• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan Mutu Pendidikan a. Pengertian Mutu Pendidikan

Dalam dokumen prinsip-prinsip manajemen pembiayaan (Halaman 99-131)

belum dapat maksimal dan tujuan yang dicapaipun belum dapat tercapai secara efisien.100

B. Meningkatkan Mutu Pendidikan

dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.101

Menurut Suryadi dan Tilaar, indikator pendidikan yang bermutu adalah sebagai berikut:

a) Faktor input yang meliputi:

1) Besar kecilnya sekolah 2) Faktor guru yang berkualitas 3) Faktor buku pelajaran

1) Faktor situasi belajar yang kondusif 2) Kurikulum

3) Manajemen sekolah yang efektif b) Faktor output yang meliputi:

1) Partisipasi sekolah (dalam prestasi) 2) Efisiensi internal proses belajar 3) Prestasi belajar kognitif

4) Prestasi belajar efektif102

Dari deskripsi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan adalah derajat keunggulan dalam pengelolaan pendidikan secara efektif dan efisien untuk melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakulikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus dalam jenjang pendidikan atau

101 Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) 2003 Beserta Penjelasanya.Bandung: Fokus Media.Hlm7

102 Ace Suryadi dan Tilaar.1993. Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar.Bandung:

Remaja Rosdakarya.Hlm 108

menyelesaikan program pembelajaran tertentu. Dilihat dari definisi tersebut, mutu pendidikan bukanlah upaya sederhana, melainkan suatu kegiatan dinamis dan penuh tantangan.

Pendidikan akan terus berubah seiring dengan perubahan jaman yang melingkarinya, sebab pendidikan merupakan buah dari jaman itu sendiri.Oleh karena itu, pendidikan senantiasa memerlukan upaya perbaikan dan peningkatan mutu sejalan dengan semakin tingginya kebutuhan dan tuntutan kehidupan masyarakat.

Kata “mutu” dalam pendidikan mengaku pada masukan, proses dan dampaknya. Mutu dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, kondisi baik atau tidaknya masukan sumber daya manusia, seperti kepala sekolah, laboratoruim, staf tata usaha dan siswa. Kedua memenuhi atau tidaknya kriteria masukan material beripa alat peraga, buku, kurikulum, sarana dan prasarana madrasah.Ketiga, memenuhi apa tidaknya kriteris masukan yang berupa peragkat lunak, seperti peraturan, struktur organisasi, deskripsi kerja dan struktur kerja, mutu masukan yang bersifat harapan dan kebutuhan seperti visi, motivasi, ketekunan dan cita-cita.103

Secara etimologis, mutu adalah derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa

103 Sudarman Danim,2006, Visi Baru Manajemen Sekolah,Jakarta: PT Bumi Aksara,53.

barang maupun jasa, baik yang tangible maupun yang intangible. Menurut Juran (1962) mutu adalah kesesuaiaan dengan tujuan atau manfaatnya, Crosby (1979) berpendapat bahwa mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan yang meliputi availability, deliveri, reability, maintainability, dan cost effectiveness.Sementara itu, deming (1982) menyatakan bahwa mutu harus bertujuan memenuhi kebutuhan siswa sekarang dan dimasa yang akan dating. Menurut Elliot (1992) kualitas/ mutu adalah sesuatu yang berbeda untuk orang yang berbeda untuk orang yang berbeda untuk dan tergantung pada waktu dan tempat, atau dikatakan sesuai dengan tujuan.104 Secara umum mutu adalah gambaran atau karakteristik

menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuanya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan.

Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mancakup input, proses dan output pendidikan.105

Pengertian mutu memiliki variasi sebagaimana didefinisikan oleh masing-masing orang atau pihak produsen ( penyedia barang/ jasa) atau konsumen (penguna/ pemakai barang/ jasa) akan memiliki devinisi yang berbeda mengenai mutu barang/jasa. Perbedaan ini mengacu pada orientasi masing-masing pihak mengenai barang/jasa yang menjadi

104 Rusman,2009. Manajemen Kurikulum. Jakarta:PT Raja GrafindoPersada, Hlm 554.

105 Umeidi.2001 Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah ( Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah).hlm 25.

obyeknya. Satu kata yang menjadi benang merah dalam konsep mutu baik menurut konsumen maupun produsen adalah kepuasan. Barang / jasa yang dikatakan bermutu adalah yang dapat memberikan kepuasan baik bagi pelanggan maupun produsenya.106

Tokoh yang terkenal dengan sebutan sebagai “ bapak mutu” adalah Deming. Pada tahun 1930an, deming bekerjasama dengan ahli statistic Dellephone laboratoris, welter A. Swehart, mengembangkan teknis control statistic yang dapat diterapkan dalam prose manajemen.Deming mengakui bahwa proses manajemen yang terkontrol secara statistik membantu manajer secara sistematis menentukan waktu yang tepat untuk campur tangan, sekaligus menentukan waktu yang tepat serta membiarkan proses berjalan. Selama perang dunia II, deming berkesempatan menunjukkan kepada pemerintah ,bagaimana control mutu secara statistik. Serwhart dapat diajarkan kepada para pekerja dan menjalankanya dalam praktek di pabrik perlengkapan perang.

Filosofis Deming cenderung menempatkan mutu dalam artian yang sangat manusiawi. Ketika pekerja sebuah perusahaan berkomitmen pada pekerjaan untuk dilaksanakan dengan baik dan memiliki proses manajerial yang kuat untuk

106 Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Islam,2012.Manajemen Pendidikan, Bandung: Alvabeta 293.

bertindak, maka mutu pun akan mengalir dengan sendirinya.

Deming mendefinisikan secara praktis mutu adalah sebuah derajat variasi yang terduga standar yang digunakan dan memiliki kebergantungan pada biaya yang rendah.Inti metode logis pendekatan manajemen mutu Deming adalah menggunakan teknik statistic sederhana pada output program perbaikan yang berkelanjutan. Hanya melalui verivikasi statistik manajer dapat mengetahui bahwa dia menghadapi masalah dan mencari akar permasalahanya.

Beberapa prinsip pokok dari Deming yang dapat diterapkan dalam pendidikan adalah:

a. Anggota dewan sekolah dan administrasi harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai

a. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa, bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwa terjadi.

b. Asal diterapkan secara ketat, penggunaan metode kontrol statistik dapat membentuk outcomes siswa dan administratif.107

Deming melihat bahwa masalah mutu terletak pada masalah manajemen. Masalah utama dalam dunia industri adalah kegagalan manajemen senior dalam menyusun perencanaan kedepan. Biasanya, perencanaan tersebut bukan

107 Arcaro, Jerome S. 2006. Pendidikan Berbasis Mutu, Prinsip-Prinsip Dan Tata Langkah Penerapan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

merupakan serangkaian langkah untuk menerapkan mutu, tetapi lebih merupakan desakan serius terhadap desakan manajemen tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan agar organisasi berhasil dengan baik. Empat belas poin penting Deming dalam Nanang Fattah,(2006,342), yang termashur tentang mutu dan seruan terhadap manajemen untuk merubah pendekatanya yaitu:108

a. Ciptakan sebuah usaha peningkatan produk dan jasa, dengan tujuan agar bisa kompetitif dan tetap berjalan serta menyediakan lowongan pekerjaan. Menurutnya sebuah instansi / organisasi harus memiliki rencana jangka panjang yang didasarkan pada visi masa depan dan inovasi baru.

Mereka harus terus menerus berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan mereka.

b. Adopsi falsafah baru.Sebuah organisasi tidak akan mampu bersaing jika terus menerus penundaan waktu, kesalahan, bahan-bahan cacat dan produk yang jelek. Mereka harus membuat perubahan dan mengadopsi metode kerja yang baru.

c. Hindari ketergantungan pada inspeksi massa untuk mencapai mutu. Inspeksi tidak akan meningkat atau menjamin mutu.

Deming berpendapat bahwa manajemen harus melengkapi

108 Nanang Fattah, Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, (Bandung: PT Rosdakarya,2006),472.

staf-staf mereka dengan pelatihan tentang alat-alat statistik dan teknik-tehnik yang dibutuhkan mereka untuk mengawasi dan mengembangkan mutu.

d. Akhiri praktek menghargai bisnis dengan harga. Menurut deming harga tidak berarti apa-apa tanpa ukuran mutu yang dijual.

e. Tingkatan secara konstan sistem produksi dan jasa, untuk meningkatkan mutu dan produktivitas, dan selanjutnya turunkan biaya secara konstan. Ini merupakan tugas manajemen untuk mengarahkan proses peningkatan dan manajemen bahwa ada proses perbaikan yang berkelanjutan.

f. Lembagakan pelatihan kerja. Pelatihan adalah alat kuat dan tepat untuk perbaikan mutu.

g. Lembagakan kepemimpinan. Deming mengatakan bahwa kerja manajemen bukanlah mengawasi melainkan memimpin.

h. Hilangkan rasa takut, agar setiap orang dapat bekerja secara efektif. Keamanan adalah basis motivasi yang dibutuhkan pegawai. Deming yakin bahwa setiap orang ingin melakukan kerja dengan baik asalkan mereka bekerja dalam lingkungan yang mampu mendorong semangat mereka.

i. Uraikan kendala-kendala antar departemen, agar dapat bekerja sama.

j. Hapuskan slogan, desakan target, serta tingkatan produktivitas tanpa menambah beban kerja.

k. Hapuskan standar kerja yang menggunakan quota numerik.

Mutu tidak dapat diukur dengan hanya mengkonsentrasikan pada hasil proses. Bekerja untuk mengejar quota numerik sering menyebabkan terjadinya pemotongan dan penyusutan mutu.

l. Hilangkan kendala-kendala yang merampas kebanggaan karyawan atas keahlianya.

m. Lembagakan aneka program pendidikan yang meningkatkan semangat dan peningkatan kualitas kerja. Semakin tahu, orang akan semakin giat bekerja. Staf yang berpendidikan baik adalah mereka yang memiliki semangat untuk meningkatkan mutu.

n. Tempatkan setiap orang dalam tim kerja agar dapat melakukan tranformasi. Transformasi menuju sebuah kultur mutu adalah tugas setiap orang. Ia juga tugas terpenting dari manajemen.109

Sedangkan kegagalan mutu menurut Deming dalam Fasli Jalal, (2011,43) dibedakan pada “khusus dan umum”.

Sebab-sebab umum yaitu rendahnya mutu pendidikan bisa disebabkan oleh beberapa sumber yang mencakup desain

109 Fasli Jalal dan Dedi Supriadi, Managemen Berbasis Sekolah, Bandung: PT Grafika Offset 2011, 342.

kurikulum yang lemah, bangunan yang tidak memenuhi syarat, lingkungan kerja yang buruk, system dan prosedur yang tidak sesuai, jadwal kerja yang serampangan, sumber daya yang kurang, dan pengembangan staf yang tidak memadai. Di sisi lain sebab-sebab khusus kegagalan, sering diakibatkan oleh prosedur dan aturan yang tidak diikuti, meskipun kegagalan tersebut mungkin juga diakibatkan oleh kegagalan komunikasi atau kesalah-pahaman. Kegagalan tersebut bisa juga disebabkan oleh anggota individu staf yang tidak memiliki skill, pengetahuan dan sifat yang ditumbuhkan untuk menjadi seorang guru atau manajer pendidikan.

Juran pun diakui sebagai salah seorang “ bapak mutu”.

Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Seperti halnya Deming, Juran adalah ahli statistik terpandang. Juran menyebut mutu sebagai “ tempat untuk pakai” dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah “ mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat”. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa “ tepat untuk pakai” lebih tepat ditentukan oleh pemakai bukan oleh pemberi. Pandangan juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Titik fokus filosofi

manajemen mutu adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukanya untuk menjalankan pekerjaan yang tepat, para pekerja akan membuat produk dan jasa secara konsisten sesuai dengan harpan kostumer.

Beberapa pandangan Juran dalam Mulyasa (2011,144) tentang mutu adalah:

a. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir b. Perbaikan mutu merupakan proses yang berkesinambungan,

bukan program sekali jalan

c. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator

d. Pelatihan massal merupakan prasyarat mutu.

e. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan.

Selain Deming dan Juran yang terkenal sebagai tokoh dari mutu nama Philip Crosby selalu diasosiasikan dua ide yang sangat menarik dan sangat kuat dalam mutu.Yang pertama adalah ide bahwa mutu itu gratis.Yang kedua ide bahwa kesalahan, kegagalan, pemborosan dan penundaan waktu serta semua hal yang tidak bermutu lainnya bisa dihilangkan jika institusi memiliki kemauan untuk itu. Ini adalah gagsan tanpa cacat (zero defects).

Langkah pertama yang mendasar dalam sebuah program mutu, menurut Crosby dalam Mulyasa,(2013,473) meliputi:

a. Komitmen manajemen (management commitment)

b. Membangun Tim Peningkatan mutu (quality improvement team)

c. Mengukur biaya mutu ( quality measurement) d. Mengukur biaya mutu (the cost of quality)

e. Membangun kesadaran mutu ( quality awareness) f. Kegiatan perbaikan (corrective action)

g. Perencanaan tanpa cacat ( zero defects planning)

h. Menekankan perlunya pelatihan pengawasan (supervisor training)

i. Menyelenggarakan hari tanpa cacat (zero defect day) j. Penyusunan tujuan (goal setting)

k. Penghapusan sebab kesalahan (eror-cause removal) l. Pengakuan (recognition)

m. Mendirikan dewan-dewan mutu (quality council) n. Lakukan lagi (do it over again).110

Bila ajaran Deming, Juran dan Crosby sudah begitu diakrabi. Hendaknya begitu jugalah dengan keinginan mereka.

Banyak pemikiran mereka yang diterapkan dan diadaptasi oleh

110 Sallis, Manajemen Mutu Terpadu,(2001), 112-118.

berbagai organisasi di Amerika. Inti pemikiran tokoh-tokoh mutu tersebut adalah bahwa membangun mutu sebagai prinsip dasar bagi pendidikan sekolah, strategi dan filosofinya sama seperti yang terbukti sudah berhasil dijalankan dalam bidang lain termasuk dalam bidang pendidikan.111

Sekarang ini mutu menjadi satu-satunya hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan, bisnis dan pemerintahan. Bila mutu pendidikan hendak diperbaiki, maka perlu ada pimpinan dari para professional pendidikan.

Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para professional pendidikan dapat beradaptasi dengan “Perubahan”

yang memukul sistim pendidikan bangsa.

Sagala, mengemukakan bahwa mutu berkenaan dengan penilaiyan bagaimana suatu produk, memenuhi criteria, standar/ rujukan tertentu. Dalam dunia pendidikan, standar ini menurut depdiknas dapat dirumuskan melalui hasil belajar mata pelajaran skolastik yang dapat diukur secara kuantitatif, dan pengamatan yang bersifat kualitatif, khususnya untuk bidang pendidikan sosial.112 Rumusan mutu pendidikan bersifat dinamis dan dapat ditelaah dari berbagai sudut pandang. Kesepakatan tentang konsep mutu dikembalikan pada

111 Arcaro,Jerome S. 2006. Pedidikan Berbasis Mutu, Prinsip-Prinsip Dan Tata Langkah Penerapan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar),69.

112 Depdiknas, Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan berbais sekolah,Jakarta: 2

rumusan acuan / rujukan yang ada seperti kebijakan pendidikan proses/ belajar mengajar, kurikulum, sarana dan prasarana, fasilitas pembelajaran dan tenaga kependidikan, sesuai dengan kesepakatan pihak-pihak yang berkepentingan.

Mutu dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang memuaskan dan melampaui keinginan dan kebutuhan pelanggan.113Mutu dalam konteks pendidikan adalah mengacu pada masukan (in-put), pross, hasil (out-put) dan (out-come) nya. Mutu (in-put) dapat dilihat dari beberapa sisi, yaitu: 1) Pertama, kondisi baik atau tidaknya SDM (in-put) nya. 2) Kedua, memenuhi / tidaknya kriteria masukan yang berupa perangkat lunak, misalnya: peraturan, struktur organisasi, job description-nya dan lain-lain. 3)Ketiga, memenuhi/ tidaknya kriteria masukan yang berupa harapan dan kebutuhan, seperti visi, misi, dan cita-cita.114

Sedangkan, hal-hal yang termasuk dalam mutu proses pembelajaran adalah derajat kesehatan, keamanan, disiplin, keakraban, saling menghormati, kepuasan dan lain-lain dari subyek selama memberikan dan menerimam jasa dan pelayanan. Mutu pendidikan harus diupayakan untuk mencapai kemajuan yang dilandasi oleh suatu perubahan terencana.Peningkatan mutu pendidikan diperoleh melalui 2

113 Edward Sallis,Total Quality Management in Education: Manajemen Mutu Pendidikan, Terjemahan Ahmad Ali Riyadi dan Fakhrurrozi ( Jogjakarta: IRCiSOD, 2006),56.

114 Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah, Jakarta: PT Bumi Aksara,2007),53.

strategi, yaitu peningkatan mutu pendidikan yang berorientasi akademis untuk memberi dasar minimal dalam perjalanan yang harus ditempuh mencapai mutu pendidikan yang dipersyaratkan oleh tuntutan zaman, dan peningkatan mutu pendidikan yang berorientasi.Pada keterampilan hidup yang esensial yang di cakupi oleh pendidikan yang berlandasan luas, nyata dan bermakna.Dalam kaitanya dengan strategi yang akan ditempuh.Peningkatan mutu pendidikan sangat terkait dengan relevansi pendidikan dan penilaiyan berdasarkan kondisi, actual mutu pendidikan tersebut.115

Mutu pendidikan tidak saja ditentukan oleh sekolah sebagai lembaga pengajaran, tetapi juga disesuaikan dengan apa yang menjadi pandangan dan harapan masyarakat yang cenderung selalu berkembang seiring dengan kemajuan zaman.

Bertitik tolak pada kecenderungan ini penelitian masyarakat tentang mutu lulusan sekolah pun terus menerus berkembang, karena itu sekolah harus terus menerus, meningkatkn mutu lulusannya dengan menyesuaikan dengan perkembangan tuntutan masyarakat menuju pada mutu pendidikan yang dilandasi tolok ukur norma ideal. Mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh jasa pelayanan pendidikan secara internal maupun eksternal yang menunjukkan kemampuanya,

115 Mulyasa, Managemen dan Kepemimpinan Kepala Madrasah (Jakarta: Bumi Aksara ,2013) 423.

memuaskan kebutuhan yang diharapkan/ yang tersirat mencakup input, proses, output.116

Sekolah dapat dikatakan bermutu menurut Saiful Sagala, apabila prestasi sekolah, khususnya peserta didik secara internal / maupun eksternal yang menunjukkan pencapaian yang tinggi diantaranya dalam;

1) Prestasi akademik yaitu nilai rapor dan nilai kelulusan memenuhi standar yang ditentukan.

