• Tidak ada hasil yang ditemukan

Media Dakwah Responsif Gender

Dalam dokumen BUKU ILMU DAKWAH.pdf (Halaman 129-136)

مكبرب تسلا مهسفنا ىلع مهدهشاو مهتيرذ مهروهظ نم مدآ ىنب نم كبر ذخا ذاو نيلفاغ اذه نع انك انإ ةمايقلا موي اولوقت نا اندهش ىلب اولاق

A. Media Cetak

6. Media Dakwah Responsif Gender

Dari semua penjelasan tentang media dakwah memberi peluang kepada media apapun untuk dijadikan sebagai alat menyampaikan pesan dakwah. Oleh karena itu setiap aktivis dakwah harus bisa memanfaatkan media apapun yang bersegmen perempuan dan laki-laki untuk dijadikan sebagai media dakwah.

Dalam konteks media cetak misalnya, aktivitas atau usaha dakwah harus bisa memanfaatkan majalah-majalah atau tabloid-tabloid yang segmen atau pembacanya adalah perempuan, seperti; Majalah Kartini, dan berbagai media cetak lainnya, atau pembacanya spesifik laki-laki.

Dalam majalah dan tabloid ini yang bisa dilakukan tidak hanya memaksimalkan sumber daya manusia yang berjenis kelamin perempuan atau laki-laki untuk mengelolanya tetapi yang jauh lebih penting adalah menjadikan atau menyelipkan topik-topik tentang kesetaraan gender di dalamnya, atau secara konsisten menghadirkan berita dan cerita tentang persoalan relasi laki- laki dan perempuan dengan cara memberikan wawasan tentang pentingnya menjauhi praktik-praktik yang mendiskriminasi atau perilaku kekerasan terhadap perempuan.

204Acep Aripudin, Sosiologi… 44.

130

Di bidang media massa elektronik audio visual seperti televisi juga sedapat mungkin dimanfaatkan untuk menyampaikan topik dan program tentang perempuan. Saat ini memang acap kali kita saksikan program-program televisi yang menghadirkan komunitas perempuan dalam kegiatan dakwah dan beberapa segmen acara terkait dengan perempuan. Tetapi dengan itu saja tapi menyertakan topik atau agenda tentang perempuan, termasuk persoalan kesetaraan gender.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi harus mengambil bagian untuk menyiapkan diri (bila perlu sudah mengambil peran) untuk menjadi pelaku atau praktisi media massa. Mahasiswa harus telaten memproduksi program-program televisi yang responsif gender. Lebih bagus lagi bila perempuan-perempun muslimah menempati posisi strategis dalam media massa sehingga kebijakan-kebijakannya lebih pro perempuan. Sutradara- sutradara film di tanah air juga harus banyak diisi oleh perempuan agar nuansa film kita tidak maskulin. Inilah sekian cara yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan media dakwah seperti media massa dn film sebagai media dakwah yang responsif gender.

Bila organisasi dimaknai sebagai media dakwah maka salah satu cara memaksimalkan media dakwah yang responsif gender dalam konteks ini adalah dengan memberi penguatan kepada organisasi perempuan atau aktivis perempuan agar bisa dimanfaatkan sebagai media dakwah. Organisasi perempuan tidak hanya dijadikan sebagai pelaksana program sosial (dakwah tidak langsung atau dakwah dalam ranah sosial) tetapi juga harus mengambil bagian untuk menyelenggarakan aktivitas dakwah langsung seperti pengajian dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya di sela aktivitas sosial yang mereka lakukan.

Rangkuman

Media dakwah adalah alat objektif yang menjadi saluran yang dapat menghubungkan ide dengan umat, suatu elemen yang vital dan merupakan urat nadi dalam totalitas dakwah yang keberadaannya sangat urgent dalam menentukan perjalanan dakwah. Fleksibilitas media dakwah memungkinkan semua sarana komunikasi dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah. Perkembangan teknologi komunikasi mengharuskan subjek dakwah dapat memanfaatnya sebagai media

131

dakwah seperti Koran, televisi, radio, film, seluler, dan lainnya. Organisasi secara institusional juga merupakan bentuk media dakwah. Semua jenis media dakwah tersebut dapat dimanfaatkan oleh subjek dakwah baik perempuan maupun laki-laki untuk mengisi konten-konten yang terkait dengan isu-isu relasi gender, isu spesifik perempuan atau laki-laki, dan isu kesetaraan gender.

