BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
Menurut (Dahlan : 2004) bank dalam menjalankan usahanya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam berbagai alternatif investasi. Bank dapat mempengaruhi jumlah uang beredar yang merupakan salah satusasaran pengaturan oleh penguasa moneter dengan menggunakan berbagai piranti kebijakan moneter yang dimiliki.
Menurut Undang Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana merupakan kegiatan pokok bank sedangkan memberikan jasa bank lainnya hanya kegiatan pendukung.
Kegiatan menghimpun dana, berupa mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan giro, tabungan, dan deposito. Kegiatan menyalurkan dana, berupa pemberian pinjaman kepada masyarakat. Sedangkan jasa-jasa perbankan lainnya diberikan untuk mendukung kelancaran kegiatan utama tersebut.
Selain menghimpun dan menyalurkan dana pada masyarakat, fungsi pokok dari bank umum antara lain menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang
14 lebih efisien dalam kegiatan ekonomi, menciptakan uang, dan menawarkan jasa- jasa keuangan lainnya (Dahlan : 2004).
1.1 Perbankan Syariah
Menurut Undang Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan syariah, Pasal 1 Ayat (1) mengatakan bahwa Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Perbankan syariah adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam.Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam dengan mengenakan bunga pinjaman (riba), serta larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha yang haram.Sistem perbankan konvensional tidak dapat menjamin hal-hal tersebut.
Menurut (Antonio : 2001) Tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan berlandaskan etika Islam adalah sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan alquran dan as-sunnah. Upaya awal penerapan sistem profit and loss sharing tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an yaitu adanya upaya mengelola dana jamaah haji secara non konvensional.
Perkembangan bank syariah pada era reformasi ditandai dengan disetujuinya Undang Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan yang isinya mengatur dengan rinci
15 landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah.
1.2 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional
Menurut (Antonio : 2001) menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara Bank Syariah dan Bank Konvensional dilihat dari beberapa aspek, diantaranya adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1
Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional
Aspek Syariah Konvensional
Akad dan Legalitas Dalam bank syariah, selain mengikuti aturan perundang-undangan negara, akad dalam muamalah sangat penting. Untuk menentukan halal atau haram sesuatu hal ditentukan oleh akad.
Akad yang digunakan berpedoman dari Alquran dan Hadits.
Dalam bank
konvensional, aspek legalitas sebagai aturan yang ditentukan oleh perundang-undangan negara.
Lembaga Penyelesai Sengketa
Lembaga yang mengatur hukum materi dan atau berdasarkan prinsip syariah di Indonesia dikenal dengan nama Badan Arbitrase Muamalah Indonesia
(BAMUI) yang
didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan MUI.
Lembaga penyelesai sengketa pada bank konvensional adalah peradilan negeri.
16
Aspek Syariah Konvensional
Struktur Organisasi Pada bank syariah terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas mengawasi operasional bank san produk- produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah.
Bank konvensional tidak memiliki struktur organisasi khusus seperti DPS.
Bisnis dan Usaha Yang Dibiayai
Bisnis dan Usaha yang dibiayai bank syariah harus jelas kehalalannya dan tidak mengandung unsur-unsur haram.
Bank Konvensional tidak memandang penting jenis bisnis dan saha yang dibiayai.
Selama bisnis dan usaha tersebut menghasilkan keuntungan untuk bank konvensional tersebut.
Lingkungan dan Budaya Kerja (Corporate Culture)
Corporate Culture yang dimiliki bank syariah harus mencerminkan nilai-nilai Islam, misalnya dalam melayani nasabah, cara berpakaian, shalat berjama’ah, doa diawal dan akhir bekerja, dan sebagainya.
Bank konvensional tidak menekankan pada penggunaan nilai-nilai Islam dalam corporate culture nya
Sumber : Antonio, 2001
2. Laporan Keuangan
Menurut (Munawir : 2008) laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk komunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan data aktivitas perusahaan tersebut. Dengan kata lain laporan keuangan
17 adalah sebuah catatan yang sengaja dibuat untuk merekam seluruh transaksi yang terjadi disebuah perusahaan yang bertujuan untuk memberi informasi dan petunjuk apa yang harus dilakukan perusahaan kedepannya agar mendapat keuntungan.
laporan keuangan juga bertujuan memberikan informasi penting lainnya yang relevan dengan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentngan dengan perusahaan yang bersangkutan.
Menurut (Hery : 2015) laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Urutan laporan keuangan berdasarkan prom’ses penyajiannya yang pertama adalah laporan laba rugi (Income Statement).
