Emil Salim
Pengantar
�agasan “lingkungan hidup” yang tumbuh sebagai unsur kehidupan manusia yang penting dalam pembangunan dan karena itu perlu diperhatikan baruterungkap dalam UN Conference on Human Environment (Stockholm, Swedia, 972). Karena itulah dalam konferensi itu disepakati untuk membentuk lembaga baru dalam lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu United Nations Environment Program (UNEP) yang berkedudukan di Nairobi, Kenya (972).
Sepuluh tahun kemudian timbul keprihatinan bahwa masalah lingkungan “berjalan di tempat” dan tidak tampak perubahan berarti dalam tata cara pembangunan. Karenanya, UNEP Conference on Environment Nairobi, Kenya 982) merasa perlu membentuk World Comission on Environment and Development, dipimpin Perdana Menteri Norwegia, �ro Harlen Brundtland yang bekerja selama 983–986 dan menuangkan hasil kajiannya dalam buku Our Common Future (987).
Hasil laporan Komisi Brundtland diterima Sidang Umum PBB 989 yang memutuskan menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi PBB, World Conference on Environment and Development (WCED), di Rio de Janeiro, Brazil, Juni 992.
Lambat tapi pasti, tumbuh kebutuhan untuk lebih mengembangkan faktor lingkungan hidup sebagai bagian integral pembangunan. WCED memutuskan untuk “memadukan lingkungan dalam pembangunan dalam pola pembangunan berkelanjutan”.
Ketika PBB dalam sidangnya pada September 2000 mengkaji proses pembangunan selama abad ke-20 dan menjajaki jalan atau tracee baru dalam pembangunan abad ke-2, tumbuh kesadaran bahwa di bidang sosial telah muncul masalah-masalah sosial baru. Misalnya, tertinggalnya faktor sosial kemasyarakatan dalam pembangunan ekonomi. Kemudian dicanangkanlah “Deklarasi Millennium” menyambut abad ke-2 yang menyatakan perlu diperhatikannya masalah sosial dalam pembangunan abad ke-2 ini.
Atas prakarsa Sekjen PBB (997-2006), Kofi Annan, ditariklah delapan sasaran dari Deklarasi untuk dituangkan dalam Millennium Development �oals (MD�s) yang mencakup sasaran-sasaran:
. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan 2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua
3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 4. Menurunkan angka kematian anak
5. Meningkatkan kesehatan ibu
6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya 7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup
8. Membangun kemitraan global untuk pembangunan
Dengan demikian mencuat secara nyata kebutuhan mengangkat dimesi pembangunan sosial di samping pembangunan ekonomi dan lingkungan dalam sasaran yang perlu dikejar oleh negara-negara dengan batas waktu 205.
Dinamika pengembangan konsep pembangunan ini ikut bergema dalam “Summit on Sustainable Development 2002” di Johannesburg, Afrika Selatan, Juni 2002. Konsep “pembangunan berkelanjutan”
dijabarkan lebih luas yang mencakup dimensi pembangunan sosial di samping pembangunan ekonomi dan lingkungan. Konstituen penunjang gagasan pembangunan berkelanjutan juga meluas mencakup berbagai lembaga swadaya masyarakat. Dengan demikian, dalam pertemuan tingkat tinggi di Afrika Selatan itu, masyarakat sipil semakin ditonjolkan di samping peran pengusaha dan pejabat pemerintah. Hasil perkembangan pola pembangunan berkelanjutan selama dasawarsa 2002 dikaji kembali
Ilmu Pengetahuan dalam Pembangunan Bangsa | 1
untuk kemudian disesuaikan dengan tantangan pembangunan yang berkembang dan kemudian disempurnakan dalam Summit “Rio+0”, Rio de Janeiro, Brazil pada 202.
