• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2019 (Halaman 59-175)

BAB VII. SIMPULAN DAN SARAN

7.2 Saran

Pengembangan model vokasionalisasi Pendidikan keterampilan/kecakapan hidup yang berbasis pada kearifan lokal, diperlukan langkah strategis dan penyamaan persepsi terhadap kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik. Fakta menunjukkan bahwa banyak lulusan Pendidikan dasar, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama di sejumlah daerah yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang Pendidikan Menengah dengan berbagai alasannya. Untuk itu, penyiapan dan pemberian bekal awal keterampilan kepada peserta didik seharusnya dapat dilihat sebagai upaya untuk memberikan bekal awal keterampilan, pengetahuan, dan sikap terhadap pekerjaan, terutama pemahaman yang mendalam terkait dasar- dasar kewirausahaan dan keterampilan serta metoda mempromosikan produk yang dihasilkan agar Pendidikan keterampilan memberi kesan mendalam bagai peserta didik untuk menjadi bekal awal yang penting saat kelak diperlukan untuk bekerja.

DAFTAR PUSTAKA

Bakar, A.R. and Hanafi, I (2007). Assessing Employability Skills of Technical- Vocational Students in Malaysia. Journal of Social Sciences 3 (4): 2002207.

Depdiknas. (2002). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Ditjen.

Pendidikan Dasar dan Menengah.

Fadiati, Ari dan Dedi Purwana. (2011). Menjadi Wirausaha Sukses. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

Fugate, M., Kinicki, A. J. & Ashforth, B. E. (2004). Employability: A psychosocial construct, its dimension, and applications. Journal of Vocational Behavior, 65(2), 14-38

Ganjar, Kurnia. (2014). Mengkritisi Bonus Demografi. Tersedia di:

http://www.ybb.or.id/ petaka-kependudukan/. Diakses : 21 Oktober 2018.

Helyer, R. (2007) 'What is employability?: reflecting on the postmodern challenges of work-based learning', Journal of Employability in the Humanities.

Kelly, S. & Price, H. (2009). Vocational education: A clear slate for disengaged students? Social Science Research, 38(4), 810–825.

Lauglo, J. (2004). Vocationalized Secondary Education Revisited. A Paper to be presented to the CIES 2004 conferences on Development as Freedom: The role of Education. World Bank. http://siteresources.worldbank.org/

Lauglo, J. & Lillis K. (1988). Vocationalizing Education: An International Perspective.Volume 6. Oxford: Pergamon Press.

Maclean, R. & Pavlova, M. (2013).Vocationalization of secondary and higher education: pathways to the world of work. http://www.unevoc.unesco.org/

fileadmin/up/ 2013 epub revisiting global_trends_in_tvet_chapter2.pdf (diakses 5 Mei 2015).

Onyejiaku, Chinyere C., Ghasi, Nwanneka C., and Okwor, Helen. (2018). Does Promotional Strategy Affect Sales Growth of Manufacturing Firms in South East Nigeria? European Journal of Management and Marketing Studies ISSN: 2501 - 9988 ISSN-L: 2501 - 9988 Vol 3 Issue 1. Available on-line at:

http://www.oapub.org/soc

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan Swastha, B. 2005. Manajemen Pemasaran Modern, Yogyakarta: Liberty

Tilaar, H.A.R. (2012). Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship dalam Pendidikan Nasional. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

UNESCO. (2001). Records of the thirty-first session of the General Conference:

Resolution.h.28 Paris: UNESCO. http://unesdoc.unesco.org/ images/0012/

001246/ 124687e.pdf.

Wallace, L. (2009). Internet Research Project using the ADDIE Model. Towson University.

Wikipedia (2015). ASEAN Free Trade Area. http://en.wikipedia.org/wiki/ASEAN Free Trade Area

Widia, N. dan Sulitio, W. (2015). Professional Entrepreneur: Leading The Organization in Entrepreneur Way. Jakarta: PT. Dharmapena Citra Media.

