oleh pancaindera manusia ataupun tidak. Penjelasan mengenai hal-hal ghaib merupakan bagian dari kajian ilmu-ilmu keislaman. Allah memberikan pengetahuan yang terbatas kepada manusia, dan memberikan Al-Qur‘an sebagai wahyu sebagai pentunjuk bagi manusia untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi serta memberinya potensi yang mendorong manusia untuk memperoleh berbagai macam ilmu pengetahuan.
kelebihan kepada manusia berupa akal yang dengannya manusia memiliki potensi untuk mendapatkan ilmu dan mengembangkannya atas izin Allah.
Menurut pandangan Al-Qur‘an sebagaimana yang diisyaratkan dalam surat Al-
‗Alaq ayat 1-5 bahwa ilmu terdiri dari dua macam yaitu: „Ilm ladunni atau ilmu mukasyafah, adalah ilmu yang didapatkan tanpa usaha manusia dan „Ilm kasby atau ilmu basyariyah, adalah ilmu yang didapatkan berdasarkan usaha yang dilakukan oleh manusia untuk memperoleh ilmu.65
Pembagian ilmu ini dikarenakan dalam Al-Qur‘an terdapat hal-hal yang ada akan tetapi tidak dapat diketahui melalui usaha manusia. Terdapat wujudnya akan tetapi tidak dapat dijangkau oleh pancaindera manusia. Berdasarkan hal tersebut objek ilmu terdiri dari materi dan nonmateri, fenomena dan nonfenomena serta wujud yang dapat diketahui oleh manusia maupun tidak. Dengan demikian jelas bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas sebagaimana yang firman Allah dalam QS. Al-Isra‘: 85 yang menyatakan bahwa manusia hanya diberi sedikit pengtahuan.
لايِلَق لاِإ ِمْلِعْلا َنِم ْمُتيِتوُأ اَمَو ِّبَِر ِرْمَأ ْنِم ُحوُّرلا ِلُق ِحوُّرلا ِنَع َكَنوُلَأْسَيَو
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".66
Allah berfirman alam wahyu pertamanya, surat Al-‗Alaq ayat 1-5:
َقَلَخ يِذَّلا َكِّبَر ِمْسِبِ ْأَرْ قا ٍقَلَع ْنِم َناَسْنلإا َقَلَخ .
ُمَرْكلأا َكُّبَرَو ْأَرْ قا . ِمَلَقْلِبِ َمَّلَع يِذَّلا .
ْمَلْعَ ي َْلَ اَم َناَسْنلإا َمَّلَع . .
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2), Bacalah, dan Tuhanmulah
65 Zainal Arifin, ―PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU,‖ Ta‟dib 19, no. 4 (2014). 134
66 Tim Al-Qosbah, Al-Qur‟an Al -Mubayyin. 290
Yang Maha Pemurah (3), Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (4), Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya(5)”. (Q.S Al-‗Alaq 1-5)67
Kata Iqra‟ yang berarti bacalah atau perintah untuk membaca diambil dari kata kerja qara‟a yang berarti menghimpun. Apabila anda menyusun huruf atau kata kemudian mengucapkan susunan tersebut, berarti anda telah menghimpunnya yaitu membacanya. Dengan demikian, perwujudan dari perintah tersebut tidak mengharuskan adanya bahan bacaan atau objek bacaan dan tidak pula mengharuskan bacaan tersebut diucapkan sehingga dapat didengar oleh orang lain. Dalam berbagai kamus terdapat banyak makna dari kata qara‟a diantaranya: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu dan lain sebagainya yang berarti menghimpun.
