BAB VI Lembaga Pendidikan Islam
C. Manajemen Madrasah
Madrasah merupakan terjemahan dari istilah sekolah dalam bahasa Arab. Namun, konotasi madrasah dalam hal ini bukan pada pengertian etimologi tersebut, melainkan pada kualifikasinya. Selama ini madrasah dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam yang mutunya lebih rendah dari pada mutu lembaga pendidikan laimya, terutama sekolah umum, walaupun beberapa madrasah justru lebih maju daripada sekolah umum. Namun, keberhasilan beberapa madrasah dalam jumlah yang terbatas itu belum mampu menghapus kesan negatif yang sudah terlanjur melekat.
Ditinjau dari segi penguasaan agama, mutu siswa madrasah lebih rendah daripada mutu santri pesantren. Sementara itu, ditinjau dari penguasaan materi umum, mutu siswa madrasah lebih rendah daripada sekolah umum. Jadi, penguasaan baik pelajaran agama maupun materi umum serba mentah (tidak matang). Itulah yang menyebabkan Mastuhu menilai, ”Madrasah menjadi semacam sekolah kepalang tanggung.165
Dari segi manajemen, madrasah lebih teratur daripada pesantren tradisional (salâfiyah), tetapi dari segi penguasaan pengetahuan agama, santri lebih mumpuni. Keadaan ini wajar terjadi karena santri tersebut hanya mempelajari pengetahuan agama, sementara beban siswa madrasah berganda. Demikian juga, menjadi wajar ketika dalam hal penguasaan pengetahuan umum, siswa sekolah umum lebih
165 Mastuhu, Memberdayakan Sistern Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 59
menguasai daripada siswa madrasah karena beban siswa sekolah umum tidak sebanyak siswa madrasah.
Perbandingan ini sungguh tidak adil sehingga kesimpulan yang diperoleh juga tudak valid. Sama-sama perbandingan yang tidak adil, madrasah justru berpeluang lebih unggul dari pesantren dan sekolah jika objek perbandingamua dibalik. Dalam pengusaan pengetahuan umum, siswa madrasah lebih pandai dari pada santri pesantren.
Sedangkan dalam penguasaan pengetahuan agama, siswa madrasah lebih bermutu dari pada siswa sekolah umum.166
Untuk menghindari penilaian yang kurang bijaksana bahkan cenderung memvonis negatif sebagaimana penilaian Mastuhu tersebut, ada baiknya dilacak faktor-faktor penyebab kelemahan madrasah sehingga ditemukan penyebab sampai keakar-akarnya. Hal ini penting disadari agar dapat melakukan injeksi strategi yang tepat dan benar, sesuai dengan kebutuhan riil madrasah saat ini.
1. Penyebab Kelemahan Madrasah
Apabila diamati secara mendalam, ada banyak factor yang membuat kualitas madrasah rendah. Di antara factor tersebut adalah kualitas pengelola, sistem feodalisme, kondisi kultur masyarakat, kebijakan politik negara, dan terlalu banyak beban yang harus dijalani siswa.
Pengelola atau pemimpin lembaga pendidikan memang memiliki posisi dan fungsi strategis selaku pengendali lembaga tersebut.
Mereka memiliki political power (kekuatan politis), suatu kekuasaan yang tidak dimiliki oleh para guru. Melalui kekuasaan itu, mereka memiliki kewenangan untuk mengadakan pembaruan. Apalagi jika kewenangan itu didukung dengan political will (kehendak politi) atau good will (kehendak baik) dari para pemimpin.
Oleh karena itu, wajar sekali terjadi ketika suatu madrasah mengalami kemunduran maka kepala madrasah yang banyak mendapat kritikan. M. Arifin menegaskan bahwa titik lemah
166 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,, hlm. 80
madrasah, pada semua jenjang, terletak pada tenaga pengelolamya, karena mereka kurang berorientasi pada profesionalisme. Meskipun demikian, tidak bisa dikatakan bahwa para guru dan tenaga administrative di madrasah negeri saat ini hanyalah kaum amatir yang menangani madrasah sambil lalu.167
Perilaku pemimpin atau pengelola memiliki pengaruh yang signifikan terhadap maju-mundurnya sebuah madrasah. Perilaku positif dan proaktif dapat mendukung kemajuan madrasah.
