• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 50-54)

Telaah Fakta dan Data

3.1. Latar Belakang

Berangkat dari pemahaman bahwa wujud arsitektur dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya pada masanya, kondisi sosial dipelajari dalam ilmu sosial atau sosiologi. Pada studi tentang keterkaitan antara aspek-aspek sosial dengan arsitektur didefinisikan sebagai sosiologi arsitektur, dari definisi Sosiologi Arsitektur yang diutarakan oleh oleh Ronald Smith dan Valeria Bugni, sebagaimana dinyatakan sebagai berikut “sociology in architecture is the application of social theory and methodes to the architectural design procces”, dengan demikian sosiologi dalam arsitektur dapat diartikan sebagai suatu pendekatan disain yang memadukan antara ilmu pengetahuan tentang humaniora dengan metoda dan proses disain arsitektur. Pemikiran mengenai aspek-aspek sosial budaya dalam arsitektur dilatar belakangi berbagai permasalahan sosial yang selalu hadir dari setiap periode. Karenanya, bagaimana membangun paradigma dalam proses disain arsitektur, yang membawa cara berpikir arsitek tidak hanya melihat karya arsitekturnya sebagai sebuah karya seni yang kurang mempertimbangkan perilaku manusia sebagai pengguna bangunan. Smith memandang bahwa manusia dalam bangunan sama pentingnya dari bangunannya itu sendiri.

Aspek-aspek sosial dalam arsitektur digunakan sebagai landasan dalam proses disain arsitektur yang diwujudkan di atas teori disain sosial. Bagaimana menerapkan aspek-aspek sosial dalam suatu metoda penelitian disain perilaku manusia dalam berinteraksi dalam bangunan, yaitu dapat dilakukan melalui proses survai, wawancara, pengamatan lapangan, pengolahan data sekunder, pengamatan literatur (teks book, internet, media lain). Dalam hal ini Bugni seperti dikutip Beaman menjelaskan bagaimana mengamati manusia dalam

mengatur dirinya secara alami, hal ini dapat digunakan sebagai petujuk dalam mengenali bagaimana interaksi sosial yang terjadi, khususnya ruang lingkup dimana metode riset membantu seorang arsitek dalam penggunaan ruang oleh manusia, antara lingkungan dan pengguna dalam pilihan-pilihan, serta evaluasi pasca penggunaan.

Sosiologi sebagai sebuah ilmu dapat memberikan informasi dan petujuk kepada arsitek seluruh tahapan-tahapan dari proses disain, termasuk pradisain, pemrograman, disain, pembangunan dan pasca pembangunan. Petunjuk yang diberikan oleh sosiologi dalam bentuk saling keterkaitan dan interaksi antara manusia secara individu serta manusia secara kelompok yang dinyatakan sebagai masyarakat berinteraksi dengan bangunan dan lingkungan sekitarnya.

Melalui sosiologi kita dapat melihat dampak-dampak potensi dalam bentuk manfaat dari sebuah disain bangunan terhadap peningkatan kualitas hidup dan kehidupan manusia. Akhirnya Smith seperti dikutip oleh Jean Beaman mengatakan “I am convinced that sociology has a huge contribution to make to a new way of thingking in architecture and that sociology will also further expand upon some of its theories as a result of this work. As with all new paradigms, architecture will not change easily. Nevertheless, architectural sociology has a promising future.”

Aspek-aspek sosial budaya dalam arsitektur dapat ditelusuri melalui ilmu sosial, yaitu sosiologi secara khusus sosiologi dalam arsitektur, agar dapat kita kaitkan antara manusia dan bangunan, secara rinci dalam proses pengamatannya telaah ini akan ditelusuri melalui pengamatan sosiologi dan antropologi. Antara sosiologi dan antropologi, dapat dikatakan, hanya terdapat perbedaan tipis antara kedua ilmu tersebut, sosiologi lebih mempelajari pada pola kehidupan manusia, sedangkan antropologi pada asal usul manusia itu sendiri, dan keduanya mempelajari karakteristik dari sifat manusia. Melihat pada implikasi disain, kajian sosial lebih bersifat dinamis, sifat sosial manusia senatiasa berubah dan perubahan tersebut tidak terlepas dari proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya, hal ini menuntut telaah ini diarahkan pada telaah aspek sosial, melalui tema yang diajukan di atas bahwa sosiologi arsitektur merupakan pendekatan baru dalam proses disain yang menggabungkan teori-teori sosial ke dalam proses disain bangunan.

Sosiologi adalah sebuah ilmu yang membahas tentang kehidupan masyarakat, yang untuk pertama kalinya ilmu sosiologi disampaikan oleh Auguste Comte (1798 – 1853), walaupun bukan berarti ilmu-ilmu yang menyangkut sosial belum ada sebelumnya, Comte lah yang untuk pertama kalinya menggunakan kata sosiologi, yang berasal dari kata Yunani, yaitu “socius” yang berarti kawan dan “logos” yang berarti ilmu, jadi sosiologi adalah ilmu yang membahas tentang kemasyarakatan. Sebagaimana kita ketahui pada tingkat epsitemologi bahwa dalam sebuah masyarakat terjadi proses interaksi, yaitu

[32]

antara individu-individu, individu-kelompok dalam masyarakat tersebut terjadi proses interaksi yang saling memengaruhi. Syarat sebuah interaksi itu berlangsung dengan baik dan benar bilamana terdapat persepsi yang sama antara masyarakat yang berinteraksi tehadap sebuah objek yang menjadi fokus interaksi.