Tampak dalam perkembangan 972–202 benang merah menyempurnakan pola pembangunan global menurut alur
“pembangunan berkelanjutan” yang memuat segi-segi ekonomi, sosial dan lingkungan sekaligus. Perkembangan gagasan yang digunakan pemerintahan negara-negara dalam berbagai pertemuan puncaknya, memerlukan kerangka teori yang berusaha memadukan ketiga dimensi pembangunan berkelanjutan mencakup ekonomi, sosial dan lingkungan dalam pola “non-zero-sum game”. Hal ini turut mempengaruhi paradigma pembangunan yang selama ini dirasa terlalu sempit mengejar tujuan dan sasaran pembanguan konvensional karena berorientasi semata-mata pada proses pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto.
Dan proses pelaksanaan pembangunan dilakukan dalam “ekonomi pasar” yang terbukti mengalami “market failure” semata-mata menanggapi isyarat keperluan ekonomi, sementara isyarat dan keperluan sosial serta lingkungan tidak digubris oleh mekanisme ekonomi pasar. Karena itulah maksud pembangunan berkelanjutan mencapai tiga sasaran ekonomi, sosial dan lingkungan hidup sekaligus tidak tercapai. Maka tumbuh kebutuhan untuk menjajaki kerangka teori yang mampu memadukan tiga jalur ekonomi-sosial-lingkungan dalam kesatuan pola pembangunan berkelanjutan.
Dalam tulisan ini saya berikhtiar menjajaki kerangka dan bangunan pikiran yang bisa mendukung pola pembangunan berkelanjutan yang dipandang dari sudut kepentingan negara berkembang umumnya dan Indonesia khususnya.
Gagasan Pembangunan Berkelanjutan
Pada 960-an, produksi gencar dilaksanakan dengan pupuk anorganik, insektisida dan pestisida, sehingga produksi pertanian meningkat cepat dan masyarakat menerimanya dengan gembira. Semua
orang menyambut baik kemajuan teknologi yang meningkatkan produksi pertanian secara mencolok.
Tetapi kemudian lahir karya Rachel Carson, Silent Spring (962), yang menuturkan kisah nyata pengalamannya tentang ampuhnya bahan kimia, seperti DDT memberantas hama pertanian. Tetapi kurang disadari bahwa kehidupan mahkluk alam lainnya ikut musnah karena keracunan bahan kimia buatan manusia. Orang awam pun tersentak oleh perubahan kondisi alam di mana sungai yang tercemar membunuh ikan-ikan.
Kodok-kodok pun tidak lagi riuh bersahutan. Burung-burung mulai berkurang, dan dedaunan cepat mengering. Hantu maut membungkam keriuhan hidup alami di musim semi. Buku Rachel Carson menyentuh dan menumbuhkan minat ahli lain untuk turut memperhatikan perubahan alam yang terjadi di berbagai tempat Amerika Serikat dan kemudian dunia umumnya.
Para ahli sibuk mempelajari perubahan kehidupan alami. Manusia perlu memahami dan menyelamatkan lingkungan hidup. Masyarakat Perserikatan Bangsa-Bangsa pun menjadi sibuk dan menyelenggarakan UN Conference on Human Environment di Stockholm, Swedia, Juni 972. Dan lahirlah gerakan mengangkat lingkungan hidup dalam pusat perhatian masyarakat dipimpin oleh lembaga yang baru dibentuk di lingkungan PBB, United Nations Environment Program (UNEP) pada 972 dipimpin Mostafa Tolba dari Mesir.
Periode satu dekade 972–982 lewatlah sudah. Indonesia adalah salah satu negara yang pertama membentuk Kementerian Lingkungan Hidup (Maret 978) bersama-sama dengan negara lain dan mengangkat isu lingkungan hidup ke tengah-tengah perhatian masyarakat. Namun dampaknya belum bermakna besar. Bahkan masyarakat dikejutkan oleh rupa-rupa pembangunan yang terpaksa dihentikan karena melumpuhkan manusia yang minum air tercemar merkuri di Jepang. Inggris menderita udara cemar dengan muatan “smog—smoke-and-fog” yang menyesakkan dada. Orang-orang merasa bahwa kerusakan lingkungan mulai mengganggu kehidupan manusia.
