yang baik, kalimat yang hak dan Islam, kalimat yang buruk, kalimat yang batil dan syirik.
4. Metode Dialog
Metode ini berupa tanya jawab dan telah menarik perhatian pendengar terhadap mau’id}a yang disampaikan. Diantara metode ini seperti dalam khotbah haji wada’, yaitu ketika Rasul bertanya kepada para shahabatnya.52
patuh kepadanya selain dalam perbuatan maksiat kepada Allah, sebab tidak boleh patuh kepada makhluk untuk melakukan perbuatan maksiat kepada sang pencipta.53
Juga salah satu cara menghormati guru adalah menghormati anak- anaknya dan orang yang mempunyai hubungan dengannya. Guru kami Shaikhul Islam Burhanuddin Shihabul Hidayah pernah berceritas bahwa seorang ulama besar dari Bukhara sedang duduk duduk dalam suatu majelis pengajian, sesekali ia berdiri dan duduk lagi. Ketika ditanyakan kepadanya mengenai sikapnya ia menjawab: “sesungguhnya putra guruku sedang bermain bersama anak-anak lain di halaman rumah, setiap kali aku melihatnya aku berdiri sebagai penghormatanku kepada guruku”.54
Walaupun sudah menjadi orang besar tetap harus menghormati gurunya.
Hakim Agung Fakhruddin al-Arsabandi seorang pemimpin para imam di Marwa sangat dihormati oleh Sultan (Raja), ia berkata: ”saya dapat merasakan kedudukan ini karena berkah hormat saya kepada guru. Saya melayani guru saya, yaitu Abu Yazid al-Dabusi. Saya memasak makanan untuk beliau dan saya tidak ikut memakannya.”55
Shaikh Imam al-Ajal Syamsul Aimmah al-Hulwani terpaksa keluar dari Bukhara dan pindah ke suatu desa karena suatu peristiwa yang menimpanya.
53 Ahmad Ma‟ruf Asrori, Etika Belajar bagi Penuntut Ilmu. Terj. Ta’limul Muta’allim (Surabaya: al-Miftah, 2012), 44.
54 Ibid.
55 Ibid.
Murid-muridnya mengunjunginya kecuali shaikh Imam al-Qadhi Abu Bakar az- Zarnuji, saat mereka bertemu, Imam al Hulwani bertanya: ”mengapa kamu tidak mengunjungiku?”. Shaikh Abu Bakar Menjawab:”saya sibuk melayani ibu saya”.
Al-Hulwani kemudian berkata: ”kamu akan mendapatkan karunia umur panjang tetapi kamu tidak akan mendapat anugerah nikmatnya belajar”. Ternyata hal itu terbukti Shaikh Abu Bakar lebih banyak tinggal di desa dan tidak teratur dalam belajar.
Maka barang siapa membuat sakit hati gurunya ia tidak akan mendapat berkah ilmu dan tidak dapat memanfaatkan ilmunya kecuali hanya sedikit, sebuah sya‟ir mengungkapkan: ”sesungguhnya guru dan dokter tidak akan berguna nasehatnya bila tidak dihormati, bersabarlah dengan penyakitmu bila kamu menentang dokter. Dan bersabarlah dengan kebodohanmu bila kamu menentang Guru”.56
Dikisahkan, bahwa Khalifah Harun al-Rasyid mengurus putranya kepadanya kepada al-Ashma‟i agar diajarkan tata krama. Pada suatu hari Khalifah melihat al-Ashma‟i berwudhu dan membasuh kakinya, Khalifah pun menegur kepada al-Ashma‟i, ia berkata:”saya mengutusnya kepadamu agar kamu mengajarkan ilmu dan tata krama kepadanya, mengapa kamu tidak menyuruhnya menyimkan air dengan salah satu tangannya dan membasuh kakimu dengan tangannya yang lain”.57
56 Ibid., 45.
57 Ibid., 45.
Sifat-sifat dan kode etik peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilaksanakannya dalam proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Al-Ghazali yang dikutip oleh Fathiyah Hasan Sulaiman, merupakan sebelas pokok kode etik peserta didik, yaitu:
1. Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarru>b kepada Allah, sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dituntut untuk menyucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela dan mengisi dengan akhlak yang terpuji.
2. Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi.
Artinya belajar semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga belajar ingin berijtihad melawan kebodohan demi mencapai derajat kemanusiaan yang tinggi, baik di hadapan Allah dan manusia.58
3. Bersikap tawad}u' dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidikannya.
4. Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran sehingga ia terfokus dan dapat memperoleh satu kompetensi yang utuh dan mendalam dalam belajar.
5. Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, baik untuk ukhrawi maupun duniawi, serta meninggalkan ilmu-ilmu yang tercela.
58 Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Teras, 2011), 130.
6. Belajar dengan bertahap atau berjenjang dengan memulai pelajaran yang mudah manuju pelajaran yang sukar atau dari ilmu yang fard}u ‘ain menuju yang fard}u kifaya.
7. Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga peserta didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.59
8. Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari, sehingga mendatangkan objektivitas dalam memandang suatu masalah.
9. Memprioritaskan ilmu diniyah yang terkait dengan kewajiban sebagai makhluk Allah, sebelum memasuki ilmu duniawi.
10. Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang bermanfaat dapat membahagiakan, menyejahterakan serta memberi nasehat keselamatan hidup dunia akhirat.
11. Peserta didik harus tunduk pada nasehat pada pendidik sebagaimana tunuknya orang sakit terhadap dokternya.60
Dalam Ihya>’ ‘Ulu>m al-Di>n , al-Ghazali mengklasifikasikannya ke dalam 10 bentuk ketaatannya yang harus dilakukan oleh peserta didik, yaitu sebagai berikut.
1. Membersihkan jiwa. Al-Ghazali menekankan pentingnya hal ini sebagai persyarat keberhasilan belajar. Seorang peserta didik harus membersihkan
59 Ibid., 131
60 Ibid., 132.
jiwanya dari sifat-sifat buruk, seperti pemarah, rakus dan sombong. Ia senantiasa menekankan bahwa kegiatan belajar adalah ibadah spiritual dan pelaksanaannya mensyaratkan pembersihan hati. Ia membandingkan proses ini dengan wudhu yang dengan ini kaitannya dengan shalat.61
2. Memusatkan perhatian kepada studi dan jangan sampai terganggu dengan urusan-urusan duniawi dan seyogyanya pergi jauh dari keluarga atau tanah airnya. Bagi al-Ghazali, konsentrasi penuh adalah suatu keharusan.
3. Menghormati guru. Peserta didik harus tunduk di hadapan gurunya dan mematuhi setiap perintahnya. Jika berbeda pendapat, ia sebaiknya mengikuti pandangan gurunya dan mengesampingkan pendapatnya. Peserta didik harus rajin bertanya, tetapi harus sangat menekankan adab. Ia hanya dianjurkan bertanya pada waktu yang tepat dengan cara yang baik dan hanya menanyakan hal yang kira-kira sudah dapat ia serap. Al-Ghazali memberikan pandangan bahwa penuntut ilmu hendaklah seperti tanah gembur yang menerima hujan deras. Tanah itu menyerap hujan dan meratakannya ke seluruh bagian.
4. Menghindarkan diri tidak terlibat dalam kontroversi kalangan akademis. Ini relevan untuk peserta didik pemula, sebab kontroversi dapat menyebabkan kebingungan sehingga tidak tertarik lagi pada studinya. 62
61 Sri Minarti, Ilmu Pendidikan Islam: Fakta Teoritis-Filosofis dan Aplikatif-Normatif (Jakarta: Amzah, 2013), 126.
62 Ibid., 127.
5. Berupaya semaksimal mungkin untuk mempelajari setiap cabang ilmu pengetahuan yang terpuji dan memahami tujuannya.
6. Peserta didik hendaknya tidak mendalami ilmu pengetahuan secara sekaligus karena kemampuan manusia memiliki keterbatasan. Perlu tahapan dan memprioritaskan yang terpenting.
7. Peserta didik hendaknya tidak naik ke tingkat yang lebih tinggi jika belum menguasai betul ilmu yang sedang dipelajarinya. Al-Ghazali memandang bahwa ilmu yang satu dan yang lain saling berkesinambungan. Untuk itu, hendaklah ilmu yang dipelajari hari ini diselaraskan dengan materi yang sebelumnya, sehingga benar-benar menguasai ilmu tersebut.
