• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 117 pemerintah dan segenap lapisan masyarakat untuk mengisi kemerdekaan melalui pembangunan.

Sebagai umat Islam, sudah jelas kita berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Sebagai warga negara kita berpegang pada falsafah dan ideologi negara, yaitu Pancasila. Bukan saatnya lagi kita memperdebatkan dan mempertentangkan ideologi, karena Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Islam bahkan seyogyanya kita bertekad untuk menghayati, mengamalkan dan mempertahankan Pancasila yang jelas- jelas telah dapat mempersatukan bangsa.

Bapak presiden Soeharto seringkali menegaskan bahwa Pancasila bukan agama, Pancasila tidak dapat menggantikan agama dan sebaliknya agama tidak dapat menggantikan Pancasila. Mengenai Pancasila sebagai azas tunggal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sekarang sedang digodok di DPR untuk menjadi undang-undang organisasi keormasan, bukanlah untuk mencampuri urusan agama masing-masing, tetapi justru untuk memperkuat kehidupan keagamaan dalam azas kebersamaan dan semangat toleransi yang positif guna memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa.

PENUTUP

Demikianlah uraian yang dapat saya sampaikan dalam Majelis yang mulia ini, semoga ada manfaatnya. Mudah-mudahan Musyawarah intern Umat Islam sekarang ini dapat menghasilkan keputusan yang bermanfaat guna memantapkan Ukhuwah Islamiyah demi kepentingan agama, nusa dan bangsa. Keputusan yang disepakati itu perlu dilaksanakan seraya bertawakkal kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya:

الله َلََػ ْ ّكّ ََْذَف َتْمَََغ اَذٕإ َف

Akhirnya kita panjatkan do’a semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua dan meridho’i usaha ini. Aamiin.

118 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan

tersebut manifestasi dari keizinan-Nya untuk mencabut nyawa manusia yang melakukan kejahatan tertentu. Dengan demikian maka keberatan sementara kalangan terhadap hukuman mati atas dasar nyawa manusia adalah hak milik Tuhan perlulah ditinjau kembali. Karena atas dasar tersebut, pembunuh telah memperkosa hak milik Tuhan, maka hendaklah diberikan hukuman yang seimbang menurut kehendak pemilik nyawa manusia. Dengan demikian pembunuh mendapat pengampunan dari Tuhan dan terlepas dari ancaman Tuhan yaitu masuk neraka di akhirat nanti (lihat QS. an-Nisa’

ayat 93). Al-Qur’an mengungkapkan betapa kejinya motivasi pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil dan betapa hinanya kejahatan perbuatan membunuh manusia, peristiwa mana menjadi sebab Allah menetapkan ancaman hukuman mati pada umat Bani Israil (lihat QS. al-Maidah ayat 32 dan 45). Demikian sejarah pensyariatan ancaman hukuman mati oleh Tuhan Yang Maha Esa, di mana norma-norma Ketuhanan Yang Maha Esa oleh RI dijadikan sila pertama dari Pancasila. Adapun hukuman mati dalam Al-Qur’an sendiri terdapat pada dua macam perkara (lihat QS. an-Nisa ayat 92, 93 dan al-Isra’ ayat 33).

Pertama:

1. Membunuh dengan berencana (sengaja) dan permusuhan. Ancaman terhadap perbuatan ini, kepada keluarga si terbunuh di bawah pengawasan Pemerintah disuruh memilih: memberikan maaf atau membayar diyat (uang bangun) atau si pembunuh dibunuh pula (yang terkenal dengan “Qishash”). Tegasnya hukuman mati terhadap pembunuh tidak mutlak karena Tuhan gantungkan kepada kehendak keluarga si terbunuh. Keluarga dapat memaafkan atau disertakan menerima uang bangun. Sedang penguasa sendiri dapat melakukan ta’zir (hukuman) meskipun keluarga si terbunuh telah memaafkan.

2. Pembunuhan tanpa disengaja.

Hukuman terhadap pidana ini dikenakan:

a. Pembunuhan mengeluarkan “kafarat” berupa memerdekakan budak yang beriman, jika ia tidak memperolehnya maka ia berpuasa 2 bulan berturut- turut.

b. Pembunuh membayar diyat (uang bangun) kepada keluarga si terbunuh sebanyak 100 unta menurut sunnah atau nilainya berupa 1.000 dinar atau perak 12.000 dirham atau sapi 100 ekor atau kambing 2.000 ekor menurut fikih. Pengeluaran diyat oleh pembunuh jika tidak dibebaskan oleh keluarga si terbunuh.

Kedua:

1. Gerombolan yang bersenjata yang pekerjaannya merampok, membunuh, membakar rumah-rumah rakyat dan sebagainya (lihat QS. Al-Maidah ayat 33).

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 119 Hukuman terhadap mereka ini menurut sebahagian ulama atas dasar lahir ayat Al-Qur’an, penguasa dapat memilih diantara 4 macam:

- Membunuh mereka - Menyalib mereka

- Memotong kaki tangan mereka secara bersilang - Membuang mereka keluar negeri.

Tegasnya penguasa dapat memilih diantara hukuman tersebut.

2. Pemberontakan terhadap pemerintah (negara). Terhadap golongan pemberontak yang tidak mau menyerah, pemerintah dapat menjatuhkan hukuman mati dengan jalan memerangi mereka, menembak dan sebagainya (lihat QS. al-Hujurat ayat 9)

KESIMPULAN

1. Hukuman mati terhadap pelaku pembunuhan yang berencana Tuhan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak keluarga si terbunuh, mereka dapat menuntut qishash atau memaafkan.

2. Hukuman mati terhadap pemberontak yang bersenjata dan terhadap gerombolan yang bersenjata yang pekerjaannya, merampok, membunuh membakar rumah dan sebagainya, Tuhan menyerahkannya kepada kehendak Pemerintah.

Dalam kitab UU Hukum Pidana (KUHP) terdapat ancaman hukuman mati.

Apakah ancaman hukuman mati ini masih diperlukan ataukah sudah waktunya dihapuskan. Persoalannya terserah kepada “Ahlul Halli Wal ’Aqdi” (DPR). DPR lah yang saya pandang berwenang untuk menentukan pilihannya atas pandangan saya bahwa fungsi DPR adalah mewakili rakyat dalam urusan kemasyarakatan. Keluarga dari terbunuh termasuk rakyat dalam persoalan “Qishash” yang menjadi hak keluarga si terbunuh erat sekali hubungannya dengan uusan kemasyarakatan maka sewajarnyalah menjadi urusan DPR. Dengan demikian andaikata DPR menghapuskan hukuman mati dan menggantikannya dengan hukuman yang lain, kemungkinan ini bisa saja dan dari sudut ini keputusan DPR dalam hal tersebut tidak dapat dikatakan bertentangan dengan hukum Al-Qur’an. Akan tetapi persoalannya apakah hikmah pensyariatan hukum Qishash menurut QS. al-Baqarah ayat 197 yang artinya “Dalam Qishash itu ada jaminan kelangsungan hidup bagimu hai orang yang berakal supaya kamu bertaqwa

masihkah dapat diwujudkan. Karena itu, menurut saya kebijaksanaan hukum masih memerlukan hukuman mati tetap berjalan terus sebagai hukuman maksimal dan sebelum hakim memutuskannya hendaklah didengar lebih dahulu kehendak dari keluarga si terbunuh. Dengan demikian unsur perdamaian yang diutarakan oleh Al- Qur’an tidak dikesampingkan.

120 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan