• Tidak ada hasil yang ditemukan

KTT Climate Change dari Rio ke Kopenhagen

Dalam dokumen Konservasi Alam Berbasis Spiritualitas Islam (Halaman 96-100)

Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi Lingkungan

C. Ide, Gerakan Konservasi Lingkungan

2. KTT Climate Change dari Rio ke Kopenhagen

84 Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi lingkungan

ukur pembangunan berkelanjutan secara sederhana yang dapat digunakan baik untuk menilai keberhasilan suatu pemerintahan dalam pelaksanaan proses pembangunan berkelanjutan, Enam tolak ukur itu meliputi: pro lingkungan hidup, pro rakyat miskin, pro kesetaraan gender, pro penciptaan lapangan kerja, pro dengan bentuk kesatuan negara RI dan harus anti koripsi, kolusi serta nepotisme.

Gondokusumo menyebutkan syarat-syarat yang perlu dipenuhi untuk tercapainya proses pembangunan berkelanjutan, syarat tersebut secara umum terbagi dalam tiga indikator utama;

a) Pro Ekonomi kesejahteraan, maksudnya adalah pertumbuhan ekonomi ditujukan untuk kesejahteraan semua anggota masyarakat, dapat dicapai melalui teknologi inovatif yang berdampak minimum terhadap lingkungan.

b) Pro Lingkungan Berkelanjutan, maksudnya etika lingkungan non antroposentris yang menjadi pedoman hidup masyarakat, sehingga mereka selalu mengupayakan pelestarian dan keseimbangan lingkungan, konservasi sumberdaya alam vital, dan mengutamakan peningkatan kualitas hidup non material.

c) Pro Keadilan Sosial, maksudnya adalah keadilan dan kesetaraan akses terhadap sumber daya alam dan pelayanan publik, serta menghargai diversitas budaya.81

a) Deklarasi Rio tentang pembangunan dan lingkungan dengan 27 asa yang menetapkan hak dan tanggungjawab bangsa- bangsa dalam memperjuangkan perkembangan dan kesejahteraan manusia.

b) Agenda 21; Program kerja aksi PBB dari Rio sebuah rancangan tentang cara mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dari segi sosial, ekonomi dan lingkungan hidup83

c) Konvensi tentang perubahan iklim. Yaitu menstabilkan gas- gas rumah kaca dalam atmosfer pada tingkatan yang tidak mengacaukan iklim global.

d) Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati. Dalam bentuk perhatian negara untuk mengerahkan kekuatan dana untuk melestarikan keragaman spesies hidup dan mengupayakan agar hal tersebut dirasakan secara merata.

e) Prinsip kehutanan, yang berisi pernyataan tentang prinsip- prinsip pengelolaan pelestarian dan dan pembangunan semua jenis hutan secara berkelanjutan.

Selanjutnya KTT berlangsung di Kyoto. Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap konevnsi rangka kerja PBB tentang perubahan iklim (UNFCC), atau sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto protocol to the united nations frameworks convention on climate change.

Persetujuan ini dinegosiasikan di Kyoto Desember 1997, dibuka untuk penandatanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15

55 dan lihat juga Michael Keating, Bumi Lestari; Menuju Abad 21, (Kophalindo, 1994), h.xv

83Indonesia baru membuat agenda 21 lama setelah konferensi tersebut berlangsung. Agenda 21 Indonesia disusun berdasarkan perkembangan.

Perubahan kebijakan dan program mengenai linglkungan. Agenda ini bertujuan mewujudkan pembangunan berkelanjutan dengan mengintegrasikan konsep- konsep pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan. Dan juga menyangkut berbagai Isu nasional seperti pengentasan kemiskinan, perubahan pola konsumsi, kependudukan, sumber daya hayati kehutanan dan sebagainya

86 Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi lingkungan

Maret 1999. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbondioksida dan limbah gas rumah kaca lainnya, atau bekerjasama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.84

Upaya di Kyoto meruapakan perkembangan tahap sebelumnya yang dianggap tidak cukup dengan basis moral, sehingga dilanjutkan ke tahap komitmen yang berbentuk ikatan secara hukum dalam sebuah protokol yang disebut dengan protokol Kyoto, yang mengharuskan industri-industri untuk menurunkan emisinya secara kolektif sebesar 5,2 % dari tingkat emisi tahun 1990 pada periode 2008-2012. Tahap inipun dinilai tidak efektif karena adanya negara industri seperti Amerika Serikat dan Australia yang tidak setuju untuk meratifikasinya.