Wilson, D. (2001). Reform of TVET for the Changing World of Work dalam Bakar, A.R. (2011). Preparing Malaysian Yourths for The World of Work.

Serdang: UPM.

PANDUAN PEMILIHAN JENIS KETERAMPILAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA PENDIDIKAN KETERAMPILAN SEKOLAH

MENENGAH PERTAMA HALAMAN JUDUL

TIM PENELITI

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA TAHUN 2019

KATA PENGANTAR

Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, pemerintah telah menyusun berbagai kebijakan dan strategi yang dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi.

Kebijakan dan program tersebut, diharapkan dapat menunjang misi 5 K Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan Ketersediaan, Keterjangkauan, Kualitas, Kesetaraan dan Kepastian juga diharapkan dapat terpenuhi.

Dengan buku panduan ini diharapkan pihak-pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan keterampilan di semua tingkatan dapat memahami dan melaksanakan dengan amanah, efektif dan efisien seluruh proses kegiatan mulai dari penyiapan rencana, pelaksanaan, sampai dengan monitoring, evaluasi dan pelaporannya.

Akhirnya, kami mengharapkan agar semua pihak terkait dapat mempelajari dengan seksama dan menjadikannya sebagai acuan dalam melaksanakan program atau kegiatan pendidikan.

Jakarta, Oktober 2019

Tim Peneliti

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...... I

KATA PENGANTAR ...... ii DAFTAR ISI ...... iii

BAB I PENDAHULUAN ...... 1 A. LATAR BELAKANG. ...... 1 B. TUJUAN...... 1 C. Dasar Hukum ... 2

D. SASARAN ... 2 BAB II PENDIDIKAN KETERAMPILAN ... 3 A. BENIH ETOS KERJA PADA ANAK-ANAK INDONESIA. ... 3 B. PERSEMAIAN ETOS KERJA BAGI ANAK-ANAK INDONESIA. ... 4 C. TUJUAN PENDIDIKAN KETERAMPILAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL. ... 5 BAB III ...... 7 STRATEGI PELAKSANAAN PENDIDIKAN KETERAMPILAN ... 7 A. PENGELOLAAN PENDIDIKAN KETERAMPILAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL.. 7 C. Pemilihan Jenis Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal. ... 12

BAB IV PENUTUP ...... 15

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang.

Kondisi lulusan SMP yang tidak semuanya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan pemerintah daerah. Jumlah peserta didik yang tidak melanjutkan ini kecenderungan disebabkan oleh kondisi ekonomi orang tua yang tidak memungkinkan membiayai (biaya personal) anak mereka. Peserta didik SMP yang berasal dari keluarga yang sosial ekonominya kurang beruntung setelah lulus SMP biasanya langsung terjun ke dunia kerja untuk membantu orang tuanya mencari nafkah.

Sebagai langkah antisipasi untuk menghadapi kenyataan demikian, pemerintah menyelenggarakan pendidikan keterampilan melalui Mata Pelajaran Prakarya yang wajib diikuti oleh peserta didik sebagai pemberian bekal keterampilan pra-vokasional untuk mengembangkan minat dan bakat peserta didik.

Keterampilan pra-vokasional ini dirancang sesuai dengan suasana kehidupan sosial dan budaya setempat. Dengan demikian peserta didik tidak menjadi asing dengan lingkungan kesehariannya. Itulah karena itu rancangan ini diharapkan datang dari para pengelola sekolah bersama-sama dengan orang tua peserta didik dan tokoh masyarakat setempat. Sementara itu tujuan pendidikan dasar diharapkan dapat dicapai secara utuh sebagaimana mestinya, yaitu:

“meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut”.

3. Tujuan.

Tujuan panduan ini adalah untuk memberikan pedoman bagi sekolah dan dinas pendidikan kususnya kepala dinas dan kepala sekolah dalam memilih jenis keterampilan yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran Mata Pelajaran Prakarya.