Sebaliknya, perilaku negative dan kontraproduktif justru menghambat kemajuan. Perilaku negatif ini terkait dengan tradisi kurang baik yang berlangsung dan berkembang di suatu madrasah.
Praktik manajemen di madrasah sering menggunakan model manajemen tradisional, yaitu model manajemen paternalistik atau feodalistik. Dominasi senioritas jelas mengganggu perkembangan dan peningkatan kualitas pendidikan. Munculnya kreativitas dan inovasi dari kalangan muda terkadang dipahami sebagai sikap yang tidak menghargai senior. Kondisi ini mengarah pada penilaian negatif, sehingga muncul kesan bahwa meluruskan atau mengoreksi kekeliruan langkah senior dianggap sebagai sikap su' al-adâb (tabiat jelek).168
Anggapan demikian, sebenarnya, merupakan pengaruh budaya lokal, bukan pengaruh ajaran agama. Islam memang mengajarkan kode etik dalam pergaulan antara orangtua dan muda. Kalangan muda menghormati yang tua sedangkan yang tua mengasihi yang muda.
Namun, tidak ada larangan untuk meluruskan kesalahan orangtua, bahkan dianjurkan. Konsep Islam tentang amar makruf nahi mungkar tidak pernah dibatasi pada kalangan tertentu. Demikian juga anjuran
167 M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta:
Bumi Aksara, 1991), hlm. 10
168 Rahardjo, "Madrasah Sebagai the Centre of Excellence", dalam Ismail SIVI, Nurul Huda dan Abdul Kholiq, (Eds), Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Yogyakarta: Kerja sama Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dengan Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2002), hlm. 229
untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (wa tawâshau bi al-haq wa tawâshau bi al-shabr) sebagaimana tercantum dalam surah al-Ashr yang juga tidak terbatas pada kalangan tertentu. Jadi, kecemburuan senior terhadap teguran junior tidak lebih meyupakan murni pengaruh budaya lokal yang justru akan menghambat dinamika pendidikan.
Penghormatan yang berlebihan pada senior justru menimbulkan dua macam kelemahan: Pertama, kalangan senior tidak merasa tertantang sehingga kreativitasnya tidak terbangkitkan sama sekali;
dan kedua, kalangan junior merasa ide, kreativitas, gagasan, dan inisiatifnya terbelenggu, sehingga merasa pesimis dalam menghadapi tantangan-tantangan lembaga pendidikan di masa depan yang semakin kompleks dan multidimensi.
Selanjutnya, kondisi kultur di luar madrasah juga memengaruhi kualitas madrasah. Kondisi ini bisa berupa pandangan atau penilaian masyarakat terhadap madrasah. Selama ini madrasah dipersepsikan sebagai lembaga pendidikan kelas ekonomi, tidak bermutu, hanya mengajarkan isi agama semata, jurusan akhirat, tempat penampungan anak-ąnak orang miskin, bersistem kolot, dan tidak bisa melanjutkan ke sekolah umum atau perguruan tinggi umum negeri.
Semua anggapan tersebut merupakan hal yang salah kaprah karena tidak berdasar. Meskipun demikian, anggapan itu tetap bertahan memengaruhi masyarakat umum, yang selama ini memang jauh dari kehidupan madrasah. Mereka terpengaruh lantaran tidak mengetahui realitas yang sebenarnya. Tentu saja, kondisi eksternal madrasah yang demikian kurang menguntungkan bagi peningkatan mutu pendidikan madrasah.169
Di samping itu, kebijakan-kebijakan politik negara, terutama yang diterapkan oleh pemerintah Orde Baru senantiasa melemahkan upaya peningkatan mutu madrasah. Dalam setiap kebijakan dan keputusan yang menyangkut pendidikan, madrasah selalu dianaktirikan oleh
169 Qomar, "Manajemen...", hlm. 339-340
pemerintah Orde Baru.170 Sikap diskriminatif ini terutama sangat terlihat dalam urusan pendanaan. Alokasi dana yang diperoleh madrasah negeri selalu jauh lebih kecil daripada yang diperoleh sekolah negeri. Keadaan ini menjadi lebih parah lagi jika sudah menyangkut madrasah swasta. Selama 32 tahun, pemerintah Orde Baru kurang memerhatikan madrasah swasta, padahal sebagian besar madrasah berstatus swasta. Jadi, nasib madrasah terlantar puluhan tahun akibat kebijakan pemerintah ini. Dan, sayangnya, hingga sekarang pun madrasah belum memperoleh perlakuan yang sama dengan apa yang diterima sekolah umum sehingga masih terdapat kesenjangan yang lebar dalam urusan alokasi dana.
