo Persada.

61

Lampiran 1. Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Kabupaten Bantaeng

Lampiran 2. Bpk Muhammad Arief S.Sos selaku Kepala Bidang Pengembangan SDM

Lampiran 3. Bpk H. Hasbuddin Chattab, S.E., MSi selaku Sekretaris BKPSDM

Lampiran 4. Bpk H. Hasbuddin Chattab, S.E., MSi selaku Sekretaris BKPSDM

lampiran 5. Bpk Ramli S.Sos, Bidang Perencanaan dan Pengadaan Pegawai

Lampiran 6. Bpk Andi Nilam S.Sos, Bidang Pendidikan dan Pelatihan

Dalam dokumen MANUSIA KABUPATEN BANTAENG (Halaman 69-76)

Dokumen terkait