C. Dasar Hukum

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN 20/2003).

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Kewenangan Pemerintah (Pusat) dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).

2 Sasaran

Intansi dan personal yang menjadi sasaran agar memahami panduan ini adalah: a) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota

b) Kepala Kepala SMP.

c) Guru keterampilan yang diberi tugas mengajar Mata Pelajaran Prakarya.

BAB II

PENDIDIKAN KETERAMPILAN

A. Benih Etos Kerja pada Anak-anak Indonesia.

Berdasarkan data dari ILO, banyak anak-anak di Indonesia yang mulai bekerja pada usia yang masih sangat muda, yaitu pada usia enam atau tujuh tahun (ILO – 2001). Jenis pekerjaan yang mereka lakukan pada umumnya sesuai dengan kadar kemampuan menurut perkembangan usia masing-masing. Mungkin mereka membantu di rumah, seperti membereskan tempat tidur ketika bangun untuk mengawali kegiatan harian, membuka jendela pada pagi hari dan menutupnya di waktu senja, menyalakan lampu ketika matahari mulai terbenam dan mematikannya menjelang tidur, menyapu lantai, menyapu halaman, berbenah, mengasuh adik, mencari air, menjajakan kue, atau menjajakan minuman. Ada juga yang membantu orang tuanya di kebun, di sawah, di ladang, di tempat menambal ban, di tempat parkir, di warung, di tempat mencari ikan atau di lokasi-lokasi lain tempat orang tuanya bekerja untuk mencari nafkah. Di samping itu ada juga anak yang membawakan barang-barang belanjaan dari pasar ke kendaraan, menjajakan koran, menyemir sepatu, atau menyewakan payung ketika turun hujan deras, yang hasilnya dapat digunakan untuk keperluan menambah uang saku atau menambah tabungan sendiri.

Aktivitas tersebut sering didukung oleh orang-orang dewasa dalam keluarga, karena hal itu dianggap akan bermanfaat bagi tumbuh-kembangnya diri dan pribadi anak. Anak-anak belajar bertanggungjawab dan merasa bangga dapat mengerjakan tugas orang dewasa dan membantu mempertahankan hidup keluarganya. Dengan mengamati dan ikut bekerja dengan orang dewasa dan anak-anak lainnya, anak-anak secara tidak sadar telah mempelajari pendidikan ketrampilan yang bersifat pra-vokasional, belajar untuk menjadi trampil dan

“prigel”, sekaligus mendapatkan pengetahuan yang berguna untuk masa depan mereka dalam mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan hidupnya di kelak kemudian hari. Bekerja semacam itu dianggap menjadi pengenalan awal

menuju dunia orang dewasa, dunia kerja dan merupakan bagian dari proses kehidupan yang nyata dari masa anak-anak untuk memasuki masa dewasa.

Kegiatan-kegiatan semacam ini merupakan proses pendidikan informal yang menunjukkan bahwa dengan kesederhanaan cara berpikir yang dimiliki, sebenarnya para orang tua kita secara sadar telah melakukan pendidikan keterampilan untuk menjalani kehidupan dan menanamkan benih-benih etos kerja secara dini bagi anak-anaknya. Pendidikan ketrampilan ini dilakukan dengan sangat arif dan bijaksana melalui pembiasaan-pembiasaan yang tidak menyalahi kodrat dan sesuai dengan tingkat tumbuh-kembangnya diri dan pribadi anak-anak, sebagai tahap paling awal untuk memberikan bekal keterampilan untuk menempuh perjalanan hidup.

