• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan Pendidikan Karakter

BAB II KAJIAN TEORI

B. Sekolah Berbasis Karakter

6. Landasan Pendidikan Karakter

35

d. Tabligh, artinya komunikatif. Beliau tidak menyembunyikan informasi yang benar apalagi untuk kepentingan umat dan agama. Beliau tidak pernah sekalipun menyimpan informasi berharga hanya untuk dirinya sendiri;

e. Fathanah, artinya cerdas/cerdik. Cerdas disini yaitu:

mengetahui dengan jelas apa akar permasalahan yang dia hadapi serta tindakan apa yang harus dia ambil untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada umat.36

Dalam implementasinya di satuan pendidikan, pusat kurikulum menyarankan agar dimulai dari nilai esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai kondisi masing-masing sekolah, misalnya bersih, rapi, nyaman, disiplin, sopan dan santun.

Dari uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa untuk mensukseskan pendidikan karakter peserta didik maka perlu dilakukan identifikasi nilai-nilai karakter terlebih dahulu. Oleh karena itu setiap institusi pendidikan harus mengembangkan pendidikan karakter berdasarkan nilai-nilai karakter yang dikembangkan oleh institusi pendidikan itu sendiri. Nilai-nilai karakter tersebut bisa bersumber dari ajaran agama, budaya bangsa maupun norma-norma yang berlaku dimasyarakat.

6. Landasan Pendidikan Karakter

kehidupan masyarakat. Sebagaimana firman Allah dalam Al- Qur‟an surah An-Nahl ayat 90 sebagai berikut37:



































“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan, dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90)

Pendidikan karakter dalam Islam diperuntukkan bagi manusia yang merindukan kebahagiaan dalam arti yang hakiki, bukan kebahagiaan semu. Karakter Islam adalah karakter yang benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuai dengan fitrahnya..38

b. Hadits

Hadits nabi yang berkaitan dengan konsep pendidikan karakter adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari- Muslim sebagai berikut:39

َلاَق :َلاَق ،ِهِّدَج ْنَع ،ِويِبَأ ْنَع ، ٍبْيَعُش ِنْب وِرْمَع ْنَع :َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُللها ىَّلَص ِوَّللا ُلوُسَر ْمُىَو ِة َلََّصلاِب ْمُكَد َلَْوَأ اوُرُم

37Amru Khalid, Tampil menawan Dengan Akhlak Mulia, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2008) , h. 37

38Abdul majid, Dian andayani. Pedidikan karakter dalam perspektif Islam, (Bandung: Insan Cita Utama, 2010), h. 61

39Abu Bakar Muhammad, Hadits Tarbawi III, (Surabaya: Karya Abditama, 1997), h. 70

37

َس ُءاَنْ بَأ اوُقِّرَ فَو ٍرْشَع ُءاَنْ بَأ ْمُىَو ،اَهْ يَلَع ْمُىوُبِرْضاَو ،َنيِنِس ِعْب

ِعِجاَضَمْلا يِف ْمُهَ نْ يَ ب دانسإب دوادوبأ هاور نسح سيدح(

نسح

40

“Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ra, ia bercerita, Rasulullah saw bersabda, “suruhlah anak- anakmuyang telah berumur tujuh tahun untuk shala, dan pukulah mereka (dengan pukulan yang tidak melukai) apabila mereka meninggalkan shalat. Jika sudah berumur 10 tahun.

Pisahkanlah mereka dalam tempat tidur.”(HR. Abu Daud dengan sanad yang hasan).

Hadits yang memerintahkan anak untuk shalat oleh orang tuanya diatas sejalan dengan nilai-nilai karakter atau perilaku manusia terhadap Allah SWT. nilai-nilai perilaku manusia terhadap Allah SWT. meliputi: taat kepada Tuhan, syukur, ikhlas, sabar, dan tawakkal (berserah diri kepada Allah).41

c. Landasan Operasional

Landasan operasional merupakan landasan yang terbentuk sebagai aktualisasi dari nilai dasar ideal. Menurut Hasan Langgulung dalam buku Azas-Azas Pendidikan Islam, dasar operasional dibagi dalam enam macam, yaitu:42

1) Dasar historis, yaitu dasar yang memberikan persiapan kepada pendidik dengan hasil-hasil pengalaman masa lalu;

