• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASALAH PENELITIAN KESEHATAN

dr. Agustiawan, MKM, FRSPH Institut Kesehatan Helvetia Medan

Pendahuluan

Riset atau penelitian dilakukan pada dasarnya untuk membuktikan suatu peristiwa, baik itu yang berupa gap yang ada pada penyataan dan teori ataupun untuk melakukan verifikasi terhadap suatu peristiwa. Hal ini menjadikan penelitian sebagai sesuatu yang harus dilakukan dengan metode yang runut agar terjamin validitas, bermanfaat informasi yang diberikan, serta dapat diaplikasikan atau bermanfaat untuk orang yang membaca atau menggunakannya.

Penelitian yang baik tentunya harus memiliki dasar pemikiran yang baik pula. Hal ini dapat dijelaskan atau ditunjukkan oleh masalah yang akan dibahas oleh sang peneliti. Semua peneliti akan membuat rumusan masalah sebelum memulai penelitian apapun (Notoatmodjo, 2005).

Beberapa laporan akademis telah menyoroti pentingnya perumusan masalah dalam penelitian. Hal ini dilakukan agar dapat membantu peneliti untuk menentukan tujuan penilaian, untuk mengidentifikasi hasil kesehatan apa yang akan dievaluasi, dan untuk menentukan jenis evaluasi yang akan dilakukan (Sumantri, 2015).

Secara teori, salah satu Langkah awal yang harus dijalankan ketika ingin memulai penelitian adalah mendefinisikan atau/dan memberikan batasan terhadap masalah penelitian (research problem). “Masalah

34

penelitian (research problem) adalah sebuah pernyataan (statement) yang jelas dan pasti mengenai sebuah hal yang menjadi perhatian, sebuah kondisi yang perlu ditingkatkan, sebuah kesulitan yang perlu dieliminasi, atau sebuah pertanyaan mengganggu yang ada pada karya ilmiah baik secara teori ataupun praktik yang menunjukkan bahwa terdapat kebutuhan akan pemahaman dan investigasi yang lebih dalam” (Bryman, 2007). Jika kita tidak dapat mendefinisikan dan membatasi masalah penelitian maka pertanyaan penelitian (research question), yang merupakan tahap kedua dari proses penelitian, tak akan dapat diformulasikan.

Bagian ini akan membahas mengenai “perumusan masalah dalam penelitian kesehatan”.

Mengenal Rumusan Masalah

Rumusan masalah atau research questions atau sering disebut juga research problem, memiliki arti sebuah rumusan yang menanyakan suatu kejadian atau fenomena yang ada, baik itu kedudukannya mandiri, atau pun kejadian atau fenomena yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Baik itu sebab atau akibat.

Sampai pentingnya rumusan masalah ini pada sebuah penelitian, hingga menjadikan rumusan masalah ini adalah setengah dari penelitian itu sendiri (Ridha, 2017).

Rumusan masalah juga dapat dikatakan sebagai formulasi atau penyajian masalah yang akan diteliti dalam suatu penelitian atau studi. Rumusan masalah merupakan bagian penting dari suatu penelitian karena membantu menentukan arah penelitian, serta membantu memperjelas tujuan dan sasaran dari penelitian tersebut.

Singkatnya, rumusan masalah adalah ruang lingkup yang akan dibahas dalam penelitian. Perumusan masalah merupakan proses mendefinisikan ruang lingkup masalah, merumuskan satu atau lebih pertanyaan spesifik tentangnya, dan menetapkan metode penilaian yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan tersebut (Darmalaksana, 2020).

35

Rumusan masalah juga harus menuju pada pengembangan kriteria kelayakan yang jelas (kriteria inklusi / eksklusi) serta identifikasi metode yang akan digunakan untuk pengelolaan dan ekstraksi data. Elemen penting dalam perumusan masalah termasuk menentukan agen yang menjadi perhatian, rute paparan yang relevan, titik akhir kesehatan yang akan dievaluasi, dan jenis bukti yang akan dipertimbangkan (Ani et al., 2022). Rumusan masalah adalah bagian dari sebuah karya tulis ilmiah, makalah, atau skripsi yang sangat mendasar (Siregar et al., 2022).