Kenyataan yang berkembang di dalam masyarakat lapis bawah ini secara turun-temurun telah merupakan warisan budaya kemandirian dan etos kerja bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Bila diperhatikan dengan sungguh-sungguh fenomena ini merupakan salah satu untaian mutiara pengalaman masyarakat bangsa kita sendiri yang dapat direnungpikirkan lebih lanjut secara mendalam. Hal ini sebenarnya merupakan masukan yang sangat berharga bagi para perekayasa kurikulum untuk melestarikan warisan budaya kemandirian dan etos kerja tersebut. Konsep-konsep mengenai bagaimana cara mewariskan budaya itu perlu dituangkan secara sistematis ke dalam kurikulum yang akan dilaksanakan melalui pendidikan formal. Upaya pelestarian warisan budaya itu bukan saja perlu disesuaikan dengan kondisi politik, ekonomi, sosial, dan keamanan dewasa ini, namun juga harus berorientasi ke masa depan yang kurang menentu dan penuh ketidakpastian. Pendidikan keterampilan untuk menempuh perjalanan hidup yang akan dilaksanakan sebagai perintisan di jenjang SMP haruslah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan upaya untuk menerapkan “Life Skills Education” sebagai kebijakan baru dalam arah pendidikan kita.

B. Persemaian etos kerja bagi anak-anak Indonesia.

Peserta didik SMP yang berusia antara 13 sampai dengan 15 tahun berasal dari berbagai kondisi sosial ekonomi orang tuanya, yang diantaranya berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi yang kemungkinan besar tidak akan dapat melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk membantu orang tua memenuhi kebutuhan finansial guna mempertahankan kelangsungan hidupnya, kebanyakan mereka setelah menyelesaikan pendidikan di SMP, mereka biasanya langsung terjun ke dunia kerja atau ke lingkungan masyarakat untuk mencari nafkah sendiri atau terus bekerja membantu orang tuanya sebagaimana pernah mereka alami sejak masa kanak-kanak.

Kenyataan demikian memang memprihatinkan, akan tetapi di balik itu pada diri para peserta didik SMP sesungguhnya telah ada potensi etos kerja yang secara positif dapat dikembangkan lebih lanjut. Dalam hal ini sebenarnya SMP dapat juga dipandang sebagai lahan yang subur untuk persemaian etos kerja tersebut. Oleh kerena itu Mata Pelajaran Prakarya dapat digunakan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik terutama keterampilan pra-vokasional yang sesuai dengan keinginan atau minat mereka.

C. Tujuan Pendidikan Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal.

Pendidikan keterampilan yang akan diberikan kepada para peserta didik SMP ini adalah pendidikan keterampilan yang sifatnya masih pra-vokasional, untuk bekal persiapan ke arah keterampilan kejuruan atau keterampilan vokasional. Tujuannya adalah untuk memberikan bekal keterampilan dasar yang praktis dan sederhana sesuai dengan taraf perkembangan usia peserta didik SMP, namun manfaatnya dapat langsung dinikmati oleh mereka. Pemberian bekal keterampilan praktis ini dapat dilaksanakan dengan menerapkan potensi wirausaha melalui Unit Produksi di sekolah masing-masing atau yang ada di lingkungan setempat, untuk memperoleh pendapatan tambahan. Dengan mengikuti pendidikan keterampilan pra-vokasional tersebut, peserta didik bukan saja akan terampil mengerjakan tugas-tugas sampai dengan menghasilkan

produk tertentu akan tetapi juga dilatih untuk memasarkan produk-produk yang dihasilkannya.

BAB III

STRATEGI PELAKSANAAN PENDIDIKAN KETERAMPILAN

A. Pengelolaan Pendidikan Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal.

Model pengembangan pendidikan keterampilan berbasis kearifan lokal yang dikembangkan dari model faktual dapat dilihat pada gambar 1. Pengembangan model didasarkan pada teori-teori yang relevan dan aktual. Selanjutnya, dilakukan validasi melalui penelitian dan diskusi dengan tim peneliti.

Berdasarkan validasi tersebut maka tersusun model vokasionalisasi pendidikan kecakapan hidup berbasis kearifan lokal. Model hipotetik merupakan model yang masih bersifat dugaan yaitu rekayasa secara teoretis dan gagasan- gagasan/pertimbangan masukan para ahli dan praktisi yang diserap dari penelitian yang terfokus. Refleksi dan revisi dilakukan berdasarkan masukan para pakar dan praktisi, kemudian disusun model pengembangan.