8. Memastikan kebaikan dan nilai dari disiplin ilmu yang sedang atau ingin ditekuni. Hal ini dapat dilakukan dengan dua langkah, yaitu memperhatikan hasil akhir dari suatu disiplin ilmu dan menguji keaslian prinsip-prinsip ilmu tersebut.63
9. Peserta didik dituntut untuk merumuskan tujuan dari ilmu yang telah didapatnya. Meskipun demikian, tujuan yang paling utama adalah membersihkan dan menghiasi jiwa dengan keutamaan, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah. Seseorang tidak boleh menuntut ilmu untuk tujuan duniawi, seperti jabatan atau kekuasaan, namun memprioritaskan akhirat. Akan tetapi, juga tidak mengkesampingkan ilmu-ilmu lain, seperti
63 Ibid., 128.
ilmu nahwu dan ilmu bahasa. Kedua ilmu itu dikategorikan kedalam rumpun ilmu pengantar dan pelengkap.
10. Peserta didik mengetahui hubungan antara ilmu dan tujuannya, sehingga ia dapat memilih mana ilmu yang harus diprioritaskan dan mana yang tidak.
Hal ini sangat menentukan ke arah mana ia akan berjalan dan menjadi suatu keutamaan baginya untuk mengetahui apa yang ia pelajari.64
Di antara kewajiban-kewajiban yang harus senantiasa diperhatikan oleh setiap siswa dan dikerjakan adalah sebagai berikut:
1. Sebelum memulai belajar, siswa itu harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat yang buruk karena belajar dan mengajar itu dianggap sebagai ibadah. Ibadah tidak sah kecuali dengan hati yag suci, berhias dengan moral yang baik, seperti berkata benar, ikhlas, takwa, rendah hati, zuhu>d dan menerima apa yang ditentukan Tuhan, serta menjauhi sifat- sifat yang buruk seperti dengki, iri, benci, sombong, menipu, tinggi hati dan angkuh.
2. Dengan belajar itu, ia bermaksud hendak mengisi jiwanya dengan fad}i>lah mendekatkan diri kepada Allah, bukanlah dengan maksud menonjolkan diri, berbangga-bangga dan gagah-gagahan.
3. Bersedia mencari ilmu, termasuk meninggalkan keluarga dan tanah air.
Tanpa ragu-ragu, bepergian ketempat-tempat yang paling jauh sekalipun bila dikehendaki untuk mendatangi guru.
64 Ibid., 129.
4. Jangan terlalu sering mengganti guru, tetapi harus berpikir panjang dulu sebelum bertindak mengganti guru.
5. Hendaklah ia menghormati guru dan memuliakannya serta mengagungkannya karena Allah, dan berdaya upaya pula menyenangkan hati guru dengan cara yang baik.
6. Jangan merepotkan guru dengan banyak pertanyaan, janganlah meletihkan dia untuk menjawab, jangan berjalan dihadapannya, jangan duduk ditempat duduknya dan jangan bicara kecuali setelah mendapatkan izin dari guru.65 7. Jangan membukakan rahasia kepada guru, jangan menipu guru, jangan pula
minta kepada guru membukakan rahasia, segera meminta maaf kepada guru jika tergelincir lidahnya.
8. Bersungguh-sungguh dan tekun belajar, baik siang ataupun malam untuk memperoleh pengetahuan, dengan terlebih dahulu mencari ilmu yang lebih penting.
9. Jika saling mencintai dan persaudaraan haruslah menyinari pergaulan antar siswa sehingga tampak seperti anak-anak yang sebapak.
10. Terlebih dahulu memberi salam kepada gurunya, mengurangi percakapan di hadapan guru, jangan mengatakan kepada guru, “si anu bilang begini, berbeda dari yang bapak katakan,” dan jangan pula ditanya kepada guru siapa teman duduknya.
65Muhammad „Athiyah al-Abrasyi, Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam (Bandung:
Pustaka Setia, 2003), 155.
11. Tekun belajar, mengulangi pelajarannya diwaktu senja dan menjelang Shubuh. Waktu antara Isya‟ dan makan sahur adalah waktu yang penuh berkah.
