CULTURAL IDENTITY
B. Konsep Cultural Identity
Dalam teori identitas Stuart Hall (1994), identitas merupakan sesuatu yang bersifat imajiner atau diimajinasikan tentang keutuhan. Sebuah identitas muncul akibat perasaan bimbang yang kemudian diisi oleh kekuatan dari luar dari setiap individu. Identitas sendiri adalah sebuah perwujudan dari imajinasi yang dipandang oleh pihak-pihak tertentu yang saling terhubung didalamnya.
Menurut Stuart Hall dalam tulisannya yang berjudul
“Cultural Identity and Diaspora” (1990:04) konsep cultural identity (identitas budaya) yaitu menyembunyikan identitas pribadi seorang individu di balik identitas kolektif yang ada di sekitarnya. Sementara itu dalam tulisan lain yang berjudul “The Question of Cultural Identity” (1995:596), Hall menjelaskan bahwa aspek-aspek dalam identitas budaya muncul dari adanya rasa memiliki terhadap budaya khas etnis, ras, linguistik, agama dan semua budaya nasional. Konsep identitas budaya merupakansesuatu hal yang tidak langsung terbentuk,
melainkan sebuah proses yang tidak akanpernah selesai, selalu dalam proses, dan diwujudkan dalam sebuah representasi (Hall,1990:222).
Hall mengungkapkan setidaknya ada dua cara pandang untuk melihat konsep identitas budaya, yaitu identitas budaya sebagai wujud yang stabil (identity as being) dan identitas budayasebagai sesuatu yang akan terus berubah (identity as becoming). Cara pertama dalam melihat identitas budaya adalah dengan melihatnya sebagai sesuatu yang bersifat esensialis. Menurut Hall (1990:223) identitas budaya dalam cara pandang ini merefleksikan pengalaman sejarah dan kode-kode kebudayaan dari mereka yang menciptakan, sebagai individu yang sama, stabil, dan tidak akan pernah berubah. Selanjutnya, dalam cara kedua Stuart Hall tidak lagi melihat identitas budaya sebagai sesuatu yang esensialis, melainkan sesuatu yang akan selalu berubah setiap saat. Hall (1990:225) menegaskan bahwa identitas budaya adalah masalah bagaimana proses “menjadi”
sama pentingnya dengan apa yang “telah terjadi”. Ini mestinya bahwa masa depan sama pentingnya dengan masa lalu. Ini bukan berarti sesuatu yang telah ada tetapi tergantung tempat, waktu, sejarah dan budaya.
Jika ditinjau dari definisi yang diuraikan oleh Stuart Hall maka identitas budaya memiliki dua faktor yang menentukan dan saling berpengaruh dalam pembentukan dari identitas budaya itu sendiri, yaitu faktor eksternal yang berdasarkan fisik dari seseorang dan faktor internal yang berdasarkan hal-hal yang membuat seseorang mendekat satu sama lainnya dan secara tidak langsung membentuk identitas.
Menurut Hall sendiri dalam bukunya Representation:
Cultural Representation and Signifying Practices,
111
culture. . . . Representation is an essential part of the process by which meaning is produced and exchanged between members of culture (Hall, 2003).” Melalui representasi, suatu makna diproduksi dan dipertukarkan antar anggota masyarakat. Jadi dapat dikatakan bahwa, representasi secara singkat adalah salah satu cara untuk memproduksi makna.
Representasi bekerja melalui sistem representasi.
Sistem representasi ini terdiri dari dua komponen penting, yakni konsep dalam pikiran dan bahasa. Kedua komponen ini saling berelasi. Konsep dari sesuatu hal yang kita miliki dalam pikiran kita, membuat kita mengetahui makna dari hal tersebut. Namun, makna tidak akan dapat dikomunikasikan tanpa bahasa. Sebagai contoh sederhana, kita mengenal konsep ‘gelas’ dan mengetahui maknanya. Kita tidak akan dapat mengkomunikasikan makna dari ‘gelas’ (misalnya, benda yang digunakan orang untuk minum) jika kita tidak dapat mengungkapkannya dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh orang lain.
Oleh karena itu, yang terpenting dalam sistem representasi ini pun adalah bahwa kelompok yang dapat berproduksi dan bertukar makna dengan baik adalah kelompok tertentu yang memiliki suatu latar belakang pengetahuan yang sama sehingga dapat menciptakan suatu pemahaman yang (hampir) sama. Menurut Stuart Hall,
Member of the same culture must share concepts, images, and ideas which enable them to think and feel about the world in roughly similar ways. They must share, broadly speaking, the same ‘cultural codes’. In this sense, thinking and feeling are themselves ‘system of representations’ (Hall, 2003).