Dunia mulai mengetahui bahwa proses pembangunan memberi dampak pencemaran pada lingkungan. Karena itu jalan keluar adalah
Ilmu Pengetahuan dalam Pembangunan Bangsa |
menanggulangi dampaknya, lalu tumbuhlah pola “Analisis Dampak Lingkungan” yang mengkaji dampak dari kegiatan pembangunan pada lingkungan. Tetapi dampak pembangunan kepada lingkungan tidak hanya berasal dari pencemaran, juga ada gejala penipisan (depletion) sumber daya alam tak terbarukan akibat pembangunan.
Kerusakan lingkungan yang diakibatkan eksploitasi sumber daya alam tak terbarukan dalam jangka panjang sungguh besar, karena sumber daya alam tak terbarukan “dikuras habis” meninggalkan lubang di bumi. Dampak pembangunan yang mulai dirasakan tidak hanya berupa pencemaran, tetapi juga penipisan, resource depletion, dan kemudian penghentian proses pembangunan itu. Dan proses ekonomi tidak bisa memberi jawaban karena ini terjadi “di luar mekanisme pasar”. Sedangkan gejala pencemaran dan kerusakan lingkungan ini diperlakukan sebagai externalitas, di luar proses ekonomi yang berlaku di pasar.
Kembali masyarakat PBB dibuat sibuk dan kini memusatkan diri pada “sebab” kerusakan lingkungan hidup. Sidang United Nations Environment Program (UNEP) di Nairobi, Kenya, Juni 982, mengevaluasi perkembangan lingkungan dengan tema sidang “Sepuluh Tahun Sesudah Stockholm”. Dalam sidang ini tercetus keprihatinan ada yang tidak beres dengan pola pembangunan yang dianggap merusak lingkungan. Tetapi bagaimana jalan keluarnya? Sidang UNEP Nairobi memutuskan membentuk “World Commission on Environment and Development” (WCED), yang dipimpin Perdana Menteri Norwegia �ro Harlen Brundtland, dan mencoba mencari jawabannya.
Selama 983–986, Komisi Brundtland mengunjungi negara yang mewakili semua kawasan benua untuk mengkaji, berdiskusi dan menyaksikan di lapangan “apa sesungguhnya masalah pokok pembangunan dengan lingkungan hidup”. Kesimpulan kajian komisi ini kemudian tertuang dalam buku Our Common Future (WCED, 987) yang dijadikan dasar usulan perbaikan konsep pembangunan, yaitu
“Sustainable development is development that meets the needs of the present generation, without compromising the ability of future generation to meet their own needs.”
Konsep “sustainable developent” (pembangunan berkelanjutan) merupakan konsep dinamis dan memperlakukan proses pembangunan sebagai arus yang mengalir secara dinamis. Pembangunan tidak lagi dipandang sebagai satuan “blok” yang terkunci dalam sektor dan kurun waktu tertentu. Pola “Pembangunan Berkelanjutan” yang dicetuskan Komisi Brundtland disambut baik oleh Konferensi Puncak “World Conference on Environment and Development,”(WCED) di Rio de Janeiro, Brazil, Juni 992, 20 tahun sesudah Konferensi Lingkungan I di Stockholm, Swedia, 972. WCED ini melengkapi gagasan “Pembangunan Berkelanjutan”
dengan rangkaian program kerja yang disebut “Agenda 2” serta “Forestry Principles”, dengan dua konvensi global, yaitu “Convention on Biodiversity”
dan “Convention on Climate Change”. Muncul pendobrakan gagasan pembangunan komprehensif yang memuat dimensi lingkungan secara berbobot dalam pola pembangunan yang mencakup secara simultan segi ekonomi, sosial dan lingkungan untuk dikerjakan bersama sekaligus.