12. Bertekad untuk belajar hingga akhir umur, jangan meremehkan suatu cabang ilmu, tetapi hendaklah menganggapnya bahwa setiap ilmu ada faidahnya, jangan meniru apa yang didengarnya dari orang-orang yang terdahulu yang mengkritik dan merendahkan sebagian ilmu, seperti mantik dan filsafat.66
Jama‟ah menyusun tiga belas kode etik penuntut ilmu dalam bergaul denga gurunya.
1. Murid yang ingin menuntut ilmu harus memilih calon guru secara cermat.
Pilihan mesti dipertimbangkan hati-hati dengan kriteria, serta plus-minus calon guru. Setelah pertimbangan memadai dan shalat istikha>ra, ia dapat mengambil kesimpulan. Ia harus memilih guru yang di kenal baik akhlak, tinggi ilmu dan keahlian, berwibawa, santun dan penyayang.67
2. Murid harus mengikuti dan mematuhi guru. Seperti orang sakit mematuhi nasehat dokter. Rasa hina dan kecil di depan guru justru merupakan pangkal keberhasilan dan kemuliaan.68
66 Ibid.,156-157.
67 Hasan Asari, Etika Akademis dalam Islam: Studi Tentang Kitab Tazkirat Al-Sami’ Wa Al- Mutakallim Karya Ibnu Jama’ah (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008), 80.
68 Ibid., 81.
3. Murid harus mengagungkan guru dan meyakini kesempurnaan ilmunya.
Orang yang berhasil hingga menjadi ilmuan besar, sama sekali tidak boleh berhenti menghormati guru.
4. Murid harus mengingat hak guru atas dirinya sepanjang hayat dan setelah wafat. Ia menghormati sepanjang hidup guru. Meski wafat murid tetap mengamalkan dan mengambangkan ajaran guru, rajin menziarahi kubur, mendo‟akan dan bersedekah atas namanya. Ia memperhatikan kesejahteraan anak cucu dan kerabat guru.
5. Murid bersikap sabar terhadap perlakuan kasar guru. Hendaknya berusaha untuk memaafkan perlakuan kasar, turut memohon ampun dan bertaubat untuk guru. Yang penting ia tidak membiarkan proses belajar terganggu oleh kejadian. Kasih sayang guru pun tetap terpelihara.69
6. Murid harus menunjukkan rasa terima kasih terhadap ajaran guru. Melalui itulah ia mengetahui apa yang harus dilakukan dan dihindari. Ia memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Meskipun guru menyampaikan informasi yang sudah diketahui murid. Ia tidak boleh menunjukkan yang sudah diketahui.
7. Murid tidak mendatangi guru tanpa izin lebih dahulu, baik guru sedang sendiri maupun bersama orang lain. 70
69 Ibid., 82.
70 Ibid., 83.
8. Murid harus duduk sopan di depan guru. Tidak dibenarkan berpaling atau menoleh tanpa keperluan jelas, terutama saat guru berbicara kepadanya.
Tidak mengibaskan lengan baju untuk membersihkan debu.71
9. Berkomunikasi dengan guru secara santun dan lemah lembut. Tidak menyatakan kenapa atau mengapa atau menurut siapa dalam merespon pernyataan guru.
10. Jika guru mengungkapkan satu soal, atau kisah atau sepengal syair yang sudah dihapal murid, ia harus tetap mendengarkan dengan antusias, seolah- olah belum pernah mendengar. Bila guru bertanya, apakah sudah mengetahui, murid harus menjawab ia masih ingin menerima ilmu tersebut dari guru karena lebih berkah.
11. Murid tidak boleh terburu menjawab pertanyaan guru atau anggota majelis lain meskipun mengetahui. Kecuali guru memberi isyarat ia memberi jawaban.72
12. Dalam hubungan dengan guru, murid harus mengamalkan tangan kanan.
Ketika memberi atau menerima sasuatu dari guru, harus menjaga sikap wajar, tidak terlalu dekat hingga jaraknya terkesan mengganggu guru.
13. Murid didepan guru jika berjalan pada malam hari dan dibelakangnya bila siang hari.73
71 Ibid., 84.
72 Ibid., 85.
73 Ibid., 86.
BAB III
PAPARAN DATA