EMPAT
E- MARKETING DI DALAM INDUSTRI PARIWISATA
Sebagai sebuah industri padat karya, pariwisata erat kaitannya dengan sektor industri lain yang mendukung keberadaannya, misalnya saja industri kecil seperti kerajinan tangan, penginapan, cenderamata, dan transportasi. Selain itu, apabila ditinjau dari bentuk aktivitas yang dilakukan, pariwisata diklasifikasikan menjadi lima hal pokok, yaitu rekreasi, kebutuhan fisik, spiritual, pekerjaan dan pendidikan, serta tugas- tugas keluarga dan kemasyarakatan. Semua kegiatan ini dilakukan semata- mata untuk menikmati perjalanan, serta bersenang-senang untuk mendapatkan kebahagiaan dalam dimensi lingkungan sosial, budaya, seni, serta pengetahuan yang tersirat di dalamnya.
Untuk mendukung bentuk aktivitas inilah dibuat dan dibangunlah suatu tujuan wisata yang harus menyediakan berbagai kebutuhan yang diperlukan oleh wisatawan agar tujuan kunjungan seorang wisatawan dapat terpenuhi (Pitana dan Gayatri, 2005). Dalam upaya pembuatan, pembangunan, dan pengembangan daerah wisata dapat dilakukan dengan beberapa hal, sebagaimana yang dijelaskan oleh Priasukmana (2001), upaya ini mencakup meningkatkan objek wisata dan daya tarik wisata, menambah jumlah daerah tujuan wisata, dan menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang perjalanan dan persaingan wisatawan.
Dalam pengembangan objek wisata, ada manfaat lain yang bisa didapatkan di antaranya adalah tersedianya lapangan pekerjaan yang menjadi sumber ekonomi baru masyarakat sekitarnya. Dengan adanya tambahan lapangan pekerjaan, maka akan ada peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat menunjang perbaikan lingkungan hidup juga kesadaran masyarakat terhadap konservasi sumber daya alam.
Bagi negara, pembangunan pariwisata akan memberikan dampak pada peningkatan devisa negara dengan menghadirkan wisatawan mancanegara ke objek-objek wisata baik desa ataupun daerah. Jumlah perolehan devisa ditentukan oleh jumlah kunjungan, pengeluaran, dan lama kunjungan wisatawan mancanegara. Indikator inilah yang kemudian dijadikan acuan keberhasilan pembangunan wisata.
Tirtawinata (1986) menyatakan bahwa sektor pariwisata adalah salah satu sektor pembangunan bidang ekonomi yang diharapkan dapat memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian dari sektor nonmigas. Pendit (1981) menambahkan bahwa kepariwisataan juga memberikan sumbangan secara langsung kepada kemajuan-kemajuan secara kontinyu melalui usaha-usaha pembuatan atau perbaikan pelabuhan dan bandara, jalan raya, pengangkutan setempat, program-program kebersihan dan kesehatan, dan pilot project sasaran kebudayaan dan kelestarian lingkungan yang kesemuanya dapat memberikan keuntungan dan kesenangan baik bagi masyarakat lingkungan daerah wilayah yang bersangkutan maupun wisatawan pengunjung dari luar.
Untuk dapat mencapai tujuan pembangunan yang demikian, dibutuhkan suatu perencanaan pembangunan pariwisata yang terbaik.
Hardinoto (1996) menyampaikan bahwa perencanaan ini hendaknya mempertimbangkan beberapa hal, seperti pariwisata harus patuh kepada perencanaan dan pengelolaan lingkungan, dengan mempertimbangkan keadaan, baik dari penduduk setempat yang sering diharuskan menerima arus besar wisata tanpa mempunyai suara terhadap pengembangan. Selain itu, pariwisata tidak hanya dibiarkan berkembang pada kekuatan pasar wisata, tetapi harus direncanakan berhati-hati pada tingkat nasional, regional, dan lokal.
Gambar 4.1 Penggalian Potensi Wisata pada Kawasan Perdesaan Dalam upaya mewujudkan rencana pembangunan itu dan dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan, pembangunan hendaknya tidak merusak kepentingan sosial ekonomi penduduk daerah setempat dan juga lingkungan dan terutama sumber daya alam yang merupakan atraksi dasar dari pariwisata.
Perumusan kebijakan pembangunan wisata juga perlu memberikan sinergitas antara kehidupan masyarakat setempat yang kesehariannya.
Misalnya saja, sebagai petani atau nelayan adalah dapat dibarengi dengan atraksi wisata ketika para wisatawan memilih untuk berwisata minat khusus, yaitu menikmati bagaimana cara bertani sesuai dengan budaya, adat setempat ataupun keunikan tersendiri bagi hadirnya kegiatan-kegiatan masyarakat yang mampu menjadi daya tarik wisata yang mungkin tidak dimiliki oleh para wisatawan di tempat asalnya.
