BAB III PROFIL MUFASSIR DAN PROFIL KITAB TAFSIR AL-
A. Profil Mufassir
2. Latar Belakang Pendidikan T}ant{awi Jauhari
T}ant{awi Jauhari menempuh pendidikan dasar yang ia dapatkan dari ayah dan pamannya Muh}ammad Sya>la>bi>. Kemudian beliau juga belajar di Madrasah Hukumiyah, Ia kemudian belajar di al-Azha>r mempelajari ilmu agama, dengan penekanan kuat pada pendidikan bahasa Inggris, yang pada saat itu menjadi faktor penting dalam keluasan wawasan dan keilmuan ilmiahnya.3 Pendidikannya dimulai di desa al-Gha>r, setelah menyelesaikan pendidikan formalnya di kota kelahirannya, ia melanjutkan studi ilmu agama di Universitas di Kairo, al-Azha>r Mesir. Pada jenjang pendidikan inilah T}ant{awi Jauhari bertemu dengan berbagai tokoh reformis di Mesir.
1 Fuad Taufik Imron, Konsep Gunung dalam Kitab al-Jawa>hirfi> Tafsi>r Al-Qur‟a>n al-Kari>m Perspektif Sains Modern, (Skripsi Sarjana, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negri Walisongo, Semarang, 2016), h. 116.
2 Mamluatun Nafisah, „Kuliah Online Materi ke-2: Metodologi Kitab al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur‟a>n karya T}ant{awi Jauhari‟, Publikasi, 2020, https://www.youtube.com/watch?v=hdp5XxexkTE&t=324s accessed 9 Agu 2022.
3 Armainingsih, “Studi Tafsir Saintifik al-Jawa>hir fi> Tafsi>r Al-Qur‟a>n al-Kari>m karya Syeikh T}ant{awi Jauhari,” h. 101.
Di antara sekian banyak reformis, yang paling berpengaruh dalam pembentukan kepribadiannya adalah Muh{ammad Abduh. Bagi T}ant{awi Jauhari, Abduh tidak hanya dipandang sebagai guru tetapi juga sebagai mitra dialog. Karena pemikiran Abduh sangat mempengaruhi pemikiran T}ant{awi Jauhari di kemudian hari, terutama pengetahuannya di bidang tafsir.
Sebagai akademisi, T}ant{awi Jauhari selalu aktif selalu aktif mengamati dan meneliti setiap perkembangan keilmuan dalam berbagai hal dan dengan skala besar. Dari sekian banyak jenis ilmu yang dipelajari, T}ant{awi Jauhari lebih tertarik dengan ilmu tafsir. Selain itu, T}ant{awi juga juga mahir dalam bidang fisika. Dengan cara ini, anggapan bahwa Islam adalah agama yang bertentangan dengan sains dan teknologi dapat disangkal.4
Setelah menyelesaikan studinya di al-Azha>r, T}ant{awi Jauhari melanjutkan pendidikannya di Da>r al-Ulu>m. Ia menyelesaikan studinya pada tahun 1311 H/ 1893 M. Melalui bimbingan Muh{ammad „Abduh dan membuka cakrawala pemikiran yang begitu luas selama belajar di al- Azha>r. Setelah menyelesaikan studinya, T}ant{awi Jauhari memulai kiprahnya sebagai pendidik. Pada awalnya ia menjadi guru Madrasah Ibtida>iya>h dan Tsana>wiya>h. Tidak lama dari aktifitas mengajar di sekolah tersebut ia kemudian dipercaya memberi kuliah di Universitas Da>r al- Ulu>m, almamaternya dulu. Kemudian ia dipercaya untuk mengajar di al- Jam‟i>ya>h al-Misyri>yya>h pada tahun 1912 M.5 Di samping mengajar T}ant{awi Jauhari juga aktif menulis, selain artikel-artikelnya yang selalu muncul di harian al-Liwa>‟, ia telah menulis kurang lebih 30 judul buku.
4 Hadi Asrori, “Proses Penciptaan Alam dalam Enam Masa (Studi Komparatif Tafsir al-Mana>r dan al-Jawa>hir fi> Tafsi>r Al-Qur‟a>n al-Kari>m)”, (Sripsi, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah, 2020), Hal. 50.
5 Idris, Abdul Muhaimin, “Dakhil al-„Ilmi dalam Kitab al-Jawa>hir fi> Tafsi>r Al- Qur‟a>n al-Kari>m Karya T}ant{awi Jauhari,” al-Thiqah 2, no. 2, (2019): h. 58.
