• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengulas Dinamika Politik

Dalam dokumen SUARA KARYA 1971-1974 (Halaman 131-140)

BAB IV ORDE BARU

C. Mengulas Dinamika Politik

Seperti dijelaskan di awal, tujuan dibentuknya Harian Suara Karya memang diperuntukkan untuk menerjemahkan kinerja pemerintah kepada masyarakat selaku pembaca. Selain condong kepada pemerintah, Suara Karya juga condong kepada Golkar sebagai kendaraan Soeharto menuju tahta kekuasaan. Dari latar belakang itu, beberapa tajuk rencana Suara Karya pun tak luput untuk membahas Golkar. Pascapemilu 1971, Suara Karya menuliskan kepercayaan masyarakat terhadap Golkar lewat tulisan berikut.

“Dalam hubungan ini kiranja perlu ditjatat, bahwa Golkar tentunja commited untuk memperdjuangkan kepentingan seluruh rakjat sesuai dengan program djangka pendek maupun djangka pandjang (25 tahun) jang telah berulang kali dikemukakannja. Tapi bukan hanja kepentingan sebagian sadja, atau sebagian mereka jang menganggap dirinja berjasa. Karena seperti dikatakan Presiden Suharto, jang menang dalam pemilu jang lalu adalah rakjat seluruhnja.”246

Menurut Suara Karya, tujuan Golkar adalah menyukseskan pembangunan yang tengah dijalankan oleh pemerintah. Dari pembangunan ini, maka pemerintah sedang menciptakan kehidupan ekonomi dan demokrasi yang sehat. Apabila pembangunan tak sukses, maka pemerintah tak bisa menjamin akan terciptanya perbaikan dan peningkatan kehidupan masyarakat. Dari tujuan inilah, masyarakat memilih Golkar dalam Pemilu 1971 lalu.

246 Kelesuan & Overacting, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 3 September 1971.

Untuk melaksanakan program pembangunan berjangka panjang itu, Golkar selaku pemenang membutuhkan langkah-langkah. Selepas pemilu, Suara Karya menyebut bahwa Golkar tengah melakukan konsolidasi di internal pemerintahan. Menurutnya, Golkar tengan menata kembali organisasi yang nantinya akan disusul dengan pembentukan lembaga pemerintahan (DPD) di beberapa daerah.

Langkah Golkar ini dinilai Suara Karya sebagai langkah politik yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.247

Geliat Golkar selanjutnya kemudian tertuju pada pembentukan Korps Pegawai Negeri (Korpri). Korpri sendiri dibentuk pada 29 November 1971 lewat Keputusan Presiden Nomor 82 Tahun 1971. 248 Pembentukkan Korpri diperuntukkan untuk menghimpun segenap pegawai negeri untuk tidak memosisikan dirinya sebagai partisan politik.

Suara Karya berpandangan, terbentuknya Korpri sendiri dikarenakan agar para pegawai negeri tidak berafiliasi dengan partai politik sekaligus menanamkan ideologi Pancasila yang didengungkan oleh pemerintah saat itu. Deparpolisasi pegawai negeri, lanjutnya, menjadi suatu langkah awal dalam proses permulaan yang dinamakan dengan istilah monoloyalitas.

“Pembinaan monoloyalitas tersebut penting sekali artinya demi terpeliharanja kontinuitas kegiatan administrasi negara jang sekaligus mewujudkan terselenggaranja fungsi pemersatu bangsa (integrative

247 Golkar sebagai Akselerator Pembangunan, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 20 Maret 1972.

248 Petrik Matanasi, Sejarah Korpri dan Cara Soeharto Mempolitisasi Pegawai Negeri,

https://tirto.id/sejarah-korpri-dan-cara-soeharto-mempolitisasi-pegawai-negeri-c97N, (Diakses pada 9 April 2019 pukul 00.44 WIB).

function) dari lembaga administrasi negara tersebut. Tidak boleh tidak monoloyalitas ini mengandung makna lebih landjut sebagai suatu usaha untuk meningkatkan pengabdian pegawai negeri pada tugas dan djabatannya melalui merit system dan career service planning jang dimasa lalu di abaikan.”249

Walaupun dalam kenyataannya, para anggota Korpri ini diwajibkan berafiliasi terhadap Golkar. Semua pegawai negeri diwajibkan untuk memilih Golkar dalam pelaksanaan pemilu mendatang. Apabila pegawai negeri ini tidak patuh, maka mereka diancam akan dimutasi ke daerah terpencil di Indonesia. 250