Perlakuan diskriminatif itu terjadi juga lantaran madrasah menjadi korban permainan politik praktis. Madrasah dicurigai sebagai sarang keluarga yang berafiliasi politik ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sementara pemerintah Orde Baru pada waktu itu melancarkan politik belah bambu. Para pendukung Golongan Karya (Golkar) dimanjakan, sedangkan pendukung PPP dan PDI selalu ditekan dan ditindas dalam berbagai kebijakan pemerintah.
Ada banyak faktor Iain yang juga menyebabkan mutu madrasah lemah, termasuk masalah yang berhubungan dengan beban yang harus dijalani siswa. Beban yang diwajibkan pada siswa madrasah jauh lebih berat daripada beban siswa sekolah umum. Siswa sekolah madrasah wajib mempelajari semua mata pelajaran siswa di sekolah umum, plus pelajaran rumpun agama yang meliputi bahasa Arab, Al-Qur'an-hadis, akidah-akhlak, fikih-ushül al-fiqih, dan sejarah kebudayaan Islam.
Apalagi madrasah yang berada dalam pesantren, beban siswa Iebih berat lagi. Karena, di samping siswa mengikuti pelajaran di madrasah juga mengikuti pelajaran pesantren.171
Pada bagian lain, kita harus menyadari bahwa potensi siswa madrasah rata-rata merupakan kelas menengah ke bawah. Secara
170 Qomar, "Manajemen..., hlm. 340
171 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm. 84
intelektual kemampuan mereka lemah, sebab biasanya siswa yang memiliki prestasi baik cenderung melanjutkan ke sekolah umum.
Secara ekonomi, posisi. mereka juga berada pada kelas menengah ke bawah. Demikian juga secara sosial, mereka berasal dari kalangan masyarakat biasa (grass root). Intinya, potensi siswa madrasah rata- rata merupakan akumulasi kelas menengah ke bawah baik secara intelektual, ekonomi, maupun sosial. Keadaan ini menunjukkan bahwa kehadiran mereka di madrasah telah membawa sejumlah problem yang harus diselesaikan karena ini juga berpengaruh pada kelangsungan pembelajaran.
Selanjutnya, dibandingkan sekolah umum, guru, sarana dan prasarana, serta peralatan pembelajaran di madrasah juga masih tertinggal. Guru-guru di madrasah masih banyak yang kurang profesional, baik dalam tingkat pendidikan maupun keahliamya.
Masih banyak guru madrasah yang mengampu mata pelajaran yang bukan keahliamya. Demikian juga dengan sarana dan prasarana, perpustakaan, serta laboratorium, yang mestinya menjadi jantung madrasah, ternyata tidak memadai, bahkan terkadang tidak ada.