40 Abu Daud Sulaiman Ibn al-Asy‟ab, Sunan Abu Daud, (Beirut: Al-Maktabah al-

„Asyriyah, t.th) juz 1, h. 133

41 Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Grand Desain Pendidikan Karakter, 2010

42Anas Salahudin dan Irwanto Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa, h. 87

2) Dasar sosiologis, yaitu dasar berupa kerangka budaya tempat pendidikan bertolak dan bergerak, seperti meindahkan budaya, memilih dan mengembangkannya;

3) Dasar ekonomis, yaitu dasar yang memberi perspektif tentang potensi-potensi manusia;

4) Dasar politik dan administratif, yaitu dasar yang memberi bingkai ideologiss yang digunakan sebagai tempat bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita- citakan dan rencana yang telah dibuat;

5) Dasar psikologis, yaitu dasar yang memberikan informasi tentang watak peserta didik, pendidik, metode terbaik dalam praktik, pengukuran dan penilaian bimbingan, dan penyuluhan;

6) Dasar filosofis, yaitu dasar yang memberikan kemampuan memiliki yang terbaik, memberi arah suatu sistem yang mengontrol dan memberi arah pada semua operasional lainnya.43

d. Landasan Konstitusional

1) Amanat Undang-Undang dasar 1945:

a) Pasal 31 ayat 3: “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”.44

43Anas Salahudin dan Irwanto Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa, h. 88

44 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1945 tentang Pendidikan Nasional Pasal 31 Ayat (3)

39

b) Pasal 31 ayat 5: “pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

2) Amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.

20 tahun 2003

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.45 e. Sekolah Islam Berbasis Karakter

Menurut Muhammad Jafar Anwar dan Muhammad A.

Salam “kata sekolah berasal dari bahasa latin, skhole, scola, scolae, schola berarti “waktu luang”. Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan atau informasi sebanyak-banyaknya, tetapi sebagai wadah bagi guru dan siswa untuk sama-sama belajar, sama-sama mengamati apa yang terjadi di sekelilingnya dan terlebih lagi pengamatan terhadap diri masing-masing”.46

Banyak nilai yang dapat dan harus dibangun di sekolah. Sekolah adalah laksana taman atau lahan yang subur tempat menyemaikan dan menanam benih-benih nilai tersebut. Pemerintah sendiri telah membuat grand design pendidikan karakter dengan menempatkan empat nilai utama

45UUD RI tentang SISDIKNAS, Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, (Surabaya:

Karina, 2003), h. 3

46Muhammad Jafar Anwar dan Muhammad A. Salam, Membumikan Pendidikan karakter: Implementasi Pendidikan Berbobot Nilai dan Moral, (Jakarta: CV. Suri Tatu‟uw, 2015), h. 65

yang harus ditanamkan di sekolah. Keempat nilai tersebut adalah: (1) jujur dan bertanggung jawab (cerminan dari olah hati) (2) cerdas (cerminan dari olah pikir) (3) sehat dan bersih (cerminan dari olah raga) dan (4) peduli dan kreatif (cerminan dari olah rasa).47 Sekolah adalah tempat yang sangat strategis bahkan yang utama setelah keluarga untuk membentuk karakter siswa. Bahkan seharusnya setiap sekolah menjadikan kualitas karakter sebagai salah satu Quality Assurance yang harus dimiliki oleh setiap lulusan sekolahnya.

Tentunya kita semua berharap siswa-siswi yang dididik di sekolah kita menjadi hamba Allah yang beriman, sebagaimana pemerintah kita mencanangkan dalam pasal 3 UU No. 20/2003, bahwa: “pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Pendidikan karakter disekolah sangat terkait dengan manajemen sekolah. Manajemen yang dimaksud di sini adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai.48

Dari semua komponen sekolah, yang paling berperan mensukseskan program pendidikan berbasis karakter di sekolah, adalah guru. Tentunya diperlukan guru berkarakter

47Thomas Lickona, Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik, h. 80

48Muchlas samani dan Hariyanto, Pendidikan Karakter (Konsep dan Model, h. 111

41

untuk menghasilkan siswa berkarakter untuk menghasilkan siswa berkarakter. Namun pada penelitian ini penulis akan mencari tahu bagaimana peran kepala sekolah dalam mewujudkan seolah Islam berbasis karakter.49

Kekuatan sekolah dalam pembinaan karakter yang baik dapat ditetapkan dalam visi dan misi misalnya : menciptakan komunitas sekolah dan yang berakhlak mulia, berkepribadian yang utuh dan menjadikan lembaga pendidikan yang warganya bertakwa, cerdas, mandiri, inovatif dan visioner. Untuk mewujudakan misinya tersebut adalah kebijakan manajemen sekolah yang bersih, menciptakan budaya sekolah yang kreatif, menyenangkan dan penuh rasa kekeluargaan, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter, takwa, jujur, menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap memimpin.