Pada tahun 2007, Indonesia menjadi tuan rumah bagi konferensi selanjutnya, yaitu pada tanggal 3-14 Desember. Badan PBB, UNFCC menyelenggarakan konferensi perubahan iklim di Bali. Disamping diikuti oleh sekitar 9.000 peserta dari 186 negara, konferensu ke 13 yang diadakan UNFCC ini juga melibatkan sekitar 300 LSM Internasional. Terlepas dari hasil-hasil konferensi yang dinilai banyak kalangan secara pesimistis, konferensi lanjutan dan protokol Kyoto yang membahas penanggulangan efek rumah kaca ini menunjukkan kecemasan global dari seluruh umat manusia terhadap krisis lungkungan hidup, khususnya pemanasan global.85

Tujuan jangka pendek KTT di Bali adalah negoisasi menuju sebuha fakta baru untuk mengganti protokol Kyoto yang akan habis masa berlakunya pada tahun 2012, dan merencanakan agenda dan batas waktu untuk pembicaraan lebih lanjut.

84Penjelasan lebih detil mengenai Protokol Kyoto dan beberapa hal penting lainnya selanjutnya baca Daniel Mourdiyarso, Protokol Kyoto; Implementasinya bagi Negara Berkembang (Jakarta: Kompas, 2003)

85 Daniel Murdiyarso, Konvensi Perubahan Iklim, (Jakarta: Kompas 2003), h.83, lihat juga M Ridha Saleh, Ecoside: politik Kejahatan lingkungan dan pelanggaran HAM...h,13

Pada tahun 2009, KTT Perubahan Iklim berlangsung di Kopenhagen, Denmark, 7-18 Desember yang dihadiri delegasi dari 193 negara, 23.000 peserta, serta lebih dari 130 kepala negara dan pemerintahan berakhir tanpa mencapai kata sepakat. Konferensi juga harus berakhir tanpa membuahkan kesepakatan utama dengan tidak menyebutkan batasan waktu dan angka target pengurangan emisi gas negara maju pada tahun 2020. Proposal yang ditengahi Amerika Serikat, Cina, serta negara maju lainnya ini juga belum berhasil mencapai kebulatan suara para delegasi.86

Pada akhirnya pelaksanaan konservasi dan pelestarian alam tidak lepas dari berbagai hambatan. Hasil penelitian IUCN, UNEP dan WWF dalam conservation strategy menyebutkan beberapa hambatan dari pelaksanaan konservasi tersebut yaitu:

1) Keyakinan, bahwa konservasi sumber daya hayati adalah salah satu sektor terbatas, bukan sesuatu yang perlu diperhatikan oleh berbagai sektor

2) Munculnya kegagalan untuk mengintegrasikan konservasi lingkungan dengan pembangunan

3) Karakteristik dari proses pembangunan yang sering kaku dan desktruktif

86Indonesia mengajukan lima rekomendasi sebagai salah satu upaya menawarkan alternatif masukan bagi proses negoisasi yang berjalan alot dalam KTT tersebut. Pertama; dunia harus sepakat untuk tidak ada toleransi kenaikan suhu tidak lebih dari dua derajat. Kedua, berkaitan dengan pandangan pda rekomendasi pertama, negara maju harus meningkatkan pengurangan emisi dari yang sudah ditetapkan sekarang. Dengan demikian negara maju bisa menyumbangkan pengurangan emisi yang cukup agar suhu tidak naik lebih dua derajat. Ketiga Negara berkembang juga harus mempunyai rencana aksi sukarela seperti yang telah dilakkan Indonesia yaitu mengurangi hingga 26% pada 2020, keempat: perlunya asistensi, bantuan bagi negara berkembang dalam peningkatan kapasitas maupun kemampuan mitigasi sehingga negara berkembang dapat memberikan sumbangan bagi pencegahan pemanasan global. Kelima; diperlukan suatu sistem pengawasan bukan hanya negera berkembang, tapi juga bantuan, serta progres dan implementasi bantuan negara maju tersebut terhadap negara berkembang.

88 Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi lingkungan

4) Adanya ketidakmampuan untuk mengkonservasi karena peraturan dan perundangan yang tidak jelas, bahkan tidak memadai

5) Bantuan terhadap konservasi yang dirasa masih kurang, yang disebabkan karena kurangnya kesadaran akan arti penting konservasi tersebut

6) Gagalnya pelaksanaan pembangunan yang berdasarkan konservasi di daerah yang membutuhkannya.87

Berbagai deklarasi88 dan konvensi di atas selanjutnya mengilhami semua bangsa untuk melakukan gerakan dibidang pelestarian lingkungan termasuk munculnya NGO-NGO (Non Govermental Oganization) atau LSM-LSM lingkungan. Gerakan peduli lingkungan juga muncul dari kalangan agamawan. Pada level ini, ajaran-ajaran agama berusaha dieksplorasi untuk mendukung gerakan pelestarian lingkungan dari sisi etika-agama.

D. Spiritualitas Agama sebagai Etika Lingkungan Global

Dalam dokumen Konservasi Alam Berbasis Spiritualitas Islam (Halaman 96-100)