ANALISA DAN PEMBAHASAN
5.2 Lengan Timur Sulawesi .1 Anomali Bouguer
Peta kontur anomali Bouguer daerah lengan Timur Sulawesi pada Gambar 5.10 di bawah menunjukkan bahwa nilai anomali berkisar antara -50 mgal hinggal 80 mgal. Dimana anomali positif yang ditunjukkan dengan kontur berwarna hijau menunjukkan bahwa distribusi densitas bawah permukaan daerah tersebut lebih tinggi dari daerah sekitarnya, sedangkan anomali negatif yang ditunjukkan dengan kontur berwarna biru menunjukkan bahwa distribusi densitas bawah permukaan daerah tersebut lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya.
Nilai anomali positif berada pada bagian tengah daerah lengan Timur Sulawesi yang memanjang ke arah timur, sedangkan anomali negatif berada di bagian utara dan barat daya peta kontur. Dugaan awal keberadaan patahan di lengan Timur Sulawesi ini ada pada kontur rapat diantara anomali positif dan negatif, dimana arah bidang patahan (strike) adalah barat daya-timur.
Gambar 5.1
5.2.2 Analisa Spektrum
Proses analisa spektrum dilakukan untuk mengetahui kedalam anomali regional dan residual yang didapatkan dari kandungan frekuensinya.
dibuat lintasan yang melintang pada peta anomali Bouguer daerah lengan Timur Sulawesi. Adapun arah lintasa
strike patahan yang telah diindikasikan sebelumnya.
Universitas Indonesia Gambar 5.10 Peta kontur anomali Bouguer lengan Timur Sulawesi
Analisa Spektrum
Proses analisa spektrum dilakukan untuk mengetahui kedalam anomali regional dan residual yang didapatkan dari kandungan frekuensinya.
dibuat lintasan yang melintang pada peta anomali Bouguer daerah lengan Timur Sulawesi. Adapun arah lintasan dibuat berdasarkan arah yang tegak lurus dengan
patahan yang telah diindikasikan sebelumnya.
62
Universitas Indonesia lengan Timur Sulawesi
Proses analisa spektrum dilakukan untuk mengetahui kedalam anomali regional dan residual yang didapatkan dari kandungan frekuensinya. Untuk itu, maka dibuat lintasan yang melintang pada peta anomali Bouguer daerah lengan Timur n dibuat berdasarkan arah yang tegak lurus dengan
Gambar 5.11 Lintasan pada peta kontur anomali Bouguer daerah lengan Timur Sulawesi Gambar 5.11 Lintasan pada peta kontur anomali Bouguer daerah lengan Timur Sulawesi
Lintasan PP’
63
Gambar 5.11 Lintasan pada peta kontur anomali Bouguer daerah lengan Timur Sulawesi
64
Universitas Indonesia Gambar 5.12 Hasil analisa spektrum Lintasan PP’ dan RR’
Dari analisa spektrum daerah lengan Timur Sulawesi (Gambar 5.12), estimasi kedalaman regional pada lintasan PP’ dan RR’ adalah 23.258 m dan 17.308 m, dan kedalaman residualnya 2.362 m dan 3.832 m. Sehingga rata-rata kedalaman regional daerah lengan Timur Sulawesi adalah sekitar 20 km, dan residualnya adalah sekitar 3 km.
5.2.3 Pemisahan Anomali Regional dan Residual
Proses pemisahan anomali regional dan residual dilakukan untuk dapat memisahkan sumber anomali dalam dan dangkal, dimana dalam penelitian ini proses pemisahan dilakukan dengan menggunakan metode polinomial. Anomali regional dapat diidentifikasi adanya sumber penyebab anomali yang memiliki kedalaman yang dalam, sedangkan anomali residual berasosiasi dengan sumber penyebab anomali yang memiliki kedalaman yang relatif lebih dangkal.
Perhitungan pemisahan anomali regional dan residual dengan metode polinomial dalam penelitian ini dilakukan pada orde 1, 2, dan 3, dimana semakin besar orde berasosiasi dengan pemisahan anomali yang semakin dangkal.
Penggunaan orde 1, 2, dan 3 dilakukan untuk dapat melihat kemenerusan patahan di Lintasan RR’
bawah permukaan. Berikut adalah gambar pemisahan anomali regional dan residual di daerah lengan Timur Sulawesi
Gambar 5.13 Anomali regional (kiri) dan residual (kanan) dengan polinomial (a) orde 1, (b) orde 2, (a)
(c) (b)
bawah permukaan. Berikut adalah gambar pemisahan anomali regional dan residual lengan Timur Sulawesi di setiap ordenya.
Gambar 5.13 Anomali regional (kiri) dan residual (kanan) dengan polinomial (a) orde 1, (b) orde 2, dan (c) orde 3 lengan Timur Sulawesi
65
bawah permukaan. Berikut adalah gambar pemisahan anomali regional dan residual
Gambar 5.13 Anomali regional (kiri) dan residual (kanan) dengan polinomial (a) orde 1, (b) orde 2,
Gambar 5.14 di
menunjukkan bahwa adanya keberadaan patahan yang menerus dari bawah hingga ke atas dengan strike yang sama, yaitu arah
anomali residual orde 1 (paling bawah) lebi
terindikasi struktur patahan pada anomali residual orde 3 (paling atas) yang terlihat dari adanya anomali positif dan negatif.
Gambar 5.14 Penampang anomali residual dari
5.2.4 Analisa Derivative
FHD anomali gayaberat merupakan perubahan nilai anomali gayaberat dari satu titik ke titik lainnya secara horizontal dengan jarak tertentu, yang dapat
Universitas Indonesia
14 dibawah merupakan kontur residual orde 1, 2, dan 3 yang menunjukkan bahwa adanya keberadaan patahan yang menerus dari bawah hingga ke yang sama, yaitu arah barat daya-timur. Walaupun patahan pada anomali residual orde 1 (paling bawah) lebih besar dan terlihat jelas, namun masih terindikasi struktur patahan pada anomali residual orde 3 (paling atas) yang terlihat dari adanya anomali positif dan negatif.
Gambar 5.14 Penampang anomali residual dari polinomial orde 1, 2, dan 3 lengan Timur Sulawesi
Analisa Derivative
FHD anomali gayaberat merupakan perubahan nilai anomali gayaberat dari satu titik ke titik lainnya secara horizontal dengan jarak tertentu, yang dapat
Orde 1 Orde 2 Orde 3
66
Universitas Indonesia
bawah merupakan kontur residual orde 1, 2, dan 3 yang menunjukkan bahwa adanya keberadaan patahan yang menerus dari bawah hingga ke Walaupun patahan pada h besar dan terlihat jelas, namun masih terindikasi struktur patahan pada anomali residual orde 3 (paling atas) yang terlihat
polinomial orde 1, 2, dan 3 lengan Timur Sulawesi
FHD anomali gayaberat merupakan perubahan nilai anomali gayaberat dari satu titik ke titik lainnya secara horizontal dengan jarak tertentu, yang dapat
67
digunakan untuk menunjukkan batas suatu struktur geologi berdasarkan anomali gayaberat. Sedangkan SVD dilakukan untuk memunculkan efek dangkal dari pengaruh regionalnya yang digunakan untuk mendeteksi jenis struktur patahan normal atau patahan naik. Peta anomali SVD yang digunakan dalam penelitian ini adalah SVD dengan filter Rosenbach, yang ditunjukkan pada Gambar 5.15 dibawah.
Gambar 5.15 Peta Kontur SVD Rosenbach daerah lengan Timur Sulawesi
Dan untuk mengidentifikasikan patahan, maka dilakukan analisa penampang FHD dan SVD dari berbagai lintasan di Sulawesi Selatan, yang dapat dilihat pada Gambar di bawah ini. Penampang atas, tengah, dan bawah berturut-turut adalah penampang anomali Bouguer, FHD, dan SVD. Bidang kontak patahan berada pada penampang FHD dengan nilai minimum atau maksimum dan berada pada nilai nol pada penampang SVD, sehingga dapat diketahui batas-batas terjadinya perubahan nilai anomali.
Gambar 5.16 Analisa
Dan seperti yang terlihat pada analisa kurva SVD Gambar 5.16, nilai absolut anomali SVD minimum yang relatif lebih besar daripada nilai anomali SVD maksimum. Hal ini menunjukkan bahwa pada daerah lengan Timur Sulawes
patahan besar yang diidentifikasi sebagai patahan naik.
5.2.5 Pemodelan 2D
Pemodelan 2D gravitasi pada daerah penelitian ini dilakukan dengan bantuan analisa spektrum, analisa
Adapun pemodelan 2D ini dilakukan di lintasan pada peta anomali residual orde 1.
