• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mantan Pengusaha Yang Rendah Hati

Setelah menyelesaikan kuliah pada tahun 2001 Hi Hadianto Rasyid bekerja di Kalimantan tepatnya di balikpapan kantor usaha orang tuanya, selama dua tahun dia tinggal di balikpapan orang tuanya jatuh sakit yang kemudian mengharuskan dirinya kembali ke Palu Sulawesi Tengah untuk menjalankan usaha orang tuanya tepatnya pada tahun 2002 yang kebetulan orang tuanya memiliki usaha pabrik batu di Palu Sulawesi Tengah.

Di tengah Hi Hadianto Rasyid menjalani pekerjaannya yang bertanggung jawab atas manajeman usaha orang tuanya di tahun 2003 dirinya memutuskan untuk menikah yang kebetulan acara pernikahannya di gelar di jakarta, setelah di tahun 2004 dirinya mulai berpikir agar dirinya punya usaha sendiri dimana usaha yang terlepas dari orang tua, usaha yang dimilikinya sendiri artinya supaya ada juga dibanggakan dari jeripayahnya sendiri, dan dari sutulah terus berpikir bahwa apa yang harus saya lakukan usaha apa yang harus saya bangun.

Berbekal pengalamannya sejak kecil terutama saat dirinya pulang kampung yang sering jalan kaki melewati pantai taipa terutama saat ingin mengunjungi rumah keluarganya yang kebetulan harus melewati pantai tersebut akhirnya teringat kembali panorama dan keindahan pantai taipa, panoramanya itu cukup bagus yang kemudian terbesit kenapa tidak mencoba usaha rekreasi, dan akhirnya pada tahun 2005 akhir, bapak Hi Hadianto Rasyid memulailah menggarap ide tersebut

Disaat mulai menggarap ide itu dirinya mendapat tantangan besar kerena ternyata niatnya tersebut tidak mendapat dukungan dari orang tuanya karena dirinya dianggap mau berdiri sendiri memisahkan dari orang tua dan puncaknya dia diberhentikan dari pekerjaanya sebagai penanggunggung jawab usaha bapaknya, sekitar 9 bulan diberhantikan pada waktu itu, dengan tidak lagi di pekerjakan di kantor orang tuanya tersebut membuat dirinya semakin kesulitan untuk membangun usahanya betapa tidak jika tidaklagi bekerja tentunya sangat kesulitan dari segi keuangan.

Tidak mendapat dukungan dari orang tua dan diberhentikan dari pekerjaan akhirnya melanjutkan niatannya dengan modal yang sangat minim bahkan menguras tabungan dirinya, istrinya dan bahkan tabungan sekolah untuk anaknya dikorek habis demi melajutkan keinginanya membangun usaha wisata yang saat ini bernama taipa beach.

Pada saat Hi Hadianto Rasyid memulai usaha wisata ini tidaklah memiliki tanah yang seluas ini karena memang tanah yang menjadi lokasi usahanya saat ini memang bukanlah milik orang tuanya melainkan bahwa tanah ini dibebasakan meskipun memang ada sedikit tanah ibu sekitar setengah hektar, setelah melanjutkan pekerjaannya membangun taipa beach ini dirinya kembali diperhadapkan permasalahan, bahwa ternyata untuk membangun usahanya tersbut harus membebaskan tanah begitu luas karena dirinya tidak pernah berpikir bahwa jarank dari jalan menuju pantai ini begitu jauh namun dalam melakukan pembebasan lahan yang begitu besar dirnya terbantukan dengan keluarganya karena orang-orang yang menjadi pemilik tanah disekitarnya masih memiliki ikatan keluarga dengan dirinya sehingga sebagian tanahnya dibeli dengan harga yang sangat miurah disamping itu juga dicicil hingga dua tahun baru diselesaikan, di samping memang kondisi finansial pada saat itu tergolong masih sangat minim sehingga harga yang sangat murah dicicil dan sangat membantu dirinya pada saat itu.

Karena sebagian besar tanahnya dicicil bahkan sampai dua tahun disitulah yang biasanya sangat merepotkan bagi dirinya, terekam bahwa jika suda datang pemilik tanah terutama jika Hi Hadianto Rasyid sementara kerja disitulah biasanya rasa ingin sembunyi tapi sembunyi bagaimana lagi dan terpaksa dihadapi dan pembicaraanya biasanya diusahakan tidak di dengarkan anak-anak atau kariawannya karena nanti jika dia dengar takutnya terpengaruh lagi, yang kemudian berpikiran bagaimana mau membangun tempat tanah saja belum dibayar, sedangkan menghadapi orang tersebut selalu disibukkan mencari alasan agar bisa diterima oleh pemilik tanah.

Niat Hi. Hadianto Rasyid membangun taipa beach pada saat itu memang sangat luar biasa meskipun tidak ditopang dengan dana yang begitu besar terekam bahwa masih sekitar jam 05.00 atau 05.30 subuh dirinya sudah berangkat dari palu menuju lokasi taipa beach saat ini yang biasanya dengan menggunakan sepeda motor, itulah yang terus dijalani pada saat itu sehingga pada akhirnya orang tuanya tidak menutup mata melihat kesungguhannya dan akhirnya sedikit demi sedikit diberikan dukungan.