Kajian dan analisis pendidikan kecakapan hidup akan menghasilkan ciri-ciri yang dapat digunakan sebagai parameternya. Kajian dan analisis akan menghasilkan tiga hal pokok, yaitu: (1) identifikasi potensi yang dimiliki daerah yang digunakan sebagai dasar perencanaan pembelajaran; (2) pelaksanaan pembelajaran pendidikan kecakapan hidup; dan (3) evaluasi pembelajaran. Oleh karena itu hal penting yang perlu diperhatikan dalam vokasionalisasi pendidikan kecakapan hidup adalah (1) pemilihan jenis keterampilan yang akan diselenggarakan oleh sekolah; (2) pengembangan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja; (3) peningkatan sumber daya manusia terutama guru keterampilan yang akan mengajar mata pelajaran prakarya; (4) pengembangan perangkat pembelajaran; (5) konten pembelajaran yang secara garis besar meliputi materi hard dan soft skill untuk menghasilkan produk keterampilan yang layak dipasarkan; (6) evaluasi program untuk menilai tingkat keberhasilannya; (7) kerjasama kemitraan antara sekolah, orang tua dan masyarakat/DUDI.

1. Perencanaan kegiatan

Perencanaan kegiatan harus mengacu pada rancangan program semester dan program tahunan yang selanjutnya dituangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran masing-masing kompetensi dasar. Oleh karena Pendidikan Keterampilan yang diselenggarakan harus bermuara untuk kepentingan peserta didik, sehingga dalam menyusun perencanaan harus mempertimbangkan beberapa faktor yang antara lain pemilihan jenis keterampilan, pengayaan kurikulum prakarya yang berbasis kearifan lokal, kompetensi guru keterampilan, ketersedian perangkat pembelajaran, dan jumlah peserta didik yang terlibat.

Kebijakan

Tujuan Identifikasi Dinas

PKBKL Potensi Daerah Pendidikan

Pemilihan Jenis

Keterampilan

Masalah

PKH: belum orientasi

Pengayaan Kurikulum kearifan

lokal, kualitas dengan Kearifan Lokal

produk,

pemasaran, sarpras, unit

usaha, Peningkatan

kompetensi kompetensi Guru

guru Keterampilan

keterampilan,

Pemanfaatan

TIK masih Pengembangan

Perangkat

lemah, Pembelajaran Mapel

Prakarya

Ketenagakerjaan Berbasis Kearifan Lokal (DUDI dan Stakeholder Lain)

Soft Skill : ranah afektif, kreatifitas, rancangan biaya produksi, marketing, dan lainnya

PBM Mapel Produk Layak

Prakarya Jual

Hard Skill : Occupational Skills

Umpan Balik

Skill Peserta Didik

Perencanaan Pelaksanaan Evaluasi

Gambar 1. Model Vokasionalisasi Pendidikan Kecakapan Hidup berbasis Kearifan Lokal.

Perencanaan yang baik harus mampu menjawab berbagai permasalahan inti yang menyangkut antara lain: jenis kegiatan apa yang akan dilakukan, apa tujuannya, apa atau siapa yang menjadi sasaran, siapa yang akan melaksanakan, bagaimana cara melaksanakan, kapan akan dilaksanakan, dimana dilaksanakan, dan berapa biaya yang diperlukan. Dengan kata lain dalam perencanaan harus jelas sumber daya yang digunakan. Perencanaan yang baik selalu mencakup: persiapan, pelaksanaan kegiatan inti dan kegiatan penutup atau kegiatan akhir.