Di dalam rumusan masalah yang kita susun nantinya akan menjadikan karya tulis kita menentukan arah pembahasannya akan menuju kemana. Di dalam rumusan masalah ini terdapat pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab setelah penelitian selesai dilakukan. Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari rumusan masalah, diantaranya:

1. Rumusan masalah ditulis dalam kalimat tanya, diawali dengan kata tanya dan diakhiri dengan tanda tanya.

2. Letak atau posisi penulisan rumusan masalah ini berada di bagian pendahuluan setelah latar belakang masalah.

3. Rumusan masalah yang ditulis tersebut berasal dari permasalahan atau gejala alam yang muncul di lingkungan sekitar.

4. Perumusan masalah ini berguna untuk membatasi objek penelitian yang akan dilakukan nantinya.

Rumusan masalah memiliki posisi yang sangat penting di dalam kegiatan sebuah penelitian. Apabila sebuah penelitian tidak ada maka penelitian yang nantinya dilakukan akan sia-sia, karena nantinya akan bingung apa saja yang perlu dilakukan dalam penelitiannya.

Rumusan masalah yang baik dan benar mempunyai ciri- ciri dibawah ini:

1. Rumusan masalah yang berkualitas dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.

36

2. Rumusan masalah jelas, padat, tidak bertele-tele.

3. Dapat memberikan petunjuk atau sebagai titik sentral dalam sebuah proses penelitian agar memungkinkan menampung data guna menjawab pertanyaan- pertanyaan yang diajukan dalam sebuah rumusan masalah.

4. Mampu mengarahkan cara berpikir kita terhadap suatu permasalahan.

5. Masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian.

6. Masalah yang dipilih harus memiliki fisibilitas.

7. Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi peneliti.

Ada tiga kriteria rumusan masalah, antara lain:

1. Pada perumusan masalah kriteria pertama bentuknya berupa kalimat interogatif atau kalimat tanya, baik itu pertanyaan yang perlu jawaban eksplanatoris atau jawaban yag deskriftif. Eksplanatoris sendiri adalah menghubungkan dua atau pun lebih gejala atau fenomena dalam kehidupan manusia.

2. Berhubungan atau bermanfaat untuk berusaha membuat dan mengembangkan teori, di dalam makna pemecahan yang jelas, nantinya diharaakan akan memberikan teoritik yang bermutu, baik itu untuk membuat teori baru atau mengembangkan sebuah teori lama.

3. Untuk membuat sebah rumusan msalah yang bagus, sebaiknya dirumuskan di dalam sebuah konteks yang benar dan aktual. Jadi, pemecahannya memberikan keterkaitan kebijakan yang sesuai, dan bisa di aplikasikan dengan jelas untuk proses perumusan masalah untuk kehidupan manusia.

Rumusan masalah yang baik harus memenuhi unsur atau aspek yang ada di bawah ini

37

1. Mempunyai kontribusi teoritis dan praktis

Hasil penelitian nantinya memberikan kontribusi atau andil yang jelas dalam bidang profesi atau bidang ilmunya.

2. Mempunyai derajat keunikan dan keaslian

Beberapa institusi menganggap penting faktor keaslian permasalahan penelitian ini. Tetapi kadang kadang diperlukan pengulangan penelitian untuk memperluas atau memperdalam diri penelitian yang ada, sehingga tingkat validitas penelitian tersebut menjadi lebih tinggi. Jika ini yang dilakukan maka penelitian yang diusulkan masih dianggap asli.

3. Layak untuk dilaksanakan

Penelitian selalu memerlukan waktu dan biaya, dan kadang kadang diperlukan sarana atau peralatan tertentu. Jika dari apa yang dibutuhkan tersebut diatas tidak cukup tersedia atau tidak tersedia, maka penelitian menjadi tidak layak untuk dilaksanakan.

Fungsi Rumusan Masalah

Rumusan masalah mempunyai beberapa fungsi yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Berikut penjelasannya:

1. Rumusan masalah merupakan titik sentral dalam sebuah penelitian. Maksudnya adalah rumusan masalah sebagai pedoman dalam sebuah penelitian.

Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan.

2. Rumusan masalah mampu memberikan sebuah solusi atau sebagai penentu. Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan

38

masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya.

Rumusan masalah pada umumnya berbentuk sebuah pertanyaan yang mengulas sebuah permasalahan.

Oleh karena itu, dapat dikatakan rumusan masalah adalah sebuah solusi yang belum terwujud.

Bagaimana untuk mewujudkannya? Dengan penelitian itu tadi.

3. Rumusan masalah mampu membuka pikiran kita terhadap suatu permasalahan. Ketika tujuan dan arah dari suatu permasalah sudah jelas, maka kita tinggal berfokus pada solusi yang akan kita capai untuk masalah tersebut.

4. Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian. Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan.

Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.