Apalagi yang berhubungan dengan alat pembelajaran seperti OHP, laptop, LCD, dan sebagainya sangat terbatas. Bahkan, madrasah tertentu tidak memilikinya. Kekurangan pada tiga komponen ini berdampak negatif pada proses pembelajaran.172
Apabila kita menggunakan rumus input—proses—output untuk mengukur suatu pendidikan, maka di madrasah ada masalah yang harus dipecahkan. Bila input-nya baik, prosesnya baik, maka bisa dipastikan output-nya juga baik. Akan tetapi, bila input-nya lemah, prosesnya jelek, maka output-nya juga lemah. Kondisi kedua ini menggambarkan keadaan di madrasah pada umumnya, yang berarti ada banyak masalah yang harus diselesaikan. Walau bagaimanapun madrasah terlepas dengan segala kekurangamya—telah memberikan kontribusi yang besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
172 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm. 85
2. Strategi Mengatasi Kelemahan Madrasah
Sejumlah pemerhati dan praktisi mencoba menawarkan berbagai konsep untuk mengatasi kelemahan-kelemahan madrasah. Tawaran konseptual ini merupakan bentuk kepedulian mereka untuk berpartisipasi dalam membenahi, menyempurnakan, bahkan meningkatkan mutu madrasah menjadi institusi yang maju dan unggul.
Tawaran konseptual tersebut dimulai dari pembenahan pada aspek manajemen yang dipandang sebagai faktor penentu terhadap komponen madrasah laimya. Husni Rahim menegaskan bahwa lembaga madrasah pertama-tama dituntut untuk melakukan perubahan-perubahan strategis dalam bidang manajemen. Pimpinan madrasah dituntut untuk memiliki visi, tanggung jawab, wawasan, dan keterampilan manajerial yang tangguh. Ia hendaknya dapat memainkan peran sebagai lokomotif perubahan menuju terciptanya madrasah berkualitas.173 Maka, kepala madrasah seharusnya menyandang dua macam profesi, yaitu profesi keguruan dan profesi administratif (sebagai administrator).174
Manajemen menjadi kunci pemecahan karena mengandung kaidah-kaidah penataan secara rapi dan teratur walau sayangnya belum banyak dipraktikkan secara serius dalam pengelolaan madrasah, kecuali dalam kasus-kasus yang terbatas.175 Manajemen profesional telah menjadi andalan dalam pengembangan madrasah.176 Kaidah-kaidah manajerial telah berkali-kali diujicobakan atau dipraktikkan dalam mengendalikan lembaga pendidikan. Bahkam dilakukan juga penyempurnaan-penyempurnaan berdasarkan fenomena-fenomena baru yang muncul di lapangan yang sebelumnya tidak menjadi pertimbangan dalam kaidah-kaidah yang terdahulu.
173 Rahim, Arah..., hlm. 21
174 Arifin, Kapita..., hlm. 106
175 Qomar, "Manajemen…, hlm. 337
176 Rahardjo, "Madrasah..., hlm. 232
Oleh karena itu, kaidah-kaidah manajerial tersebut dirumuskan, tidak hanya berdasarkan apriori (pengetahuan sebelum mengalami semacam ide-ide murni dan gagasan-gagasan murni), melainkan juga berdasarkan aposteriori (pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman yang dialami seseorang atau lembaga pendidikan).
Kombinasi antara pengetahuan apriori dan aposteriori inilah yang dijadikan pijakan dalam merumuskan kaidah-kaidah manajemen pendidikan Islam, agar suatu lembaga pendidikan Islam dapat dikendalikan melalui strategi yang komprehensif. Meskipun demikian, sebagai watak dari suatu disiplin ilmu, kita harus terus-menerus melakukan pencermatan, jika ada hal-hal yang dapat menyempurnakan kaidah-kaidah manajemen pendidikan Islam
Dalam kasus madrasah, berdasarkan identifikasi penyebab kelemahan mutu madrasah yang meliputi pihak pengelola, sistem feodalisme, kondisi kultural masyarakat, kebijakan politik negara terutama yang menyangkut keuangan/ pendanaan, beban pelajaran yang harus dijalani siswa, potensi input, keadaan sarana-prasarana, alat-alat pembelajaran, maupun kondisi guru yang kurang profesional, maka banyak hal yang turut bertanggung jawab terhadap rendahnya kualitas madrasah
Akan tetapi, semua faktor itu merupakan akibat semata, atau dalam bahasa penelitian disebut dependent variable (variabel tergantung). Sementara itu, yang menjadi faktor penyebab atau independent variable (variabel bebas) justru para pengelola madrasah.
