• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masuknya Salafi ke Indonesia

Dalam dokumen DISERTASI - etheses UIN Mataram (Halaman 70-76)

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

3. Masuknya Salafi ke Indonesia

berada dalam organisasi maupun di luar organisasi yang menisbatkan dirinya kepada individu tentu adalah suatu hal yang tidak tepat dan keliru karena terhadap individu siapapun adanya (termasuk dalam hal ini adalah Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab) tidaklah maksum dan tidak boleh dijadikan sandaran kecuali Nabi Muhammad sallā Allāh 'alayhi wa-sallam.

Sehingga di Arab Saudi sendiri tidak dikenal aliran atau paham Wahhabi, perkembangan aliran dan manhaj Salafi di Arab Saudi beberapa dekade belakangan ini diidentikkan dengan paham Salafi.59

Adapun penamaan paham “Wahhabi” disebutkan oleh kelompok- kelompok yang memang tidak setuju dengan ajaran yang disampaikan syekh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab. Mereka menganggap penisbahan Wahhabi tentunya sangat beralasan, karena semangat gerakan Wahhabi dan Salafi yang sama dalam memberantas setiap bid’ah dan setiap penyimpangan akidah menurut versi mereka.

dianut, disosialisasikan dan dipraktekkan di Indonesia.60

Gerakan revivalisme Islam di Indonesia menjelang dan awal abad 21, sesungguhnya telah tumbuh sejak awal 1980-an. Ekspresi revivalisme ini berbentuk meningkatnya gairah kesantrian di tengah masyarakat. Terdapat peningkatan perhatian terhadap ajaran-ajaran agama, seperti perintah meramaikan masjid dengan berbagai kajian, kewajiban sholat, puasa, haji, pengembangan berbagai program dan publikasi-publikasi keagamaan. Ini juga diikuti oleh meningkatnya praktek nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pemakaian busana muslim. Arus Islamisasi ini juga merambah di kalangan pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, bisnis dan dunia pendidikan.61

Di Indonesia, ide-ide gerakan pemikiran Salafi berkembang sejak era kolonial Belanda. Salah satu gerakan pemikiran Salafi awal di Indonesia terdapat di Minangkabau. Gerakan ini dipelopori oleh Tuanku Nan Tuo, tokoh kaum Paderi dari Kota Tuo Ampek Angkek Candung (1784-1803).

Dari nama kaum inilah pertempuran antara kaum Paderi melawan Belanda dinamakan perang Paderi.62

Perang Padri terjadi tahun 1821-1837 M yang dipimpin langsung oleh Imam Bonjol dari kaum Padri. Perang ini terjadi sebagai dampak lanjut dari provokasi pemerintah kolonial Belanda agar terjadi perang antara kaum Adat

60 M.Imdadun Rahmat, Arus Baru IslamRadikal Transmisi Revivalisme IslamTimur Tengah ke Indonesia. (Jakarta, Penerbit Erlangga). Hal. 74.

61 Ibid.. Hal. 74-75.

62 Imam Tolkhah, Gerakan IslamSalafiyah di Indonesia, Jurnal Edukasi., Volume 1 nomor 3, Juli-Sepetember 2003, hl. 35.

dan kaum Padri. Operasi serdadu Belanda di Sumatra Barat, sepintas seperti hanya bertujuan menumpas perkembangan Wahabisme63, Namun tujuan sebenarnya mengusir Amerika dan Inggris yang mengadakan kontak dagang dengan kaum Padri.64

Untuk mengusir Amerika secara tidak langsung dan sekaligus melumpuhkan kaum Padri atau Pidari dimanfaatkanlah tenaga kaum adat sebagai pemukul gerakan Wahabi atau Pidari tersebut. Ditinjau dari sisi agama, kaum Adat lebih menguntungkan penjajah karena walaupun mengaku beragama Islam tetapi masih melakukan hal-hal yang dilarang ajaran Islam, misal bermain judi, minum minuman keras, dan menyabung ayam.

