• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 PEMBAHASAN TEORI

2.7 Landasan Perancangan

25 f. Monochromatic

Gambar: 2.20 Monochromatic

(Sumber: Design Element: Color Fundamentals)

Monokrom mengacu pada variasi warna tunggal yang mencakup warna (termasuk warna putih) dan bayangan (termasuk warna hitam). Seperti warna analog, kombinasi warna monokromatis dianggap serasi. Ini mungkin alas an mengapa palet satu warna sering digunakan sangat sukses dalam solusi desain.

26 a. Metode Kualitatif, berarti mengeksplorasi dan memahami makna dari individu atau kelompok yang berkaitan dengan masalah sosial atau fenomena yang ada berupa analisis data secara innduktif.

b. Metode Kuantitatif, menguji teori objektif dengan memeriksa antar variable. Biasanya veriabelnya dapat berupa data bernomor sehingga dapat dianalisis menggunakan prosedur statistik.

c. Metode Campuran, melakukan pendekatan yang menggabungkan atau mengaitkan metode kualitatif dan metode kuantitatif.

Dalam perancangan penulisan, pengambilan topik atau fenomena halusinasi efek buruk begadang. Penulis menggunakan metode Kualitatif yang berupa observasi dan wawancara yang hasilnya observasi dan wawancara akan dianalisis untuk mendapatkan poin – poin penting dalam data.

2.7.2 Pendekatan Psikologi Abnormal

Menurut Jurnal tentang Pengertian, Obyek Kajian dan Penjelasan tentang Psikologi Abnormal yang di tulis oleh Khanza Savitra, disana tertulis bahwa psikologi abnormal merupakan salah satu cabang dalam bidang klinis dimana ia mempelajari pola perilaku abnormal dan menggunakan cara tertentu untuk membantu orang yang sedang mengalami abnormalitas. Cangkupan psikologi abnormal lebih luas dari sekedar gangguan psikologi. Studi mengenai gangguan mentalsecara umum dikaitkan dengan perspektif model medis (medical model).

Ada pula pengertian psikologi abnormal menurut para ahli, diantaranya:

a. Menurut Singgih Dirgagunarsa, Psikologi abnormal atau bisa juga disebut psikopatologi merupakan bidang psikologi yang kaitannya dengan hambatan atau kelainan kepribadian, dimana ini menyangkut isi dan proses kejiwaan.

b. Sedangkan menurut Kartini Kartono, Psikologi abnormal merupakan cabang ilmu psikologi yang menyelidiki bentuk

27 abnormalitas jiwa dan gangguan mental.

2.8 Tahap Remaja Akhir 17-25 Tahun

Tahap Remaja Akhir menurut depkes dan WHO adalah umur 17-25 tahun. Pada usia ini, manusia akan dipertemukan dengan kesibukan awal pada hidupnya. Dan kebanyakan orang banyak yang memilih melanjutkan kesibukannya kejenjang perkuliahan.

28 BAB III

PENGUMPULAN DATA DAN ANALISIS

3.1 Data dan Analisis Objek 3.1.1 Begadang

Begadang adalah salah satu kegiatan yang membahayakan kesehatan manusia, tetapi juga salah satu kegiatan yang paling sering dikerjakan oleh beberapa orang. Terkadang untuk sebagian orang di dunia industri, mahasiswa, orang kantoran, pecandu game, dan orang sibuk lainnya yang bahkan sudah mengetahui bahaya dari beberapa efek dari begadang. Tetapi mereka memilih untuk mengesampingkan efek samping dari begadang tersebut demi menuntaskan pekerjaannya.

Jam tidur yang dibutuhkan setiap orang berbeda tergantung usianya, orang dewasa dikatakan telah mendapat tidur yang cukup jika jam tidurnya selama 7-9 jam per hari, sedangkan anak-anak perlu tidur selama 10-13 jam setiap hari. Jika sulit menjalani tidur malam selama itu, Anda bisa mencoba tidur bifasik.

Berikut adalah beberapa efek buruk begadang:

a. Menambah berat badan b. Kulit tampak lebih tua c. Pelupa

d. Menurunkan kemampuan berpikir e. Halusinasi

f. Depresi g. Risiko kanker

h. Meningkatkan risiko kematian

Bisa dilihat dari beberapa efek buruk yang dijabarkan langsung oleh pihak kesehatan diatas, Halusinasi adalah salah satu efek samping yang bisa terbilang masuk dalam kategori efek samping yang berat. Maka dari itu kita harus lebih.

29 3.1.2 Halusinasi (Dampak Begadang)

Yang cukup parah adalah ketika kita sudah mulai berhalusinasi.

Bentuknya bisa berbagai macam. Misalnya kita merasa melihat atau mendengar sesuatu. Kadang pula bisa menyebabkan kegelisahan padahal tak ada hal serius yang terjadi. Halusinasi benar-benar nyata dirasakan oleh seseorang yang mengalaminya, seperti mimpi saat tidur. Seseorang mungkin tidak punya cara untuk menentukan persepsi tersebut nyata atau tidak.

Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana seseorang mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu pencerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar (Maramis, 1998). Suatu penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksternal; persepsi palsu. Berbeda dengan ilusi dimana seseorang mengalami persepsi yang salah terhadap stimulus, salah persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang terjadi.Stimulus internal dipersepsikan sebagai suatu yang nyata oleh klien (Maramis, 1998).

Masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan seorang individu sebagai makhluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko- sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi (Stuart dan Laraia, 2005) yaitu:

1. Dimensi Fisik,

Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi disik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alcohol, dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama

2. Dimensi Emosional,

Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan.

30 3. Dimensi Intelektual,

Individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya, halusinasi merupakan udaha dari ego sendiri utuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian seseorang dan tak jarang akan mengontrol semua prilaku seseorang.

4. Dimensi Sosial,

Dimensi sosial oada individu dengan halusinasi menunjukan adanya keecendrungan untuk menyendiri. Individu asyik dengan halusinasinya seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan iteraksi social, control diri, dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan system control oleh individu tersebut sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, maka individu tersebut bisa membahayakan prang lain.

5. Dimensi Spiritual,

Saat halusinasi menguasai dirinya, individu kehilangan control kehidupan dirinya (Stuart dan Laraia, 2005).

JENIS-JENIS (STUART DAN LARAIA, 2005)

Stuart dan Laraia (2005) membagi halusinasi menjadi 7 jenis halusinasi yang meliputi: halusinasi pendengaran (auditory), halusinasi penglihatan (visual), halusinasi penghidu (olfactory), halusinasi pengecapan (gustatory), halusinasi perabaan (tactile), halusinasi cenesthetic, halusinasi kinesthetic.

31 Tabel Karakteristik Halusinasi (Stuart dan Laraia,2005)

Jenis

Halusinasi Karakteristik

Pendengaran Mendengar suara-sara ata kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentung kebisingan yang kurang keras sampai kaya- kata yang jelas berbicara tentang seseorang, bahkan sampai percakapan lengkap antara dua orag lebih. Pikiran yang didengan seseorang dimana dia disuruh untuk melakukan sesuatu yang kadang-kadang membahayakan.

Penglihatan Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambaran geometris, gambaran kartun, bayangan yang rumit dan kompleks. Bayangan bisa menyenangkan atau

menakutkan seperti melihat monster.

Penghidu Membaiu bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, atau feces, umumnya bau-bauan yang tidak

menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang atau dimensia.

Pengecapan Merasa mengecap rasa seperti darah, urin, atau feces.

Perabaan Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang dating dari tanah, benda mati, atau orang lain.

Cenesthetic Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.

Kinesthetic Merasakan pergerakan saat berdiri tanpa bergerak.

Tabel 3.1 Tabel Karakteristik Halusinasi

Halusinasi yang dialami klien bias berbeda intensitas dan keparahannya. Stuart dan Laraia (2005) membagi fase halusinasi dalam 4 fase berdasarkan tingkat ansietas yang dialami dan kemampuan klien mengendalikan dirinya. Semakin berat fase halusinasinya, seseorang semakin berat mengalami ansietas dan makin dikendalikan oleh

32 halusinasinya. Fase-fase lengkap tercantum dalam table di bawah ini.

FASE-FASE (STUART DAN LARAIA, 2005) Fase Halusinasi Karakteristik Prilaku NONPSIKOTIK

Fase.I

Conforting Ansietas sedang Halusinasi

menyenangk an

Klien mengalami perasaan yang mendalam ansietas, kesepian, rasa bersalah, takut sengga mencoba berfokus pada pikiran

menyenangkan untuk meredakan ansietas.

