• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kajian Teori

6. Laba Bersih

Laba dalam ilmu ekonomi murni dapatjuga didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang investor sebagai hasil penanaman modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan penanaman modal tersebut, atau laba juga bisa diartikan dengan penghasilan yang diperoleh dari usaha pokok (usaha utama) dan usaha diluar usaha pkok suatu perusahaan.

Para ekonomi juga mengartikan laba sebagai kelebihan penerimaan dari biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha. Namun demikian, bagi ekonom, kekayaan modal hanya dipandang sebagai sumber daya yang harus dibayar jika modal tersebut digunakan oleh sebuah perusahaan. Oleh karena itu ekonom mengangap tingkat kembalian normal ini merupakan tingkat kembalian normal (normal rate of return) dari kekayaan modal

38Slamet Riyadi, Banking Assets and Liability Management (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2006.

sebagai biaya dalam menjalankan usaha. Tingkat kembalian normal ini merupakan tingkat kembalian modal yang minimum yang diperlukan untuk memperoleh hasil dari penggunaanya dalam suatu kegiatan tertentu (opportnitycost). Oleh karena itu, laba bagi para ekonom adalah kelebihan dari laba bisnis atau tingkat kelebihan normal dari kekayaan modal yang di investasikan oleh suatu perusahaan. Konsep laba seperi ini sering di sebut sebagai laba ekonomis.

Pemahaman terhadap perbedaan antara konsep laba bisnis dengan laba ekonomis. Konsep laba ekonomis tersebut mensyaratkan adanya pembayaran lagi suatu sumber daya (kelayaan modal). Oleh karena itu, diperlukan suatu kembalian normal atau laba, untuk merangsang setiap individu untuk menabung dan menginvestasikan sebagian dari dana yang kita miliki. Laba normal ini secara sederhana merupakan harga diri modal.

Konsepnya tidak berbeda dengan sumber daya lainnya, seperti tenaga kerja, bahan-bahan dan energi.

Dalam keseimbangan jangka panjang, laba ekonomis akan menjadi nol jika semua perusahaan beroperasi dalam industri persaingan sempurna.

Dengan kata lain, semua perusahaan akan memperoleh tingkat laba bisnis yang hanya mencerminkan tingkat kembalian normal dari investasi yang mereka tanamkan. Namun demikian, kita tahu bahwa tingkat laba yang diperoleh perusahaan-perusahaan juga berbeda-beda. Tingkat laba berkisar dari yang paling rendah samapai yang paling tinggi.

Dalam teori ekonomi juga dikenal dengan laba, akan tetapi pengertian laba di dalam teori ekonomi berada dengan pengertian laba menurut akuntansi. Dalam teori ekonomi, para ekonomi mengatikan laba sebagai suatu kenaikan dalam kekayaan perusahaan. Sedangkan dalam akuntansi laba adalah perbedaan yang direalisasi dari transaksi yang terjadi pada waktu dibandingkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tertentu.

Laba terdiri empat elemen utama yaitu :

1. Pendapatan (Revenue) adalah arus masuk atau peningkatan lain dari aktiva suatu entitas atau pelunasan kewajiban (atau kombinasi dari keduanya) dari penyerahan atau produksi suatu barang, pemberian jasa, atau aktivitas lain yang merupakan usaha terbesar atau usaha yang sedang dilakukan entitas tersebut.

2. Beban (Expense) adalah arus keluar atau penggunaan lain dari aktiva atau timbulnya kewajiban (atau kombinasi keduanya) dari penyerahan atau produksi suatu barang, pemberian jasa, atau pelaksanaan aktivitas lain yang merupakan usaha terbesar atau usaha utama yang sedang di lakukan entitas tersebut.

3. Keuntungan (Gain) adalah peningkatan dalam ekuitas (aktiva bersih) dari transaksi sampingan atau transaksi yang terjadi sesekali dalam suatu entitas dan dari transaksi, kejadian dan kondisi lainnya yang mempengaruhi entitas tersebut kecuali yang berasal dari pendapatan atau investasi pemilik.

