G. Kerangka Teoritik
2. Konsep Partisipasi
Partisipasi menimbulkan berbagai penafsiran karena sangat seringnya istilah tersebut digunakan dalam slogan-slogan pembangunan. Menurut Joe Fernandez, Partisipasi mengandung dua makna sekaligus, yaitu:20
a). Partisipasi Instrumental.
Partisipasi disebut instrumental ketika dipandang sebagai cara untuk mencapai sasaran tertentu dalam proyek pembangunan. Dalam partisipasi instrumental, inisiatif pelaksana proyek atau aktifitas datang dari pihak luar,
20 Joe Fernandez, Partisipasi Masyarakat dalam proses Pembuatan Kebijakan Publik;
harapan yang harus di Perjuangkan, (Kumpulan Buletin CAKAP,Vol.1, No.1, Januari, 2001), hlm 12
sedangkan partisipasi masyarakat yaitu dengan ikut dalam pelaksanaan proyek tersebut dalam bentuk kemitraan, dengan tujuan pelaksanaannya adalah kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan, dan tujuan partisipasi masyarakat didalamnya yaitu pencapaian saran-saran proyek tersebut secara efesien.
Asumsi dari partisipasi semacam ini bahwa para perencana (pihak luar) lebih tahu apa yang terbaik bagi masyarakat, dan masyarakat tinggal melaksanakannya secara bersama-sama serta menikmati hasilnya. Dengan kata lain proses pengambilan keputusan berlangsung dari atas ke bawah (top down).
b). Partisipasi Transformasional
Sedangkan partisipasi transformasional adalah sebagai cara atau sarana yang bertujuan memberdayakan (to empower) masyarakat. Namun dalam partisipasi transformasional masyarakat terlibat sebanyak mungkin dalam pelaksanaan suatu proyek atau aktivititas, mulai tahap perencanaan hingga tahap evaluasi.
Suatu proyek atau aktivitas yang merupakan pencerminan kehendak masyarakat, dan proses pengambilan keputusan berlangsung dari bawah keatas (bottom up) keberhasilan atau kegagalan dalam pencapai sasaran suatu proyek sebagian besar bergantung pada masyarakat sendiri. Dengan demikian, selain memiliki kemampuan dan kemandirian yang makin tinggi,
masyarakat akan memiliki tanggung jawab lebih besar. Dalam partisipasi semacam itu, masyarakat diandaikan lebih tahu apa yang terbaik bagi diri mereka.
Berdasarkan pengertian yang terdapat dalam partisipasi transformasional tersebut, maka partisipasi bisa dipahami sebagai proses sekaligus cara bagi para stakeholders dalam mempengaruhi dan berbagi peran atas proses pembangunan, proses pengambilan keputusan (decision making) dan sumber- sumber daya (resources). yang dimaksud dengan para stakeholdes dalam konteks teori ini ialah masyarakat umum, sektor swasta atau bisnis, lembaga-lembaga perwakilan pemerintah dan lain-lain, mulai tingkat nasional sampai tingkat desa dan Kelurahan.
Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat umum sangatlah bervariasi tergantung masing-masing daerah, misalnya organisasi sosial kemasyarakatan, organisasi sosial keagamaan, masyarakat adat, lembaga swadaya masyarakat, asosiasi profesi, perguruan tinggi serta perorangan. Dan partisipasi transformatif inilah yang digunakan dalam pendekatan pelaksanaan PNPM- Mandiri. jadi konsep partisipasi yang digunakan dalam pendekatan pelaksanaan program PNPM-Mandiri yaitu sesuai dengan konteks partisipasi transformasional artinya program
pembangunan tersebut dilaksanakan melalui kerjasama antara berbagai pihak dalam mengatasi persoalan secara bersama-sama.
Partisipasi bukanlah suatu proses yang seragam namun lebih merupakan suatu rangkaian pendekatan yang meliputi bentuk dan cara seperti :
1). Berbagi informasi (Share Information), artinya informasi searah kepada masyarakat, disampaikan melalui media yang beragam misalnya tentang suatu penyampaian kebijakan pemerintah daerah atau sosialisasi peraturan pemerintah melalui surat kabar, majalah, brosur, selebaran, poster, tayangan radio dan televisi dan lain-lain.
2). Konsultasi atau dialog, yaitu informasi yang dilakuakn melalui dua arah diantara pemerintah dan masyarakat, misalnya evaluasi partisipatoris terhadap suatu proyek atau kegiatan disuatu daerah, pertemuan-pertemuan rapat konsultatif, penilaian warga terhadap manfaat yang mereka terima dari suatu proyek atau kegiatan, kunjungan kelapangan, wawancara terhadap warga suatu Kelurahan untuk mengetahui secara langsung manfaat suatu proyek atau kegiatan.
3). Kerjasama, artinya berbagai peran serta tugas dalam peroses pengambilan keputusan, perencanaan partisipatoris, di lakukan dengan kebersamaan untuk
menetapkan peran dan prioritas kerja para stakeholders mencakup kepanitiaan bersama, pembentukan gugus, pembagian tugas dan tanggung jawab dalam implementasi proyek atau aktivitas, serta mengadakan berbagai pertemuan untuk mengatasi perbedaan pendapat dan melakukan evaluasi bersama atas rancangan kebijakan dan revisi kebijakan.
4). Pemberdayaaan, artinya pemberian wewenang dalam pengambilan keputusan, dan pengawasan atas sumber daya. Pola-pola interaksi politik dalam proses pengambilan keputusan, tingkat sosial ekonomi dan tingkat kesadaran politik masyarakat, kemampuan kelompok-kelompok dalam masyarakat dalam struktur sosial, dan struktur politik disuatu negara, wilayah atau daerah sangat berpengaruh pada penentuan bentuk dan cara partisipasi yang lebih tepat digunakan dalam pelaksanaan suatu proyek atau kegiatan pembangunan.
Bentuk dan cara partisipasi yang dipergunakan disuatu negara, wilayah atau daerah yang sistem politiknya didominasi oleh pemerintah (eksekutif), tentu berbeda dengan negara yang menerapkan perimbangan kekuatan antara eksekutif, legislatif, yudikatif, dan masyarakat. walaupun demikian melalui berbagai
bentuk dan cara partisipasi tersebut, maka tujuan utama pembangunan yang dilakukan adalah pemberdayaan masyarakat.
Permasalahan dalam masyarakat berkembang sangat cepat, dinamis makin bervariasi dan rumit, sehingga akan makin sulit pula pemerintah dapat mengatasinya sendiri. Rakyat semakin sadar akan hak-haknya, sehingga partisipasi masyarakat merupakan unsur penting dalam penentuan kebijakan publik.
Menurut Dedi Mulyadi partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam penentuan kebijakan publik karena beberapa faktor yang patut dipertimbangkan seperti21:
a. Partisipasi menginginkan para pembuat kebijakan memiliki pemahaman mendalam tentang berbagai persoalan dan kebutuhan nyata masyarakat ditingkat akar rumput.
b. Partisipasi membangun kemitraan berdasarkan kepercayaan satu sama lain dan permufakatan antara eksekutif, legeslatif dan masyarakat. Kepercayaan satu sama lain memungkinkan dialog, dan pemufakatan memungkinkan para stakeholders bekerja untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan bersama.
Dengan kemitraan semacam itu akan tumbuh rasa memiliki di kalangan masyarakat sehingga kelangsungan dan kualitas suatu proyek atau aktivitas pembangunan akan terjaga baik.
21 http://Elisa.Ugm.Ac.Id/Files/Psantoso_Isipol/81yk2km0/Putu%20aria%20-%20 Kebijakan Public Partisipasif.pdf. (di akses pada tanggal 18 Nopember 2008)
c. Partisipasi bermanfaat untuk menetapkan prioritas kebutuhan nyata masyarakat sehingga berdasarkan permufakatan bersama akan diketahui dengan tepat proyek atau kegiatan pembangunan apa yang perlu didahulukan dan apa yang berikutnya.
d. Partisispasi membuka peluang untuk masuknya informasi dengan lancar. yang merupakan umpan balik (Feedback).
Dengan adanya umpan balik, terjadi penyempurnaan berkelanjutan dalam pelaksanaan dan pemantauan suatu proyek atau aktivitas pembangunan. Pada gilirannya, hal ini akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pembuatan kebijakan, penggunaan dana, dan pelaksanaan suatu proyek atau kegiatan pembangunan.