Contoh Rumusan Masalah

Agar dapat mendeskripsikan apa yang terjadi di balik sebuah situasi/ fenomena, kita harus melakukan analisa terhadap pihak yang akan atau sudah terlibat, sudut pandang yang ada sekarang, faktor yang dapat menjadi penyebab dari situasi tersebut, dampak yang mungkin terjadi, serta teori yang dapat menjelaskan situasi yang sudah terjadi. Maka dari itu kita membutuhkan data seperti gambar, video, pengamatan atau observasi langsung terhadap situasi, percakapan dengan orang- orang yang terlibat dan pihak ahli, serta peninjauan literatur akan membantumu memahami situasi tersebut lebih dalam. Analisa yang kita lakukan ini dapat memunculkan pertanyaan yang lebih menjurus terhadap topik pun akan mulai muncul.

39

Membuat contoh rumusan masalah sebenarnya tidak terlalu sulit asalkan tahu trik dan dasar penulisannya.

Dalam menyusun dan menuliskan rumusan masalah baik untuk penelitian perlu sekali memperhatikan hubungan antar variabel, minimal terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Masalah yang akan diteliti tersebut harus dirumuskan secara jelas dan lengkap agar dapat dicari jalan penyelesaian atau solusi dengan tepat. Penulisan rumusan masalah harus menghindari variabel yang tidak jelas dan tidak ada jawaban analisanya. Rumusan masalah biasanya dibuat dengan membuat pertanyaan dari hal-hal yang diteliti, dengan disertai beberapa kata tanya seperti apakah, bagaimana, mengapa dan lainnya.

Untuk mengetahui apakah masalah telah didefinisikan dan dibatasi dengan baik, kondisi-kondisi berikut harus terpenuhi:

1. Ringkas dan padat: masalah harus dituliskan dengan singkat, padat, jelas dan mudah untuk dimengerti.

2. Relevan: walaupun tingkat pentingnya masalah merupakan hal yang sangat relatif dan subjektif, penulis harus pandai untuk menyajikannya sehingga sumber daya yang digunakan tidak akan terbuang dengan sia-sia. Tingkat relevansi juga bergantung pada bagaimana penulis menjelaskan efek dari masalah, risiko serta kontribusi penelitian dengan ringkas & padat.

3. Kontekstual: masalah penelitian yang diangkat harus dibatasi oleh ruang geografis, waktu dan latar belakang.

Spesifik: sangat dianjurkan agar masalah penelitian merupakan suatu yang benar-benar terjadi dan menyasar satu masalah spesifik yang terjadi di satu daerah tertentu.

Jika penulis berusaha untuk membahas banyak hal, penelitian menjadi tidak fokus dan sulit untuk mendapatkan hasil yang sesuai.

40 Gambar 3.1. Perumusan masalah

Rumusan masalah yang baik dan benar harus memperhatikan beberapa ketentuan dasar, yaitu objektif, menunjukkan dimensi tempat dan waktu, menunjukkan dimensi subjek yang spesifik, mempunyai keunikan/

spesifikasi. Rumusan permasalahan yang baik memiliki beberapa persyaratan, beberapa yang penting di ataranya adalah menggunakan kalimat tanya, menyatakan dua variabel atau lebih, variabel yang dinyatakan tersebut harus dapat diukur, serta rumusan masalah hendaknya dinyatakan secara gamblang, singkat dan jelas. Ada 3 jenis perumusan masalah dalam penelitian

1. Masalah deskriptif

Masalah deskriftif merupakan yang berkaitan dengan pernyataan bagi adanya variabel mandiri, baik itu satu atau lebih variabel. Jadi dalam rumusan masalah peniliti tak perlu membandingkan variabel pada sampel lain, dan juga mencari hubungan variabel dengan variabel lainnya.

Contoh rumusan masalah deskriptif:

a. Bagaimana gambaran perilaku cuci tangan pakai sabun pada masyarakat yang tinggal di Pesisir Pantai X?

41

b. Seberapa tinggi tingkat kepuasaan masyarakat pengguna BPJS terhadap pelayanan poli rawat inap RS X?

c. Seberapa baguskah kebijakan yang pemerintah dalam penetapan biaya kesehatan untuk pemberantasan TB?

2. Masalah komparatif

Masalah komparatif yaitu sebuah permasalahan penelitian yang sifatnya membandingkan antara variabel satu dengan yang lainnya apakah itu sama atau berbeda.