Jika mereka memiliki kemampuan dan keahlian dalam mengelola, maka persoalan-persoalan lain seharusnya dapat diatasi dengan baik.177 Karena, para pengelola, sebagai pihak yang memegang kendali, memiliki kekuatan eksekutif atau politik yang dapat dijadikan sarana atau media dalam mengkondisikan komponen-komponen laimya.
177 Qomar, Manajemen ..., hlm. 340
Lebih lanjut, peran pengelola atau manajer madrasah tersebut pernah dilukiskan Imam Suprayogo yang mendeskripsikan bahwa betapa besar dan strategisnya peran para manajer dalam memajukan madrasah. Mereka adalah pimpinan di berbagai lapisan madrasah itu.
Mereka tidak saja memiliki kekuatan untuk mengarahkan, memberikan bimbingan, mengontrol, dan mengevaluasi, melainkan juga menjadi kekuatan penggerak, yaitu elemen yang selalu memperkuat dan memperbarui etos, cita-cita, dan imajinasi-imajinasi secara terus-menerus.178
Secara struktural, semua lapisan manajer harus bergerak dan bersinergi sesuai dengan kewenangan masing-masing. Manajer puncak yang menentukan arah kebijakan, manajer madya yang menerjemahkan arah kebijakan yang digariskan manajer puncak, dan manajer terdepan yang berusaha mengondisikan pelaksanaan kebijakan itu.
Kekompakan kerja ketiganya merupakan modal besar untuk memajukan madrasah. Suprayogo mengakui bahwa madrasah pada umumnya masih memiliki beberapa kelemahan. Akan tetapi, kelemahan itu dapat diatasi jika semua elemen yang terlibat dalam pengembangan ikut menanganinya secara sungguh-sungguh, sistematis, terarah, dan profesional.179 Hanya saja, budaya kerja tersebut mungkin masih sangat sulit dipraktikkan di Indonesia, khususnya di kalangan madrasah. Namun, dengan pengondisian sejak awal, di bawah komando pimpinan atau manajer puncak yang benar- benar bisa memberi teladan dalam semua aspek pengembangan, berbagai kesulitan dalam madrasah tentu bisa diatasi. Tentu saja, hal ini membutuhkan waktu dan proses secara kontinu yang cukup Panjang.
178 Suprayogo, Reformasi..., him. 73
179 Suprayogo, Reformasi..., hlm. 72
Selanjutnya, Fadjar menyatakan bahwa apapun perubahan yang ingin dicapai, kebijakan pengembangan madrasah perlu mengakomodasi tiga kepentingan berikut ini.
a. Bagaimana kebijakan itu pada dasarnya harus memberi ruang tumbuh yang wajar bagi aspirasi utama umat Islam. Menghadirkan sistem madrasah dalam pentas pendidikan di Indonesia merupakan wahana untuk membina ruh atau praktik hidup keislaman.
b. Bagaimana kebijakan itu memperjelas dan memperkukuh keberadaan madrasah sederajat dengan sistem sekolah, sebagai ajang membina warga negara yang cerdas, berpengetahuan, berkepribadian, serta produktif.
c. Bagaimana kebijakan itu bisa menjadikan madrasah mampu merespon tuntutan-tuntutan masa depan. 180
Berdasarkan tiga kepentingna itu, dapat dilakukan pemetaan sebagai berikut. Kepentingan pertama mengemban misi dakwah, kepentingan kedua mengemban misi pendidikan, sedangkan kepentingan ketika mengemban misi pembaharuan. Misi ketiga inilah yang membingkai setiap upaya untuk melakukan pembaharuan, peningkatan, maupun pengemabanga manajemen madrasah yang mengarah pada pencapaian kemajuan. Tampa misi ketiga itu tidak bisa dibedakan antara satu madrasah dengan madrasah laimya. Karena, semua madrasah memiliki misi dakwah dan misi pendidikan.
Berpijak kepada misi pembaharuan itulah, upaya perbaikan madrasah secara terus-menerus dipikirkan secara serius oleh para pakar atau praktisinya. Dari hasil pemikiran itu, Rahim menyatakan bahwa paradigma manajemen madrasah harus bergeser dari paradigma lama ke paradigma baru. Rahim menawarkan 16 macam perubahan paradigma manajemen madrasah, yaitu sebagai berikut.
a. Dari posisi subordinatif ke posisi otonom.
b. Dari strategi sentralistik ke strategi desentralistik.