Berpikir dan merasa menurut Hall juga merupakan sistem representasi. Sebagai sistem representasi berarti berpikir dan merasa juga berfungsi untuk memaknai sesuatu. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan hal tersebut, diperlukan latar belakang pemahaman yang sama terhadap konsep, gambar, dan ide (cultural codes).
Pemaknaan terhadap sesuatu dapat sangat berbeda dalam budaya atau kelompok masyarakat yang berlainan karena pada masing-masing budaya atau kelompok masyarakat tersebut ada cara-cara tersendiri dalam memaknai sesuatu. Kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang pemahaman yang tidak sama terhadap kode-kode budaya tertentu tidak akan dapat memahami makna yang diproduksi oleh kelompok masyarakat lain.
Makna tidak lain adalah suatu konstruksi. Manusia mengkonstruksi makna dengan sangat tegas sehingga suatu makna terlihat seolah-olah alamiah dan tidak dapat diubah. Makna dikonstruksi melalui sistem representasi dan difiksasi melalui kode. Kode inilah yang membuat masyarakat yang berada dalam suatu
kelompok budaya yang sama mengerti dan menggunakan nama yang sama, yang telah melewati proses konvensi secara sosial. Misalnya, ketika kita memikirkan ‘rumah’, maka kita menggunakan kata RUMAH untuk mengkomunikasikan apa yang ingin kita ungkapkan kepada orang lain. Hal ini karena kata RUMAH merupakan kode yang telah disepakati dalam masyarakat kita untuk memaknai suatu konsep mengenai
‘rumah’ yang ada di pikiran kita (tempat berlindung atau berkumpul dengan keluarga). Kode, dengan demikian, membangun korelasi antara sistem konseptual yang ada dalam pikiran kita dengan sistem bahasa yang kita gunakan.
113
Teori representasi seperti ini memakai pendekatan konstruksionis, yang berargumen bahwa makna dikonstruksi melalui bahasa. Menurut Stuart Hall dalam artikelnya, “things don’t mean: we construct meaning, using representational systems-concepts and signs.”25 Oleh karena itu, konsep (dalam pikiran) dan tanda (bahasa) menjadi bagian penting yang digunakan dalam proses konstruksi atau produksi makna.
Jadi dapat disimpulkan bahwa representasi adalah suatu proses untuk memproduksi makna dari konsep yang ada dipikiran kita melalui bahasa. Proses produksi makna tersebut dimungkinkan dengan hadirnya sistem representasi. Namun, proses pemaknaan tersebut tergantung pada latar belakang pengetahuan dan pemahaman suatu kelompok sosial terhadap suatu tanda. Suatu kelompok harus memiliki pengalaman yang sama untuk dapat memaknai sesuatu dengan cara yang nyaris sama.
C. Faktor dan Dampak
Berdasarkan penjabaran tentang identitas budaya oleh Stuart Hall, kita dapat melihat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan identitas budaya meliputi tempat, waktu, dan sejarah yang dialami oleh sekelompok masyarakat. Peristiwa kolonialisasi membuat mereka para penjajah memiliki kekuasaan untuk membentuk pola pikir dan menempatkan mereka yang terjajah sebagai “yang lain” (Hall,1990:225). Menururt Hall (1990:228) kita (kulit hitam dan berwarna) adalah marjinal, terbelakang, pinggiran, “sesuatu yang lain”, kita berada di luar metropolitan dan selalu menjadi “selatan”
untuk orang “utara”. Sedangkan dampak dari identitas budaya akan mempengaruhi perilaku individu atau
kelompok dalam bertindak sesuai dengan kebenaran kolektif yang mereka yakini.
Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Hall tentang konsep identitas budaya, Barker (2011:173) menyebutkan bahwa identitas juga merupakan apa yang diyakini individu terkait seluruh aspek sosial dan kultural yang dimaknai melalui tanda-tanda, seperti gaya hidup, sikap dan lain sebagainya. Persamaan pemikiran adalah bahwa identitas budaya akan terlihat atau dapat dimaknai apabila direprentasikan dalam simbol-simbol budaya, gaya hidup, sikap dan lain sebagainya.
D. Contoh
Contoh dari dari identitas budaya adalah penggunaan do’a qunut ketika sholat subuh yang diidentikkan dengan “Nahdatul Ulama (NU)”. Masyarakat akan dengan mudah mengatakan seseorang sebagai
“NU” ketika melihat menggunakan do’a qunut ketika sholat subuh. Kita tahu bahwa penduduk Indonesia mayoritas adalah muslim, namun dalam praktik keagamaan tidak semua sama meskipun hanya ada satu kitab yang dianggap benar yaitu Alquran. Itulah identitas budaya yang menjadi ciri khas dari suatu masyarakat dan dapat dibedakan dengan kelompok lain hanya dengan melihat representasi budaya yang mereka lakukan.
115