4. Kerugian (Loss) adalah penurunan dalam ekuitas (aktiva bersih) sebagai akibat dari pemegang aktiva dan mengalami penurunan nilai selama periode yang dipilih oleh penyataan pendapatan. Kerugian juga bisa terjadi juga akibat pemindahan sekarang tergantung incidential yang sah dan yang tidak saling tergantung, kecuali transfer yang tidak saling tergantung dengan pemegang saham, atau pemegang rekening investasi tak terbatas dan yang setara dengannya.

A. Gambaran Umum PT. Bank Mandiri 1. Profil Perusahaan PT. Bank Mandiri Tbk

Bank Mandiri didirikan pada 2 oktober 1998, sebagai bagian dari program pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli, empat bank pemerintah yaitu Bank Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Perekonomian Indonesia dilebur menjadi Bank Mandiri, dimana masing-masing bank tersebut meliki peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia.

Setelah melalui proses konsolidasi dan integrasi menyeluruh di segala bidang, Bank Mandiri berhasil membangun organisasi bank yang solid dan mengimplementasikan core banking system baru yang terintegrasi menggantikan core banking system dari keempat bank legacy sebelumnya yang saling terpisah. Sejak didirikan, kinerja Bank Mandiri senantiasa mengalami perbaikan terlihat dari laba yang terus meningkat dari Rp1,18 triliun di tahun 2000 hingga mencapai Rp5,3 triliun di tahun 2004. Bank Mandiri melakukan penawaran saham perdana pada 14 Juli 2003 sebesar 20% atau ekuivalen dengan 4 miliar lembar saham. Untuk

dapat mempertahankan dan terus meningkatkan kinerjanya, Bank Mandiri melaksanakan transformasi lanjutan tahun 2010-2014, yaitu dengan melakukan revitalisasi visinya untuk “Menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif”. Dengan visi tersebut, Bank Mandiri mencanangkan untuk mencapai milestone keuangan di tahun 2014, yaitu nilai kapitalisasi pasar mencapai di atas Rp225 triliun dengan pangsa pasar pendapatan mendekati 16%, ROA mencapai kisaran 2,5% dan ROE mendekati 25%, namun tetap menjaga kualitas aset yang direfleksikan dari rasio NPL gross di bawah 4%.39

Bank Mandiri terus memperkuat peran sebagai lembaga intermediasi untuk mendorong perekonomian nasional. Hal itu ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit sebesar 12,2% pada akhir 2014 menjadi Rp.530 triliun dari Rp.472,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rasio NPL terjaga di level 2,15 %. Pertumbuhan penyaluran kredit itu mendorong peningkatan aset menjadi Rp.855 triliun dari Rp733,1 triliun pada Desember 2013. Sedangkan laba bersih pada 2014 tercatat tumbuh 9,2 % menjadi Rp19,9 triliun atau naik Rp1.7 triliun jika dibandingkan akhir 2013 sebesar Rp.18,2 triliun. Selain pertumbuhan kredit, laju kenaikan laba bersih juga ditopang oleh pertumbuhan fee based income yang mencapai Rp15.06 triliun pada tahun 2014.Laju kenaikan laba juga ditopang pertumbuhan bunga bersih sebesar 15,7% menjadi Rp 39,1 triliun dan kenaikan fee based income sebesar 3,9 % sehingga

