• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGGUNAKAN WAKTU SEBAIK–BAIKNYA

Dalam dokumen Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya (Halaman 51-59)

Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 45

8

MENGGUNAKAN WAKTU

46 | Dr. Khairul Hamim, MA.

tahun baru 2008 dengan harapan semoga hidup kita lebih baik, lebih sejatera dan lebih berkah dari hari, bulan dan tahun sebelumnya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Tak terasa waktu terus bergulir sehingga saat ini kita telah memasuki tahun baru miladiah 2008. Bagi orang-orang yang beriman momentum pergantian waktu, hari, peنan, bulan maupun tahun dimanfaatkan untuk melakukan muhasabah (intropeksi diri), bukan untuk melakukan hal-hal yang sifatnya hura-hura apalagi dengan melakukan kemaksiatan yang dibenci oleh Allah swt.

Pergantian hari, minggu, bulan dan tahun menandai bertambahnya, bahkan lebih tepat berkurangnya usia kita. Kita hendaknya bertanya “Kemana gerangan kita akan diantar oleh pergantian malam dan siang itu”

Al-Qur’an secara tegas menyatakan dalam Surah Al- Insyiqaq: 6

ِهيِقلُمَف ًاحْدَك َكِّبَر لِإ ٌحِداك َكَّنِإ ُناسْنِ ْلا اَ ُّيَأ اي

“Hai manusia sesungguhnya engkau bersusah payah menuju tuhanmu dan engkau akan menemuinya”

Karena itulah maka orang berharap sesuai firman Allah S.

Al-baqarah:156

َنوُعِجار ِهْيَلِإ اَّنِإَو ِ ِلله اَّنِإ

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhya kepada-Nya kita akan kembali”

Berkaitan dengan hal ini seorang sahabat Nabi bertanya

“kapan datangnya akhir masa (kiamat)? Malah Nabi balik bertanya “apa yang engkau siapkan untuk menghadapinya.”

Jawaban ini ada kesamaannya dengan jawaban Al-Qur’an ketika Muaz Bin Jabal dan Tsalabah bin-ghanamah Al-ansori

Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 47 bertanya “wahai nabi, mengapa bulan bermula sabit, kemudian membesar hingga purnama, lalu dari malam ke malam mengecil hingga sirna dari pandangan”

Nabi saw. ketika itu terdiam tidak menjawab dan Al- Qur’an menjawabnya dalam Surah al-Baqarah:189

ِّجَ ْلا َو ِساَّنلِل ُتيِقاوَم َيِه ْلُق ِةَّلِهَ ْلا ِنَع َكَنوُلَئ ْسَي

“Katakanlah (wahai Muhammad), dia (bulan sabit) adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (ibadah) haji”

Rupanya jawaban Al-Qur’an tidak sesuai dengan pertanyaan mereka, akan tetapi menuntun mereka kepada sesuatu yang sangat mendasar, yakni pelajaran yang harus dipetik dari apa yang terjadi, pada pergantian bulan itu, agar manusia menjadikannya sebagai tanda untuk penyelesaian tugas dan kerja mereka, juga untuk mengingatkan manusia bahwa perjalan hidupnya di dunia ini bagaikan bulan. Pada mulanya manusia tak ada hadir di persada bumi, kemudian lahir kecil mungil, bagai bulan sabit dari hari kebulan, bulan ke tahun, menjadi besar, sehingga dewasa sempurna usia, tetapi kemudian sedikit demi sedikit kembali menurun dan menurun kemampuannya, hingga tua dan mati, lalu menghilang dari kehidupan duniawi.

Sayidina Ali karramallohuwajhah pernah berkata “bila keadaanmu menghadangmu, maka alangkah cepatnya pertemuan dengannya” karena itu pula Al-Qur’an berpesan dalam Surah al-Hasyr: 18

ٍدَغِل ْتَم َّدَق ام ٌسْفَن ْرُظْنَتْلَو َللها اوُقَّتا اوُنَمآ َنيِذَّلا اَ ُّيَأ اي

َنوُلَمْعَت مِب ٌيِب َخ َللها َّنِإ َللها اوُقَّتا َو

“Hai orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hen- daklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkan- nya untuk hari esok.”

48 | Dr. Khairul Hamim, MA.

Ayat ini menuntun bahkan menuntut orang-orang beriman untuk memiliki visi jauh ke depan, bukan hanya terbatas pada kehidupan kini dan di sini saja, tetapi juga untuk hari esok dan di akhirat kelak.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah

Marilah kita manfaatkan hari, bulan dan tahun ini untuk mempersiapkan diri menuju hari esok yang lebih baik, sebab bila kita tidak menggunakan waktu sebaik-baiknya, maka kerugian akan dialaminya.

Dalam Al-Qur’an Allah swt banyak bersumpah dngan menyebut nama-nama waktu. Itu artinya Allah ingin menarik perhatian kita semua, mengingat keagungan, kemanfaatan dan pengaruhnya bagi manusia. Di antara firman-Nya Surat al- Lail:1-2

* َّلَ َت اذِإ ِراهَّنلا َو * ىشْغَي اذِإ ِلْيَّللا َو

“Demi malam apabila menutupi, dan siang apabila terang benderang’.

Dan firmaNya Surah al-Fajr: 1-2 :

* ٍ ْشَع ٍلايَل َو *ِر ْجَفْلا َو

“Demi fajar dan malam yang sepuluh.