Laporan laba rugi merupakan laporan yang sistematis tentang pendapatan dan beban perusahaan untuk satu periode waktu tertentu. Laporan laba rugi pada akhirnya memuat informasi mengenai hasil kinerja manajemen atau hasil kegiatan operasional perusahaan, yaitu laba atau rugi bersih yang merupakan hasil dari pendapatan dan keuntungan dikurangi dengan beban dan kerugian.
Kedua adalah laporan ekuitas pemilik (Statement of owner’s Equity) adalah sebuah laporan yang menajikan ikhtisar perubahan dalam ekuitas pemilik suatu perusahaan untuk periode waktu tertentu. Laporan ini sering dinamakan sebagai laporan perubahan modal.
Selanjutnya adalah laporan Neraca (Balance Sheet). Neraca adalah sebuah laporan yang sistematis tentang posisi aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan per
18 tanggal tertentu. Tujuan dari laporan ini tidak lain adalah untuk mengetahui gambaran posisi keuangan perusahaan.
Laporan yang terakhir adalah laporan arus kas (Statement of Cash Flows).
Laporan arus kas adalah sebuah laporan yang menggambarkan arus kas masuk dan arus kas keluar secra terperinci dari masing-masing aktivitas. Laporan arus kas menunjukkan besarnya kenaikan atau penurunan bersih kas dari seluruh aktivitas selama periode berjalan serta saldo kas yang dimiliki perusahaan sampai dengan akhir periode.
Menurut (Hery : 2015) tujuan dari dibuatnya laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi yang berguna bagi investor dan kreditor dalam pengambilan keputusan investasi dan kredit. Investor sangat membutuhkan laporan keuangan terutama dalam pembagian deviden, sedangkan kreditor berkepentingan dalam hal pengambilan jumlah pokok pinjaman berikut bunganya.
Laporan keuangan juga bertujuan untuk memberikan informasi mengenai aset, kewajiban, dan modal perusahaan untuk membantu investor dan kreditor dan pihak lainnya dalam mengevaluasi kekuatan dan kelemahan keuangan perusahaan.
Dalam hal ini, pada perusahaan dibidang perbankan juga membutuhkan laporan keuangan yang wajib di serahkan kepada Bank Indonesia secara periodik guna untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan masing-masing bank.
19 3. Kesehatan Bank
Untuk mendapatkan keuntungan dan menjaga perekonomian tetap baik dalam menjalankan usahanya, bank wajib memelihara dan meningkatkan tingkat kesehatan bank dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko dalam melaksanakan kegiatan usaha. Menurut (Kasmir : 2010) untuk menilai suatu kesehatan bank dapat dilihat dari berbagai segi. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi sehat, cukup sehat, kurang sehat, dan tidak sehat sehingga Bank Indonesia sebagai pengawas dan pembina bank- bank iidapat memberikan arahan dan petunjuk bagaimana bank tersebut harus dijalankan atau bahkan dihentikan kegiatan operasinya.
Berdasarkan Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan Pasal 29, Bank Indonesia telah mengeluarkan Surat Edaran No. 26/5/BPPP Tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank. Ketentuan ini merupakan penyempurnaan ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia dengan Surat Edaran No. 23/21/BPPP.
Metode atau cara penilaian tingkat kesehatan bank tersebut kemudian dikenal dengan metode CAMEL. Dilanjutkan dengan perhitungan tingkat kepatuhan bank pada beberapa ketentuan khusus, metode tersebut akhirnya lebih dikenal dengan sebutan CAMEL Plus (Lukman : 2003). Analisa dengan menggunakan metode CAMELS memiliki beberapa indikator yaitu dari sisi aspek permodalan, kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, dan sensitifitas.
Dengan melihat dari sisi aspek permodalan, yang dinilai adalah permodalan yang ada didasarkan kepada kewajiban penyediaan modal minimum bank.
20 Penilaian tersebut didasarkan kepada CAR (Capital Adequecy Ratio) yang telah ditetapkan BI (Kasmir : 2008). Perbandingan rasio tersebut adalah rasio modal terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (AMTR) dan sesuai ketentuan pemerintah CAR tahun 1999 minimal harus 8%.
Indikator kedua yang dapat dinilai adalah aspek kualitas aset, yaitu untuk menilai jenis-jenis aset yang dimiliki oleh bank. Penilaian aset harus sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia dengan membandingkan antara aktiva produktif yang diklasifikasikan dengan aktiva produktif. Kemudian rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva produktif diklasifikasikan (Kasmir : 2008).
