Kota
Non Miskin
Miskin
-2.53
Pertanian Non - Tani -0.80
+9.88
-0.03 Desa
Tani Non - Tani
Non miskin Miskin -4.67 -4.09 +0.38 +1.86
Akan tetapi, urbanisasi adalah penyebab utama perubahan ini, bukan migrasi. Akan tetapi, urbanisasi adalah penyebab utama perubahan ini, bukan migrasi.Akan tetapi, urbanisasi adalah penyebab utama perubahan ini, bukan migrasi.
Akan tetapi, urbanisasi adalah penyebab utama perubahan ini, bukan migrasi.Akan tetapi, urbanisasi adalah penyebab utama perubahan ini, bukan migrasi. Data resmi yang dipublikasikan oleh Susenas menceritakan kisah tentang proses urbanisasi yang berlangsung cepat dan berhasil, yang tampaknya dipicu oleh terjadinya migrasi dari daerah pedesaan, baik dari rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian maupun rumah tangga yang bekerja di sektor nonpertanian di daerah pedesaan. Namun demikian, rumah tangga pedesaan dalam jumlah yang besar berubah menjadi rumah tangga perkotaan tanpa mengalami perubahan lokasi. Ini disebabkan definisi ‘perkotaan’ didasarkan atas ciri-ciri desa yang dapat berubah sepanjang waktu—kepadatan penduduk, angka kemakmuran, dan porsi pendapatan dari sektor pertanian. Karena itu, desa-desa yang ada di wilayah pinggiran perkotaan dapat berubah menjadi daerah perkotaan. Perkiraan yang terbaik adalah 10 persen desa-desa di daerah pedesaan pada tahun 1993 telah digolongkan ulang sebagai daerah perkotaan pada tahun 2002. Gambar 4.4 menunjukkan bahwa penggolongan ulang ini membuat perbedaan yang cukup besar dalam mengartikan pentingnya jalan keluar dari kemiskinan yang berbeda- beda. Tani Non Miskin Miskin -2.41 -1.55
Pertanian Non - tani
-0.91 Non -tani Desa Kota +6.70 +0.72 -1.55 -0.59 Non Miskin Miskin -0.41
Angka-angka dalam setiap sel mewakili perubahan alokasi persentase angkatan kerja yang bekerja pada periode 1993-2002, dengan memakai data yang diperbaiki untuk penggolongan ulang daerah pedesaan menjadi daerah perkotaan. Karena itu, porsi angkatan kerja yang bekerja di sektor pertanian dengan produktivitas rendah (‘miskin’) turun sebesar 1,55 poin persentase antara 1993 dan 2002, dengan menganggap penggolangan desa tempat tinggal mereka (pedesaan vs. perkotaan) bersifat tetap. Perubahan porsi angkatan kerja yang digolongkan sebagai penduduk perkotaan dan bukan miskin pada kenyataannya turun sebesar 0,91 poin persentase (bukan naik sebesar 9,88 poin persentase seperti ditunjukkan oleh data resmi yang ‘dipublikasikan’), ketika desa yang sebelumnya digolongkan sebagai daerah pedesaan pada 1993 tetap dalam kategori tersebut (meskipun sebgaian dari desa-desa itu telah digolongkan ulang sebagai daerah perkotaan pada tahun 2002).
Catatan: Ukuran tiap segi empat kira-kira setara dengan jumlah pekerja yang bekerja dalam tiap kategori pada tahun 1993. Lihat Tabel 2.3 (dalam Bab 2 tentang Sejarah Pertumbuhan dan Penanggulangan Kemiskinan) untuk angka yang sebenarnya. Ada sekitar 78,5 juta orang yang bekerja pada tahun 1993 dan 86,9 juta orang pada tahun 2002.
Gambar 4.4 Pergerakan menurut jalan keluar dari kemiskinan, 1993-2002, ketika desa-desa tetap digolongakan berdasarkan penggolongan tahun 1993 (data yang ‘diperbaiki’)
Data yang telah digolongkan ulang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor nonpertanian di daerah pedesaan Data yang telah digolongkan ulang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor nonpertanian di daerah pedesaanData yang telah digolongkan ulang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor nonpertanian di daerah pedesaan Data yang telah digolongkan ulang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor nonpertanian di daerah pedesaanData yang telah digolongkan ulang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor nonpertanian di daerah pedesaan telah menjadi jalan keluar yang penting dari kemiskinan.
telah menjadi jalan keluar yang penting dari kemiskinan. telah menjadi jalan keluar yang penting dari kemiskinan.
telah menjadi jalan keluar yang penting dari kemiskinan. telah menjadi jalan keluar yang penting dari kemiskinan. Begitu data resmi yang telah dipublikasikan ‘dikoreksi’ dalam rangka penggolongan ulang daerah pedesaan menjadi daerah perkotaan, kisah tentang urbanisasi yang berlangsung pesat seperti ditunjukkan pada Gambar 4.3 mengasumsikan karakter yang sangat berbeda dan memiliki implikasi-implikasi kebijakan yang agak berbeda. Pada Gambar 4.4 terlihat satu lagi jalan keluar dari kemiskinan, akan tetapi melalui ekonomi nonpertanian di wilayah pedesaan. Memang, dari segi porsi angkatan kerja, daerah perkotaan yang asli mengalami kehilangan sekitar setengah juta pekerja dari empat kategori tersebut. Perbedaan antara jalan pada Gambar 4.3 dan Gambar 4.4 adalah ekonomi nonpertanian di daerah pedesaan yang ‘berhasil’ pada Gambar 4.4 dalam prosesnya berubah menjadi daerah perkotaan.