Penugasan

1. Mahasiswa/Mahasiswi diminta membuat makalah tentang media dakwah yang efektif di era melinial.

2. Mahasiswa/Mahasiswi diberi tugas untuk mengidentifikasi jenis media dakwah yang responsif gender.

3. Mahasiswa/Mahasiswi diberi tugas untuk mendesain satu aktivitas dakwah yang menggunakan media dakwah yang pro-perempuan.

132 BAB VIII

ATSAR DAKWAH: FEEDBACK RESPONSIF GENDER

Kemampuan Akhir:

Mahasiswa/mahasiswi mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan atsar dakwah, menjelaskan efek kognitif dan afektif dakwah serta menjelaskan efek behavioural.

Indikator:

1. Ketepatan menjelaskan makna atsar dakwah.

2. Kesesuaian menjelaskan efek kognitif dakwah.

3. Kesesuaian menjelaskan efek afektif dakwah.

4. Kesesuaian menjelaskan efek behavioural dakwah.

133 A. Pendahuluan

Dakwah merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Ditinjau dari segi pendekatan sistem (system opproach), tujuan dakwah merupakan salah satu unsur dakwah di mana semua unsur dakwah adalah satu kesatuan, antara unsur dakwah yang satu dengan yang lain saling mempengaruhi dan saling berhubungan. secara umum tujuan dakwah adalah terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan akhirat yang diridhoi Allah SWT.205

Rasyid Saleh dan Endang Saifudin Anshari mengklasifikasikan dengan klasifikasi yang hampir sama walaupun mereka menggunakan istilah yang berbeda beda. Rosyid Saleh mengunakan istilah tujuan utama dakwah dan tujuan departemental dakwah (tujuan perantara). Endang Saifuddin Anshari menggunakan klasifikasi tujuan vertikal dan tujuan horizontal. ?

Pakar dakwah yang lain, seperti Abdul Kadir Munsyi mengelompokkan tujuan dakwah menjadi tiga yaitu pertama, mengajak manusia seluruhnya agar menyembah Allah SWT yang Maha Esa tanpa mempersekutukannya dengan sesuatu dan tidak pula bertuhan kepada selain Allah SWT. kedua, mengajak kaum muslimin agar mereka ikhlas beragama karena Allah SWT dan mengajak agar amal perbuatan tidak bertentangan dengan iman., ketiga, mengajak manusia untuk menerapkan hukum Allah SWT yang akan mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan bagi umat manusia seluruhnya. Jamaluddin Kahfi dalam Psikologi Dakwah mengklasifikasikan tujuan dakwah menjadi empat bagian yaitu Pertama, tujuan utama dakwah adalah memasyarakatkan akhlak dan mengakhlak kan masyarakat sesuai dengan misi nabi Muhammad SAW. Kedua, tujuan hakiki dakwah adalah mengajak manusia untuk mengenal Tuhannya dan mempercayainya sekaligus mengikuti jalan petunjuk-Nya. Ketiga, tujuan umum yaitu untuk menyeru manusia agar mentaati seruan Allah SWT dan rasul-Nya serta memenuhi panggilan-Nya dalam hal yang dapat memberikan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Keempat, tujuan khusus yaitu berusaha membentuk tatanan masyarakat Islam yang utuh.206

205Abdullah, Ilmi Dakwah ...165

206Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah ...67.

134

Sebagai sebuah proses komunikasi207, efek dakwah dapat dilihat melalui indikator keberhasilan dan efektifitas komunikasi. Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss mengungkapkan bahwa ciri-ciri komunikasi efektif dapat dilihat dalam beberapa aspek. Pertama, pengertian yaitu penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksudkan oleh komunikator. Dakwah dikatakan berhasil apabila apa yang disampaikan dai dapat difahami oleh mad’u. Dua, kesenangan.

Komunikasi yang efektif menjadikan hubungan menjadi akrab, hangat dan menyenangkan. Ketiga, mempengaruhi sikap. Orang sering melakukan komunikasi untuk mempengaruhi orang lain. Dai-Daiyah ingin membangkitkan sikap beragama dan mendorong jama’ah untuk beribadah dengan baik. Lazimnya komunikasi untuk mempengaruhi sikap dikenal dengan komunikasi persuasif.

Komunikasi persuasif memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada diri komunikator dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikasi diidentifikasi sebagai proses mempengaruhi pendapat sikap dan tindakan orang dengan menggunakan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri. Empat, hubungan yang makin baik. Komunikasi juga ditujukan untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik, manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri. Ia ingin berhubungan dengan manusia lain secara positif. Kelima, perubahan prilaku, umumnya perubahan prilaku ini juga dilakukan melalui komunikasi persuasive yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan ditujukan untuk melahirkan tindakan yang dikehendaki.