Optimisme sedang berkembang tinggi dalam dasawarsa tahun 90-an ini, karena Perang Dingin antara negara-negara komunis dengan kapitalis yang berkecamuk menghantui perdamaian dunia, menjadi reda dengan pecahnya Uni Soviet menjadi negara Rusia dan beberapa negara baru yang bebas. Dan tumbuh harapan, dana negara adidaya yang semula disalurkan untuk persenjataan dan keperluan pertahanan, akan bisa dialihkan untuk tujuan perdamaian. Orang mengharap lahirnya “peace dividend” yang bisa membiayai program pembangunan berkelanjutan.
Harapan ini terkuak dalam World Conference on Environment and Development, Rio de Janeiro, Brazil, Juni 992. �agasan Pembanguan Berkelanjutan berkembang pesat dan berusaha mengubah paradigma pembangunan yang serba merusak ini ke arah konstruktif.
Namun tiba-tiba meledak Peristiwa 9/ pada 200. Sebuah pesawat udara ditabrakkan pengikut Al Qaida dan menghancurkan gedung kembar di Manhattan, New York, Amerika Serikat. Dunia dikejutkan oleh peristiwa yang menelan ribuan nyawa penduduk sipil di tengah suasana damai ini. Kejadian ini mengubah keadaan. �enderang “perang melawan terorisme” pun ditabuh lantang oleh Presiden �eorge Bush.
Dunia terseret dalam kancah dan suasana perang serta menghancurkan
Ilmu Pengetahuan dalam Pembangunan Bangsa |
harapan dapat memanfaatkan “peace dividend” untuk pembangunan berkelanjutan. Hasil-hasil UN Summit on Sustainable Development, di Johannesburg, Afrika Selatan, 2002, tidak bergaung besar dan terdesak oleh dentuman pesawat terbang Amerika Serikat menggempur lawan di pegunungan Afghanistan.
Tumbuhnya Dimensi Sosial
Sementara itu, ada jalur perkembangan lain sebelum Peristiwa 9/ yakni lahirnya “Millennium Declaration” yang dicanangkan dalam Millennium Summit di PBB September 2000. Pertemuan ini memuat kesepakatan antara lain membangkitkan solidaritas internasional untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Tujuan pembangunan yang ingin dicapai dalam milenium ini adalah “kebebasan, hak azasi manusia, kesetaraan, solidaritas, toleransi dan penghormatan pada alam”.
Apabila deklarasi ini semula dirasa bersifat terlalu abstrak, maka Sekjen PBB, Kofi Annan, mencetuskan gagasan Millennium Development Goals yang mencakup delapan sasaran pokok: a.
menghapuskan kemiskinan dan kelaparan; b. tercapainya pendidikan dasar; c. mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; d. turunkan tingkat kematian anak; e. tingkat kesehatan kehamilan ibu; f. berantas HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya; g.
usahakan keberlanjutan lingkungan; h. usahakan kerjasama global untuk pembangunan. Setiap negara diharapkan dapat mencapai sasaran yang lebih manusiawi di tahun 205.
Apabila semula berkembang hanya satu alur pembangunan ekonomi yang mengejar laju peningkatan Poduk Domestik Bruto (PDB), untuk kemudian sejak 992 dikembangkan alur pembangunan lingkungan hidup, maka kini tumbuh alur pembangunan sosial. Pola pembangunan yang didambakan berkelanjutan memuat tiga alur penting: ekonomi, sosial dan lingkungan. Ketiga alur pembangunan ini dirasa perlu, karena kondisi global dunia mengalami perubahan penting.
Penduduk dunia diperkiran tumbuh dari 7 milyar jiwa (202) menjadi 9 milyar jiwa (2050). Ini mendorong pembangunan untuk mengejar
Produk Domestik Bruto naik dari 70 trilliun USD (202) ke 200 rilliun USD (2050). Dan semua ini mengharuskan berputarnya roda ekonomi.