Aspek penilaian yang ketiga adalah aspek kualitas manajemen, kualitas manajemen dapat dilihat dari kualitas manusianya dalam bekerja. Dalam aspek ini yang dinilai adalah manajemen permodalan, manajemen kualitas aktiva, manajemen umum, manajemen rentabilitas, dan manajemen likuiditas (Kasmir : 2008).
Indikator penilaian yang ke empat adalah pada Aspek likuiditas, yang dianalisis pada aspek ini adalah rasio kewajiban bersih Call Money terhadap akitva dan rasio kredit terhadap dana yang diterima oleh bank seperti KLBI, giro, tabungan, deposito, dan lain-lain.
Indikator penilaian kesehatan bank yang kelima adalah dengan melihat dari aspek rentabilitas, merupakan ukuran kemampuan bank dalam meningkatkan labanya apakah tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai bank yang
21 bersangkutan meningkat. Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara rentabilitas terus meningkat.
Indikator terakhir dalam penilaian menggunakan metode CAMELS adalah dengan aspek sensitifitas, sensitifitas terhadap risiko ini penting agar tujuan memperoleh laba dapat tercapai dan pada akhirnya kesehatan bank juga terjamin.
Selanjutnya masing-masing aspek diberikan nilai, kemudian dijumlahkan secara keseluruhan dari komponen yang dinilai, hasil penilaian ditetapkan kedalam empat golongan predikat kesehatan bank sebagai berikut :
Tabel 2.2
Golongan Predikat Kesehatan Bank dengan CAMELS
Nilai kredit Predikat
81-100 Sehat
66-<81 Cukup sehat 51-<66 Kurang sehat
0-<51 Tidak sehat
Sumber : Lukman, 2003
Seiring dengan perkembangan produk perbankan yang semakin kompleks, penilaian kesehatan bank mulai juga mengalami penyempurnaan. Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia baru tentang penilaian tingkat kesehatan bank untuk menyempurnakan peraturan sebelumnya yang menggunakan metode CAMELS. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum yaitu tingkat kesehatan bank adalah hasil penilaian kondisi bank yang dilakukan terhadap risiko dan kinerja bank menggunakan Risk Based Banks Rating (RBBR) atau pada penelitian ini disebut juga RGEC.
22 4. Pendekatan RGEC
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, bank umum diwajibkan untuk melakukan penilaian sendiri (self assessment) tingkat kesehatan bank dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk-Based Bank Rating) baik secara individual maupun secara konsolidasi. (www.bi.go.id)
Tingkat kesehatan bank diukur melalui peringkat komposit yang diatur dalam PBI 13/1/PBI/2011 Tentang Kesehatan Bank. Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank ditetapkan berdasarkan analisis secara komprehensif dan terstruktur terhadap peringkat tiap tiap faktor yang disebutkan sebelumnya.
Peringkat komposit yang dimaksud dikategorikan sebagai berikut :
1. Peringkat Komposit 1 (PK-1) mencerminkan kondisi bank yang secara umum sangat sehat sehingga dinilai sangat mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.
2. Peringkat Komposit 2 (PK-2) mencerminkan kondisi bank yang secara umum sehat sehingga dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.
3. Peringkat Komposit 3 (PK-3) mencerminkan kondisi bank yang secara umum cukup sehat sehingga dinilai cukup mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.
23 4. Peringkat Komposit 4 (PK-4) mencerminkan kondisi bank yang secara umum kurang sehat sehingga dinilai kurang mampu menghadapi pengaruh negatif signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.
5. Peringkat Komposit 5 (PK-5) mencerminkan kondisi bank yang secara umum tidak sehat sehingga dinilai tidak mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.
Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 Tentng Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, penilaian kesehatan bank dapat menggunakan beberapa faktor. Faktor – faktor penilaian kesehatan bank yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Profil Risiko
Berdasarkan PBI Nomor 13/1/PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Pasal 7 yang berisi tentang penilaian terhadapa profil risiko terhadap delapan jenis risiko yaitu : risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan dan risiko reputasi.