Individu mengenali bahwa pikiran-

pikiran dan

pengalaman sensori berada dalam kendali kesadaran jika ansietas dapat ditangani

1. Tersenyum atau tertawa

tidaksesuai

2. Menggerakan bibir tanpasuara

3. Pergerakan matacepat 4. Respon verbal yang

lambat jika sedang asyik.

5. Diam dan asyiksendiri

PSIKOTIK RINGAN Fase.II

Conseming Ansietas berat

Halusinasi menjadi menjijikan

1. Pengalaman sensori yang menjijikan dan menakutkan 2. Klien mulai lepas

kendali dan mungkin mencoba mengambil jarak

1. Meningkatnya tanda- tanda system saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatandenyutjan tung, pernapasan,dan tekanan darah.

2. Rentang perhatian

33 dirinya dengan

sumber yang dipersepsikan 3. Klien

mungkin mengalami dipermalukan

oleh pengalaman sensori yang

menarik

diri dari orang lain

4. Mulai merasa kehilangan control 5. Tingkat

kecemasan berat, secara umum halusinasi menyebabkan perasaan antipasti.

menyempit 3. Asyik dengan

pengalaman

sensiri kehilangan kemampuan

membedakan

halusinasi dan realita.

4. Menyalahkan

5. Menarik diri dari orang lain

6. Konsentrasi terhadap pengalaman sensori kerja

PSIKOTIK Fase.III

Controling

Ansietas berat Pengalaman (sensori jadi berkuasa)

1. Klien berhenti melakukan

perlawanan terhadap

halusinasi dan menyerah pada halusinasi

tersebut.

2. Isi halusinasi menjadi menarik.

1. Rentang perhatian hanya beberapa detik atau

menit.kemampuan yang dikendalikan akan lebih diikuti.

2. Kesukaran

berhubungan dengan orang lain.

3. Rentang perhatian

34 3. Klien

mungkin mengaami pengalaman kesepian jika sensori halusinasi berhenti

hanya beberapa detik atau menit.

4. Adanya tanda-tanda fisik ansietas berat:

berkeringat, tremor, dan tidak mampu mematuhi perintah.

5. Isi halusinasi menjadi atraktif.

6. Perintah halusinasi ditaati.

7. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringat.

PSIKOTIK BERAT Fase.IV

Conquering

Panik Umumnya

menjadi melebur dalam

halusinasinya

1. Pengalaman sesori menjadi

mengancam jika klien mengikuti perinta

halusinasinya.

2. Halusinasi

berakhir dari beberapa jam atau hari jika tidak ada

intervensi therapeutic

1. Perilaku error akibat panik.

2. Potensi kuat suicide atau homicide

3. Aktifitasfisik merefleksikanisi halusinasi

sepertiperilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik.

4. Tidak mampu merespok perintah yang kompleks.

5. Tidak mampu

merespon lebih dari

35 satu orang

6. Agitasi atau kataton

Tabel 3.2 Fase-Fase Halusinasi

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

1. Faktor Predisposisi, adalah resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.

a. Factor Genetik, b. Faktor Perkembangan, c. Faktor Neurobiology, d. Study Neurotansmitter, e. Faktor Biokimia, f. Teori Virus, g. Psikologis,

h. Faktor Sosiokultural,

2. Faktor Prespitasi, yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman/tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi seseorang dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi dan suasana sepi/isolasi sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeuarkan zat halusinogenik. Disamping itu juga oleh karena proses penghambatan dalam proses penghambatan dalam proses transduksi dari suatu impuls yang menyebabkan terjadinya penyimpangan dalam proses interpretasi dan inerkoneksi sehingga dengan demikian faktor-faktor pencetus respon neurubiologis dapat dijabarkan sebagai berikut:

36 a. Berlebihannya proses informasi pada sistemsyaraf yang menerima

dan memperoses informasi di thalamus dan frontal otak.

b. Mekanisme penghantaran listrik di syaraf terganggu (mekanisme gatting abnormal).

c. Gejala-gelaja pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkungan, sikap, dan perilaku seperti yang tercantum di tabel berikut ini.