Implementasi pendidikan karakter di sekolah belajar dapat dipandang sebagai aktivitas psikologis yang memerlukan dorongan dari luar. Untuk itu, perlu mengupayakan hal-hal: (1) bagaimana memotivasi peserta didik dan bagaimana materi belajar harus dikemas sehingga bisa membangkitkan motivasi, gairah dan nafsu belajar, (2) belajar perlu dikaitkan dengan seluruh kehidupan peserta didik, agar dapat menumbuhkan kesadaran mereka terhadap manfaat dari perolehan belajar. Sehubungan dengan itu, dalam proses pembelajaran yang paling penting adalah apa

49Muhammad Jafar Anwar dan Muhammad A. Salam, Membumikan Pendidikan karakter: Implementasi Pendidikan Berbobot Nilai dan Moral, h. 153

yang dipelajari peserta didik, bukan kehendak yang ingin dicapai oleh guru/fasilitas.50

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sekolah Islam berbasis karakter menjadikan pendidikan karakter sebagai pilar utama sekolah yang menanamkan empat nilai utama dalam pendidikan karakter yaitu: (1) jujur dan bertanggung jawab (cerminan dari olah hati) (2) cerdas (cerminan dari olah pikir) (3) sehat dan bersih (cerminan dari olah raga) dan (4) peduli dan kreatif (cerminan dari olah rasa).

Adapun cara agar ketiga hal tersebut terserap oleh siswa secara efektif adalah dengan mengintegrasikan dalam proses belajar mengajar (PBM) setiap hari disekolah.

C. Lingkungan Hidup

1. Pengertian Lingkungan Hidup

Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk istimewa (super being) yang memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain.51 Akan tetapi, manusia juga makhluk yang sama dengan makhluk yang lain, yang membutuhkan interaksi dengan lingkungan hidupnya. Secara ekologi manusia merupakan bagian integral dari lingkungan hidupnya. Manusia terbentuk oleh lingkungan hidupnya dan sebaliknya manusia membentuk lingkungan hidupnya. Manusia tidak dapat berdiri sendiri di luar lingkungan hidupnya.52

50Muhammad Jafar Anwar dan Muhammad A. Salam, Membumikan Pendidikan karakter: Implementasi Pendidikan Berbobot Nilai dan Moral, h. 156-157

51Yasien Mohamed, Insan Yang Suci: Konsep Fitrah Dalam Islam, terj. Masyur Abadi, (Bandung: Mizan, 1997), h. 25

52Otto Soemarwoto, Analisa Mengenal Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: UGM Press, 2001), Cet.ke-9, h. 18

43

Lingkungan hidup dengan segala komponen yang ada di dalamnya sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia. Allah SWT telah menciptakan lingkungan dengan berbagai macam komponen yang dapat dipergunakan manusia dalam rangka menjalankan tugas yang telah ditetapkan Allah SWT, baik pelaksanaan tugas itu dalam rangka ibadah, dalam rangka menjalankan amanat sebagai khalifah di muka bumi ini, maupun dalam rangka membangun dan memakmurkan bumi.

Manusia mempunyai ketergantungan yang sangat kuat dengan lingkungan hidupnya. Membicarakan manusia harus pula membicarakan lingkungan hidupnya, demikian pula sebaliknya membicarakan lingkungan juga membicarakan manusia. Manusia tanpa lingkungannya adalah abstraksi belaka.

