96
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
Dalam ayat lain, Allah berfirman:
قو ـ نـيـتـن اق لله اومو
Dan berdirilah kamu untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusuk. (Q.S. 2:
238)
Firman Allah (نـــــيـتـن اـــــق لله اوـــــموـقو) artinya senantiasalah kamu beribadah, taat, khusu’, dan khudhu’. Artinya senantiasalah kamu khusu’
dalam shalatmu. Ali Shabuni, I, 1980: 154).
Kata khusu’ sinonim dengan tawadhu’. Di dalam kitab al-Kasysyaf diterangkan bahwa khusu’ artinya ialah merendahkan diri dan bersikap baik. Sedangkan khudhu’ artinya lemah lembut dan penurut. Syufyan Tsauri mengatakan, “Aku pernah bertanya kepada ‘Aghmasy tentang arti kata khusyu’ itu.” Dia menjawab, “Hai Tsauri, Anda berkeinginan untuk menjadi imam sedangkan anda tidak mengetahui arti khusyu’. Khusyu’ itu bukanlah berarti memakan makanan yang basi, memakai pakaian yang lusuh, dan mengangguk-anggukkan kepala. Akan tetapi khusyuk ialah bahwa anda melihat orang yang terhormat dan orang yang hina dalam masalah kebenaran adalah sama, dan anda khusyuk kepada Allah pada semua yang difardhukan-Nya kepada anda” (al-Syaukani, I, 1964: 79).
Abdu bin Humaid megutip dari Qatadah tentang firman Allah (Minta tolonglah kamu kepada Allah dengan sabar dan shalat}, katanya, keduanya adalah pertolongan dari Allah, maka minta tolonglah kamu kepada Allah dengan keduanya.
97
pelaksanaannya. Al-Syaukani (I, 1964: 255) menegaskan, Memlihara sesuatu artinya mengerjakan sesuatu secara rutin dan menekuninya.
Dalam ayat ini yang disuruh untuk dipelihara ada dua hal, yaitu shalat fardhu yang lima waktu dan shalat wustha. Yang tersebut terakhir ini maksudnya ialah salah satu shalat fardhu itu. Jadi ada penekanan kepada salah satu shalat fardhu yang harus dipelihara betul-betul, yaitu yang disebut oleh Allah dengan shalat wustha. Jadi ada penyebutan tersendiri berkenaan dengan shalat wustha. Hal ini membuktikan bahwa shalat wustha itu punya keistimewaan yang luar biasa.
Secara etimologis kata ىطسوـلا berarti pertengahan atau yang di tengah- tengah, )Munawwir, 1997: 1557). Kata ىطسوـلا adalah bentuk ta’nits dari kata طسولاا yang berarti yang terbaik. Ini relevan dengan firman Allah SWT dalam surat al- Baqarah ayat 143 yang berbunyi: اطسو ةـمْا مك انـلـعـج كلذـكو Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilhan, (al-Syaukani, I, 1964:
255). Ada juga yang mengatakan, kata ىطسولا berasal dari kata طسولا artinya ialah yang paling utama. Bisa jadi pula makna yang dimaksud adalah shalat yang tengah – pertengahan dari sisi jumlah shalat – sebab ia terletak di antara dua shalat sebelumnya dan dua shalat sesudahnya. Menurut satu pendapat ىطسولا adalah pertengahan waktu (al-Dzuhaili, Tafsir al-Munir, Jilid I).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa salah satu shalat fardhu yang lima itu ada yang disebut dengan shalat wustha, yaitu shalat pertengahan, yang paling baik atau shalat yang paling utama di antara shalat lima waktu. Di dalam Al-Quran memang ada disebutkan shalat wustha, tapi tidak diselaskan shalat fardhu yang mana. Oleh karena itu, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama shalat mana yang dimaksud dengan shalat wustha. Berikut ini akan dijelaskan perbedaan pendapat tersebut.
Pendapat Pertama, Shalat Wushta adalah shalat ‘Ashar
Menurut satu golongan shalat wushtha itu ialah shalat Zhuhur. Ini menurut pendapat Zaid bin Tsabit. Ada hadits yang marfu’ sampai kepada Nabi mengenai hal ini. Begini juga menurut pendapat Abu Said al-Khudri dan Abdullah bin ‘Umar.
Argumen bagi yang berpegang dengan pendapat ini ialah bahwa shalat Zhuhur adalah shalat yang mula-mula dilaksanakan dalam Islam. Dengan demikian ia adalah shalat pertengahan. Tapi hal ini bukan berarti pertengahan dalam urutan shalat. Di samping itu diriwayatkan bahwa shalat Zhuhur paling berat dilaksanakan oleh para sahabat, karena waktunya pada saat yang sangat panas. (Ibnu ‘Athiyah, I, 1993: 322).