2) Memiliki nilai-nilai kejujuran, ketaqwaan, kesopanan dan mampu mengapresiasi nilai-nilai budaya.

3) Memiliki tanggung jawab yang tinggi dan kemampuan yang diwujudkan dalam bentuk keterampilan sesuai dengan standar ilmu yang diterima di sekolah.117

Lembaga pendidikan / sekolah dikatakan bermutu, apabila telah memenuhi lingkup standar Nasional pendidikan, meliputi:

Standar isi, Standar proses, Standar kompetensi lulusan, Standar pendidik dan tenaga kependidikan, Standar sarana dan prasarana, Standar pengelolaan, Standar pembiayaan, dan Standar penilaiyan pendidikan.118 Mutu pendidikan adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efesien terhadap

116 Ishana Hanifa, Himpunan Lengkap Undang-Undang System Pendidikan Nasional,( Jogjakarta:

Saufa,2014),93.

117 Saiful Sagala, Managemen Starategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, (Bandung:

Alfabeta,2009)174.

118 Ishana Hanifa, Himpunan Lengkap Undang-Undang System Pendidikan Nasional, (Jogjakarta:

Saufa,2014),93.

komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/ standar yang berlaku.119

Sekolah yang bermutu adalah sekolah sekolah yang memiliki 5 pilar mutu yaitu; 1) fokus kepada customer, 2) keterlibatan total, 3) pengukuran, 4) komitmen, 5) perbaikan bekerlanjutan. Pilar mutu tersebut memberikan focus dan arahan yang diperlukan para staf untuk mengukur dan mendokumentasikan nilai tambah prakarsa mutu untuk siswa dan masyarakat.Fokus tidak dapat dibatasi hanya pada salah satu pilar.Untuk mengembangkan budaya mutu diseluruh wilayah atau sekolah, maka seluruh pilar tersebut harus terpenuhi dengan baik.120

Sedangkan mutu dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang memuaskan dan melampaui keinginan dan kebutuhan pelanggan.121 Selain itu juga mutu berkenaan dengan nilai bagaimana suatu produk memenuhi kriteria, standar, atau rujukan tertentu.122 Penelitipun memahami mutu merupakan sesuatu yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan pelanggan pada suatu produk.

119 Imam Ghojali, Manajemen Mutu Sekolah, Jakarta: IRCiSOD,2010),124.

120 Arcaro, J., Jerome .2007. Pendidikan Berbasis Mutu.Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

121 Edward Sallis.Total Quality Management in Education: Manajemen Mutu Pendidikan, Terj.

Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi (Jogjakarta:IRCiSoD,2006),56.

122 Syaiful Sagala, Manajemen Strategik dalam peningkatan Mutu Pendidikan (Bandung:

Alfabeta,2009),169.

Menurut Edward Sallis memandang manajemen mutu terpadu yaitu TQM is a philosophy of continuous improvement, which can provide any educational institution with a set of practical tools for meeting and exceeding present and future customers needs, wants and expectations.123 Dapat dipahami

TQM adalah sebuah filosofi tentang perbaikan secara terus menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan para pelangganya, saat ini dan untuk masa yang akan datang.124 Manajemen mutu terpadu merupakan metodologi yang dapat membantu para professional pendidikan menjawab tantangan lingkungan masa kini.125

TQM is a practical but strategic approach to running an organization which focuses on the needs of its custumers and clients.126 Manajemen Mutu terpadu adalah sebuah pendekatan praktis, namun strategis, dalam menjalankan roda organisasi yang memfokuskan diri pada kebutuhan pelanggan dan kliennya.127 Dari beberapa pendapat tentang mutu pendidikan yang

dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa mutu itu

123 Edward Sallis, 2010. Total Quality Management in Education (London:Kogan Page Limited, 1993),34.

124 Edward Sallis, 2010. Total Quality Management in Education, terj.Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi (Jogjakarta: IRCisOD,2006,73.