2. Pelaksanaan Kegiatan

Untuk melaksanakan suatu kegiatan yang melibatkan berbagai komponen dalam masyarakat atau sekolah diperlukan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) yang memadai. Demikian pula dalam melaksanakan Pendidikan Keterampilan perlu dilengkapi dengan SOTK tersebut. Selain guru keterampilan yang akan mengajar, peran tenaga ahli dari dinas terkait setempat atau dari tenaga ahli yang ada di masyarakat sangat dibutuhkan agar produk keterampilan yang dihasilkan peserta didik memiliki jaminan kualitas.

Dalam setiap langkah kegiatan yang harus didorong untuk lebih berperan adalah peserta didik. Prinsip pelaksanaan Pendidikan Keterampilan ini adalah dari peserta didik, oleh peserta didik dan untuk peserta didik. Sedangkan para guru keterampilan bertindak sebagai pembimbing mereka:

a. Pada waktu menyusun program dan jadwal, pemegang peran adalah peserta didik, sedangkan guru atau manajer sebagai pembimbingnya

b. Pada waktu membeli alat dan bahan (setelah memperoleh bimbingan dari guru dalam menentukan spesifikasi alat dan bahan yang akan dibeli, teknik membeli dengan membandingkan berbagai produksi dan harganya), peserta didiklah yang melaksanakan kegiatan pembelian. Transaksi pembelian kemudian dilaporkan ke unit keuangan untuk dibukukan, sedangkan jenis barang yang dibeli dibukukan dalam buku inventaris. Pembelian barang dan bahan menjadi tanggungjawab bendaharawan atau unit keuangan dan unit produksi.

c. Pada waktu merancang letak alat, memasang alat, menghubungkan dengan instalasi, mencoba fungsi alat, peserta didik yang menjadi penanggung jawab dengan bimbingan guru.

d. Dalam pembagian kelompok belajar, pelaksanaan pelatihan awal penggunaan alat, peserta didik tetap terlibat secara langsung.

e. Pengelolaan unit produksi dan transaksi dilakukan oleh peserta didik.

f. Pengawasan dalam kegiatan produksi, pengemasan, pemasaran dan pelaporan semuanya dilakukan oleh peserta didik. Tugas guru adalah sebagai fasilitator/tutor.

3. Pengendalian

Pengendalian pada pengelolaan Pendidikan Keterampilan berada di tangan Kepala Sekolah, karena jabatannya dan sekaligus sebagai Pembina. Di samping itu pengawasan dilakukan oleh Badan Pengawas yang dilakukan secara berkala atau insidental. Pengendalian dilakukan melalui analisis laporan tertulis atau melalui monitoring, supervisi atau evaluasi.

Sasaran pengendalian adalah antara lain:

a. Apakah pelaksanaan sesuai dengan perencanaan?.

b. Apakah penerimaan, penggunaan dan petanggungjawaban keuangan sesuai ketentuan yang berlaku?.

c. Apakah pengelolaan administrasi sesuai ketentuan?

d. Apakah kompetensi yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik?

e. Apakah hasil produksi sesuai dengan target dan mampu untuk dipasarkan?

B. Skenario Pelaksanaan Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal Penyelenggaraan pendidikan keterampilan Pra-vokasional berbasis kearifan lokal bagi peserta didik SMP dalam rangka pelaksanaan “Broad Based Education”, yaitu pendidikan yang bukan hanya untuk kepentingan peserta didik yang akan melanjutkan, tetapi juga memperhatikan kepentingan masyarakat luas dengan berorientasi pada kecakapan hidup. Jenis keterampilan pra-vokasional yang akan dipilih dan cara melaksanakannya di sekolah, diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing sekolah yang bersangkutan. Terdapat tiga skenario yang mungkin dapat dikembangkan dalam pelaksanaan pendidikan ketrampilan peserta didik SMP yaitu skenario nilai tambah, skenario adopsi dan skenario inovasi.