Contoh rumusan masalah komparatif:

a. Apakah ada perbedaan tingkat depresi anatara karyawan yang bekerja di pabrik mobil dan pabrik makanan olahan?

b. Adakah perbedaan kapabilitas dan kedisiplinan kerja antara perawat berdasarkan lama kerja?

c. Apa ada bedanya antara ketahanan fisik antara mahasiswa dengan berat badan lebih dan normal?

3. Masalah asosiatif

Masalah asosiatif ialah pertanyaan pada sebuah penelitian yang sifatnya memiliki hubungan antar dua variabel atau pun lebih. Bisa dengan hubungan timbal balik, kausal, atau simetris.

a. Hubungan timbal balik

Hubungan timbal balik yaitu hubungan yang mempengaruhi satu sama lain. Di sini tidak diketahui antara variabel independen dan variabel dependen.

Contoh rumusan masalah hubungan timbal balik, apakah terdapat hubungan antara status kesehatan anak terhadap status gizi anak. Pada hal ini dapat dinyatakan bahwa status kesehatan anak dapat berpengaruh terhadap status gizi anak dan sebaliknya.

42 b. Hubungan kausal

Rumusan masalah kausal yaitu memiliki sifat sebab dan akibat. Di dalamnya terdapat variabel bebas (independen) dan variabel dependen. Di sini variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Contoh rumusan masalah hubungan kausal, Apakah ada pengaruhnya antara lama duduk setiap hari terhadap kejadian sakit punggung bawah?

Seberapa besarkah pengaruh kebiasaan buang air besar sembarangan terhadap kejadian diare?

Adakah pengaruhnya antara pendidikan orangtua / ibu terhadap status gizi anak?

c. Hubungan simetris

Hubungan simetris yaitu hubungan diantara dua variabel atau bisa lebih kebetulan nampak secara bersama.

Contoh rumusan masalah hubungan simetris, Adakah hubungannya antara kadar gula darah pasien saat masuk rawatan terhadap LOS?

Apakah ada hubungannya antara kunjungan ANC terhadap pilihan kontrasepsi?

43 Daftar Pustaka

Ani, M., Diwyarthi, N. D. M. S., Wirawan, S., Tanjung, R., Prihanto, E. S. D., Hernayanti, M. R., Argaheni, N. B.,

& Manurung, J. (2022). Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Get Press.

https://books.google.co.id/books?id=H3lmEAAAQBA J

Darmalaksana, W. (2020). Latihan Menulis Latar Belakang Masalah.

Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi penelitian kesehatan.

Ridha, N. (2017). Proses penelitian, masalah, variabel dan paradigma penelitian. Hikmah, 14(1), 62–70.

Siregar, M. H., Susanti, R., Indriawati, R., Panma, Y., Hanaruddin, D. Y., Adhiwijaya, A., Akbar, H., Nugraha, D. P., & Renaldi, R. (2022). Metodologi Penelitian Kesehatan. Yayasan Penerbit Muhammad Zaini.https://books.google.co.id/books?id=VaZeEAA AQBAJ

Sumantri. (2015). Metodologi Penelitian Kesehatan.

Prenada Media.

https://books.google.co.id/books?id=Cpo- DwAAQBAJ

44 Profil Penulis Agustiawan

Agustiawan, lahir di Bangka, 2 Agustus 1993 merupakan Dokter di Rumah Sakit Islam (RSI) Ibnu Sina Pekanbaru dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad Pekanbaru, Riau.

Penulis juga sebagai Dosen Tetap FK Institut Kesehatan Helvetia Medan. Penulis menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh pada tahun 2018 dan Promosi Kesehatan Ilmu Perilaku dalam pendidikan S2 Magister Kesehatan Masyarakat di Institut Kesehatan Helvetia Medan pada tahun 2022. Penulis juga menjalani Pendidikan Ilmu Hukum di Universitas Terbuka.

Penulis tergabung dalam organisasi Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Ahli Kesehatan dan Keselamatan Kerja Indonesia (PAKKI), dan mendirikan Perkumpulan Health Education and Promotion (HEP) Indonesia.

Menyelesaikan program kursus Ahli Ilmu Faal Olahraga Klinis (AIFO-K) dan mendapatkan sertifikasi tersebut dari BNSP RI.

Penulis aktif menulis beberapa jurnal dengan bahasan yang fokus pada Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran.

Agustiawan juga merupakan Fellow dari Royal Society for Public Health (FRSPH) yang berpusat di London, UK. Agustiawan juga menyelesaikan Diploma dalam Sustainable Management dari IBMI Berlin.

Email: [email protected]

45

4

TINJAUAN PUSTAKA,