Demikian juga, Surat al-Ashar:1-2

* ٍ ْس ُخ يِفَل َناسْنِ ْلا َّنِإ * ِ ْصَعْلا َو

“Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.”

Kalau Allah swt bersumpah dengan menyebut nama waktu, itu berarti manusia diingatkan oleh Allah agar jangan sampai menyia-nyiakan waktu. Hal ini karena apabila kita tidak menggunakan waktu sebaik-baiknya maka kerugian

Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 49 akan dialaminya baik di dunia maupun di akhirat. Perhatian kita terhadap penggunaan waktu memang sesuatu yang harus kita lakukan secara serius, hal ini mengingat Al-Qur’an dan hadis Rasul memberikan perhatian yang begitu besar. Sejarah menunjukkan bahwa generasi Islam pertama dan seterusnya, begitu memperhatikan penggunaan waktu sehingga sejumlah dampak positif dapat kita rasakan dengan ilmu yang berkembang pesat, prestasi amal saleh yang mengagumkan, perjuangan yang sangat cemerlang, kemenangan yang begitu nyata dalam menghadapi berbagai kekuatan dunia dan peradaban yang sangat kokoh. Kini Islam berada dalam keadaan memperhatikan mengingat sebagin besar kaum muslimin mengabaikan penggunaan waktu secara maksimal untuk hal-hal yang positif.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa. Sesungguhnya waktu akan menghakimi orang yang menggunakannya, saat kita menyia-nyiakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita sia-sia. Saat kita menganggap waktu tidak berharga maka waktu akan menjadikan kita tidak berharga.

Demikian pula saat kita memuliakan waktu maka waktu akan menjadikan kita orang mulia.

Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu. Allah swt menegaskan bahwa orang rugi itu bukan orang yang kehilangan uang, jabatan, atau penghargaan tetapi orang rugi itu adalah orang yang membuang-buang kesempatan untuk beriman, beramal dan saling menasehati.

Menurut Ibnu Athailah ciri pertama orang yang merugi adalah gemar menunda-nunda berbuat kebaikan dan menyebutnya sebagi tanda kebodohan.

Orang yang menunda-nunda kebaikan, sesungguhnya karena:

50 | Dr. Khairul Hamim, MA.

1. Ia tertipu oleh dunia, ia merasa ada hal lain yang lebih berharga dari yang semestinya dilakukan sebagaimana firman Allah S. Al-A’laa: 16-17

* ىقْبَأ َو ٌ ْي َخ ُةَرِخ ْلا َو * ايْن ُّدلا َةايَ ْلا َنو ُرِث ْؤُت ْلَب

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”

2. Tertipu oleh kemalasan. Malas itu penyakit yang sangat berbahaya, orang malas tidak akan pernah meraih kemuliaan di dunia dan akhirat, tidak ada obat paling manjur untuk mengobati kemalasan, selain mendobraknya dengan beramal.

3. Lemah niat dan tekad, sehingga tidak bersungguh-sungguh dalam beramal, salah satunya dengan terus menunda- nunda pekerjaanya. Seorang pujangga bersyair:

ِم ْوَيْلا اَهَلَمْعَت ْنَا ُعْيِطَت ْسَت اَم ِدَغْلا َلِا َكُلَمَع ْر ِّخ َؤُت َل

”janganlah menunda pekerjaanmu sampai besok, apa yang dapat kau kerjakan hari ini.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah

Akhirnya marilah kita memohon pertolongan kepada Allah semoga kita dapat memetik makna dan hikmah pengertian siang dan malam itu untuk meningkatkan amal ibadah kita, dan berharap semoga tahun ini kualitas kehidupan kita baik sebagai pribadi, keluarga maupun masyarakat muslim, menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Amin ya rabbal alamin

ميحرلا نحرلا للها مسب . ميجرلا ناطيشلا نم للهاب ذوعا اوُلِمَع َو اوُنَمآ َنيِذَّلا َّلِإ.ٍ ْس ُخ يِفَل َنا َسْنلا َّنِإ ِ ْصَعْلا َو

ِ ْب َّصلاِب ا ْو َصا َوَت َو ِّقَ ْلاِب اْو َصا َوَت َو ِتاَ ِلا َّصلا

Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 51

َنِم ِهْيِف َمِب ْمُكاَّيِاَو ْيِنْعَفَنَو .ِمْيِظَع ِنَاْرُقْلا ِف ْم ُكَلَو ْ ِل ُللها َكَراَب

ُعْيِم َّسلاَو ُه ُهَّنِا ُهَتَو َلَت ْم ُكْنَمَو ْيِّنِم َلَّبَقَتَو .ِمْيِكَ ْلا ِرْك ِّذلاَو ِةَي َلْا

ِرِئا َسِلَو ْم ُكَلَو ْ ِل ِمْيِظَعْلا َللهاُرِفْغَت ْساَو اَذَه ِلْوَق ُلْوُقَا .مْيِلَعْلا

َو ُه ُهَّنِا ُه ْو ُرِفْغَت ْساَف ُتاَنِمْؤُلا َو َ ْيِنِمْؤُلا َو ُت َمِل ْسُلاَو َ ْيِمِل ْسُلا

. ِمْيِحَّرلا ُروفَغْلا

Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 53

9

Dalam dokumen Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya (Halaman 51-59)