Ketika, persepsi yang ditimbulkan dalam proses interaksi terjadi ketidak seimbangan atau perbedaan, hal tersebut dapat mengakibatkan timbulnya perdebatan, kelanjutan dari proses perdebatan tersebut, memungkinkan berkembangnya sebuah ilmu pengetahuan. Bagaimana perbedaan persepsi tersebut terjadi, ketika terjadi interaksi antara dua individu yang memiliki pengalaman dan latar belakang yang berbeda. Selain itu sebuah subjek dalam komunikasi terkadang bersifat ambigu, mungkin disebabkan oleh pesan yang disampaikan kurang memberikan kejelasan, atau dimungkinkan oleh pesan tersebut memang memiliki makna ganda atau lebih. Hal tersebut berpeluang sangat besar terjadi pada proses interaksi antara objek arsitektural dan manusia.

Berdasarkan telaah yang disampaikan oleh Jean Beaman, maka pengaruh sosiologi dalam arsitektur terjadi pada aspek interaksi antara bangunan dan manusia. Aspek interaksi berada pada level setelah seorang perencana menganalisis pola perilaku pengguna bangunan yang masuk dalam analisa disain, hal ini berarti disain sangat dipengaruhi oleh kondisi manusianya, berarti bahwa program fungsional merupakan proses analisa disain yang perlu ditunjang oleh kajian sosial budaya. Jauh lebih dalam lagi bahwa dalam prinsip ordering system dalam arsitektur bahwa arsitektur sangat dipengaruhi oleh konteks tempat, pada konteks tempat ini unsur asal usul masyarakat serta bentuk budaya masyarakat setempat sangat berpengaruh terhadap tatanan arsitekturnya, maka pendapat Beaman yang lebih menekankan bahwa konteks difokuskan pada aspek kemanusiaan dan menjadi pertimbangan utama sebuah disain. Dengan demikian bahwa konteks tempat mengandung unsur geografis dan humanis, dan unsur humanis meliputi aspek-aspek sosial, budaya, ekonomi, politis, dan religius psikologis.

Aspek-aspek sosial budaya dengan demikian jelas memegang peran penting dalam perwujudan arsitektur, bahwa arsitektur tidak mungkin terwujud tanpa pertimbangan aspek kemanusiaan, sehingga tujuan akhir arsitektur tidak semata-mata bentukan fisik semata, akan tetapi wadah dari kehidupan dan penghidupan manusia, dimana manusia melakukan aktifitas kesehariaannya dalam lingkungan arsitektur.

Untuk itulah konsep sustainability design dalam arsitektur dapat digunakan dalam merancang hunian, karena dalam pendekatannya sustainability dipengaruhi oleh tiga pilar. Ketiga pilar tersebut, adalah pembangunan lingkungan binaan yang berkelanjutan, pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial. Demikian juga dalam konsep sustainability ini juga

menekankan bagaimana meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan/penghidupan dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan untuk generasi saat ini dan dapat dinikmati juga oleh generasi mendatang.

Namun demikian permasalah sosial di Indonesia sebagai negara berkembang, pada saat ini menampakan semakin kompleks. Hal tersebut didorong oleh pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi, terlebih sejak era reformasi angka kelahiran bertambah pesat karena program keluarga berencana yang tidak dapat berjalan seperti biasanya, kondisi ledakan penduduk tersebut diperparah dengan menurunnya ekonomi dan pendapatan masyarakat.

Akibat ledakan penduduk mendorong peningkatan konsumsi diberbagai sektor, seperti kebutuhan perumahan, kebutuhan air bersih, kebutuhan energi serta jumlah limbah semakin bertambah. Hal ini berkonsekuensi pada penurunan kualitas sosial budaya masyarakat serta penurunan kualitas lingkungan hidup.

Penurunan kualitas dari dua unsur tadi pada kondisi tertentu dapat menimbulkan kerusakan, keadaan tersebut tidak dikehendaki oleh sifat dari arsitektur itu sendiri. Seharusnya arsitektur melalui bentukan lingkungan binaannya mampu mengubah kualitas kehidupan dan penghidupan melalui peningkatan sosial, ekonomi dan budaya serta lingkungan binaannya.

Berbagai permasalahan kota akibat ledakan penduduknya belum juga dapat diselesaikan oleh berbagai program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan, walaupun berbagai upaya yang diwujudkan dalam bentuk bantuan langsung tunai, bantuan pembangunan infrastruktur melalui program P2KP, juga bentuk-bentuk subsidi dan blockgrant belum memperlihatkan hasil yang diharapkan.

Pembangunan perumahan subsidi baik yang landed house maupun rumah bersusun, pada akhirnya bantuan-bantuan tersebut jatuh kepada kelompok masyarakat di luar target sasaran. Akibatnya rumah hanya menjadi komoditas investasi belaka, kelompok masyarakat yang sudah memiliki rumah sajalah yang dapat mengakses perumahan tersebut sedangkan masyarakat berpenghasilan rendah pada akhirnya semakin termarjinalkan. Sehingga pencapaian target pemenuhan rumah bukan menjadi berkurang, justru malah bertambah. Betapapun pembangunan perumahan semakin gencar. Sebagai gambaran back log perumahan pada akhir tahun 2004 mencapai 5,8 juta dan saat ini pada tahun 2008 angka tersebut sudah mencapai lebih dari 7,8 juta unit rumah.

Persoalan sosial perkotaan di akhir tahun 2011 dan memasuki tahun 2012 akan menjadi lebih berat dengan terjadi krisis global. Prosesnya bermula dari krisis ekonomi negara di Eropa dan Amerika. Dampak awal mulai terasa pada beberapa industri nasional yang mulai melakukan pemutusan hubungan kerja.

[34]

Kondisi sosial demikian akan sangat berdampak pada perwujudan arsitektur di Indonesia, khususnya di dunia properti.

3.2. Pengertian Arsitektur dan Lingkungan Binaan

Dalam dokumen arsitektur - perumahan (Halaman 50-54)