Tak hanya di dalam instansi pemerintahan, Golkar juga melebarkan sayapnya ke dalam lingkungan masyarakat lewat mengaktifkan kembali program Rembug Desa. Suara Karta menulis, pembentukan kembali Rembug Desa dikarenakan berkaca dari pandangan masa lalu. Saat itu, banyak masyarakat desa yang memiliki kecenderungan terhadap partai-partai politik. Rembug Desa ini diharapkan mampu menyalurkan aspirasi dalam lingkungan pedesaan, membina mastarakat, serta menghayati asas-asa dan tujuan kehidupan bersama pada ruang lingkup nasional.251

“Ini berarti, lebih daripada sekedar menginginkan pengaktipan lembaga rebug-desa itu, jang ditudju adalah membuat lembaga itu kreatif berpartisipasi dalam pembangunan, suatu hal jang sulit untuk

249 Pantjasilaisasi Pegawai Negeri, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 18 April 1972.

250 Petrik Matanasi, Sejarah Korpri dan Cara Soeharto Mempolitisasi Pegawai Negeri, https://tirto.id/sejarah-korpri-dan-cara-soeharto-mempolitisasi- pegawai-negeri-c97N.

251 Demi Kontinuitas Kehidupan Nasional, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 10 April 1972.

ditjapai dalam suatu suasana politisasi oleh organisasi2 politik. Maka adalah sangat kekanak2an, djika ada sementara pihak jang beranggapan bahwa pengaktipan rembug-desa jang menjertai gagasan floating mass jang ditjetuskan Golkar adalah sebagai suatu usaha jang bertjorak politik. Djustru sebaliknja, Golkar menghendaki de-politisasi masjarakat pedesaan dari pola dan tjara berpolitik lama, de-politisasi jang mungkin lebih tepat disebut de-polarisasi masjarakat pedesaan dari ideologi politik golongan.”252

Gagasan Golkar di atas dalam mewacanakan depolitisasi masyarakat, baik itu dalam lingkungan pemerintahan maupun lingkungan sosial masyarakat, dikenal dengan istilah floating mass atau massa mengambang. Konsep massa mengambang yang sudah diperkenalkan pada Pemilu 1971 lalu ini dianggap Suara Karya sebagai gagsaan pembaruan kehidupan politik, terutama tentang masyarakat di wilayah pedesaan. Sebab, 85% penduduk Indonesia menempati wilayah pedesaan.

“Istilah floating mass semakin penting dan berarti lagi setelah diambil alih dan diutjapkan pula oleh beberapa pedjabat pemerintahan, jang dalam hal ini memberikan indikasi jang tjukup kuat, bahwa usaha pembinaan the floating mass itu bukanlah sekedar issue politik belaka, melainkan setjara sadar telah ditetapkan untuk dilaksanakan, -- tentu sadja dengan melalui proses per-undang2an. Terlebih2 setelah masalah pembinaan floating mass tersebut setjara resmi ditjantumkan dalam strategi politik Golkar dalam rapat kerdjanya baru2 ini.”253

252 Pengaktipan Rembug-Desa, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 19 April 1972.

253 Kenapa Floating Mass, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 23 Maret 1972.

Suara Karya menyambut baik gagasan massa mengambang yang dicanangkan Golkar dalam rapat kerjanya tersebut. Menurutnya, konsep ini sangat diperlukan lantaran masyarakat harus fokus kepada strategi pembangunan yang dijalankan pemerintah. Masyarakat, terutama di wilayah pedesaan, harus dijauhkan dari sikap-sikap simpati partai politik agar terhindar dari konflik ideologis seperti di masa pemerintahan Soekarno. Dari gagasan ini, masyarakat tidak lagi dijadikan target utama sasaran partai politik demi memperkokoh kekuasaan.

Kebijakan politik lain yang disoroti Suara Karya lainnya yakni tentang fusi partai. Seperti dijelaskan di bab sebelumnya, fusi partai adalah suatu peleburan berbagai partai yang kemudian disatukan ke dalam satu partai. Peleburan partai ini terdiri dari dua kelompok, yakni kelompok agamis (PPP) dan kelompok nasionalis (PDI). Hanya Golkar saja yang kebagian jatah dalam konsep fusi partai tersebut. Dalam kebijakan ini, Suara Karya mendukung apa yang sudah dicanangkan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud tersebut. Menurutnya, kebijakan ini sudah sesuai dengan pelaksanaan Ketetapan MPRS No.

XXII/1966 yang menuntut adanya penyederhanaan partai agar keadaan politik menjadi lebih stabil.254 Namun, Suara Karya juga menambahkan bahwa kebijakan fusi partai ini belm tentu dengan sendirinya menciptakan iklim politik yang sehat.

“Untuk itu agaknya diperlakukan adanya kondisi kompetitif dalam bidang program, yang selain akan merupakan proses pengalihan orientasi yang bersifat edukatif, juga memungkinkan dihasilkannya program2 yang lebih teruji dengan spectrum yang lebih luas dipandang dari pelbagai segi. Sudah tentu kompetisi program ini jangan sampai

254 Tentang Fusi Partai, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 5 April 1972.

mengganggupenentuan prioritas, tapi justru disatu pihak hendaknya dapat memperkuat penentuan prioritas itu, sedangkan dilain pihak lebih menggairahkan partisipasi masyarakat dalam melaksanakan pembangunan sesuai dengan prioritas yang telah ditetapkan bersama.”255

Unsur elemen pemerintahan yang disorot Suara Karya adalah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). ABRI sendiri termasuk ke dalam bagian pemerintahan Soeharto. Ini dikarenakan adanya hak berpolitik dalam ABRI yang dikenal dengan nama Dwifungsi ABRI. Seperti dijelaskan bab sebelumnya, gagasan Dwifungsi ABRI dicetuskan oleh Abdul Haris Nasution pada 18 November 1958 di Akademi Militer Nasional. Gagasan Nasution ditujukan agar militer mampu mengendalikan situasi keamanan yang lewat lembaga politik, birokrasi politik, partai politik, hingga organisasi non politik, terutama untuk melawan PKI yang saat itu menjadi musuh bersama pihak militer. 256

Dalam memandang dwifungsi, Suara Karya berpendapat bahwa kebijakan ini menjadi salah satu yang terpenting dalam masa pemerintahan Soeharto. Berkaca dari masa lalu, Suara Karya menuliskan bahwa ABRI menjadi unsur penting dalam menjaga kehidupan aman, damai, adil, bahagia, dan sejahtera. Dwifungsi ABRI menjadi kekuatan sosial dalam menjaga stabilitas politik, entah di masa kemerdekaan maupun di masa pemerintahan Soekarno. Dalam hal ini,

255 Lahirnya Partai Persatuan Pembangunan, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 8 Januari 1973.

256 Peter Kasenda, Soeharto: Bagaimana Ia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun?, 6-8.

Dwifungsi ABRI merupakan manifestasi dari keatuan batin, kebulatan tekad, keinginan, dan kemampuan untuk berjuang membentengi Republik Indonesia.257

“Kita saksikan ABRI dengan sadar, telah dan sedang membina terus landasan yang stabil bagi pembangunan, dan mendorong maju pembangunan itu dengan tidak lupa menyerakan sektor2 pembangunan kepada ahli2 yang bersangkutan. Seluruh perhatian Bangsa didorongnya dan diarahkannya kepada pembangunan.”258

Peranan ABRI dalam dwifungsi tak terlepas dari pertentangan ideologi yang terjadi di masa Soekarno. Saat itu, terjadi pertempuran horizontal di masyarakat lewat pedebatan ideologis. Di zaman Orde Baru, satu-satunya ideologi yang masih membekas dan masih dijadikan perbincangan adalah pengaruh Komunis yang diinisiasi oleh PKI.

Terlebih, masa transisi dari Soekarno ke Soeharto diawali dengan peristiwa G30S. Dari peristiwa ini, Soeharto menyuarakan bahwa di masa jabatannya masih ada sisa-sisa dari simpatisan PKI dan para pelaku G30S.

Hal itu turut pula diamini oleh Suara Karya. Media ini berkali- kali menyuarakan bahwa masyarakat harus selalu waspada dengan gejala kebangkitan PKI, baik yang menginisiasi G30S maupun simpatisannya.