Seperti yang disampaikan oleh Spillane (1987) bahwa kemajuan pengembangan pariwisata ditunjang oleh macam-macam usaha yang perlu dikelola secara terpadu dan baik, di antaranya promosi untuk memperkenalkan objek wisata, pembangunan akses transportasi yang
lancar, adanya kemudahan dalam keimigrasian dan birokrasi, adanya sistem akomodasi yang menjamin penginapan yang nyaman, pemandu wisata yang cakap, atraksi yang menarik sehingga mampu meningkatkan transaksi barang, dan jasa dengan mutu terjamin dan tarif harga yang wajar.
Soekadijo (1995) menjelaskan bahwa dalam upaya pengembangan suatu objek wisata di suatu daerah akan memberikan beberapa dampak, misalnya:
a. Dampak Ekonomi
Dampak ini memberikan multiplier effect bagi pendapatan bagi suatu negara/daerah yang mengembangkan pariwisata sebagai industri.
Multiplier effect dapat diartikan sebagai penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, fasilitas, peningkatan ekonomi, dan standar hidup masyarakat lokal serta pembangunan ekonomi.
b. Dampak Sosial Budaya
Akibat adanya industri pariwisata pada suatu negara/daerah adalah meningkatnya interaksi sosial, meningkatnya mobilitas sosial ke tempat yang kegiatan pariwisatanya tinggi, dan meningkatnya pengetahuan masyarakat terhadap bidang-bidang lainnya. Misalnya, transportasi, akomodasi, bahasa, etnis, gaya hidup, dan lain sebagainya.
Perubahan sosial budaya dapat diartikan sebagai pergeseran struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.
c. Dampak Lingkungan
Pada umumnya dengan adanya industri pariwisata pada suatu daerah akan menimbulkan rasa peduli terhadap lingkungan masyarakat sekitar objek wisata. Misalnya, adalah penataan taman yang lebih terawat, melindungi punahnya tanaman-tanaman langkah, seperti kaktus, anggrek, dan lain sebagainya yang menjadi ciri khas daerah tersebut karena dapat dijadikan objek wisata.
Dirjen pariwisata mengamanatkan bahwa pengembangan pariwisata adalah untuk meningkatkan pembinaan potensi dalam lingkup nasional yang sekaligus dapat memberikan berbagai manfaat bagi pengembangan daerah. Oleh karena itu, diperlukan adanya berbagai upaya kebijaksanaan dan pembinaan kepariwisataan secara terpadu yang ditunjang oleh sektor lainnya sehingga tercipta iklim untuk meningkatkan jumlah arus wisata.
E-Marketing dalam Pengembangan Industri Pariwisata
Gambar 4.2 Mindmap E-Marketing Pariwisata
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Damanik (2006), bahwa pemasaran pariwisata menekankan lebih jauh tentang siapa sebetulnya segmen pasar dan bagaimana perilakunya. Penekanan ini berfokus kepada bagaimana mengomunikasikan kepada pasar bahwa produk yang ditawarkan lebih unggul dan berbeda dengan produk lain. Untuk berkompetisi memasarkan produk ini, media promosi konvensional sudah tidak lagi bisa bersaing. Pemasaran wisata, bagi Holloway & Robinson (1995), terbagi menjadi tujuh bagian pokok, di antaranya adalah product, positioning, price, promotion, place, packaging, dan partnership. Ketujuh pokok ini harus dilakukan kelompok industri pariwisata, baik swasta
maupun pemerintah, dalam ruang lingkup lokal, regional, nasional, atau internasional guna mencapai kepuasan wisatawan dengan memperoleh keuntungan yang wajar.
Peningkatan penggunaan internet dewasa ini, ternyata tidak diabaikan oleh para pelaku bisnis termasuk dalam industri pariwisata. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pelaku bisnis yang terjun ke dalam internet ini dengan membuat situs web maupun pelbagai media sosial dalam memasarkan produk mereka. Kemajuan tersebut dirasa sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai salah satu strategi pemasaran bisnis.
Ukpabi and Karjaluoto (2017) menyatakan bahwa pemasaran melalui media internet adalah salah satu cara untuk memperluas jangkauan pasar.
Melalui e-marketing, informasi produk perusahaan dapat menjangkau konsumen yang ada di mana pun tanpa harus terjun langsung ke daerah tersebut untuk mempromosikan produknya.
E-marketing ini menuntut adanya terobosan-terobosan baru pada teknik-teknik pemasaran baru dalam melakukan promosi produk. Promosi dengan media ini dinilai hemat dari segi biaya, tetapi sangat efektif.