208Komunikasi untuk menimbulkan pengertian memang sukar tetapi lebih sukar lagi mempengaruhi sikap jauh lebih sukar lagi mendorong orang bertindak tetapi efektivitas komunikasi biasanya diukur dari tindakan nyata yang dilakukan komonikate.

Majdi Hilali dalam bukunya “kaifa nughayyir bi anfusina” mengungkapkan tiga tahap perubahan prilaku yaitu akal berupa keyakinan tentang suatu tindakan,

207Para pakar dalam ilmu dakwah menyatakan bahwa sesungguhnya dakwah sama dengan komunikasi.Dakwah tidak berbeda dengan komunikasi umum dalam hal model, efek dan prosesnya.

Menurut Andi Faisal Bakti, komunikasi dalam pandangan Islam adalah dakwah, yaitu suatu upaya untuk memberikan pemaknaan tentang ajaran Islam. LihatAndi Faisal Bakti, Communication and Family Planning in Islam in Indonesia; South Sulawesi Muslim Perception of a Global Development Program (Leiden-Jakarta: INIS, 2004)83.

208Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007)12- 16.

135

hati berupa suara atau bisikan yang menyenangkan dan hawa nafsu yang diwujudkan oleh seluruh anggota dalam bentuk tindakan nyata.

تلو نوفرتفم مه ام اوفرتفيلو هوضريلو ةرخلآاب نونمؤي لا نيذلا ةدئفأ هيلا ىغص .

Dan agar hati kecil orang-orangyang tidak beriman kepada akherat, tertarik kepada bisikan itu, dan menyenanginya dan agar mereka melakukan apa yang mereka biasa lakukan.(QS. Al-An’am ayat 113)

Akal atau pikiran menjadi faktor pertama penentu tingkah laku manusia. Jika tindakan manusia bersumber dari perasaan yang berpusat pada hatinya maka yang menggerakkan perasaan itu adalah pikiran. Pikiran adalah pijakan pertama untuk bertindak, sejauh mana keyakinan akal terhadap sesuatu berarti sejauh itu pula pengaruhnya pada perasaan. Menurut para pakar 60% tindakan manusia dilakukan tanpa proses pemikiran artinya pengetahuan yang diterima dengan akal sadar telah mengkristal dalam akal bawah sadar yang menggerakkan tindakan secara spontan.

Kawasan bawah sadar ini sebagai pijakan inti untuk segala perbuatan spontanitas yang terlaksana tanpa adanya proses berpikir.

Meskipun pemikiran berfungsi sebagai pijakan inti perbuatan ia selalu diperoleh dari hati dengan rasa senang dan reaksi positifnya artinya perbuatan terwujud saat akal telah sepakat dengan suatu pemikiran lalu mengalir ke hati dan dikirim ke seluruh anggota tubuh untuk dilaksanakan., Selanjutnya perbuatan dipengaruhi oleh hawa nafsu. Allah SWT menciptakan hawa nafsu dalam setiap manusia agar memiliki kecenderungan pada kesenangan kesenangan inilah yang membuat seseorang bersantai-santai bersenang-senang, bersikap rakus dan sebagainya karena hawa nafsu yang mengajak kepada kesenangan semata dan menjauhi perintah Allah SWT yang dipandang tidak memberikan kesenangan. Jika seseorang berjihad melawan hawa nafsu dan bertekad untuk melakukan kebajikan maka baru ia dapat melakukan perubahan dirinya ke arah kebenaran. Oleh sebab itu Islam memerintahkan melawan hawa nafsu sebab itulah perjuangan suci yang menyinari iman dalam hati yang mendorong seseorang untuk senantiasa berubah dakwah lalu diarahkan untuk mempengaruhi tiga aspek perubahan pada diri mitra dakwah yaitu aspek pengetahuan, aspek sikap dan aspek perilakunya behavioral.

Apa yang diungkapkan Majdi Hilali sejalan dengan penjelasan Jalaluddin Rahmat menyatakan ketika proses perubahan perilaku yaitu efek kognitif berkaitan dengan perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau dipersepsi. Efek ini

136

berkaitan dengan transmisi pengetahuan keterampilan, kepercayaan dan informasi.

Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci, yang meliputi segala yang berhubungan dan emosi, sikap serta nilai. Efek behavioral yaitu yang merujuk pada perilaku nyata, yang dapat diamati meliputi pola-pola tindakan, kebiasaan dan kebiasaan berperilaku209

Dalam dokumen BUKU ILMU DAKWAH.pdf (Halaman 129-136)