125 Jerome, S.Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip perumusan Dan Tata Langkah Penerapan,terj. Yosal Iriantara (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2006),10.

126 Edward Sallis, Total Quality Management in Education (London:Kogan Page Limited,1993),35.

127 Edward Sallis, Total Quality Management in Education,terj Ahmad Ali Riyadidan Fahrurrozi (Jogjakarta: IRCiSoD,2006),76.

merupakan derajat sesuatu yang dihasilkan dari kegiatan evaluasi atau penilaian para penghasil atau pihak pemakai.Agar derajat mutu sesuai itu dapat ditetapkan, maka atribut-atribut sesuatu beserta standar atau kriteria-kriteria kebermutuannya terlebih dahulu harus ditetapkan.

Madrasah/ sekolah yang bercita-cita untuk menjadi sebuah institusi mutu, maka ia harus berinovasi dan melangkah meraih visi yang terkandung dalam misi mereka. Edward Sallis memberikan perbedaan antara institusi mutu dengan institusi biasa.128

Tabel 2.2

Perbedaan Antara Institusi Mutu dengan Institusi Biasa Diadopsi dari Edward Sallis129

No Institusi Biasa Institusi Umum

1 Fokus kepada kebutuhan internal Fokus kepada kebutuhan pelanggan 2 Fokus kepada deteksi masalah Fokus kepada pemecahan masalah 3 Pendekatan dalam pengembangan

karyawan yang tidak sitematis

Investasi sumber daya

4 Kekurangan visi strategis mutu Memiliki strategi mutu 5 Menyikapi komplain sebagai

gangguan

Menyikapi komplain sebagai peluang untuk belajar

6 Tidak memiliki rencana mutu yang jelas

Mendefinisikan karakteristik mutu pada seluruh area organisasi

7 Peran manajemen dipandang Manajemen senior memimpin mutu

128 Edward Sallis, 2010. Total Quality Management in Education. Alih bahasa oleh Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, Yogyakarta

129 Syaiful Sagala, Managemen Strategik dalam Peingkatan Mutu Pendidikan (Bandung:

Alfabeta,2009),341.

sebagai salah satu bentuk kekangan 8 Hanya melibatkan tim manajemen

dalam masalah apapun

Proses perbaikan mutu melibatkan orang

9 Tidak memiliki fasilitator mutu Memiliki fasilitator mutu yang mendorong kemajuan proses

10 Prosedur dan aturan yang baku adalah hal yang terpenting

Karyawan dianggap memiliki peluang untuk menciptakan mutu kreatiitas adalah hal yang terpenting

11 Tidak memiliki aturan dan tanggung jawab yang jelas

Memiliki aturan dan tanggung jawab yang jelas

12 Tidak memiliki strategi evaluasi yang sistematis

Memiliki strategi evaluasi yang jelas

13 Melihat mutu sebagai sebuah cara untuk menghemat biaya

Melihat mutu sebagai sebuah cara untuk meningkatkan kepuasan pelanggan

14 Rencana jangka pendek Rencana jangka panjang 15 Memandang mutu sebagai inisiatif

yang mengganggu

Mutu dipandang sebagai bagian dari budaya

16 Memeriksa mutu dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan agen eksternal

Meningkatkan mutu berada dalam garis strategis imperatifnya sendiri.

17 Tidak memiliki misi khusus Memiliki misi khusus

18 Memiliki budaya hirarkis Memerlukan kolega sebagai pelanggan

Berdasarkan deskripsi dari beberapa pakar, mengenai mutu pendidikan dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan adalah derajat keunggulan dalam pengelolaan pendidikan secara efektif dan efisien untuk melahirkan keunggulan akademis dan

Dalam dokumen prinsip-prinsip manajemen pembiayaan (Halaman 99-131)