37 Gejala-gejala pencetus respon neurobiology (Stuart, Laraia, 2005) KESEHATAN 1. Nutrisi kurang

2. Kurang tidur

3. Ketidakseimbangan irama sirkadian 4. Kelelahan

5. Infeksi

6. Obat-obat system syaraf pusat 7. Kurangnya latihan

8. Hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan LINGKUNGAN 1. Lingkungan yang memusuhi, krisis

2. Masalah di rumah tangga 3. Kehilangan kebebasan hidup

4. Perubahan kebiasaan hidup, pola aktifitas sehari- hari

5. Kesukaran dalam hubungan dengan orang lain 6. Isolasi social

7. Kekurangan dukungan social

8. Tekanan kerja )ketrampilan dalam bekerja) 9. Kurangnya alat transportasi

10. Ketidakampuan dalam mendapatkan pekerjaan

38 SIKAP/PERILAKU 1. Merasa tidak mampu (harga diri rendah)

2. Putus asa (tidak percaya diri)

3. Merasa gagal (kehilangan motivasi dalam menggunkan keterampilan diri)

4. Kehilangan kendali diri ( demoralisasi)

5. Merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut

6. Merasa malang (tidak dapat memenuhi kebutuhan spiritual)

7. Bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan

8. Rendahnya kemampuan sosialisasi 9. Ketidakadekuatan pengobatan 10. Perilaku agresif

11. Perilaku kekerasan

12. Ketidakadekuatan penanganan gejala

Tabel 3.3 – Gejala-gejala pencetus respon neurobiology Sumber: Buku Pendidikan Keperawatan Jiwa (Abdul Muhith)

3.1.3 Hasil Wawancara

Dari wawancara yang sudah dijalani, bersama psikolog yang bernama, Kurniasih Ayu Archentari, M.Psi., Psikolog. Penulis melakukan wawancara melewati aplikasi “AloDok”. Psikolog tersebut memiliki tempat praktik ARCHANA Biro Psikologi, Solo, Kabupaten Karanganyar. Maka dari itu penulis memilih mewawancarai psikolog tersebut melalui aplikasi. Isi dari wawancara yang dilaksanakan itu penulis dapat menyimpulkan.

Tidak semua orang yang begadang mengalami halusinasi. Orang yang terlalu sering begadang pun belum tentu mengalami halusinasi. Efek halusinasi pada orang yang kelelahan, biasanyanya diikuti salah satu dari

39 beberapa faktor seperti stress, pengaruh obat, ada penyakit syaraf tertentu dsb. Tetapi ketika kita melakukan hanya begadang tanpa ada tekanan pikiran dan diikuti tekanan lainnya, kemungkinan untuk berhalusinasi pun kecil. Untuk orang-orang yang ingin memastikan bahwa dia sedangberhalusinasi atau tidak bisa dengan cara menanyakan keadaan sekitar kepada orang di sekitar kita saat yang diduga halusinasi tersebut muncul. Missal, ketika mendengar suara-suara yang janggal, bisa langsung tanyakan kepada orang sekitar kita, apakah mereka mendengar hal yang sama atau tidak. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dari efek begadang, bisa di hindari dengan cara melakukan tidur bifasik. Kalau efeknya semakin berlanjut, bisa langsung konsultasi ke psikolog dan mendapatkan penanganan yang lebih ahli.

Berikut adalah isi dari percakapan yang saya laksanakan bersama beliau :

Gambar 3.1 Kurniasih Ayu Archentari, M.Psi., Psikologi (Alodokter)

Narasumber: NS Penanya: P

40 P : Selamat Sore dok, Pertanyaan ini lebih menjurus pada pertanyaan untuk tugas akhir saya yang membahas tentang halusinasi salah satu efek buruk begadang. Apakah dokter berkenan untuk menjawab pertanyaan yang saya berikan?

NS : Boleh, bagaimana ada yang bias saya bantu?

P : Baik langsung saya mulai ya, Apa benar halusinasi adalah salah satu efek dari terlalu sering begadang, kurang tidur dan kelelahan?

Kalua benar, bagaimana itu bias terjadi?

NS : Halusinasi muncul saat seseorang sudah tidak bias membedakan realitas dan fantasinya. Halusinasi bisa banyak faktor. Missalnya konsumsi obat-obatan tertentu, mengalami schizophrenia atau gangguan jiwa berat, ada faktor genetok, atau sakit tertentu. Jika sering begadang, kurang tidur, dan kelelahan sampai saat ini belum menemukan factor pastinya, namun saat seseorang dalam kondisi begadang dsb tadi, maka konstentrasi bias terganggu. Namun untuk mencul halusinasi belum tentu

P : Ketika kita terlalu kelelahan, terkadang seorang manusia bisa sangat mengantuk sampai tidak bisa mengontrol atau menahan kantuknya lagi, disaat seperti itu kadang manusia itu bias merasa dunia nyatanya sudah seperti dunia mimpi dan terlihat tidak nyata. Apa itu bagian dari mimpi atau halusinasi?