Sedangkan kaum Padri berpegang teguh pada ajaran Islam. Oleh karena itu, penjajah Belanda lebih berpihak kepada kaum Adat.65

Kemunculan gerakan Salafi di Indonesia diawali dengan kembalinya beberapa pemuda Sumatera Barat yang pergi haji sekaligus menuntut ilmu di Kerajaan Arab Saudi pada awal abad ke-19, yang banyak dipengaruhi oleh ide dan gerakan pembaruan yang dilancarkan oleh Muhammad ibn ‘Abd al- Wahhab di kawasan Jazirah Arabia. Pemuda itu adalah Haji Miskin, Haji Abdurrahman, dan Haji Muhammad Arif. Mereka terpesona dengan ideologi

63 Kaum Serdadu Belanda sepertinya melemparkan isu Wahabisme ini ke tengah-tengah kaum adat, sebagai bahan provokasi. Cara yang sama persis digunakan oleh penjajah saat melakukan provokasi dengan melemparkan isu Wahabi kepada Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab dan para murid-muridnya yang datang berdakwah untuk memberantas kesyirikan dan mengajak kembali kepada Manhaj Salafi. Dijulukilah dengan istilah Wahabi untuk memasukkan kebencian ke dalam hati-hati kaum muslim atas dakwah mulia yang dibawa oleh syaikh. Karena kehadiran SalafiAhlussunnah atau Wahabi dalam Bahasa mereka selalu menyulitkan penjajah.

64 Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah. (Bandung, Penerbit Salamadina, cetakan ke- V April 2012). Hal. 200-202.

65 Ibid, hal 202

Wahhabi yang mereka pelajari selama di sana, sehingga mereka menyebarkan ideologi ini ketika mereka tiba di tanah air. Inilah gerakan Salafiyah pertama di tanah air yang kemudian lebih dikenal dengan gerakan kaum Padri, yang salah satu tokoh utamanya adalah Tuanku Imam Bonjol. Gerakan ini pernah berjaya dalam kurun waktu 1803 - 1832 M.66

Perang Padri terjadi dalam dua tahap yaitu tahun 1821-1830 M (sempat berhenti karena di Jawa meletup perang Diponegoro (1825-1830 M), setelah perang Diponegoro selesai perang Padri diprovokasi kembali sehingga kembali meletus (1830-1837 M)67

Pada awal-awal pertengahan kedua pada abad ke-20, terjadilah akulturasi (penggabungan budaya) anatar pendatang dari Arab dengan penduduk Indonesia. Berlalu tahun demi tahun, hubungan antara para pendatang dan penduduk Indonesia semakin baik. Akulturasi (penggabungan budaya) semakin bertambah mendalam di mana seorang Arab tidak datang dengan istrinya ke Indonesia, namun setiap pendatang menikah dengan penduduk setempat.68

66 Wahid, Abdurrahman (ed.). Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan IslamTransnasional di Indonesia. Jakarta: LibForAll Foundation, the Wahid Institute, Center for Islamic Pluralism, dan Blantika, 2009.hal 93.

67 Ibid, hal 202

68 Pidato Al-Ustadz Abdurrahman bin Abdul Karim At-Tamimi hafidhahullah Disampaikan tgl 13-15 Jumadil Akhir 1425 H/1-3 Juli 2004 M di Markaz Al Imam Al Albani di Jordania pada kegiatan muktamar di Jordania. Ustadz Abdurrahman bin Abdul Karim At- Tamimi yang selanjutnya dikenal dengan ustadz Abdurrahman At-Tamimi adalah termasuk salah satu tokoh dakwah Salafi di Indonesia yang berasal dari Surabaya. Dan selanjutnya dalam perkembangan masuknya dakwah Salafi ke Lombok, tercatat sebagai salah satu ustadz yang memberikan rekomendasi pertama kali kepada Ustadz Abdurrahman bin Hizam (salah satu tokoh Salafi di Lombok) untuk mendatangkan Ustadz Yazid Abdul Qodir Jawaz dari Bogor untuk mengadakan kajian di Lombok.

Sebenarnya, orang-orang Hadromaut itu pada asalnya tidak datang ke negeri Indonesia untuk mendirikan sebuah negara atau menyebarkan agama.

Tujuan yang paling utama bagi mereka adalah berdagang dan mencari rezki.