Tetapi pertambahan penduduk juga memunculkan masalah kesehatan baru yang berpengaruh pada perkembangan kehidupan sosial. Muncul jenis penyakit baru seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang diduga disebabkan oleh virus corona sebagai hasil evolusi mutasi
“induknya virus flu” yang lahir dalam perut �urung. Melalui proses mutasi yang terus-menerus, lahirlah virus corona yang bisa menembus daya tahan manusia, sehingga meledaklah wabah SARS. Semakin kentara hubungan antara manusia yang semakin banyak dan mendesak lingkungan alam.
Masyarakat sosial memiliki “daya tahan sosial” yang lambat laun rawan terhadap tekanan dahsyat. Afghanistan dikenal sebagai negara termiskin di dunia yang mendapat gempuran militer negara maju.
Namun ini mengundang perlawanan keras dari penduduk yang tertekan kemiskinan, sehingga melentingkan daya tahan sosial masyarakat Afghanistan, yang tak kunjung tertundukkan oleh senjata modern negara maju. Proses destruksi bersenjata mencuatkan satu segi yang semakin menonjol, yakni dimensi sosial perubahan suatu elan, semangat perlawanan dari yang tertindas terhadap yang kuat.
Sengketa senjata yang semula bernada “perang terhadap terorisme”
membangkitkan naluri sosial manusia yang lain. Terlepas dari asal- mula peperangan terhadap terorisme, keadaan ini juga mengungkapkan kemiskinan, ketertinggalan dan ketimpangan antara “yang kuat dan yang lemah”. Tanpa disadari dan disengaja berkembang kebangkitan yang “lemah” terhadap yang “kuat”. Produk sampingan yang ditimbulkan “perang terhadap terorisme”, melahirkan kebangkitan “yang berkecukupan” terhadap “yang berkekurangan”.
Bila suatu masyarakat untuk waktu lama dikelola penguasa yang melanjutkan kekuasaannya dan tidak memberi kesempatan bagi yang muda mengalami mobilitas vertikal, maka generasi muda yang tumbuh tanpa proses perubahan nasib dalam situasi status-quo lambat laun menuntut perubahan memperbaiki posisi sosial. Karena itu bisa dipahami bila timbul “perlawanan sosial” terutama dari generasi muda. Hal ini
Ilmu Pengetahuan dalam Pembangunan Bangsa |
menonjol di negara-negara yang selama sekian dasawarsa mengalami kekuasaan yang dipegang penguasa secara berkelanjutan tanpa prospek kemajuan mobilitas vertikal sosial yang berarti, seperti yang tercetus dari Mesir ke jazirah Timur Tengah. Tidak terkecuali Indonesia pun mengalami gerak keinginan perubahan apabila penguasa berada terlalu lama dalam tampuk kekuasaan, sementara lapisan generasi muda yang memiliki hasrat mobilisasi vertikal merasa terhambat sebagaimana terungkap dalam gerakan Reformasi Indonesia 998 yang digerakkan mahasiswa.
�ema Peristiwa 9/ dan perubahan yang ditimbulkan di kawasan Timur Tengah mendesakkan gerak perubahan “yang berkecukupan”
versus “yang berkekurangan”. Perkembangan ekonomi yang menjalar ke pertum�uhan sektor finansial per�ankan yang spektakuler kemudian disertai krisis sektor ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga di Uni Eropa. Ini menandakan bahwa ada yang tidak beres dengan pembangunan yang sedang berlangsung di abad ke-2.
Tumbuh kembangnya gerakan mempertentangkan kelompok mapan disimbolkan dengan pelaku di “Wall Street” berhadapan dengan kelompok tertinggal di “Main Street”. Di berbagai negara tumbuh perlawanan orang awam “Main Street” terhadap orang mapan “Wall Street” yang bercirikan memiliki kemapanannya bukan karena kerja banting-tulang, memeras keringat, tetapi karena pandai berspekluasi, bekerja di sektor finansial mengadu kelihaian di pasar modal dan uang (Joseph E. Stiglitz, The Price of Inequality, W. W. Norton, 202). Dan semakin besarlah kesadaran bahwa ada yang tidak beres dalam pengelolaan pembangunan ekonomi. Kemudian bangkitlah kekuatan sosial yang mendambakan perubahan pembangunan untuk menanggalkan wajah rakus kapitalis dan mengubahnya dengan wajah lembut sosial humanis. Lalu tumbuh tuntutan memasukkan dimensi sosial dalam pembangunan ekonomi.
