H. Gorontalo
I. Masyarakat Adat Sulawesi Tenggara
Istilah Sulawesi Tenggara sebagai suatu wilayah secara historis dibentuk oleh posisi geografis dan peran kekuasaan lembaga kerajaan yang ada. Pada tempo dulu terdapat beberapa kerajaan, diantaranya seperti Kerajaan Buton, Kerajaan Muna, Kerajaan Konawe dan Kerajaan Mekongga.
Adapun fokus pembahasan tentang Sulawesi Tenggara adalah wilayah Kerajaan Konawe yang dihuni oleh sebagian besar suku Tolaki. Terdapat suatu kearifan lokal dalam proses penyelesaian sengketa oleh suku Tolaki di wilayah daratan Sulawesi bagian Tenggara yang mendiami beberapa kabupaten yaitu Kabupaten Konawe, Kota
89
Kendari, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka, Kolaka Utara, dan Kolaka Timur yang merupakan bekas wilayah Kerajaan Konawe dan Kerajaan Mekongga. Sekilas cerita, kedatangan Wekoila dan Larumpalangi yang oleh masyarakat pada saat itu diyakini sebagai dewa yang turun dari langit, mampu menyatukan dan sekaligus mengakhiri pertikaian dan perang saudara serta dapat menciptakan ketertiban dan kedamaian serta kesejahteraan pada masyarakat dikedua kerajaan tersebut (AMIR, 2012;
Melamba, 2013).
Berkenaan penjelasan dari sistematika resolusi konflik yang dimiliki oleh masyarakat adat di Sulawesi Tenggara sebagai suatu kearifan lokal, khususnya suku Tolaki akan dijelaskan melalui nilai-nilai yang dipedomani oleh masyarakat setempat dan disertai dengan mekanisme pelaksanaannya.
Menurut Abdurrouf dalam Hakim (2015) bahwa Tarimana, Kalosara atau sesuatu yang dianggap sebagai pedoman hidup oleh masyarakat adat “Sara Owoseno Tolaki atau sara mbu’u Tolaki”, adalah sebagai berikut:
a. Sara Wonua yaitu Hukum adat bidang pemerintahan yang mengatur dan menetapkan hak dan kewajiban, fungsi dan tugas seorang raja aparatnya, mengatur dan menetapkan struktur organisasi dan personalia untuk menyelenggarakan pemerintahan dan juga mengatur hak dan kewajiban rakyat terhadap raja.
b. Sara mbedulu, yaitu hukum adat dibidang hubungan kekeluargaan dan persatuan pada umumnya.
c. Sara mbe’ombu yaitu hukum adat dalam bidang aktivitas keagamaan, mengatur dan menetapkan tempat-tempat upacara, tatacara berdoa, perlakuan terhadap dukun, serta penyelenggaraan bidang keagaamaan.
d. Sara mandarahia, yaitu hukum adat dalam bidang pekerjaan dan profesionalisme.
Sara monda’u, mombopaho, mombakani, melambu, dumahu, meoti-oti yaitu hukum adat tata cara berladang, berkebun, berternak berburu, dan menangkap ikan.
Pelanggaran terhadap ketentuan atau aturan tersebut di atas oleh individu suku Tolaki dapat berakibat terganggunya keseimbangan, baik dalam hubungan sesama manusia maupun hubungan manusia dan alamnya. Untuk mengembalikan keseimbangan akibat adanya pelanggaran ketentuan hukum adat Kalosara khususnya hubungan manusia dengan alamnya maka diadakanlah ritual pensucian yang disebut dengan istilah Mosehe. Sedangkan gangguan keseimbangan dalam hubungan manusia dengan manusia yang dapat merusak tatanan kehidupan kemasyarakatan ditetapkan aturan hukum
90
mengenai cara penyelesaian sengketa (Hakim, 2015).