53 Sehingga ia dikenal sebagai tokoh yang menggabungkan dua peradaban, yaitu agama dan perkembangan modern.6
T}ant{awi cukup masyhu>r dalam menggagas ide-ide yang berkembang saat itu. Bila ditelaah, ada tiga pemikiran ia yang menjadi perhatian.
Pertama, obsesinya untuk membangkitkan pola pikir umat Islam bahwa mereka tidak boleh hanya mempelajari tentang agama saja, karena zaman akan berubah dan ilmu pengetahuan akan berkembang. Jika mereka hanya memiliki pengetahuan agama, maka akan sulit bagi mereka untuk menghadapi tantangan zaman. Kedua, pentingnya menguasai ilmu pengetahuan modern. Ketiga, mempelajari Al-Qur‟a>n sebagai kitab suci yang memajukan ilmu pengetahuan. Karena diketahui bahwa Al-Qur‟a>n memuat beberapa ilmu yang harus dikembangkan oleh manusia.7
Dalam banyak seminarnya, T}ant{awi menekankan perlunya menguasai bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Karena dalam pandangannya, secara garis besar ilmu terbagi menjadi dua macam, yaitu linguistik dan nonlinguistik. Menurut T}ant{awi ilmu bahasa memegang peran penting dalam disiplin ilmu, karena berfungsi sebagai alat untuk menguasai berbagai disiplin ilmu. Selain ahli dalam bidang tafsir ia ahli di bidang fisika dan biologi. Ia dianggap cukup aktif dalam menulis, yang membuatnya sangat energik. Ia dianggap sebagai salah satu individu yang menganut baik kemajuan modern maupun iman.
Ilmu pengetahuan yang menarik perhatian T}ant{awi adalah ilmu tafsir, yang berawal dari pemikiran Muhammad Abduh ketika mengisi mata kuliah tafsir di kelasnya. Beliau berpandangan bahwa, dengan umat Islam menguasai ilmu modern termasuk fisika maka dapat memperbaiki
6 Hilda Almutiatul Afwa, “Orbit Bulan Perspektif Tafsir „Ilmi”, (Skripsi Sarjana, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Ilmu Al-Qur‟a>nJakarta, 2021), h. 57.
7 Latifah Nur Azizah, “Relevansi Sains Terhadap Al-Qur‟a>n: Penafsiran Tantawi Jauhari Terhadap Surah At-Turr Ayat 6”, (Skripsi Sarjana, Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2019), h. 47.
kesalahpahaman orang-orang yang menuduh Islam menentang ilmu dan teknologi modern. Pendorong semangatnya ini hanya berupa keyakinannya bahwa Al-Qur‟a>n mengajarkan kaum Muslim menuntut ilmu dalam arti yang seluas-luasnya.
Hal inilah yang mendorong dirinya menyusun pembahasan yang dapat mengkompromikan pemikiran Islam dengan kemajuan ilmu pengetahuan fisika. Pengaruh besar pemikiran Abduh yang paling menonjol dari T}ant{awi adalah sikapnya yang menentang bid‟ah dan memberantas taklid buta. Sebab menurutnya, kedua hal tersebut dapat menyeret umat Islam menuju jurang kebodohan dan keterbelakangan.8
T}ant{awi mendirikan perguruan tinggi asing dengan keyakinan dan kegigihan yang teguh agar para pemuda Muslim dapat memahami ilmu dan pemikiran orang Barat, yang benar-benar berkembang lebih baik. Ia juga aktif mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan seperti yang diberitakan di surat kabar dan majalah. Ia aktif berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah yang sangat bermanfaat untuk memajukan pola pikir masyarakat Islam dan menghapus pola pikir yang ketinggalan zaman. Dari kajia-kajian tersebut, ia dapat mendorong masyarakat untuk memperbanyak mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.9
T}}ant{{awi merupakan ulama yang alim, meskipun masih banyak yang lebih alim dari dirinya. Selain itu, beliau sangat ahli pada beberapa bidang keilmuan, baik agama maupun ilmu-ilmu lainnya. Ia berusaha menghadirkan kebudayaan Islam di masanya serta menghubungkan antara
8 Hasnul Huda, Ayat-ayat Kauniyah Tentang Pergantian Malam dan Siang serta Relevansinya dengan Sains, (Tangerang: Cinta Buku Media, 2018), h. 65-66.
9 Latifah Nur Azizah, “Relevansi Sains Terhadap Al-Qur‟a>n: Penafsiran T}ant{awi Jauhari Terhadap Surah At-Tur Ayat 6”, h. 48.
55 agama dengan pendapat-pendapat yang ada pada masyarakat. Hal ini bertujuan untuk dapat mengangkat derajat manusia.10