Pemasaran model ini memanfaatkan cyberspace sebagai alat komunikasi untuk melengkapi proses secara konvensional. Chen-Ling dan Lie (2012) memberikan tambahan penjelasan bahwa e-marketing adalah suatu proses memasarkan produk dan layanan kepada pelanggan dengan menggunakan media web, promosi, iklan, dan transaksi dan pembayaran dapat dilakukan melalui halaman web. Definisi ini melahirkan sebuah filosofi baru dan praktik harus modern yang terlibat dengan pemasaran barang, jasa, informasi, dan ide melalui internet dan elektronik lainnya.
Jangkauan pemasaran melalui metode e-marketing ini jauh lebih luas dibandingkan media konvensional. Luasnya pasar ini tentunya menjadi peluang yang sangat bagus, yang mana calon konsumennya sangat banyak dan potensinya pun sangat besar. Dewasa ini, e-marketing ini adalah pilihan yang dapat difungsikan sebagai sarana memperluas komunikasi dan mampu menarik minat wisatawan untuk menikmati produk wisata dalam keputusan pembeliannya.
Manfaat Pemasaran Internet dalam Pengembangan Pariwisata
Pemasaran menggunakan media internet ini makin hari makin meningkat dan menjadi sarana paling tepat digunakan dalam mempromosikan pariwisata. Pemasaran via digital ini memanfaatkan beberapa media sosial maupun beberapa hal misalnya online advertising, email direct marketing, forum discussion, dan pembuatan mobile applications dalam mempromosikan produknya.
E-marketing ini memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang makin canggih yang bertujuan untuk meningkatkan berbagai daya guna dalam bidang pariwisata, selain itu untuk memberikan kemudahan kepada pengguna untuk menyediakan pelayanan di dalam bidang pariwisata karena lebih mudah untuk diakses. E-marketing adalah salah satu cara yang digunakan untuk melakukan promosi pasriwisata yang dilakukan secara modern. Kegiatan promosi sebagai bentuk penyampaian informasi yang ditawarkan di antaranya seperti kemudahan pencarian hotel, objek wisata, agen-agen wisata atau bahkan berbagai event yang akan diadakan dan itu semua dapat diakses di mana pun, kapan pun, dan oleh siapa pun.
Fungsi E-Marketing
Pada dasarnya, e-marketing memiliki beberapa fungsi dalam penciptaan nilai pelanggan, merebut nilai pelanggan, dan mempertahankan nilai pelanggan. Fungsi-fungsi ini di antaranya adalah:
1. Fungsi Personal
E-marketing sering bersifat personal atau pribadi. Sifat E-marketing ini akan memberikan perhatian yang lebih besar dari pelanggan atau calon pelanggan. Hal ini sangat penting untuk dapat mengidentifikasi pelanggan perusahaan pada level individual dan mengumpulkan semua informasi yang memungkinkan dengan tujuan untuk mengetahui pasar perusahaan dan agar mampu untuk mengembangkan produk dan jasa yang dikustomisasi.
Dalam berwisata selalu ada faktor pendorong dan penarik (push and pull factors) bagi seseorang untuk melakukan perjalanan wisata, dengan faktor pendorong yang umumnya bersifat sosial-psikologis atau person
specific motivation dan penarik yang adalah destination specific atributes.
Interaksi lewat media sosial dapat menjadi salah satu faktor pendorong bagi seseorang untuk melakukan perjalanan wisata. Stimulus yang diberikan adalah dalam bentuk media penyampaian informasi mengenai pariwisata.
2. Fungsi Penyampaian Informasi yang Cepat dan Praktis
Perkembangan teknologi menuntut segala hal bisa dilakukan dengan cepat dan praktis, maka dari itulah lahir e-marketing yang mempermudah melakukan segala hal. Pada era teknologi, penyampaian pesan menjadi lebih berkembang menjadi lebih mudah dan cepat. Kemudahan dalam mengakses internet membuat informasi dapat tersebar dengan luas dan cepat ke jutaan pengguna internet. Kemudahan ini ditambah pula dengan keunggulan internet yang dapat memberikan beragam informasi ke tiap- tiap penggunanya secara khusus. Para pengguna pun dapat dengan aktif hanya mengakses informasi yang mereka inginkan.
Dalam konteks penyebaran informasi lewat media sosial, model yang diimitasi adalah mereka yang dianggap memiliki pengalaman dalam suatu objek tertentu. Tingginya tingkat pengalaman dari suatu model dibuktikan dengan banyaknya pengikut atau pembaca yang membaca pengalaman-pengalaman yang dia sebarkan lewat media sosial. Sebagai contohnya adalah akun Trinity Traveler yang memiliki banyak pengikut di media sosial Facebook, Twitter, dan dalam blog pribadinya. Orang-orang banyak menjadi pengikut sebab akun ini kerap menceritakan pengalaman- pengalamannya dalam melakukan perjalanan wisata.