39https://www.bankmandiri.co.id/web/guest/profil-perusahaan

mencapai Rp.15,06 triliun. Dari capaian laba tersebut, kontribusi anak perusahaan mencapai 9.1% % atau sebesar Rp1,81 triliun. Sebagai implementasi fungsi intermediasi dalam mendukung perekonomian nasional, Bank Mandiri juga terus memacu pembiayaan ke sektor produktif. Hasilnya, pada akhir 2014, kredit ke sektor produktif tumbuh 13.9 % mencapai Rp 410,6 triliun. dimana kredit investasi tumbuh 9,1 % dan kredit modal kerja tumbuh 16,7%. Dilihat dari segmentasi, kenaikan penyaluran kredit terjadi di seluruh bisnis, dengan pertumbuhan tertinggi pada segmen mikro yang mencapai 33,2% menjadi Rp.36 triliun pada Desember 2014. Sementara itu, kredit yang tersalurkan untuk segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mencatat pertumbuhan sebesar 13,6 % menjadi Rp 73,4 triliun. Bank Mandiri juga turut menyalurkan pembiayaan khusus dengan skema penjaminan pemerintah, yaitu melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga akhir 2014, jumlah nasabah KUR Bank Mandiri meningkat 34 % yoy mencapai 396 ribu nasabah.40

Kepercayaan masyarakat kepada Bank Mandiri juga terus tumbuh yang ditunjukkan dengan naiknya penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) menjadi Rp.636,4 triliun pada akhir 2014 dari Rp.556,4 triliun pada tahun sebelumnya. Dari pencapaian tersebut, total dana murah (giro dan tabungan) yang berhasil dikumpulkan Bank Mandiri mencapai Rp380,5 triliun, yang terutama didorong oleh pertumbuhan tabungan sebesar 6,7%

40Ibid.,

atau Rp15,93 triliun hingga mencapai Rp252,4 triliun. Capaian tersebut sangat menggembirakan, terutama jika mempertimbangkan tingkat persaingan likuiditas yang sangat ketat di industri. Sebagai upaya untuk meningkatkan pengumpulan dana masyarakat melalui peningkatan kenyamanan bertransaksi, Bank Mandiri terus mengembangkan jaringan kantor cabang, jaringan elektronik, maupun jaringan layanan lainnya.

Hingga Desember 2014, Bank Mandiri telah memiliki 2.312 cabang, 15.344 unit ATM serta penambahan jaringan bisnis mikro sehingga menjadi 1.833 unit. Atas kinerja baik tersebut, Bank Mandiri meraih sejumlah penghargaan antara lain sebagai bank terbaik di Indonesia dari tiga publikasi terkemuka di sektor keuangan, yaitu Finance Asia, Asiamoney dan The Banker. Selain itu, Bank Mandiri juga berhasil mempertahankan predikat Best Bank in Service Excellence dari Marketing Research Indonesia (MRI) dan Majalah SWA selama tujuh tahun berturut- turut serta predikat Most Trusted Companies selama delapan tahun berturut-turut dari International Institute for Corporate Governance (IICG).41

2. Visi dan Misi Perusahaan PT. Bank Mandiri Tbk a. Visi

1) Menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif.

41Ibid.,

b. Misi

1) Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar 2) Mengembangkan sumber daya manusia profesional 3) Memberi keuntungan yang maksimal bagi stakeholder 4) Melaksankan manajemen terbuka

5) Peduli terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan.

3. Struktur Organisasi Perusahaan PT. Bank Mandiri Tbk42 B. Penyajian Data

Pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian data Time Series, populasi dalam penelitian ini adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan sampel dalm penelitian ini adalah data Laporan Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Tahun Periode 2012-2020.