Menurut Otto Soemarwoto “Secara umum lingkungan hidup diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya”.53

Beberapa pakar lingkungan tidak membedakan secara tegas antara pengertian lingkungan dengan “lingkungan hidup” baik dalam pengertian sehari-hari maupun dalam forum ilmiah. Namun yang secara umum digunakan adalah istilah “lingkungan” lebih luas dari pada “lingkungan hidup”. Istilah lingkungan hidup dalam bahasa Inggris disebut environment, dalam bahasa Belanda disebut dengan milieu, atau dalam bahasa Perancis disebut dengan environment.54

53Otto Soemarwoto, Analisa Mengenal Dampak Lingkungan,h. 18

54Andi Hamzah, Penegakan Hukum Lingkungan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), Cet. Ke-2, h. 1

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang pengertian lingkungan hidup, penulis memaparkan beberapa pendapat dari para pakar-pakar lingkungan tentang pengertian lingkungan hidup diantaranya yakni:

Andi Hamzah berpendapat dalam bukunya yang berjudul Penegakan Hukum Lingkungan bahwa lingkungan adalah “semua faktor eksternal yang bersifat biologis dan fisika yang langsung mempengaruhi kehidupan, pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi organisme”.55

Pendapat lain dikemukakan oleh Otto Soemarwoto, bahwa:

“lingkungan adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita”.56

Menurut Harun M. Husein dalam bukunya Lingkungan Hidup Masalah, Pengelolaan, dan Penegakan Hukumnya bahwa: “secara umum lingkungan hidup diartikan sebagai segala benda, kondisi dan keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruang yang kita tempati dan mempengaruhi hal hidup termasuk kehidupan manusia”.57

Dari beberapa defenisi mengenai lingkungan hidup yang telah penulis paparkan tadi maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan hidup itu ialah suatu rangkaian atau suatu sistem yang saling mempengaruhi satu sama lain terhadap kehidupan dan kesejahteraan, baik terhadap manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, maupun terhadap benda mati lainnya.

55Andi Hamzah, Penegakan Hukum Lingkungan, h. 1

56Otto Soemarwoto, Analisa Mengenal Dampak Lingkungan,h. 18

57Harun M. Husein, Lingkungan Hidup Masalah, Pengelolaan, Dan Penegakan Hukumnya, (Jakarta: Bumi Aksara: 1995), Cet. Ke-2, h. 7

45

2. Fungsi Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup merupakan bagian yang mutlak dari kehidupan manusia. Dengan kata lain, lingkungan hidup tidak terlepas dari kehidupan manusia. Manusia mencari makan dan minum serta memenuhi kebutuhan lainnya dari ketersediaan atau sumber- sumber yang diberikan oleh lingkungan hidup dan kekayaan alam sebagai sumber pertama dan terpenting bagi pemenuhan berbagai kebutuhannya. Dari lingkungan hidupnya, manusia memanfaatkan bagian-bagian lingkungan hidup seperti hewan-hewan, tumbuh- tumbuhan, air, udara, sinar matahari, garam, kayu, barang-barang tambang dan lain sebagainya untuk keperluan hidupnya. Tetapi tidak hanya manusia yang hidup seperti itu. Makhluk hidup yang lain seperti hewan dan binatang-binatang mikroba serta tumbuh- tumbuhan, juga bisa hidup karena lingkungan hidupnya.58

Dari lingkungan hidup, manusia, hewan, dan tumbuh- tumbuhan bisa memperoleh daya atau tenaga. Manusia memperoleh kebutuhan pokok atau primer, kebutuhan sekunder atau bahkan memenuhi lebih dari kebutuhannya sendiri berupa hasrat atau keinginan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa manusia dan makhluk lainnya tidak bisa hidup dalam kesendirian. Bagian-bagian atau komponen-komponen lain, mutlak harus ada untuk mendampingi dan meneruskan kehidupan atau eksistensinya.59

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi dari lingkungan hidup adalah sebagai sumber utama dan terpenting bagi pemenuhan kebutuhan manusia.

58N.H.T. Siahaan, Hukum Lingkungan Dan Ekologi Pembangunan, (Jakarta:

Erlangga, 2004), Cet. Ke-2, h. 3

59 N.H.T. Siahaan, Hukum Lingkungan Dan Ekologi Pembangunan, h. 3

D. Peran Kepala Sekolah dalam Mewujudkan Sekolah Islam Berbasis Karakter dan Lingkungan Hidup

Dalam pengertiannya sekolah Islam berbasis karakter dan lingkungan hidup di SMP Islam Al-Syukro adalah sekolah Islam yang menerapkan pendidikan karakter kepada peserta didik agar peserta didik mempunyai akhlak, watak atau kepribadian yang baik.