Ibnu Kasir berpendapat bahwa dalam surat Al-‗Alaq ayat 1-5 menjelaskan mengenai permulaan rahmat Allah yang diberikan kepada hambanya dan sebagai peringatan tentang proses awal penciptaan manusia dari al-„alaq (segumpal darah). Ayat ini menjelaskan kemuliaan Allah yang mengajarkan suatu pengetahuan yang belum diketahui sebelumnya terhadap hamba-hambanya. Terdapat makna yang luas dalam kata iqra‟ dalam surat ini tidak hanya sekedar makna membaca saja. Lebih dari itu kata iqra‟
memiliki makna membaca asma dan kemuliaan Allah, membaca teknologi genetika, membaca teknologi komunikasi dan membaca segala objek yang belum terbaca.68
Wahyu pertama ini tidak menyebutkan objek bacaan yang dibaca begitu pula Malaikat Jibril dalam menyampaikan wahyu tidak juga membaca teks tertulis. Kerika mendapatkan wahyu pertamanya Nabi uhammad bertanya kepada Malaikat Jibril ― Ma aqra‟?‖ (apa yang harus saya baca?). Beragam pendapat ahli tafsir dalam menafsirkan objek bacaan yang terkandung dalam wahyu pertama ini, diantaranya:
67 Tim Al-Qosbah. 597
68 Aulia Sabina Antasari, ―KONSEP IQRA DAN QALAM DALAM AL-QUR‘AN,‖ Center for Open Science 1, no. 1 (2022).
Pertama, ada yang berpendapat bahwa objek bacaan yang dimaksud dalam wahyu pertama tersebut adalah wahyu-wahyu Allah (Al-Qur‘an) sehingga maksud perintah membaca tersebut merupakan seruan untuk membaca ayat-ayat Al-Qur‘an yang akan diturunkan nantinya. Kedua, ada yang berpendapat bahwa objek dalam wahyu pertama tersebut adalah “ismi rabbika” dengan mempertimbangkan huruf ba‟ yang menyertai kata ismi sehingga bermakna bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu atau berdzikirlah. Akan tetapi jika yang dimaksud adalah perintah untuk berdzikir Nabi Muhammad SAW sudah senantiasa mengamalkannya. Ketiga, Muhammad ‗Abduh berpendapat bahwa perintah membaca yang terdapat dalam wahyu pertama ini bukan sebuah tugas yang harus dilaksanakan (amr taklifi) sehingga membutuhkan objek, melainkan merupakan amr takwini yang mewujudkan kemampuan membawa dalam diri Nabi Muhammad SAW. Pendapat ini dipatahkan dengan kenyataan bahwa saat setelah menerima wahyu pertamanya Nabi Muhammad SAW masih sebagai seorang yang ummy (tidak pandai membaca dan menulis).69
Sehubungan dengan berbagai pendapat para ahli tafsir mengenai makna kata qara‟a, berdasarkan analisa yang terdapat dalam Al-Qur‘an arti qara‟a terualang sebanyak tiga kali dalam Al-Qur‘an yaitu pada QS. Al-Isra‘ : 14 dan QS. Al-‗Alaq : 1 dan 3.
اًبيِسَح َكْيَلَع َمْوَ يْلا َكِسْفَ نِب ىَفَك َكَباَتِك ْأَرْ قا
Artinya: "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (QS. Al-Isra‘ : 14)70
َقَلَخ يِذَّلا َكِّبَر ِمْسِبِ ْأَرْ قا ٍقَلَع ْنِم َناَسْنلإا َقَلَخ .
ُمَرْكلأا َكُّبَرَو ْأَرْ قا . .
69 Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an. Vol. 15. 455
70 Tim Al-Qosbah, Al-Qur‟an Al -Mubayyin. 283
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3).”71
Terdapat perbedaan makna membaca yang menggunakan akar kata qara‟a dan tala- tilawatan, yang mana makna membaca dengan mengunakan kata tala ditunjukan kepada objek bacaan yang bersifat suci dan benar yang bersumber dari Tuhan. Sedangkan dilihat dari konteks ayat-ayat yang menggunakan kata qara‟a terdapat dua makna objek yang terkandung di dalamnya, yaitu:
a. Objek bacaan yang berasal dari Tuhan berupa Al-Qur‘an atau kitab-kitab sebelumnya.
b. Objek bacaan berupa kitab karya manusia yang bukan bersumber dari Tuhan.