180 Fadjar, Visi..., hlm. 121-122; Fadjar, Holistika..., hlm. 239-240
c. Dari pengambilan keputusan otoritatif ke pengambilan keputusan partisipatif.
d. Dari pendekatan birokratik ke pendekatan profesional.
e. Dari model penyeragaman ke model keberagaman.
f. Dari langkah praktis kaku ke langkah praktis luwes.
g. Dari kebiasaan diatur ke kebiasaan berinisiatif.
h. Dari serba regulasi ke deregulasi.
i. Dari kemampuan mengontrol ke kemampuan memengaruhi.
j. Dari kesukaan mengawasi ke kesukaan memfasilitasi.
k. Dari ketakutan dengan risiko ke keberanian mengelola risiko.
l. Dari pembiayaan yang boros ke pembiayaan yang efisien.
m. Dari kecerdasan individual ke kecerdasan kolektif/team work.
n. Dari informasi tertutup ke informasi terbagi/terbuka.
o. Dari pendelegasian ke pemberdayaan.
p. Dari organisasi hierarkis ke organisasi egaliter. 181
Dengan perubahan paradigma manajemen ini, pimpinan madrasah dituntut untuk melakukan langkah-lankah ke arah perwujudan visi madrasah: agamis, populis, berkualitas, dan beragam. Langkah- lanokah tersebut di antaranya dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Membangun kepemimpinan madrasah yang kuat dengan meningkatkan koordinasi, menggerakkan semua komponen madrasah, menyinergikan semua komponen madrasah, menyinergikan semua potensi, merangsang perumusan terhadap- terhadap perwujudan visi dan misi madrasah, serta mengambil prakarsa yang berani dalam pembaharuan.
b. Menjalankan manajemen madrasah yang terbuka dalam pengambilan keputusan dan penggunaan keuangan madrasah.
c. Mengembangkan tim kerja yang solid, cerdas dan dinamis.
d. Mengupayakan kemandirian madrasah untuk melakukan langkah terkait bagi madrasah.
e. Menciptakan proses pembelajaran yang efektif, dengan ciri-ciri
181 Rahim, Arah..., hlm. 21-22
1) Proses itu memberdayakan siswa untuk aktif dan partisipatif;
2) Target pembelajaran sampai dengan pemahaman yang ekspresif;
3) Mengutamakan proses internalisasi ajaran agama dengan kesadaran sendiri;
4) Merangsang siswa untuk mempelajari berbagai cara belajar (learning how to learn); dan
5) Menciptakan semangat yang tinggi dalam menjalankan tugas.182
Konsep paradigma manajemen baru berikut langkah-langkahnya yang ditawarkan Rahim bagi madrasah begitu lengkap, tetapi masih ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk memperkuat konsep yang ditawarkan tersebut, yaitu sebagai berikut.183
a. Menyederhanakan beban studi.
Filosofinya, lebih baik mata pelajaran sedikit tetapi siswa menguasainya daripada banyak tetapi serba tidak menguasai.
Maka, mata pelajaran yang tidak ada kelanjutamya pada jenjang pendidikan di atasnya sebaiknya dihapus.
b. Membangun profesionalisme guru.184
Para guru madrasah harus profesional, mereka harus diberdayakan mulai dari tingkat pendidikan yang mensyaratkan minimal sarjana (S-l); pengalaman yang diberdayakan melalui pelatihan, lokakarya, seminar, dan workshop; kesesuaian keahlian dengan mata pelajaran yang dibina; kedisiplinan diperketat; mampu memberi contoh/teladan dalam kehidupan di madrasah maupun di masyarakat; dan rasa memiliki terhadap madrasah sehingga mempunyai sense of development.
c. Membangun kesadaran siswa.
Dasar pemikiramya sederhana sekali, bahwa kurikulum sebaik apa pun, guru seprofesional apa pun, tetapi jika siswa tidak merespons
182 Rahim, Arah... Inlm. 22-23
183 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm. 92
184 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm.92
dengan kesadaran belajar, maka pendidikan akan selalu gagal.