Untuk mensukseskan pendidikan karakter ini SMP Islam Al-Syukro mempunyai lima nilai karakter utama yang bersumber dari agama dan budaya yaitu karakter Islami, Kemasyarakatan, tanggung jawab, disiplin dan mandiri. Dalam penerapan nilai-nilai karakter kepada peserta didik di SMP Islam Al-Syukro sendiri yaitu melalui kegiatan pembiasaan diantaranya seperti, pada hari Senin diwajibkan untuk puasa sunnah dan upacara bendera, pada hari Selasa ada kegiatan tahsin dan tahfidz, pada hari Rabu ada kegiatan literasi, hari Kamis english day, dan hari Jum‟at ada kegiatan Arabic day, gardening (berkebun) dan fishiering (budidaya ikan). Dalam kegiatan pembiasaan ini terdapat pembiasaan yang sudah efektif dijalankan dan ada pembiasaan yang belum efektif dijalankan. Adapun pembiasaan yang belum efektif dijalankan yaitu pembiasaan puasa sunnah, gardening dan fishiering. Hal ini dikarenakan pembiasaan ini masih baru dan masih dalam tahap evaluasi.60

Adapun peran kepala sekolah dalam mewujudkan sekolah Islam berbasis karakter dan lingkungan hidup yaitu dengan membuat konsep dari perencanaan program yang akan dilaksanakan dalam menunjang terwujudnya sekolah Islam berbasis karakter dan lingkungan hidup, program-program tersebut seperti pembiasaan, keteladanan, dan tata tertib beserta sanksi pelanggarannya. Dalam

60 Hasil Observasi dan wawancara di SMP Islam Al-Syukro, Ciputat, 02 Juli 2018

47

pembuatan konsep ini kepala sekolah biasanya dibantu oleh tenaga kependidikan yang lain. Setelah konsep ini terbuat kepala sekolah juga akan melakukan pengawasan agar program ini berjalan dengan baik. Selain itu kepala sekolah juga memberikan teladan atau contoh bagi guru dan peserta didik seperti selalu datang setiap pagi sebelum siswa dan guru yang lain datang, selalu keliling dari kelas ke kelas memastikan proses kegiatan belajar mengajar berjalan lancar dan kepala sekolah juga tidak membatasi guru dan siswa untuk saling berkomunikasi sebagai keluarga atau teman, dengan syarat kewibawaan dan sopan santun harus tetap ada, selalu berpakaian sesuai aturan dan mengucapkan salam ketika bertemu dengan orang.

Adapun peran kepala sekolah dalam lingkungan hidup di sekolah, ia memberikan ide memanfaatkan lahan yang kosong di SMP Islam Al- Syukro untuk digunakan sebagai media sumber belajar seperti berkebun dan lahan yang kosong tersebut juga digunakan untuk membuat kolam ikan sebagai media belajar budidaya ikan atau fishiering.61

61 Hasil Observasi dan wawancara di SMP Islam Al-Syukro, Ciputat, 02 Juli 2018

59 BAB III

METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Islam Al Syukro yang berlokasi di Jalan Otista Raya Gang Haji Maung No. 30, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten. Sedangkan waktu penelitian dilakukan dari tanggal 02 Juli 2018 sampai tanggal 06 Agustus 2018.

B. Metode dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif. Format penelitian kualitatif pada umumnya dilakukan pada penelitian dalam bentuk studi kasus.1 Metode penelitian kualitatif ini adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisa fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.2

Penelitian kualitatif ini meneliti aktifitas rutin orang-orang yang ditelitinya dan melakukan interaksi.3 Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang mengkonstruksikan realitas dan memahami maknanya. Sehingga, penelitian kualitatif biasanya sangat memperhatikan proses, peristiwa dan otentisitas. Dalam penelitian kualitatif kehadiran nilai peneliti bersifat eksplisit dalam situasi yang terbatas, melibatkan subjek dengan jumlah. Penelitian yang digunakan dalam bidang pendidikan, digunakan juga untuk

1 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana, 2007), Cet.3, h. 68

2 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya, 2012), Cet.8, h. 60

3 Cahya Wiratama, Metode-Metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication, (Yogyakarta: Bentang, 2008), h. 9

60

memahami perilaku pendidik dan peserta didiknya dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan.4 Objek penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research), yaitu mencari data informasi secara langsung di lapangan yang diperlukan dalam penelitian yang dilakukan.