Tabel 3.2.1

Data NPL, NIM, dan Laba Bersih PERIODE

NET

PERFORMING LOAN

NET

INTEREST MARGIN

LABA BERSIH Maret

2013

0.43 0.009606 3851157

Juni 0.38 0.017753 7939778

september 0.38 0.026136 12062398

desember 0.37 0.042397 17212968

Maret

2014

0.45 0.010906 4499903

Juni 0.47 0.022244 8993783

september 0.46 0.033919 14013263

desember 0.44 0.044935 19428328

Maret

2015

0.53 0.013032 5483239

Juni 0.63 0.024529 10032180

september 0.74 0.036524 144448889

desember 0.6 0.04467 20104430

Maret

2016 0.85 0,024 4185158

Juni 1.33 0.020208 7077749

42https://www.bankmandiri.co.id/visi-misi

september 1.04 0,029677 11631556

desember 1.38 0,038324 13071188

Maret

2017

1.16 0,010302 4420685

Juni 1.28 0,020131 9597569

september 0.85 0,030552 14889632

Desember 1.06 0,038164 20010716

Maret 0.67 0,035461 17311112

Juni 2018 0.89 0,023235 15958934

September 0.81 0,031020 16502360

Desember 0.84 0,032525 19464134

Maret 0.72 0,034769 17696979

Juni 2019 0.74 0,031050 18167898

September 0.71 0,030571 18737246

Desember 0.82 0,032075 18568751

Maret 0.81 0,030244 16839853

Juni 2020 0.47 0.028156 16315174

September 0.49 0.026018 16409207

Desember 0.53 0.029765 16698291

Sumber: Data Kinerja Laporan Keuangan 2013-2020 PT. Bank Mandiri (Persero) tbk.

C. Pengujian Analisis Hipotesis 1. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dimaksudkan untuk menguji apakah nilai residual yang telah distandarisasi pada model regresi berdistribusi normal atau tidak. Nilai residual dikatakan berdistribusi normal jika nilai residual terstandarisasi tersebut sebagian besar mendekati nilai rata-ratanya. Nilai residual terstandarisasi yang berdistribusi normal jika digambarkan dengan bentuk kurva akan berbentuk gambar lonceng (bell-shaped curve) yang kedua sisinya melebar sampai tidak terhingga. Untuk menguji normalitas dengan pendekatan grafik juga dapat dilakukan menggunakan normal probability plot, distribusi

normal digambarkan dengan sebuah garis diagonal lurus dari kiri bawah ke kanan atas. Distribusi kumulatif dari data sesungguhnya digambrakan dengan ploting. Jika data normal maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti atau merapat ke garis diagonalnya.

Gambar 3.3.1.1 Uji Normalitas

Sumber: Data Output SPSS

Berdasarkan hasil ujian grafik normal P-P Plot di atas, tidak ditemukan titik penyimpangan dari garis diagonal, itu artinya titik-titik

berada sejajar dan berdekatan dengan garis diagonal. Dengan demikian dapaisimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal.

a. Uji Multikolinieritas

Pengertian kolinieritas sering dibedakan dengan multikolinieritas. Kolinieritas berarti korelasi linier yang mendekati sempurna antar dua variabel bebas. Sedangkan multikolinieritas berarti terjadi korelasi linier yang mendekati sempurna antar lebih dari dua variabel bebas.

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi yang terbentuk ada korelasi yang tinggi atau sempurna diantara variabel bebas atau tidak. Uji multikolinieritas dapat dilakukan dengan melihat nilai TOL (Tolerance) dan VIF (Variance InflationFactor) dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Jika nilai VIF tidak lebih dari 10, maka model dinyatakan tidak terdapat gejala multikolinier.

Berikut adalah hasil uji multikolinieritas data dengan menggunakan SPSS

Tabel 3.3.1.1 Uji Multikololinieritas

Sumber: Data Output SPSS

Dari hasil pengujian diatas diperoleh nilai Tolerance untuk variabel dan variabelX > 0.10 dan nilai vif pada kedua variabel <

10. Jadi kedua variabel tidak mengalami gejala multikololinieritas.

b. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui apakah ada korelasi di antara anggota observasi yang diurut menurut waktu atau ruang. Cara yang sering digunakan dalam uji autokorelasi adalah dengan uji Durbin-watson (DW). DW juga telah menetapkan kaidah keputusan sebagai berikut:43

1. Du < DW < 4-Du maka Ha diterima, artinya tidak terjadi autokorelasi.

2. DW < Dl atau DW > 4-Dl maka Ha ditolak, artinya terjadi autokorelasi.

3. Dl < DW < Du atau 4-Du < DW < 4-Dl, artinya tidak ada kepastian atau kesimpulan yang pasti.

Berikut adalah hasil dari pengujian autokorelasi menggunakan SPSS:

Tabel 3.3.1.2 Uji autokorelasi

Sumber: Data Output SPSS

Berdasarkan hasil di atas, diperoleh nilai DW sebesar 2,191 Dalam penelitian ini menggunaka satu variabel bebas dengan jumlah

43Priyono, Analisis Data dengan SPSS, 69

sampel 32, maka diperoleh nilai Dl adalah 1,30932 dan nilai Du adalah 1,57358 nilai 4-Dl sebesar 2,69068 dan nilai 4-Du adalah 2,42642

Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dapat diketahui bahwa Dl < DW < 4-Du atau 1,30932 < 2,191 < 2,42642. Maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut tidak ada kesimpulan yang pasti.

c. Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas berarti ada varian variabel pada model regresi yang tidak sama (konstan). Sebaliknya, jika varian variabel pada model regresi memilih nilai yang sama (konstan) maka disebut dengan homoskedastisitas. Yang diharapkan pada model regresi adalah yang homoskedastisitas. Masalah heteroskedastisitas sering terjadi pada penelitian yang menggunakan data cross-section.

Tabel 3.3.1.3 Uji Heteroskedastisitas

Sumber: Data Output SPSS

Berdasarkan output di atas diketahui bahwa pada model regresi tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Hal ini karena signifikan variabel Non Performing Loan terhadap absolut residual sebesar 0, 7 >

0,05. Sedangkan variabel Net Interest Margin terhadap absolut residual sebesar 0,9 > 0,05.

2. Uji Hipotesis

a. Analisis Uji t (Parsial)

Uji t dalam regresi linier berganda pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui secara individual pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen.

Berikut adalah hasil Uji t dengan menggunakan SPSS:

Tabel 3.3.2.1 Uji parsial (t)

Sumber: Data Output SPSS

Berdasarkan nilai statistic diatas dapat dilihat bahwa nilai signifikansi untuk variabel Non-Performong Loan adalah sebesar 0.977>0.05 maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama di tolak artinya tidak ada pengaruh NPL terhadap laba bersih.

Berdasarkan nilai styatistik diatas dapat dilihat untuk variabel NIM adalah sebesar 0.059 < 0.05 maka hipotesi di terima, dan variabel NIM berpengaruh terhadap variabel Laba bersih

a. Analisis Uji F (Simultan)

Uji F pada dasarnya digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi

mempunyai pengaruh secara simultan (bersama-sama) terhadap variabel dependen ataukah tidak.

Berikut adalah hasil Uji F dengan menggunakan SPSS:

Tabel 3.3.2.2 Uji Simultan (F)

Sumber: Data Output SPSS

Berdasarkan nilai statistic pada hasil analisi diatas, dapat dilihat bahwa nilai F hitung sebesar 1,935 dengan signifikansi 0,163. Karena nilai signifikansi 0,163 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel Non Performing Loan ( ), Net Interest Margin (X ) secara simultan atau bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel Laba Bersih (Y).

3. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda merupakan teknik analisis regresi yang dapat digunakan untuk menguji pengaruh beberapa variabel independen terhadap satu variabel dependen. Berikut adalah hasil perhitungan regresi linier berganda antara variabel Non Performing Loan ( ), dan Net Interest Margin (X ), terhadap Laba Bersih (Y) dengan aplikasi SPSS adalah sebagai berikut:

Tabel 3.3.3

Analisis Regresi Linear Berganda

Sumber: Data Output SPSS

Dari analisis diatas dapat dilihat bahwa model regresi linear berganda adalah

Y = -6.536+ -4.256X1 + 8.645X2 + e

a. Koefisien konstanta bernilai negatif menyatakan bahwa dengan mengansumsikan ketiadaan variabel Non Performing Loan dan Net Interest Margin, maka Laba Bersih cenderung mengalami penurunan.

b. Koefisien regresi Non Peforming loan bernilai negatif menyatakan bahwa nilai Non Performing Loan mengalami penurunan, maka Laba Bersih cenderung mengalami penurunan.

c. Koefisien regresi Pendapatan bernilai positif menyatakan bahwa dengan mengansumsikan ketiadaan variabel lainnya, maka apabila Net Interest Margin mengalami peningkatan, maka Laba Bersih cenderung mengalami peningkatan.

Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan nilai negatif pada variabel ( ) sementara variabel (X ) bernilai positif, artinya Non Performing Loan tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap laba

bersih sedangkan Net Interest Margin berpengaruh terhadap Laba bersih.

4. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan model dalam menerangkan variasi dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Koefisien determinasi tersebut ditunjukkan dengan nilai Ajusted R Square pada tabel berikut:

Tabel 3.3.4

Uji koefisien determinasi (R2)

Sumber: Data Output SPSS

Berdasarkan uji Koefisien determinasi tabel diatas, nilai Adjust R Square sebesar 0,118. Memiliki arti bahwa Non Performing Loan dan Net Interet Margin berpengaruh terhadap Laba Bersih sebesar 11,8 %, sisanya 88,2 % dipengaruhi oleh faktor lain diluar variabel X1 dan variabel ( ).

D. Pembahasan

1. Analisis dan Interprestasi Secara Parsial Non Performing Loan terhadap Laba Bersih

Berdasarkan uji parsial dapat dilihat nilai signifikansi untuk variabel Non Performing Loan adalah sebesar 0,977. Karena nilai signifikansi lebih besar 0,977 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa

variabel Non Performing Loan ( ) tidak berpengaruh terhadap laba bersih (Y).

Artinya adanya kenaikan ataupun penurunan Non Performing Loan tidak dapat mempengaruhi laba bersih PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

2. Analisis dan Interprestasi Secara Parsial Net Interest Margin Terhadap Laba Bersih

Untuk variabel Net interest margin sebesar 0,059. Karena nilai signifikan 0,059 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel Net Interet Margin ( )) berpengaruh terhadap variabel Laba Bersih (Y).

Artinya adanya kenaikan maupun penurunan net interest margin akan mmepengaruhi terhadap laba bersih PT Mandiri (Persero) Tbk.

Hal seperti ini juga tidak perpengaruh kepada nasabah yang ingin bertransaksi pada PT Mandiri (Persero) Tbk, hal tersebut dikarenakan ketika mengajukan kredit, nasabah tidak memperhatikan besar kecilnya ting interest. Nasabah lebih berfikir untuk memenuhi kebutuhan mereka ketika mengajukan kredit.

3. Analisis dan Interprestasi Secara Simultan Non Performing Loan dan Net Interest Margin terhadap Laba Bersih

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa variabel Non Performing Loan ( ) tidak berpengaruh terhadap variabel Laba Bersih (Y). sedangkan dan variabel Net Interest Margin ( )) berpengaruh terhadap variabel laba bersih (Y) hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS 17.0, dimana nilai signifikansi 0,163.

Karena nilai signifikansi 0,163 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa H3 ditolak, yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh secara simultan atau bersama-sama variabel Non Performing Loan ( ) dan Net Interest Margin ( ) terhadap Laba Bersih (Y) di PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.

A. Kesimpulan

Peneliti ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Non Performing Loan dan Net Interest Margin terhadap Laba bersih pada PT Bank Mandiri Persero Tbk periode 2013-2020

Maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Dapat dilihat nilai signifikansi untuk variabel non performing loan adalah sebesar 0,977. Karena nilai signifikansi lebih besar 0,977 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel non performing loan ( ) tidak berpengaruh terhadap laba bersih (Y) di PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk..

2. Variabel Net interest margin sebesar 0,059. Karena nilai signifikan 0,059

> 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel Net Interest Margin ( )) berpengaruh terhadap viabel Laba Bersih (Y) di PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk..

3. Nilai signifikansi 0,163 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa H3 ditolak, yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh secara simultan atau bersama-sama variabel Non Performing Loan ( ) dan Net Interest Margin ( ) terhadap Laba Bersih (Y) di PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.