Menurutnya, Kaum Komunis bukanlah Komunis apabila mereka mundur hanya karena kegagalan seperti yang dilakukan ketika adanya peristiwa G30S. Kaum Komunis akan selalu mencari peluang untuk

257 Perlu Penilaian Berdjangkauan Djauh, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 8 Oktober 1971.

258 Hari Sumpah Pemuda, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 28 Oktober 1972.

menciptakan perjuangan baru dan akan terus menerus hingga mereka berhasil. 259

“Sesuai dengan cara kerja sisa2 PKI ini agaknya perlu pula diambil langkah2 yang lebih intensif untuk mengurangi gejala2 yang isa berkembang menjadi kontradiksi sosial itu. Misalnya gejala2 di mana dirasakan jurang antara mereka yang masih hidup miskin cenderung membesar. Gejala yang menunjukkan bahwa generasi muda semakin tidak mempunya pegangan menghadapi hari depannya, pengusaha2 ekonomi lemah yang merasa semakin terpojok, peranan modal asing yang dirasakan cenderung melebihi proporsi sebagai pelengkap, dan sebagainya.”260

Cara lain untuk menangkal ideologi Komunis yakni dengan menanamkan ideologi yang sering diserukan Soeharto, Pancasila.

Pancasila sendiri, menurut Suara Karya, merupakan prinsip yang sudah tertanam dalam masyarakat Indonesia sejak kemerdekaan. Media ini mengatakan, Pancasila sejak dulu menjadi sebuah ideologi sakti yang tak bisa dilawan oleh Komunis. Sejak dulu, kaum Komunis selalu gagal dalam menanamkan ideologinya, mulai dari peristiwa Madiun, Sidang Konstituante 1956, hingga G30S. Kehancuran Komunis pada 1 Oktober 1965 pun dinamakan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. 261

“Dibawah panji2 Pancasila, semua kekuatan yang anti G30S bersatu dengan melupakan perbedaan2 yang ada di antara mereka sendiri. Daya pemersatu yang berhasil menyatukan pelbagi kekuatan yang anti G30S

259 Djauhkan Sikap Konfrontatif, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 27 Desember 1971.

260 Menghadapi Sisa2 G30S/PKI, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 29 November 1973.

261 Hari Kesaktian Pantjasila, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 1 Oktober 1971.

inilah yang dinamakan “kesaktian” yang hari ini kita peringati kembali.

Kesaktian dalam arti bahwa pengalaman2 cukup teruji yang kita lalui membuktikan, bahwa Pancasila yang dapat menampung semua aspirasi yang hidup dalam masyarakat Indonesia itu, merupakan satu2nya ideologi yang sampai demikian jauh mampu mempersatukan semua kekuatan dan golongan yang ada dalam masyarakat.”262

Dari ideologi Pancasila ini, Suara Karya menganggap bahwa sampai di mana penerapan ideologi ini yang menampung semua aspirasi masyarakat. Cita-cita masyarakat Indonesia sendiri sudah tertampung dalam sila ke lima, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari sana, Suara Karya meyakini bahwa ideologi Pancasila tak akan terganti dengan ideologi lain. Tinggal masyarakatnya saja yang betul- betul menerapkan sesuai dengan yang tertanam dalam lima sila tersebut.263

Dalam menyikapi dinamika politik Orde Baru, Suara Karya menyatakan bahwa kehidupan politik ideal adalah terciptanya stabilitas politik. Dari kehidupan politik yang stabil inilah, maka pembangunan yang dijalankan pemerintahan akan bisa terwujud. Terlebih, pemerintah juga harus menerapkan prinsip dalam tata cara kehidupan di masyarakat, seperti pembaruan budi pekerti, moral, serta menciptakan tanggung jawab demi melaksanakan program-program nasional. Dari sana, maka

262 Hari Kesaktian Pancasila, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 1 Oktober 1973.

263 Hari Kesaktian Pancasila, Tajuk Rencana, Suara Karya edisi 1 Oktober 1973.

rakyat akan turut berpartisipasi dan berkontribusi dalam pelaksanaan pembangunan yang sesuai dengan kepentingan rakyat itu sendiri.264

“Akhirnya ingin kita tegaskan di sini bahwa jangalah hendaknya kita mempunyai ilusi yang bukan-bukan, karena kemantapan Pimpinan Nasional tidak boleh diragukan. Jalan masih panjang bagi kita untuk membawa kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan bagi rakyat.

Kemantapan dalam Pimpinan Nasional dan kemantapan dalam kehidupan politik adalah prasyarat bagi berhasilnya pembangunan untuk membina hari esok yang lebih cerah dan berguna bagi masyarakat kita. marilah kita buka tahun baru ini dengan menghabskan isyu2 yang jahat dan kejam dan mengkonsentrasikan pikiran kita pada penyempurnaan Pelita Kedua.”265

Dalam dokumen SUARA KARYA 1971-1974 (Halaman 131-140)