Kemudian para pedagang itu dengan fitrah mereka yang sabar, keras, cerdas, rajin dan amanah dalam bermuamalah, jujur dalam berkata, mampu membuat jalan mereka di negeri yang jauh ini. Hingga pada suatu masa mereka mampu menguasai perdagangan dan mengokohkan keberadaan mereka di antara para penduduk yang berbeda jenis, bahasa, agama, akhlak dan adat-istiadat dengan mereka.69 Kemudian pemerintahan Belanda menyempitkan mereka, pemerintahan Belanda bersikap keras dalam penerapan hijrah atas orang- orang Hadromaut. Pemerintahan Belanda mengumpulkan mereka dalam suatu daerah khusus serta tidak memperbolehkan mereka berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya melainkan dengan izin khusus dan setelah susah payah memperolehnya. Sikap keras dan tekanan ini berjalan bertahun-tahun.

Pada tahun 1919 M, pemerintah Belanda mencabut tekanan itu dan memberikan kebebasan bagi mereka berpindah dari satu kota ke kota lainnya, dari satu desa ke desa lainnya, dari satu pulau ke pulau lainnya tanpa ada kesulitan yang mereka jumpai di hadapan mereka.70

Sekitar tahun 1911 M atau, seorang reformis yang datang dari negeri Sudan pada bulan Rabiul Awwal 1329 H, yang menyeru manusia kepada tauhid, memerangi kesyirikan, khurafat, bid’ah dan ta’ashub terhadap madzhab, yaitu Shaykh Ahmad ibn Muhammad As Syurkati–rahimahullah –.

69 Ibid

70Lihat kitab.Tarikhul Irsyad fi Indonesia,oleh Ustadz Sholah Abdul Qadir Bakri hal 10-12

Dakwah Shaykh meliputi seluruh Negeri, dan telah mencetak kader yang menolong dan membantu dakwah diseluruh jazirah Indonesia. Shaykh Ahmad Syurkati terpengaruh dengan dakwah Shaykhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab – rahimahullah – dan juga Shaykh Muhammad Rasyid Ridha – rahimahullah – beserta majalahnya “Al Manar”. Shaykh mengarang , mengajar, dan membangun “Madrsasah Al-Irsyad” pada tahun 1914 M.Akan tetapi sebagai sebuah amanah ilmiyyah dan sebuah sejarah kami tidak mengatakan, bahwa dakwah Shaykh Ahmad Syurkati adalah dakwah Salafiyyah yang murni, yang mana hal ini dikarenakan lemahnya penyebaran dan pondasi dakwah Salafiyyah pada saat itu, hanya saja dakwah Shaykh telah mempersiapkan jalan untuk kepada dakwah Salafiyyah yang murni, di mana pada pemikirannya terdapat sebagian hal-hal yang menyelisihi dan menyimpang dari aqîdah Salafiyyah, seperti pengingkarannya akan datangnya Al Mahdi, dan turunnya nabi Isa -alaihissalam – yang telah jelas kebenaran dalilnya dengan pasti dalam Al qur’an dan sunnah Nabi yang shahih. Akan tetapi kita tidak melupakan keutamaan dakwah Shaykh dan keutamaan Shaykh Muhammad Rasyid Ridha dan majalahnya “Al Manar” dalam pencerahan akal- akal kaum muslimin yang bodoh terhadap agama mereka dan memerangi bid’ah, kesyirikan dan sikapnya yang membuang fanatisme madzhab serta dakwah mereka (yang menyeru) untuk berpegang teguh kepada Al qur’an dan sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah. Keadaan ini terus berlangsung demikian hingga penjajahan Belanda pergi membawa kekuasaannya dari Negeri Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.71

Kemudian perkembangan Salafi terjadi kembali pada awal tahun 1980- an bersamaan dengan dibukanya Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA) di Jakarta. Lembaga yang kemudian berganti nama menjadi LIPIA (Lembaga Ilmu Islam dan Sastra Arab). LIPIA adalah cabang dari Universitas Muhammad Ibnu Saud di Riyadh. Di antara lulusan pertama Lembaga ini menjadi tokoh terkenal gerakan Salafi. Di antara mereka adalah Abdul Hakim Abdat, Yazid Jawwas, Ainul Harits, Yusuf Usman Baisa, Ja’far Umar Thalib

71 Pidato Al-Ustadz Abdurrahman bin Abdul Karim At-Tamimi hafidhahullah Disampaikan tgl 13-15 Jumadil Akhir 1425 H/1-3 Juli 2004 M di Markaz Al Imam Al Albani pada kegiatan muktamar di Jordania.

dan lainnya.72

Dalam dokumen DISERTASI - etheses UIN Mataram (Halaman 70-76)