Problem pembelajaran sekarang ini bukan lagi pada persoalan penyampaian materi, tetapi lebih pada persoalan kesadaran belajar siswa. Kesadaran siswa untuk belajar harus dibangkitkan melalui pengawasan guru dan orangtua, penanaman semangat untuk mencapai sukses, pembatasan keluyuran siswa di luar jam pelajaran, pengendalian kegiatan menonton televisi, upaya merangsang siswa gemar belajar, upaya melengkapi fasilitas belajar, dan mereformulasi strategi pembelajaran dengan basis psikologi.
d. Memperkuat perpustakaan dan laboratorium.
Dua sarana ini termasuk jantung madrasah, sehingga keduanya harus sehat. Buku-buku referensi perpustakaan harus diperbanyak, dan harus dipilih sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga benar- benar dibaca. Sebaiknya, perpustakaan juga dilengkapi dengan internet sehingga siswa dapat mengakses informasi dengan cepat.
Fungsi laboratorium hendaknya juga terus dimaksimalkan, baik pada tingkat pengelolaan, penggunaan, inovasi, maupun macamnya. Ke depan, perlu direncanakan bahwa setiap mata pelajaran dapat dilengkapi dengan laboratorium. Dengan begitu kemampuan siswa tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi juga afektif, psikomotorik, bahkan metakognitif.
e. Membangun strategi pembelajaran yang akseleratif
Tugas terberat bagi para guru madrasah adalah mencari formulasi baru untuk menyusun strategi pembelajaran yang akseleratif, yaitu mampu mempercepat penguasaan siswa terhadap pengetahuan, terutama yang ada dalam mata pelajaran. Ini sungguh berat, tetapi sangat mulia. Karena, jika berhasil, akan bisa membuktikan pendidikan yang sejati dengan ciri-ciri mampu mengubah kesadaran, perilaku, pandangan, semangat, dan prestasi siswa.185
185 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm.93
Strategi ini berbeda dengan kecenderungan lembaga pendidikan maju sekarang ini. Kebanyakan dari mereka kini hanya tinggal memilih siswa-siswa yang pandai-pandai lalu dibina sehingga menjadi lulusan berkualitas. Inilah corak pendidikan yang kapitalistis, sehingga menimbulkan pertanyaan, "Apakah kualitas lulusan sekolah tersebut dikarenakan faktor kehebatan strategi pembelajaran atau karena faktor potensi siswa sebelum masuk ke sekolah tersebut yang memang sudah pandai?" Sekolah yang maju, favorit, apalagi unggulan mestinya mampu membuktikan hasil nyata dengan menerima siswa berkemampuan menengah ke bawah, untuk kemudian digembleng menjadi siswa dan alumni yang pandai, meskipun hanya satu kelas dalam setiap angkatan.
Oleh karena itu, madrasah harus berupaya untuk menggembleng para siswanya yang semula lemah menjadi Siap berkompetisi.
Madrasah harus mampu mengubah kebiasaan malas menjadi rajin, tidak sadar menjadi penuh kesadaran, pesimisme menjadi optimisme, lemah semangat menjadi penuh semangat menatap masa depan, pasif menjadi penuh inisiatif dan kreasi, nakal menjadi taat, dan sifat minder menjadi penuh percaya diri. Bila madrasah mampu mengemban misi tersebut, ini merupakan suatu keberhasilan yang luar biasa.186
f. Membangun asrama siswa.
Jika asrama terwujud, harus ada pengaturan kegiatan pembelajaran secara kondusif. Ada baiknya pada jam sekolah, pelajaran yang disajikan dikhususkan pada pelajaran umum hingga sore hari.
Sementara itu, malam harinya dikhususkan untuk pelajaran agama.
Bila pemetaan ini membawa hasil, tujuan awal pendirian madrasah untuk menjembatani pesantren dan sekolah umum akan betul-betul terlaksana, karena siswa benarbenar menguasai pelajaran umum maupun pelajaran agama.
186 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm. 94