Ada juga riwayat dari Ahmad, al-Nasa’i, dan Ibnu Jarir al-Thabari yang meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit bahwa dulu Nabi SAW biasanya mengerjakan shalat Zhuhur pada waktu tengah hari, tetapi makmum yang ada biasanya hanya 1 – 2 shaf saja, sementara kebanyakan sahabat istirahat di rumah mereka yang teduh, ada pula yng sibuk berniaga, maka turunlah ayat ini. Hal ini mengindikasikan bahwa yang dimaksud dengan shalat wustha itu adalah shalat Zhuhur
Pendapat yang Kuat, Shalat Wustha Shalat ‘Ashar
98
Ada suatu hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, Imam Muslim, ahli al- Sunan, dan lain-lain yang bersumber dari ‘Ali, katanya:
ك ـ ن ان ـ اهار س ىتـح رـجفـلا ـ
ع الله ىلص الله لوسر تـعم ـ
ي ملسو هيـل ـ
لاصلا نـع انولـغش : بازـحلاا موي لوـق
علا ةلاص ىطسولا ة ـ
ق الله ءلام ,رص ـب
ـ مهفاوجاو مهرو
.ار ان
Dulu kami mengira bahwa shalat wustha itu shalat Shubuh sehingga aku mendengar Rasulullah berkata pada hari perang Ahzab, “Mereka halangi kita dari shalat wustha yakni shalat ‘Ashar. Semoga Allah memenuhi rongga perut mereka dan kuburan mereka dengan api neraka. (al-Syaukani, I, 1964: 256).
Dari hadits ini jelas bahwa yang dimaksud dengan shalat wustha adalah shalat ‘Ashar. Banyak riwayat lain yang menjelaskan bahwa shalat wustha itu adalah shalat ‘Ashar.
Pada cacatan kaki Al-Quran dan Terjemahnya terbitan Departeman Agama dijelaskan bahwa shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wusthaa ialah shalat Ashar. Menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
Selanjutnya, al-Syaukani menjelaskan, Imam Muslim, al-Turmudzi, Ibnu Majah, dan lain-lain, meriwayatkan hadits lain yang semisal dengan hadits ini dari Ibnu Mas’ud dalam keadaan marfu’ (sanad-nya bersambung sampai kepada Rasulullah). Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, dan al-Thabrani, meriwayatkan juga hadits yang seperti ini dari Ibnu ‘Abbas dalam keadaan marfu’. Dan banyak lagi hadits-hadits lain yang diriwayatkan secara marfu’ yang menegaskan shalat wustha itu adalah shalat
‘Ashar. Inilah yang menjadi patokan bagi mayoritas ulama.
Pendapat Ketiga, Shalat Wushtha adalah Shalat Shubuh
Menurut al-Syaukani, Ada pula riwayat mengatakan bahwa shalat wustha itu adalah shalat Shubuh. Diriwayatkan dari ‘Ali dan Ibnu Abbas, keduanya mengatakan, Sesungguhnya shalat wustha itu ialah shalat Shubuh, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Malik dalam al-Muwatha’. Ibnu Jarir meriwayatkan hadits ini dari Ibnu ‘Abbas.
Demikian juga halnya Abd al-Razaq, Ibnu Abi Syaibah, Abd bin Humaid, dan Ibnu Mundzir, mereka meriwayatkan hadits ini dari Ibnu ‘Abbas juga. Di sisi lain, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkannya dari Ibnu ‘Umar. Tetapi, semua riwayat ini adalah merupakan pendapat mereka (sahabat), tidak ada hadits yang marfu’ sampai kepada Nabi SAW yang menjebutkan shalat wushtha itu adalah shalat Shubuh.
Pendapat keempat, Shalat Wushtha adalah Shalat Maghrib
Menurut al-Syaukani, begitu juga tidak dapat dijadikan hujjah dengan apa yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dengan sanad hasan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia mengatakan, Shalat wustha ialah shalat Maghrib. Demikian juga tidak bisa dijadikan iktibar pendapat sekelompok sahabat yang mengatakan, shalat wustha ialah shalat zhuhur atau shalat fardhu lainnya.
99
Dengan memperhatikan keterangan-keterangan di atas, dapat ditarik benang merahmya bahwa hadits yang paling kuat dan dapat dijadikan hujjah berkenaan dengan shalat wustha ialah hadits-haditts yang menerangkan bahwa shalat wustha ialah shalat ‘Ashar. Karena hadits-hadits tersebut marfu’ sampai ke Nabi SAW, sedangkan hadits hadits lainnya mauquf sampai sahabat. Tetapi yang sangat prinsip pesan yang terkandung dalam ayat di atas ialah bahwa orang-orang beriman wajib memelihara pelaksanaan semua shalat fardhu. Pesan Allah agar orang-orang beriman memelihara shalat wustha mengandung hikmah bahwa ada salah satu shalat fardhu itu memiliki nilai luar biasa, lebih utama dilihat dari tingkat sulit mengerjakannya . Menurut satu golongan, shalat wushtha tidak dijelaskan oleh Allah kepada kita. Maka ia adalah salah satu dari shalat yang lima. Seperti malam qadar dan malam yang sepuluh yang sangat bernilai tinggi, tapi tidak dijelaskan malam yang ke berapa.
Barangkali Allah bermaksud menyembunyikan yang demikian agarorang-orang beriman memelihara semua shalat. (Ibnu ‘Athiyah, I, 1993: 322).