Pada risiko kredit, risiko ini muncul akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi liabilitas kepada bank Islam sesuai kontrak. Risiko ini disebut juga risiko gagal bayar, risiko pembiayaan, risiko penurunan rating, dan risiko penyelesaian. Risiko ini timbul akibat terkonsentrasinya penyaluran dana kepada satu pihak atau kelompok pihak, industri, sektor, dan/atau area geografis tertentu yang berpotensi menimbulkan kerugian yang cukup besar dan dapat mengancam kelangsungan bisnis bank syariah tersebut (Wahyudi, dkk : 2013). Dalam PBI No
24 13/1/PBI/2011 Tentang Penilaian Kesehatan Bank Umum untuk mengukur risiko kredit dapat diketahui dengan mengukur proporsi pembiayaan bermasalah terhadap total pembiayaan menggunakan rasio NPF (Non Performing Financing) dan kredit kualitas rendah dengan total pembiayaan. Matriks dalam pengukuran NPF adalah sebagai berikut :
Tabel 2.4
Matriks Pengukuran NPF
Peringkat Keterangan Kriteria
1 PK-1 <7%
2 PK-2 7% - <10%
3 PK-3 10% - <18%
4 PK-4 13% - <16%
5 PK-5 >16%
Sumber : (Lampiran SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR)
Tabel matriks pengukuran NPF diatas menjelaskan tentang pengukuran tingkat kesehatan bank dengan melihat dari rasio NPF bank. Jika tingkat NPF kurang dari 2% maka bank dalam keadaan sangat sehat (PK-1). NPF bank antara 2% sampai dengan kurang dari 5% bank dalam keadaan sehat (PK-2). NPF bank pada posisi 5% sampai dengan kurang dari 8% maka bank dalam keadaan cukup sehat (PK-3). Jika NPF bank dalam posisi 8% sampai kurag dari 12% maka kesehatan bank kurang sehat (PK-4). Sedangkan jika NPF lebih dari 12% maka bank dalam keadaan tidak sehat (PK-5).
Kredit kualitas rendah terhadap total pembiayaan adalah seluruh kredit kepada pihak ketiga bukan bank yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus,
25 kurang lancar, diragukan, dan macet termasuk kredit direstrukturisasi kualitas lancar terhadap total kredit kepada pihak ketiga bukan bank.
Dalam risiko pasar, risiko ini muncul akibat adanya pergerakan pasar dari portofolio aset yang memiliki oleh bank dan dapat merugikan bank. Risiko ini hanya muncul jika bank memegang aset, namun tidak untuk dimiliki atau dipegang hingga jatuh tempo, melainkan untuk dijual kembali. Cakupan risiko pasar meliputi risiko nilai tukar, risiko komoditas, dan risiko ekuitas. Pada bank konvensional, risiko pasar juga dipengaruhi oleh penentuan bunga (Wahyudi, dkk : 2013).
Pada risiko likuiditas, risiko ini terjadi akibat ketidak mampuan bank syariah dalam memenuhi likuiditas yang jatuh tempo. Untuk memenuhi likuiditasnya, bank dapat menggunakan sumber pendanaan arus kas dan aset likuid berkualitas tinggi yang dapat digunakantanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank. Risiko ini muncul sebagai konsekuensi logis dari ketidaksamaan waktu jatuh tempo antara sumber pendanaan bank, yakni DPK dan akad pembiayaan bank kepada debitur (Wahyudi, dkk : 2013). Dalam PBI No 13/1/PBI/2011 Tentang Penilaian Kesehatan Bank Umum untuk mengukur risiko likuiditas dapat diketahui dengan menggunakan rasio FDR (Financing Deposit Ratio), aset likuid primer dan sekunder terhadap total aset, dan aset likuid primer dan sekunder terhadap pembiayaan jangka pendek. Matriks dalam pengukuran FDR adalah sebagai berikut :
26 Tabel 2.5
Matriks Pengukuran FDR
Peringkat Keterangan Kriteria
1 PK-1 50% - <75%
2 PK-2 75% - <85%
3 PK-3 85% - <100%
4 PK-4 100% - <120%
5 PK-5 >120%
Sumber : (Lampiran SEBI No 6/23/DNDP)
Tabel matriks pengukuran FDR di atas menjelaskan tentang pengukuran tingkat kesehatan bank dengan melihat dari rasio FDR bank. Di jelaskan bahwa jika FDR berada diantara 50% sampai kurang dari 75% maka bank dalam keadaan sangat sehat (PK-1). FDR antara 75% sampai dengan kurang dari 85%
maka bank dalam keadaan sehat (PK-2). Jika FDR bank antara 85% sampai dengan kurang dari 100% maka bank dalam posisi cukup sehat (PK-3). FDR bank antara 100% sampai dengan kurang dari 120% bank dalam keadaan kurang sehat (PK-4). Sedangkan jika FDR bank lebih dari 120% maka bank dapat dikatakan tidak sehat (PK-5).