Untuk mendapatkan data yang diperlukan, maka digunakan metode deskriptif yaitu: pengumpulan informasi mengenai suatu informasi atau gejala yang terjadi apa adanya pada saat penelitian di SMP Al Syukro Ciputat Kota Tangerang Selatan dengan terlibat langsung di lapangan, untuk kemudian dianalisis hasil temuan secara kualitatif.

C. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah berbagai cara yang digunakan untuk mengumpulkan data, menghimpun, mengambil atau menjaring data penelitian.5 Teknik pengumpulan data dalam penelitian yaitu bertujuan untuk mendapatkan data.6 Merujuk pada sumber data yang digunakan maka teknik pengumpulan data yang digunakan ialah:

1. Observasi

Menurut Imam Gunawan yang mengutip dari Poerwandari berpendapat bahwa istilah observasi diturunkan dari bahasa latin yang berarti “melihat” dan

“memerhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memerhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan

4 Tohirin, Metode penelitian Kualitatif dalam Pendidikan dan Bimbingan Konseling, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2012), h. 3

5 Enzir, Metodologi Penelitian Pendidikan: Kuantitatif dan Kalitatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), h. 174

6 Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, dan R&D, h. 224

antaraspek dalam fenomena tersebut.7 Dalam pengertian lain, observasi merupakan proses mengamati dan mencatat suatu objek yang berkaitan dengan kegiatan yang diteliti.8

Objek dalam observasi adalah kepala sekolah, guru, dan peserta didik. Tujuan observasi ini agar peneliti dapat mengamati secara langsung kegiatan kepala sekolah dan kegiatan manajemen sekolah seperti pembiasaan harian, keteladanan, kegiatan spontan dan lingkungan sekolah SMP Islam Al-Syukro Universal Ciputat Kota Tangerang Selatan.

Dalam observasi ini kegiatan awal penulis adalah menyerahkan surat izin untuk melakukan penelitian di SMP Islam Al-Syukro Universal Ciputat. Kegiatan Selanjutnya adalah menyusun langkah-langkah observasi yang akan dilakukan penulis. Dibuatnya langkah-langkah ini adalah agar penelitian terfokus pada judul yang penulis tulis yaitu tentang peran kepala sekolah dalam mewujudkan sekolah islam berbasis karakter dan lingkungan hidup di SMP Islam Al-Syukro Universal Ciputat. Selanjutnya penulis mulai melakukan observasi mulai dari penanaman pendidikan karakter dan lingkungan hidup. Yang penulis awasi pertama kali adalah cara berpakaian, sopan santu saat berpapasan dengan teman, guru atau orang lain, dan ketidakterlambatan

7 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), h. 143

8 Suwartono, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Andi, 2014), h. 41

62

masuk sekolah. Kemudian penulis menagamati kegiatan religiusitas yang dilakukan oleh peserta didik.

Selain mengamati peserta didik, penulis juga mengamati kepala sekolah dalam melakukan perannya dalam mewujudkan sekolah Islam berbasis karakter dan lingkungan hidup di SMP Islam Al-Syukro Universal Ciputat.

2. Wawancara

Wawancara adalah pertemuan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam penelitian melalui tanya jawab, sehingga mendapatkan suatu informasi yang mendalam untuk memperoleh keakuratan data dalam penelitian.9

Pengumpulan data melalui teknik wawancara digunakan untuk menangkap masalah sikap dan persepsi seorang secara langsung dengan sumber data. Oleh karena itu, wawancara dapat dijadikan sebuah alat pengumpulan data yang efektif, terutama karena hal-hal berikut:

a. Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap individu tanpa dibatasi oleh faktor usia maupun kemampuan membaca

b. Data yang diperoleh dapat langsung diketahui objektivitasnya, karena dilaksanakan secara hubungan tatap muka

c. Wawancara dapat dilaksanakan langsung kepada responden yang diduga sebagai sumber data

9 Sukandarrumidi, Metodologi Penlitian: Petunjuk Praktis Untuk Penelitian Pemula, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press), h. 69

Dokumen terkait