Dikemukakan dalam sebuah kaidah bahasa bahwa suatu kalimat yang tidak menyebutkan objek dalam susunan redaksinya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, meliputi segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh arti kata tersebut. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kata qara‟a memiliki banyak makna meliputi membaca, menelaah, menyampaikan dan lain sebagainya dan karena objek dalam wahyu pertama ini tidak disebutkan sehingga bersifat umum. Objek yang dimaksud mencangkup segala sesuatu yang dapat dijangkau baik yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, yang tertulis maupun tidak, sehingga mencangkup telaah terhadap alam semesta, masyarakat, diri sendiri, ayat suci Al-Qur‘an, majalah, Koran dan objek bacaan lainya.72
Membaca merupakan modal utama manusia untuk mendapatkan kecerdasan dan kepekaan. Objek membaca tidak hanya meliputi hal-hal yang bersifat nyata dan dapat dijangkau oleh pancaindera seperti tulisan, gambar, suara, fenomena, bentuk, rasa dan
71 Tim Al-Qosbah. 597
72 Shihab, Membumikan Al-Quran Fingsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. 168
sebagainya akan tetapi meliputi segala hal yang bersifat abstrak seperti fikiran, perasaan, naluri, dan hal-hal ghaib yang dapat dijangkau oleh manusia atas petunjuk dan bimbingan Tuhan. Pengertian membaca secara luas dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Membaca ayat-ayat qauliyah, berarti kemampuan penguasaan bahasa yang dengannya dapat menjalin komunikasi tulis maupun lisan dan kemudian menjadi suatu kebiasaan menyampaikan pesan-pesan.
b. Membaca ayat-ayat kauniyah, berarti kemampuan berfikir secara kritis, berfilsafat, malakukan penelitian (istiqra‟), pengamatan, penyelidikan dan lain sebaganya mengenai segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh manusia.
Kata istiqra‟ dalam kegiatan penelitian merupakan kata yang berasal dari kata qara‟a. Hasil penelitian yang dilakukan oleh manusia akan menghasilkan ilmu pengetahuan dan diwariskan kepada generasi-generasi brikutnya sehingga dapat dikembangkan dan memberi manfaat bagi manusia lainnya.73
Terdapat relevansi antara firman Allah dalam wahyu pertama dengan surat Al- Baqarah ayat 31-32 yang membahas mengenai esistensi objek ilmu pengetahuan (ontologis). Allah berfirman:
لاَمْلا ىَلَع ْمُهَضَرَع َُّثُ اَهَّلُك َءاَْسْلأا َمَدآ َمَّلَعَو َيِقِداَص ْمُتْ نُك ْنِإ ِءلاُؤَى ِءاَْسَِْبِ ِنِوُئِبْنَأ َلاَقَ ف ِةَكِئ
لاِإ اَنَل َمْلِع لا َكَناَحْبُس اوُلاَق .
ُميِلَعْلا َتْنَأ َكَّنِإ اَنَ تْمَّلَع اَم ُميِكَْلْا .
Artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:
"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!". (31) Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain
73 Sirajun Nasihin, ―SISTEM PENDIDIKAN QUR‘ANI (Studi Surah Al-‗Alaq Ayat 1 Sampai Dengan 5),‖
Jurnal Pendidikab Dan Dakwah 2, no. 1 (2020). 156-157
dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (32) (Al-Baqarah: 31-32)74
Dalam menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 31-32 ini, Ibnu Katsir mengkaitkannya dengan ayat sebelumnya ayat 30 yang ber bunyi َىىُوَلْعَت لا بَه ُنَلْعَأ يًِِّإ (Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui). hal tersebut dikarenakan terdapat keterkaitan bagian ini dengan ketidaktahuan Malaikat akan hikmah penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Oleh karena itu, Allah menjelaskan dalam ayat ini tentang kemulian yang Allah berikan kepada Adam. Yaitu keutamaan memperoleh ilmu penegtahuan atas mereka.75
Allah berfirman: بَهَّلُك َءبَوْسلأا َمَدآ َنَّلَع َو (Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama- nama (benda-benda) seluruhnya). Allah mengajarkan kepada manusia kepada manusia segala macam benda, baik beripa dzat, sifat, maupun af‟al (perbuatannya). Kemudian Allah berfirman: ِتَكِئلاَوْلا ىَلَع ْنُهَض َرَع َّنُث (kemudian Allah mengemukakannya kepada para Malaikat), yaitu memperlihatkan nama-nama yang Allah ajarkan kepada Adam.
Sebagaimana yang dikatakan oleh ‗Abdurrazaq, dari Ma‘mar, dari Qatadah: ‟Kemudian Allahmengemukakan nama-nama tersebutkepada para Malaikat.‖76
Allah berfirman: َييِقِدبَص ْنُتٌْ ُك ْىِإ ِءلاُؤَه ِءبَوْسَأِب يًِىُئِبًَْأ َلبَقَف (Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!). Dari Ibnu‗Abbas, adh- Dhahak mengatakan, artinya, jika kalian (Malaikat) memang mengetahui bahwa aku tidakmenjadikan khalifah di muka bumi.