Selain FDR, aset likud primer dan sekunder terhadap total aset. Aset likuid primer adalah aset yang sangat likuid untuk memenuhi kebutuahan likuiditas atas penarikan dana pihak ketiga dan kewajiban jatuh tempo, yang terdiri dari kas, penempatan kepada Bank Indonesia, surat berharga kategori tersedia untuk dijual, dan seluruh surat berharga pemerintah yang memiliki sisa jatuh waktu 1 tahun atau kurang. Aset likuid sekunder adalah jumlah aset likuid dengan kualitas lebih rendah untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atas penarikan dana
27 pihak ketiga dan kewajiban jatuh tempo, terdiri dari surat berharga pemerintah kategori tradingyang memiliki sisa jatuh waktu lebih dari 1 tahun kurang dari 5 tahun, kategori HTM yang memiliki sisa jatuh waktu sampai dengan jatuh waktu 1 tahun, dan kategori trading yang memiliki sisa jatuh waktu lebih dari 5 tahun dengan nilai haircut 25%.
Selanjutnya aset likuid primer dan sekunder terhadap pendanaan jangka pendek. Aset likuid primer adalah aset yang sangat likuid untuk memenuhi kebutuahan likuiditas atas penarikan dana pihak ketiga dan kewajiban jatuh tempo, yang terdiri dari kas, penempatan kepada Bank Indonesia, surat berharga kategori tersedia untuk dijual, dan seluruh surat berharga pemerintah yang memiliki sisa jatuh waktu 1 tahun atau kurang. Aset likuid sekunder adalah jumlah aset likuid dengan kualitas lebih rendah untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atas penarikan dana pihak ketiga dan kewajiban jatuh tempo, terdiri dari surat berharga pemerintah kategori tradingyang memiliki sisa jatuh waktu lebih dari 1 tahun kurang dari 5 tahun, kategori HTM yang memiliki sisa jatuh waktu sampai dengan jatuh waktu 1 tahun, dan kategori trading yang memiliki sisa jatuh waktu lebih dari 5 tahun dengan nilai haircut 25%. Pendanaan jangka pendek adalah seluruh dana pihak ketiga yang tidak memiliki jatuh tempo dan/atau dana pihak ketiga yang memiliki jatuh tempo 1 tahun atau kurang.
Kerugian yang diakibatkan oleh pengendalian internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya
28 kejadian-kejadian eksternal yang memengaruhi operasional bank adalah risiko operasional bank (Wahyudi, dkk : 2013).
Risiko hukum muncul akibat adanya tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini timbul antara lain karena adanya tuntutan secara hukum dan ketiadaan peraturanperundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau pengikatan agunan yang tidak sempurna (Wahyudi, dkk : 2013).
Risiko reputasi, adalah risiko yang terjadi akibat menurunnya tingkat kepercayaan pemangku kepentingan yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank. Pemangku kepentingan bank meliputi nasabah, debitur, investor, regulator, dan masyarakat umum (Wahyudi, dkk : 2013).
Risiko yang terjadi akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan keputusan strategis serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis adalah risiko strategis. Risiko ini timbul antara lain karena bank menetapkan strategi yang kurang sejalan dengan visi misi bank, ketidaksesuaian rencana strategis lingkungan strategis yang tidak komprehensif, dan/atau terdapat ketidaksesuaian rencana strategis antar level strategis (Wahyudi, dkk : 2013).
Pada risiko kepatuhan muncul akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan, ketentuan yang berlaku, dan prinsip syariah (Wahyudi, dkk : 2013).
29 b. Good Coorporate Governance (GCG)
Pengertian good corporate governance menurut Bank Dunia (World Bank) adalah sebagai kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi, yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan untuk berfungsi secara efisien guna menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yangberkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan (Effendi, 2009).
Good Corporate Governance (GCG) adalah mekanisme penting yang diharapkan dapat mendorong praktik bisnis yang sehat. Penilaian faktor good coorporate governance (GCG) merupakan penilaian terhadap kualitas manajemen bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG(Mulazid : 2016).
Penilaian pada faktor GCG berdasarkan PBI No 13/1/PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat KesehatanBank Umum yaitu menggunakan penilaian pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dewan komisaris, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab direksi, kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite, penanganan benturan kepentingan, penerapan fungsi kepatuhan bank, penerapan fungsi audit internal, penerapan fungsi audit ekstern, fungsi manajemen risiko termasuk sistem pengendalian internal, penyediaan dana kepada pihak terkait dan debitur besar, transparansi kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaan GCG dan pelaporan internal, dan rencana strategis bank.