Mekanisme dalam Penyelesaian Konflik
Penanganan masalah konflik di Provinsi Sulawesi Tenggara ini, Lembaga adat Tolaki membentuk sebuah lembaga adat yang memiliki tingkatan guna menyelesaikan konflik agar tidak timbulnya konflik baru. Bentuk penyelesaian ini berupa serangkaian aktivitas para pihak yang berkonflik dengan menggunakan strategi baru dalam penyelesaiannya. Secara umum, banyak media yang bisa untuk menyelesaikan konflik seperti melalui pengadilan atau ini sering juga disebut sebagai alternatif penyelesaian konflik. Hakim (2015) mengemukakan cara-cara dalam upaya penyelesaian konflik yaitu sebagai berikut :
a) Konflik yang penyelesaiannya melalui adat mombesara dengan menggunakan alat kalosara yaitu bentuknya sebuah jalinan tiga utas rotan yang dijalin menjadi satu dan pada ujungnya membentuk simpul.
Gambar 13. alat Kalosara
Sumber : Era.id
b) Konflik penyelesaiannya melalui adat metiu, proses pelaksanaannya dengan cara menyelam ke dalam air oleh orang yang sedang terlibat konflik dan yang paling terakhir muncul di permukaan air, maka mereka yang dianggap benar dalam suatu konflik.
c) Penyelesaian konflik dengan cara melalui adat mosehe, adapun keberadaan mosehe itu sendiri selalu terlaksana dengan memanfaatkan mediator, yaitu oleh masyarakat Tolaki menyebutnya sebagai toono motuo (orang-orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat). Para toono motuo inilah yang berupaya mendamaikan pihak-pihak
91
yang berkonflik melalui mediasi dengan cara menghubungi mereka. Proses mediasi ini biasanya berlangsung cukup lama, mosehe sebagai suatu fungsi sosial, dan mosehe dapat dilihat sebagai pranata adat (alat) yang dapat memecahkan secara tuntas perselisihan yang timbul serta suatu upacara yang sarat dengan simbol dan makna, yaitu antara lain bahwa mosehe sebagai simbol kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa dan sebagai simbol kesadaran moral orang Tolaki akan pentingnya stabilitas dalam masyarakat.
Dalam hal ini, penyelesaian konflik yang alternatif adalah dengan menempuh cara adat yaitu mosehe karena dilakukan oleh orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat yang menghasilkan keputusan atau kesepakatan tanpa campur tangan pihak ketiga atau yang lainnya (Hakim, 2015).
Para Pihak yang Bertanggung Jawab dalam Menyelesaikan Konflik
Lembaga Adat Tolaki menggunakan Saasarano Monggotuhi Osara, artinya aturan-aturan hukum di bidang prosedur dan tatacara menyelesaikan sengketa.
Penyelesaian sengketa melalui Lembaga Adat Tolaki hingga saat ini masih berlaku dan efektif serta dipatuhi oleh individu suku Tolaki baik mereka yang tinggal di desa-desa dan hidup dari bertani tradisional, maupun mereka yang tinggal di kota dan hidup sebagai pegawai atau sebagai pengusaha. Berbagai perkara atau sengketa dapat diselesaikan oleh Lembaga Adat Tolaki seperti sengketa warisan, sengketa utang piutang, sengketa tanah, perkawinan serta perkara tindak pidana penganiayaan, pelanggaran lalulintas dan pelanggaran norma kesusilaan. Keberadaan prinsip hukum yang terkandung dalam hukum adat Kalosara yang menjadi pedoman bagi Lembaga Adat Tolaki dalam memberikan putusan terhadap penyelesaian sengketa menjadi alasan bagi para pihak lebih memilih penyelesaian sengketanya diselesaikan melalui lembaga tersebut. Selain itu, setiap putusan Lembaga Adat Tolaki oleh individu Suku Tolaki dirasakan sebagai putusan yang terbaik karena adanya kesesuaian dengan nilai-nilai yang mereka yakini kebenarannya sehingga dalam pelaksanaan putusannya dilakukan dengan penuh kesadaran dan tidak memerlukan adanya eksekutor (Hakim, 2015).