1. Skenario Adopsi.

Skenario ini didasarkan pada asumsi, bahwa peserta didik menginginkan pendidikan keterampilan yang berbeda dari yang sudah ada pada masyarakat setempat. Skenario ini dapat dipertimbangkan jika:

a. Keterampilan yang sudah ada pada masyarakat sekitar telah jenuh, yaitu tidak memungkinkan untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut melalui SMP;

b. Terdapat dukungan orang tua kepada peserta didik untuk mengikuti program pendidikan keterampilan yang dipilih;

c. Dana yang dibutuhkan mencukupi untuk menyediakan prasarana yang diperlukan untuk menyelenggarakan pendidikan keterampilan, atau jika dana tersebut tidak mencukupi, ada komitmen dari Pemerintah Daerah untuk memberikan kompensasi kekurangan dana.

2. Skenario Nilai Tambah.

Skenario ini didasarkan pada asumsi, bahwa dalam masyarakat sekitar sekolah sudah ada keterampilan masyarakat yang dapat diajarkan kepada peserta didik SMP. Skenario ini dapat diterapkan jika aspirasi profesi peserta didik adalah keinginan untuk melanjutkan keahlian keterampilan yang sudah dimiliki. Skenario ini dapat dikatakan layak jika keterampilan yang diajarkan kepada peserta didik SMP lebih memberikan hasil yang lebih besar dan sistem pemasaran yang lebih efisien. Harus ada nilai tambah yang diperoleh, atau ada perbedaan yang jelas antara hasil keterampilan yang telah berkembang di Masyarakat dengan yang dihasilkan oleh peserta didik SMP melalui pendidikan keterampilan.

3. Skenario Inovasi.

Skenario ini didasarkan pada asumsi, bahwa peserta didik SMP menginginkan pendidikan keterampilan yang baru dan memanfaatkan teknologi, misalnya ketrampilan memperbaiki radio atau ketrampilan menggunakan komputer, atau pendidikan keterampilan yang tidak tersedia pada masyarakat sekitar sekolah. Pendidikan keterampilan ini mempunyai

tingkat keterlaksanaan yang paling rendah dibandingkan dengan dua skenario terdahulu. Namun demikian skenario ini dapat juga dilaksanakan dengan syarat:

a. Orang tua peserta didik bersedia memberikan dukungan moril dan menjamin anaknya tidak akan putus sekolah;

b. Pemerintah Daerah setempat mempunyai komitmen untuk membantu dana atau tenaga dan menjamin kesinambungan pendidikan keterampilan yang akan diajarkan di Sekolah;

c. Jaminan dari peserta didik, bahwa mereka akan mengikuti kegiatan belajaran di SMP sampai lulus.

C. Pemilihan Jenis Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal.

Jenis keterampilan yang akan dipilih oleh sekolah harus mempertimbangkan hal berikut ini:

1. Jenis keterampilan yang dipilih harus diminati oleh peserta didik.

Jenis keterampilan yang dipilih harus diminati oleh peserta didik. Untuk itu kepada peserta didik perlu diberikan angket pilihan di antara beberapa jenis keterampilan yang diperkirakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah/sekolah.

2. Jenis keterampilan yang dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah. Yang dimaksudkan sesuai dengan kebutuhan daerah adalah bahwa bila jenis keterampilan ini dipilih, maka produknya memang diperlukan oleh sebagian besar masyarakat setempat. Sedangkan yang dimaksudkan sesuai dengan kondisi daerah adalah bahwa jenis keterampilan yang dipilih sesuai dengan karakteristik daerah, atau bahan untuk proses produksi dapat diperoleh dengan mudah karena tersedia di lingkungan sekitar.

3. Jenis keterampilan yang dipilih memiliki kemudahan dalam pemasaran, karena memang diminati dan dibutuhkan.

Jenis keterampilan yang dipilih memiliki kemudahan dalam pemasaran, karena memang diminati dan dibutuhkan. Pemasaran atau penjualan produk akan berhasil bila memiliki/memenuhi syarat antara lain sebagai berikut:

Dalam dokumen UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2019 (Halaman 59-175)

Dokumen terkait