Namun, keberhasilan usaha-usaha nonpertanian di daerah pedesaan dalam pengurangan kemiskinan tidak terlihat. Namun, keberhasilan usaha-usaha nonpertanian di daerah pedesaan dalam pengurangan kemiskinan tidak terlihat. Namun, keberhasilan usaha-usaha nonpertanian di daerah pedesaan dalam pengurangan kemiskinan tidak terlihat. Namun, keberhasilan usaha-usaha nonpertanian di daerah pedesaan dalam pengurangan kemiskinan tidak terlihat. Namun, keberhasilan usaha-usaha nonpertanian di daerah pedesaan dalam pengurangan kemiskinan tidak terlihat. Tentu saja urbanisasi pesat yang terlihat pada data resmi adalah ‘nyata’ dalam arti bahwa daerah-daerah itu kini adalah daerah perkotaan, meskipun sepuluh tahun sebelumnya adalah daerah pedesaan. Namun demikian, perbedaan signifikan antara Gambar 4.3 dan Gambar 4.4 adalah kesuksesan besar usaha-usaha nonpertanian di daerah pedesaan dalam mengurangi angka kemiskinan menjadi hilang akibat daerah pedesaan tersebut dikategorikan sebagai ‘daerah perkotaan’ sesudah keberhasilan tersebut. Sesungguhnya kesuksesan itulah membuat daerah pedesaan itu kini menjadi daerah perkotaan.
Migrasi dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan juga memainkan peranan, Migrasi dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan juga memainkan peranan, Migrasi dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan juga memainkan peranan, Migrasi dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan juga memainkan peranan,
Migrasi dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan juga memainkan peranan, tetapi relatif kecil. Tabel 4.1 menunjukkan perkiraan migrasi ‘sebenarnya’ yang didapat dari Survei Penduduk antar Sensus (Supas) tahun 1995.72 Hanya 2,8 persen
dari individu-individu yang tinggal di daerah pedesaan pada 1990 bermukim di desa-desa daerah perkotaan (urban villages) pada 1995. Selain itu, 3,6 juta orang yang pindah ke desa-desa daerah perkotaan antara tahun 1990-1995 tersebut digantikan sebagiannya oleh 1,8 juta orang yang pindah dari desa-desa daerah perkotaan ke desa-desa daerah pedesaan (rural villages) pada periode yang sama. Secara keseluruhan, sekitar 5 persen orang yang tinggal di daerah perkotaan pada 1995 pernah tinggal di daerah pedesaan lima tahun sebelumnya. Jadi, meskipun peran migrasi yang ‘sebenarnya’ bukan berarti sama sekali tidak penting, namun peralihan besar porsi lapangan kerja daerah perkotaan seperti dipaparkan di atas menunjukkan bahwa secara keseluruhan urbanisasi (bukan migrasi dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan) menjadi faktor dominan dalam mengubah sifat aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh penduduk, serta peluang-peluang mereka untuk menemukan jalan keluar dari kemiskinan.
72 ‘‘Migrasi ‘nyata’ berarti mereka benar-benar pindah dari desa secara fisik. Survei Supas menanyakan desa tempat tinggal responden lima tahun lalu, sehingga dapat terlihat apakah mereka benar-benar pindah dari
desa atau tidak. Sedangkan Sensus hanya meminta informasi ini pada tingkat kabupaten, sehingga tidak dapat diketahui dari data sensus tersebut apakah mereka telah berpindah dari desa atau tidak.
Tabel 4.1 Migrasi sebenarnya dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan, 1990-1995
1995 1995 1995 1995 1995 Pedesaan PedesaanPedesaan Pedesaan
Pedesaan PerkotaanPerkotaanPerkotaanPerkotaanPerkotaan TTTTTotalotalotalotalotal 1990 Pedesaan Pedesaan Pedesaan Pedesaan Pedesaan 122.037.729 3.570.511 125.608.240
97,16 2,84 100 98.53 5,13 64,91 Perkotaan PerkotaanPerkotaan Perkotaan Perkotaan 1.823.701 66.089.601 67.913.302 2,69 97,31 100 1,47 94,87 35,09
TTTTTotalotalotalotalotal 123.861.430 69.660.112 193.521.542
64 36 100
100 100 100
Sumber: Supas, 1995.
Ada dua kesimpulan dari dinamika ini Ada dua kesimpulan dari dinamika ini Ada dua kesimpulan dari dinamika ini Ada dua kesimpulan dari dinamika ini
Ada dua kesimpulan dari dinamika ini. Pertama, daerah perkotaan perlu dipersiapkan, baik secara politik maupun ekonomi, untuk menyerap ekonomi di daerah-daerah sekitar perkotaan yang sedang tumbuh pesat. Kedua, kendala- kendala atas pertumbuhan usaha non-pertanian di daerah pedesaan yang berhasil tersebut perlu diatasi bagi daerah- daerah yang belum terserap dalam pertumbuhan daerah perkotaan. Dengan kata lain, perbaikan iklim investasi pedesaan adalah penting bagi pengurangan angka kemiskinan, meskipun pada akhirnya usaha-usaha pedesaan itu berubah menjadi usaha-usaha perkotaan. Gambar 4.3 dan Gambar 4.4 menunjukkan jalan-jalan keluar dari kemiskinan yang boleh jadi paling penting (dan secara khusus memperlihatkan peran urbanisasi yang jauh lebih besar daripada yang mungkin diperkirakan sebelumnya), namun gambaran tersebut belum bersifat pasti karena semua angka yang ditampilkan lebih mencerminkan posisi bersih (net position), bukan aliran yang sesungguhnya itu sendiri. Untuk hasil yang lebih pasti mengenai siapa yang sesungguhnya mengalami perpindahan dan ciri-ciri mereka, data panel sangat dibutuhkan, seperti dibahas di bawah ini.