Sebenarnya perintah ini bukan bertujuan penugasan menjawab, tetapi bertujuan membuktikan kekeliruan mereka. Mereka para Malaikat yang ditanya itu secara tulus menjawab sambil menyucikan Allah ―Maha Suti Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya
74 Tim Al-Qosbah, Al-Qur‟an Al -Mubayyin. 6
75 Muchamad Husen, ―KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DALAM AL-QUR‟AN SURAT AL-BAQARAH AYAT 31-32 (STUDI KOMPARATIF DALAM TAFSIR IBNU KATSIR DAN TAFSIR AL-MISBAH),‖ Jurnal Aksioma Ad-Diniyyah : The Indonesian Journal of Islamic Studies 8, no. 1 (2020). 96
76 Ghoffar, Mu‘thi, and Al-Atsari, Tafsir Ibnu Katsir. 95
Engkau, Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. ‖ Maksud mereka, apa yang Engkau tanyakan itu tidak pernah Engkau ajarkan kepada kami. Engkau tidak ajarkan itu kepada kami bukan karena Engkau tidak tahu, tetapi karena ada hikmah di balik itu.77
Penafsiran diatas memberikan informasi bahwa Allah memberikan kemuliaan kepada manusia (Adam) atas Malaikat dengan mengajarkan nama-nama segala sesuatu yang tidak diajarkan kepada Malaikat. Terdapat hikmah Allah tidak mengajarkannya apa yang diajarkan kepada Adam karena hal tersebut tidak dibutuhkan oleh malaikat dalam menjalankan fungsi dan tugasnya. Berbeda dengan manusia yang bertugas sebagai khalifah dan dibebani untuk memakmurkan bumi. Selain itu, ayat diatas menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal baik yang bersifat nyata maupun ghaib, dan mengandung esistensi bahwa Allah yang memiliki segala ilmu banyak ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah SWT.
Allah menegaskan bahwa manusia harus mengoptimalkan potensi yang Allah berikan untuk dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan empat sarana yang telah dianugerahkan kepadanya, meliputi telinga (pendengaran), mata (pengelihatan), akal dan hati. Denga menggunakan empat daya tersebut manusia dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk kehidupan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 78:
اَو َراَصْبَْلااَو َعْمَّسلا ُمُكَل َلَعَجَّو ۙاً ْيَش َنْوُمَلْعَ ت َلا ْمُكِتههَّمُا ِنْوُطُب ْْۢنِّم ْمُكَجَرْخَا ُهّللّاَو ْوُرُكْشَت ْمُكَّلَعَل ۙ َةَدِٕ ْفَْلا
َن
Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)78
77 M. Quraish Shihab, M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an, Vol.
01 (Jakarta: Lentera Hati, 1999). 146
78 Tim Al-Qosbah, Al-Qur‟an Al -Mubayyin. 275
Berdasarkan paparan diatas menjelaskan bahwa dalam proses belajar untuk pemperoleh ilmu pengetahuan tidak hanya menggunakan objek sesuatu yang material akan tetapi manusia dapat belajar dari segala sesuatu yang dapat dijangkaunya, baik bersifat nyata maupun ghaib. Secara ontologi tidak terdapat dikatomi ilmu yang terkandung dalam wahyu petama antara ilmu agama maupun umum. Semua ilmu sama pentingnya dan harus dipelajari guna memperoleh pengetahuan yang luas, sehingga dapat merasakan kemurahan Allah yang diberikan kepada hambanya dengan memanfaatkan keistimewaan yang Allah berikan kepada manusia berupa akal.
Membaca adalah sarana untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan merupakan kunci untuk membuka jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dengan kemuliaanya Allah menjanjikan kepada manusia akan melimpahkan ilmu pengetahuan, pemahaman serta wawasan yang luas bagi manusia yang belajar dan membaca. Hal tersebut terbukti dengan ditemukanya banyak pengetahuan baru yang dapat membuka rahasia-rahasia mengenai alam semesta.
44 BAB III
KONSEP ILMU PERSPEKTIF EPISTIMOLOGIS
DALAM SURAT AL-„ALAQ AYAT 1-5