Data geologi untuk daerah dengan analisa derivative
Sehingga pemodelan 2D untuk daerah ini menjadi
Universitas Indonesia Gambar 5.16 Analisa derivative pada lintasan di lengan Timur Sulawesi
Dan seperti yang terlihat pada analisa kurva SVD Gambar 5.16, nilai absolut anomali SVD minimum yang relatif lebih besar daripada nilai anomali SVD maksimum. Hal ini menunjukkan bahwa pada daerah lengan Timur Sulawes
patahan besar yang diidentifikasi sebagai patahan naik.
Pemodelan 2D
Pemodelan 2D gravitasi pada daerah penelitian ini dilakukan dengan bantuan analisa spektrum, analisa derivative, yang juga didukung dengan data geologi.
n 2D ini dilakukan di lintasan pada peta anomali residual orde 1.
Data geologi untuk daerah lengan Timur Sulawesi juga menunjukkan hasil yang sama derivative, yaitu adanya patahan naik Batui.
Sehingga pemodelan 2D untuk daerah ini menjadi
68
Universitas Indonesia pada lintasan di lengan Timur Sulawesi
Dan seperti yang terlihat pada analisa kurva SVD Gambar 5.16, nilai absolut anomali SVD minimum yang relatif lebih besar daripada nilai anomali SVD maksimum. Hal ini menunjukkan bahwa pada daerah lengan Timur Sulawesi terdapat
Pemodelan 2D gravitasi pada daerah penelitian ini dilakukan dengan bantuan , yang juga didukung dengan data geologi.
n 2D ini dilakukan di lintasan pada peta anomali residual orde 1.
juga menunjukkan hasil yang sama
69
Gambar 5.17 Pemodelan 2D daerah lengan Timur Sulawesi
Lintasan RR’ dari pemodelan diatas memiliki kedalaman model 4 km yang sesuai dengan kedalaman residual hasil analisa spektrum. Terdapat basement dan 6 formasi yang ada pada daerah ini. Lapisan paling bawah adalah basement yang merupakan batuan ophiolite dengan densitas 2,9 gr/cc. Lapisan diatasnya merupakan Formasi Tokala yang merupakan formasi batuan tertua pada masa Trias, dimana pada usia yang sama terdapat fasies batuan lain yang diendapkan di laut dangkal, yaitu Formasi Bunta. Formasi Tokala terdiri dari limestone dan napal yang diendapkan di laut dalam, sedangkan formasi Bunta terdiri dari sedimen klastik, kedua formasi tersebut memiliki rata-rata densitas 2,79 gr/cc.
Formasi Tokala dan Bunta yang tidak selaras ini ditindih oleh Formasi Nanaka yang terdiri dari butiran kasar sedimen klastik seperti batuan konglomerat dan batupasir. Formasi yang ada pada pertengahan masa Jurassic ini memiliki
R’
R
70
Universitas Indonesia
densitas 2,74 gr/cc. Selaras dengan itu, Formasi Nanaka bertemu dengan Formasi Nambo dan formasi Tetambahu di pertengahan masa Jurassic, dimana formasi- formasi ini terdiri dari sedimen klastik napal berpasir yang memiliki densitas 2.68 gr/cc. Formasi diatasnya merupakan Formasi Matano yang terdiri dari sandstone dengan sisipan rijang, napal, dan silt, yang memiliki densitas 2.63 gr/cc.
Informasi yang juga didapatkan dari pemodelan di atas adalah informasi mengenai dip, yaitu sudut patahan terhadap permukaan. Besar dip pada patahan daerah lengan Timur Sulawesi adalah sebesar 10°.
5.2.6 Analisa Patahan
Dari analisa derivative yang telah dilakukan, maka dapat dibuat rekonstruksi patahan. Rekonstruksi patahan ini dibuat pada peta kontur SVD Rosenbach, dimana bidang kontak patahan pada FHD yang berada pada nilai minimum atau maksimum, dan berada pada nilai nol pada kontur SVD. Hasil rekonstruksi patahan pada Gambar 5.18 dibawah merupakan hasil interpretasi batas kontak antara bidang yang tersesarkan yang diidentifikasi dari nilai anomali SVD yang memiliki nilai nol.
Seperti yang telah diketahui dari analisa derivative dan dibuktikan dengan pemodelan 2D, pada daerah lengan Timur Sulawesi diidentifikasi adanya struktur patahan naik dengan arah barat daya-timur, dengan bagian patahan yang turun adalah bagian utara dari lengan Timur Sulawesi. Dan dapat diperkirakan pula arah strike dari patahan naik ini sebesar N 74° E
71
Gambar 5.18 Rekonstruksi patahan daerah lengan Timur Sulawesi