Di bidang lingkungan, berkembang kefrustrasian negara berkembang terhadap negara-negara maju yang mapan kehidupan ekonominya namun mengorbankan lingkungan dengan pencemaran udara akibat pembakaran fossil fuel. Telah meluas hasil kajian Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang membuktikan adanya keterkaitan pertumbuhan
CO2 hasil pembakaran fossil fuel dengan naiknya suhu bumi berikut dampaknya pada perubahan iklim. Pengaruh pembangunan ekonomi jelas terkait dengan penurunan kualitas lingkungan. Lalu lahir tuntutan Kyoto Protocol dalam rangka “Convention on Climate Change” yang disepakati dalam World Conference Environment and Development, Rio de Janeiro, 992, yang bekerjasama membatasi emisi gas rumah kaca demi mencegah terlewatinya ambang batas udara 450 ppm kadar zat cemar gas rumah kaca di udara sehingga suhu panas bumi tidak melewati 20Celcius. (United Nations, “Framework Convention on Climate Change”, UNFCCC 2006). Dampak pembangunan ekonomi dikaitkan secara gamblang pada kerusakan lingkungan global sehingga dituntut perubahan dalam cara kita membangun guna menyelamatkan dunia dari kehancuran kehidupan akibat perubahan iklim.
Menyatukan Tiga Alur Pembangunan
Hubungan timbal balik antara ekonomi, manusia, sosial dan lingkungan berlangsung dalam ruang lingkup pembangunan konvensional yang menghasilkan sebagian kecil penduduk global (20%) menikmati 80% dari hasil produksi dunia. Sebanyak 2 milyar manusia di dunia global hidup berpendapatan kurang dari $ 2 sehari, tanpa aksesibilitas air bersih, sanitasi, permukiman sehat, fasilitas pendidikan, kesehatan, kredit perbankan, infrastruktur jalan, dan fasilitas lain yang layak bagi kehidupan manusiawi.
Sementara itu bagian besar penting permukaan bumi telah diubah menjadi “lingkungan buatan” berupa kota, sentra industri, jaringan jalan, kegiatan pertambangan serta kegiatan manusia lainnya yang bersifat merusak dan mengubah lingkungan. Pola pembangunan konvensional ini mengakibatkan lebih dari separuh sungai di dunia mengalami pendangkalan, sedimentasi dan kerusakan sehingga diramalkan lebih dari separuh penduduk menderita kelangkaan air tawar pada 2030 nanti.
Tanah, hutan, sungai, air tanah, gunung, lautan dan udara—praktis segala unsur lingkungan alami menderita tekanan dan kerusakan akibat ulah manusia dengan pola pembangunan konvensional untuk
Ilmu Pengetahuan dalam Pembangunan Bangsa |
meningkatkan PDB yang sebagian besar memuat barang material hasil pengolahan sumber daya alam tak-diperbaharui. Logika dibalik proses pembangunan konvensional ini adalah bahwa ia dikendalikan oleh
“tangan tak kentara, the invisible hand” melalui mekanisme harga di pasar. Hingga kini terbukti bahwa “tangan tak kentara” ini berhasil menaikkan produk dunia global berkali lipat sejak Revolusi Industri hingga kini.