3. Fungsi Customer Service
Customer service adalah salah satu kebutuhan dan aktivitas yang dibutuhkan untuk mendukung fungsi transaksional. Customer service atau layanan pelanggan ini memegang peranan sangat penting dalam memberikan pelayanan dan dituntut untuk selalu berhubungan dengan wisatawan dan menjaga hubungan itu tetap baik.
Layanan pelanggan ini difungsikan juga sebagai media yang membantu wisatawan mengurangi mobilitas wisatawan untuk memesan tiket kunjungan, bertransaksi melalui mobile banking, pelayanan mengenai
produk-produk yang ditawarkan, pelayanan jasa lainnya yang berhubungan dengan aktivitas kepariwisataan.
4. Fungsi Komunitas
Customer atau klien bisnis dapat menjadi bagian dari komunitas di mana mereka berinteraksi, oleh karena itu pengembangan komunitas merupakan tugas yang dilakukan oleh semua bisnis.
5. Fungsi Site
Semua interaksi yang berbasiskan e-marketing dilakukan secara maya dalam waktu cepat dan tempo singkat, untuk itulah diperlukan sebuah tempat atau lokasi yang mengakomodasi akses ini selama 24/7, lokasi inilah yang kemudian disebut dengan site.
6. Fungsi Keamanan
Fungsi ini adalah fungsi yang penting ketika transaksi dimulai dan dilakukan melalui kanal internet. Dalam mengusung fungsi ini, ada dua masalah utama yang menjadi titik fokus yakni (1) keamanan selama transaksi dilakukan pada situs web perusahaan dan (2) keamanan dari pengumpulan dan penyimpanan data tentang klien dan pengunjung.
7. Hemat Biaya
Promosi penjualan dengan memanfaatkan e-marketing dapat menghemat banyak biaya ketimbang promosi dengan cara konvensional.
Data dari Gartner’s Digital menunjukkan bahwa dengan pemasaran digital, sebuah perusahaan mampu berhemat hingga 40% biaya pemasaran. Fungsi ini memperhitungkan kemampuan para marketers untuk berpikir kreatif, di mana banyak pekerjaan dan inspirasi yang dibutuhkan untuk menemukan kemungkinan baru dalam mengembangkan rencana promosi yang efisien.
Manfaat dan Keterbatasan E-Marketing
Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, bahwa selain mampu menghemat biaya, pemasaran dengan menggunakan e-marketing memiliki banyak manfaat baik bagi perusahaan maupun bagi pelanggan.
Bagi perusahaan sendiri, penerapan e-marketing adalah sarana yang sangat bagus untuk membangun hubungan personal dengan klien atau konsumen. Perusahaan dapat berinteraksi dengan konsumen untuk mempelajari tentang kebutuhan dan keinginan konsumen yang lebih spesifik dan untuk membangun basis data konsumen. Selain itu, pemasaran digital juga menawarkan fleksibilitas yang tinggi di mana para penyedia jasa maupun produk dapat membuat penyesuaian harga penawaran dan program-programnya.
Sedangkan untuk pelanggan, adanya pemasaran digital yang dilakukan oleh para perusahaan yang bergerak pada industri pariwisata memungkinkan mereka untuk lebih nyaman, artinya konsumen tidak harus terjebak kemacetan, menemukan tempat parkir, dan berjalan melalui toko- toko yang tidak terhitung jumlahnya untuk menemukan produk. Konsumen dapat membandingkan merek, mengecek harga, dan memesan barang 24 jam sehari dari lokasi mana pun. Konsumen pun menghadapi lebih sedikit perselisihan dalam membeli barang dan tidak perlu untuk menghadapi penjual atau membuka diri mereka terhadap bujukan dan hubungan emosional. Banyaknya pilihan yang disediakan oleh banyak pelaku industri, membuat konsumen memiliki akses terhadap perbandingan informasi yang berlimpah, informasi mengenai perusahaan, dan produk.
Selain itu, konsumen dapat berinteraksi dengan situs penjual untuk menemukan informasi yang tepat mengenai produk atau layanan yang mereka inginkan, lalu memesan atau mengunduhnya secara langsung.
Hanya saja, meski bergelimang manfaat dan kemudahan, pemasaran e-marketing ini juga menimbulkan serangkaian tantangan, terlebih lagi di Indonesia. Tantangan itu di antaranya adalah koneksi jaringan yang masih lambat pada beberapa lokasi, jika perusahaan membangun situs web yang berukuran besar dan sulit untuk dipahami maka para konsumen menjadi sulit untuk mendapatkan informasi yang ingin dia cari. Hambatan lain datang dari sisi konsumen di mana mereka tidak dapat menyentuh, mencium, merasakan, atau mencoba secara langsung produk yang ditawarkan oleh perusahaan secara daring. Rasa aman dari para pelanggan juga menjadi salah satu tantangan sebab semua pembayaran dilakukan secara elektronik tanpa pengawasan yang relatif jelas.