Kerena dimulai dengan modal yang sangat minim Hi. Hadianto Rasyid mensiasatinya dengan ikut menjadi buruh bangunan pada saat itu atau turun tangan bekerja bersama beberapa buruh bangunan lainnya yang dia

pekerjakan pada saat itu disamping itu mengaji pekerjanyan hanya rp. 50.000 selama satu minggu demi untuk memaksimalkan pendanaan yang ada dengan segala keterbatasannya.

Awalnya Hi Hadianto Rasyid membangun taipa beach ini hanya memepekerjakan hanya empat orang ditambah dirinya menjadi 5 orang, terekam bahwa dirinya ikut menemani kariawannya bekerja gali fondasi, bikin campuran dan parahnya pada waktu itu tidak ada tempa untuk berteduh, dan bahkan orang kampung bilang “kerja apa itu hadi itu, kurang pekerjaan saja tanam-tanam pohon” dan kariawannya tersebut hanya rp.

50,000/orang/minggu, sedangkan waktu itu yang namanya buruh waktu itu suda rp. 25.000 dengan kepal tukang pada saat itu suda mencapai rp.45.000, namun dirinya hanya bayar empat orang ini hanya 50.000 satu orang perminggu.

Gaji buruh bangunan yang sangat murah karena mensiasati keuangan yang sangat minim biasanya membuat para buruh tidak bertahan lama jika saudah satu minggu suda tidak tahan lagi, satu orang keluar suda cari lagi tidak dan bahkan menurut Hi Hadianto Rasyid membangun taipa beach ini tidak ada insinyurnya, tiba masa tiba akal jadi jika ditanya mana gambarnya, maka jawabanya gambarnya tidak ada, meskipun memang ada seseorang pada waktu itu namanya mas boy dia sedikit memberikan petunjuk tentang posisi atau tempat yang bagus dibuat jalan selebihnya tidak ada.

Seiring dengan usahanya membangun taipa beach memang sedikit ada kemudahan karena diriya punya pabrik batu itu yang meringankan tetap kalau untuk hal yang lain kalau mau mencampur adukkan yah tidak bisalah jadi betul-betul memang saya dituntutlah bagaimana agar taipa beach ini mampu bisa dibangun dengan baik walaupun dia berlahan- lahan walaupun dia lambat tetapi betul-betul dia ini bisa berkembang.

Dibilang bawa modal ini tidak bahkan semua tabungan itu simpanan, bukan hanya simpanan saya anak istri tapi simpanan sekolah anak-anak itu ikut terpakai semua supaya bisa ini, akhirnya suda mulaih berkembang sedikit demi sedikit alhamdulillah ada bank yang mau membantu.

Seiring dengan usahanya membangun taipa beach tersebut sedikit demi sedikit terus dikerjakan, diusahakan bahkan bapak Hi Hadianto Rasyid pernah mengajukan permohonan di bank mandiri namun bank mandiri tidak membantu untuk dibantu karena memang kondisi taipa beach saat itu sama sekali belum kelihatan sehingga karena melihat belum terlalu siap membuat bank mandiri menolak membantu namun dengan interval waktu yang tidak begitu jauh akhirnya bank panin ikut membantu dengan interval waktu sekitar 5 bulan, namun bantuan bank panin tersebut teryata belum mencukupi dengan rencana apa yang akan dibangun karena dirinya berpikir ini adalah kesempatan dan kesempatan tidak datang dua kali akhirnya

bantuan tersebut ambilnya kemudian mensiasatinya dengan berbagai macam cara, hingga akhirnya taipa beach terbangun dengan kondisi yang masih serba kekurangan.

Terekam bahwa Hi Hadianto Rasyid membuka taipa beach pada tahun 2005 itu, orang baru mulai masuk di tahun 2007 dan akhirnya mendapat pinjaman dari bank pada bulan April 2007 alhamdulillah pada tahin 2007 akhir dengan penuh kekurangannya (sekarang ini baru 30% dari yang direncanakan) tapi pinjaman dari bank waktu itu, saya dibantu dari bank pada waktu itu kurang lebih 500 juta dan 500 juta itu tidak mencukupi dari rencana apa yang ingin dibangun.

“dengan dana yang sangat terbatas saja kita mampu yang penting kita punya keinginan, apalagi jika kita punya dana lebih akhirnya taipa beach pelan terbangun yang awalnya hanya setengah hektar sekarang suda jadi 12 hektar”.

Menurut bapak Hi Hadianto Rasyid, bahwa salah satu yang turut dan sangat membantu usahanya adalah bapak kapolda yang waktu itu dijabat oleh pak Harihawan, dimana pada waktu itu bapak Harihawan itu jalan taipa beach dan mengatakan memuji tempat itu meskipun pada waktu itu taipa beach belum kelihatan samasekali, bapak Hariawan waktu itu memerintahkan anak buahnya untuk renang di Taipa Bech yang perenangnya sekitar 700 anggota dan disitulah mulai ada yang datang setiap minggunya, itu jadi 2007 barulah bapak Hi Hadianto Rasyid buka pelan-pelan. Disitulah bapak Hi Hadianto Rasyid tekankan utamanya pada istri mengatakan jangan dulu berfikir mau menikmati, artinya apa hasilnya saat ini kembalikan untuk dia, untuk bangun ini taipa beach jangan berpikir langsung mau ini mau itu, pokoknya singsingan lengan bajulah, begitulah secar pelan-pelan bertahap- bertahap dan akhirnya bisalah meskipun saya katakan tadi kondisi saat ini masih 30% dari apa yang diharapkan, Manajemen di perbaiki pelan-pelan dibenahi gaji pegawai di perbaiki suda sama umur