NS : itu peralihan antara kesadaran ke ketidaksadaran saat tidur. Ada penurunan gelombang otak alfa beta nanti bisa search lebih lanjut prihal pengertiannya. Ada yang Namanya juga hipnagogik dan hipnopompik, jaitu halusinasi saat tidur dan bangun tidur. Mungkin kondisi tersebut mirip dengan yang terjadi di konsidi hipnagogik. Tapi biasanya ini terjadi pada pasien syaraf atau kondisi narkolepsi.

41 P : Saya hendak memastikan, dibuku yang say abaca, dengan judul

“Pendidikan Keperawatan Jiwa” (Abdul Muhith, 2015), disana menjelaskan bahwa gejala-gejala pencetus respon neurobiology itu : nutrisi kurang, kurang tidur, kelelahan, infeksi, obat-obat system syaraf pusat, dll. Apakan benar itu adalah salah satu factor pemicu halusinasi?

NS : Benar, seperti yang saya jelaskan tadi di awal, ada banyak faktor dari biologis seperti contohnya genetik, sakit, dan faktor-faktor lainnya yang saling mempengaruhi.

P : Jadi saat kita kelelahan, itu tidak pasti akan mengalami halusinasi, tetapi ada kemungkinan juga kita mengalami kalua kadar begadang yang dijalani terlalu berat, rutin, atau berhari-hari?

NS : iya, dan ditambah faktor lainnya, jadi tidak bisa faktor tunggal.

Missal ditambah dengan stress, memiliki trauma, ada riwayat genetik, dsb

P : ini pertanyaan saya yang terakhir dok, bagaimana seseorang membedakan halusinasi? Apa seseorang akan selamanya tidak bias membedakan mana halusinasi dan yang mana yang nyata?

NS : caranya adalah meyakinkan kembali dengan pengalaman orang lain. Untuk menjadikannya lebih objektif, misal, halusinasi suara, maka dia bias bertanya kepada orang lain yang berada di situasi yang sama.

Apakah dia mendengar sesuatu itu atau tidak. Kemudian jika lebih banyak orang lain yang tidak merasakan hal yang di anggap

“halusinasi”, maka bias jadi yang dialami orang tersebut memang berhalusinasi

42 P : terimakasih banyak dok, jawabannya sangan membantu sekali.

Maaf sebelumnya mengganggu waktunya, sekali lagi saya ucapkan terimakasih.

NS : iya, tidak masalah, sudah tugas saya membantu menjawab pertanyaan seperti itu.

Catatan: Narkolepsi adalah sebuah kelainan pada neurologis yang memengaruhi otak yang mengontrol tidur dan terjaga. Seseorang yang mengidap narkolepsi rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari dan beberapa rangkaian tidur yang tidak terkendali selama siang hari. Serangan tidur mendadak ini terjadi ketika beraktivitas setiap hari.

Seseorang yang mengidap narkolepsi akan mengalami halusinasi, seperti mimpi ketika tertidur atau bahkan terbangun. Halusinasi yang terjadi ketika tertidur disebut juga dengan hipnagogik, lalu halusinasi yang terjadi ketika bangun adalah hipnopompik. Halusinasi yang terjadi dapat sangat jelas dan mungkin hal yang sangat menakutkan.

Setelah bangun tidur, perlu beberapa menit untuk menghilangkan rasa takut dan menyadarkan diri bahwa hal tersebut adalah halusinasi.

Kemungkinan besar, halusinasi pada pengidap narkolepsi adalah tidur dengan gerakan mata cepat (REM) yang terjadi ketika seseorang sadar.

Pengidap narkolepsi dapat disebabkan oleh hilangnya zat kimia di otak yang disebut dengan hipokretin. Zat tersebut bekerja pada sistem peringatan di otak, menjaga seseorang tetap terjaga, dan mengatur siklus bangun tidur.

Seseorang yang mengidap narkolepsi, sel yang menghasilkan hipokretin, yang terletak di daerah yang disebut hipotalamus, mengalami rusak atau hancur total.

Tanpa adanya hipokretin, seseorang yang terserang hal tersebut sulit untuk tetap terjaga dan mengalami gangguan dalam siklus tidur-bangun.