B. Saran

1. Bagi PT Bank Mandiri Persero Tbk

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk kedepannya disarankan memperhatikan Non Performing Loan dan Net Interest Margin untuk peningkatan laba bersih pada perusahaan.

2. Bagi peneliti selanjutnya

Untuk penelitian selanjutnya diharapkan bisa menambah variabel independennya, dan memperluas objek penelitiannya dengan menggunakan objek perusahaan-perusahaan lainnya.

Andanarini, Dhian Minar Savitri. Pengaruh Non Performing Loan (NPL), Net Interest Margin (NIM) Dan Loan To Deposit Ratio (LDR) Terhadap Perubahan Laba Bank Pada Bank Devisa Dan Bank Non Devisa Di Indonesia tahun 2006-2010”. Jurnal Ilmu Manajemen Dan Akuntansi Terapan, Vol 2 No 2 (November,2011).

Arikunto,Suharsimi. 2010.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:

Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2016. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta Grafindo Persada.

Febryani, Anita dan Rahadian Zulfadin.Analisis Kinerja Bank Devisa danBank Non Devisa di Indonesia. Kajian Ekonomi dan Keuangan, Vol. 7, No. 4.

Gozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivarieate dengan SPSS. Semarang:

Universitas Diponegoro.

Hadi,Sutrisno.Metodologi Research. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Hanafi, Mahmud M. dan Abdul Hallim. 2007. Analisis Laporan Keuangan Edisi Ke-3. Yogyakarta: STIE YKPN.

Hasan. Pokok-Pokok Materi Statistik.

https:// ekonomi/kompas/com/read/2017/10/24/191500426/kuartal-iii-2017-bank- mandiri-catatkan-laba-rp-15-triliun(19 april 2018)Tarmizi, Achmad danWillyanto Kartiko Kusomo. Analisis Rasio-Rasio Keuangan Sebagai Indikator Dalam Memprediksi Potensi Kondisi Bermasalah. Perbankan di Indonesia: Media Ekonomi & Bisnis Vol. XV NO. 1 Juni 2003, 2003.

https://id.wikisource.org/wiki/undangundang_Republik_Indonesia_Nomor_10_Ta hun_1998(18 April 2018)

Iqbal, M. Hasan. 2013. Pokok-Pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif).

Jakarta: Bumi Aksara.

Kasiram, Moh. 2010. Metodologi Penelitian refleksi pengembangan pemahaman dan penguasaan metodologi penelitian. Malang: UIN-MALIKI PRESS.

Kasmir. 2012.Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.

Kasmir. 2012. Bank dan lembaga keuangan lainnya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Latan,Hengky. 2013. Analisis Multivariate Teknik dan Aplikasi. Bandung:

Alfabeta.

Masyhuri & M. Zainuddin. 2011. Metodologi Penelitian Praktis dan Aplikatif, (Bandung: Refika Aditama.

Nasution. 2011. Metode Research: Penelitian Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara.

Nazir, Moh. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Prihadi, Toto. 2008. Analisasi Rasio Keuangan. Jakarta: PPM Manajemen.

Ridwan. 201. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung:

Alfabeta.

Riyadi, Slamet. 2006. Banking Assets and Liability Management (Edisi Ketiga).

(Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Riyanto, Bambang. 2008. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta:

Yayasan Badan Penerbitan.

Romasta U.T, ”pengaruh non performing loan, loan to deposito ratio, net interest margin, dan capital adequacy ratio terhadap profitabilitas bank umum swasta nasioanal devisa periode 2012-2015”, (Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara Medan, Medan, 2017).

Surat Edaran BI No.6//23/DPNP tanggal 31 Mei 2004.

Sugiono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung:

Alfabeta, 2013.

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Taswan. 2009. Manajemen Lembaga Keuangan Mikro BPR. Semarang: Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Stikubank.

Tim Penyususn STAIN Jember. 2013. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah .Jember:

STAIN Jember Press.

Dokumen terkait