Namun terdapat “kebutuhan yang tidak terpenuhi, unmet needs”, karena “tangan tak kentara” tidak mampu menyentuhnya, seperti kebutuhan akan lingkungan yang bersih, kemiskinan yang lenyap, ketimpangan yang terkoreksi, sumber alam hayati yang terlestarikan keanekaragamannya, dan seterusnya adalah berbagai hal yang gagal ditangkap oleh mekanisme pasar. Padahal kebutuhan manusia tidak hanya mencakup pangan dan materi yang tumbuh berkembang dikendalikan pasar. Maka timbul kebutuhan untuk mengkaji ulang dan mengubah paradigma pembangunan konvensional.
Paradigma pembangunan konvensional bertumpu pada:
Pertama, pada “skala preferensi manusia” dalam urutan tingkat kebutuhan konsumen yang senantiasa meningkat dan melahirkan perilaku
“menginginkan lebih ketimbang kurang” (to prefer more rather than less).
Sikap ini menimbulkan perilaku mengejar kebutuhan tak terbatas dengan sumber daya pemuas kebutuhan yang terbatas. Dorongan mengejar
“lebih” menjadi motor penggerak ekonomi, tetapi juga menggerakkan perilaku sosial yang rakus.
Kedua, kegiatan ekonomi berlangsung dalam “pasar” yang berfungsi bagaikan “tangan tak kentara, the invisible hand,” sebagai mekanisme utama menangkap isyarat permintaan konsumen dan penawaran produsen;
dan terwujudnya keseimbangan supply-demand melalui mekanisme
“sistem harga”. Semakin bebas sistem harga, semakin sempurna pasar
�erfungsi dan semakin efisien ekonomi mengem�angkan pola konsumsi serta produksi bagi individu dan masyarakat. Tidak diperhitungkan di sini daya beli yang tidak sama dari pelaku ekonomi pasar ini. Yang penting adalah realisasi wujud perbedaan antara pelaku pasar yang miskin dengan yang kaya.
Ketiga, adalah posisi modal sebagai penggerak utama pembangunan dan biasanya terdiri dari modal sumber daya termasuk keterampilan, modal finansial, modal sum�er daya alam dan modal �uatan manusia.
Penggabungan keempat macam modal ini meningkatkan ekonomi ke tahap pertanian-pertambangan berbasis sumber daya alam, meningkatkan ekonomi ke industri berbasis keterampilan dan teknologi untuk kemudian ke pengembangan jasa, berupa pengembangan industri kreatif, sektor jasa keuangan-perbankan, dan usaha jasa lainnya. Ekonomi seakan-akan bergerak menurut tahapan sesuai dengan perkembangan dan perubahan jenis modal yang dominan dalam setiap tahapan pembangunan. Segi distribusi pendapatan bukan menjadi fokus mekanisme pasar ini. Koreksi atas ketimpangan distribusi pendapatan ditangani oleh kekuatan “di luar pasar”, seperti dengan pajak pendapatan dan pajak kekayaan yang ditetapkan pemerintah guna mengurangi ketimpangan pendapatan. Tetapi mekanisme pasar itu an sich tidak menangani segi redistribusi pendapatan yang pincang.
Faktor modal akan menumbuhkan pembangunan semakin cepat dan efisien, apabila kebijakan pembangunan mengindahkan“Washington Consensus”yang mencakup disiplin fiskal; pengeluaran negara mengutamakan pendidikan dan kesehatan; reformasi perpajakan; suku bunga yang positif namun moderat dan ditentukan oleh pasar; nilai tukar uang yang bersaing; kebijakan perdagangan liberal; terbuka bagi investasi langsung; privatisasi; deregulasi; perlindungan atas hak pemilikan (property rights). Apabila perkembangan ekonomi berjalan dalam koridor yang ditetapkan, maka pembangunan ekonomi berjalan lancar dan kemungkinan krisis ekonomi bisa dihindari.
Inilah semangat logika yang menggerakkan pembangunan ekonomi konvensional abad ke-20.
Paradigma Pembangunan Berkelanjutan
Sementara jumlah manusia bertambah, tingkat pendapatan naik dan konsumsi meningkat serta membutuhkan sumber daya alam yang semakin banyak, bumi yang kita huni ini tidak bertambah besar.