Hingga saat ini, tidak ada obat untuk seseorang yang mengidap gangguan ini. Namun, obat-obatan dan perawatan terhadap kelainan tersebut dapat meminimalisir gejala, sehingga pengidap dapat menjalani hidup yang

43 produktif.

Narasumber 2:

P : Dok, apakah kelelahan (akibat terlalu sering begadang) dan diikuti dengan depresi dapat menimbulkan halusinasi?

NS : Terlalu sering begadang saja bisa. Depresi saja juga bisa. Apalagi kombinasi keduanya

P : Terlalu sering begadang yang bagaimana yang bisa sampai menimbulkan halusinasi?

NS : Baik, akan saya jelaskan ya. Kalau boleh tau, sudah berapa lama keluhannya?

P : Kalau untuk contoh kasus, seorang mahasiswa yang sibuk dengan jadwal kuliahnya dan tugas organisasi kampusnya selama kurang lebih 2 tahun. Dan frekuensinya lumayan sering. Seperti tiba-tiba melihat lukisan bergerak sendiri. Dan melihat suatu benda mati yang bergerak-gerak sendiri.

NS : Untuk halusinasi dapat terjadi pada beberapa kondisi misalnya sedang kurang tidur, kurang makan, ditimpa masalah yang sama bertubi-tubi, stressor berulang-ulang bahkan karena adanya

44 gangguan diotak secara organic juga bisa misalnya kejang, sakit kepala hebat dan benturan pada kepala misalnya akibat kecelakaan atau lainnya. Apa yang orang it

P : NS : P : NS : P : NS :

3.1.4 Hasil Survey

Survey ini dilakukan untuk mengetahui, kalangan mana saja yang pernah begadang, dan kesibukan apa saja yang mereka lakukan. Survey menunjukan 93% dari 100 orang yang mengisi survey pernah begadang dengan kesibukan beragam. 4% orang ragu kalau dia pernah begadang atau tidak dan 3% tidak pernah begadang. Yang ikut berpartisipasi dalam pengisian survey ini adalah kalangan masyarakat kisaran umur 19-25 tahun (menurut informasi WHO kategori umur yang lebih sederhana, 18-25 tahun tergolong pemuda), dan kebanyakan umur 21 tahun yang ikut berpartisipasi mengisi survey tersebut. dari survey tersebut, yang paling banyak melakukan kegiatan begadang adalah kisaran umur 19-25 tahun. Sebagian besar dari mereka yang mengikuti survey meremehkan efek-efek buruk dari begadang. Bahkan sebagian pun ada yang baru mengetahui efek buruk begadang banyak yang membahayakan.

Yang mengejutkan dari hasil survey mereka semua adalah orang- orang yang mengetahui efek-efek buruk dari begadang adalah sebanyak 93% dari 100, tetapi tetap memilih untuk melakukannya. Demi menyelesaikan berbagai kesibukan yang mereka kerjakan dan tenggat waktu yang mereka kejar. Setelah penulis memberikan informasi tentang tidur bifasik sebagai salah satu alternative menghindari begadang, kebanyakan dari mereka memungkinkan untuk menerapkan itu, demi mencegah efek- efek buruk dari begadang.

45 3.2 Data dan Analisis Khalayak Sasar

Dari survey yang dilakukan penulis, dapat dilihat bahwa masih banyak orang yang tidak peduli dengan efek-efek buruk begadang dan tetap melakukan hal tersebut. Dari sini penulis melakukan segmen psikografis, yang berpengaruh tentang kepribadian dan sifat dari orang- orangnya tersebut.

3.3 Data dan Analisis Animasi Sejenis

Karya yang digunakan bertujuan sebagai acuan atau referensi perancangan desain karakter yang akan dibuat. Karya sejenis yang dijadikan referensi penulis merupakan karya sejenis yang diambil dari beberapa animasi dan karakter yang berasal dari komik.

Berikut adalah Animasi Sejenis yang berhasil dikumpulkan:

Afternoon Class – Award Winning CGI 3D Animated Short Film at CGMeetup – Seoro Oh

No Gambar Keterangan

1

Jalan Cerita:

Tokoh Utama yang berada dalam kelas yang menujukan suasana kelas yang

membosankan dan sepi.

Semua murid mengantuk tetapi hanya tokoh utama saja yang berusaha bangun. Tetapi pada akhirnya Tokoh Utama yang mulai berhalusinasi tanpa sadar tertidur dalam kelas.

Dokumen terkait