ASPEK SILVIKULTUR
III. STRUKTUR DIAGRAM ALIR MODEL
1. Menu Utama
Tampilan program ini terdapat delapan menu meliputi menu unit usaha karet, unit usaha gaharu, unit usaha bambang, unit usaha kayu bawang, unit usaha jabon, biaya KPH, proyeksi biaya dan pendapatan KPH dan menu analisis finansial KPH (Gambar 9).
Gambar 9. Menu utama program simulasi perencanaan usaha KPH 2. Menu Unit Usaha Karet
Menu ini berisi input data biaya budidaya karet mulai dari harga bibit, biaya pembukaan lahan dan tanam, biaya pemeliharaan, biaya peremajaan, harga karet kering, biaya tebang, dan harga log kayu karet. Pada menu ini terdapat target luasan penanaman karet tiap tahunnya serta besarnya bagi hasil karet bagi masyarakat (Gambar 10). Unit usaha karet sangat cocok dikembangkan pada wilayah yang dekat masyarakat dengan pola kemitraan/bagi hasil dalam rangka mencapai tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
Gambar 10. Menu unit usaha budidaya karet
Pada menu unit usaha karet memberikan informasi produksi karet kering dan informasi biaya serta pendapatan usaha karet yang akan diperoleh oleh KPH sesuai dengan input yang
132
dimasukkan pada menu sebelumnya (Gambar 11). Pada menu ini juga memberikan informasi besarnya bagi hasil pengusahaan karet kepada masyarakat sekitar hutan serta informasi jumlah KK yang dapat terlibat dalam pengelolaan unit usaha karet ini (Gambar 12).
Gambar 11. Menu proyeksi produksi usaha karet kering
Gambar 12. Menu proyeksi biaya dan pendapatan unit usaha karet 3. Menu Unit Usaha Gaharu
Menu ini berisi input data tentang komponen budidaya gaharu yang meliputi harga bibit gaharu, biaya buka lahan dan tanam, biaya pemeliharan, biaya inokulasi, biaya tebang dan carving, biaya peremajaan, harga gubal, harga kemedangan, hasil gubal dan kemedangan pada umur tertentu, prosentase keberhasilan inokulasi serta target luasan penanaman gaharu sesuai dengan kemampuan KPH tiap tahunnya (Gambar 13). Pada menu ini juga terdapat pilihan rencana umur pemanenan gubal gaharu yang akan dilakukan.
133
Gambar 13. Menu unit usaha budidaya gaharu
Pada menu unit usaha gaharu memberikan informasi produksi gubal dan kemedangan sesuai input data yang dilakukan pada menu ini. Gambaran produksi gubal dan kemedangan seperti pada Gambar 14.
Gambar 14. Menu proyeksi produksi hasil usaha gaharu
Menu unit usaha gaharu juga memberikan informasi pekembangan biaya dan pendapatan dari unit usaha ini tiap tahunnya. Proyeksi biaya dan pendapatan usaha gaharu sesuai dengan input data yang ada pada menu Gambar 15.
Gambar 15. Menu proyeksi biaya dan pendapatan unit usaha gaharu
134 4. Menu Usaha Bambang Lanang
Bambang lanang merupakan jenis lokal Sumatera Selatan dan telah banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Pada menu ini berisi input data berkaitan dengan budidaya bambang lanang dari penanaman sampai dengan pemanenan. Pada menu ini terdapat pilihan daur bambang yang dapat diterapkan dalam budidaya bambang lanang (Gambar 16).
Gambar 16. Menu unit usaha budidaya kayu bambang lanang
Pada menu Gambar 17 terdapat informasi karakteristik lahan yang dapat diisi sesuai dengan kondisi lahan yang akan dikembangkan jenis ini. Menu ini memberikan informasi potensi dan volume tebang serta biaya dan pendapatan hasil budidaya bambang sesuai dengan input yang dimasukkan pada menu ini (Gambar 18).
Gambar 17. Menu informasi karakteristik lahan dan potensi produksi
Gambar 18. Menu proyeksi biaya dan pendapatan usaha bambang
135 5. Menu Usaha Kayu Bawang
Kayu bawang merupakan jenis lokal yang ada di wilayah Bengkulu dan telah dikembangkan secara luas oleh masyarakat. Pada menu ini berisi input data dalam budidaya jenis kayu bawang serta pemilihan daur tebang (Gambar 19).
Gambar 19. Menu unit usaha kayu bawang
Pada menu selanjutnya (Gambar 20) memberikan informasi perkembangan potensi dan volume tebang serta informasi biaya dan pendapatan dari unit usaha jenis kayu bawang sesuai dengan input dimasukkan pada menu ini.
Gambar 20. Menu proyeksi produksi, biaya dan pendapatan usaha kayu bawang
136 6. Menu Unit Usaha Jabon
Menu unit usaha jabon (Gambar 21) berisi tentang input yang berkaitan dengan budidaya jabon dari pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan sampai dengan pemanenan serta pemilihan daur tebang.
Gambar 21. Menu unit usaha jabon
Menu unit usaha jabon dapat memberikan informasi potensi kayu hasil budidaya jabon yang akan dikembangkan oleh KPH serta informasi volume kayu yang dapat dipanen sesuai dengan input data pada menu ini. Pada menu ini juga memberikan informasi biaya dan pendapatan dari unit usaha Jabon (Gambar 22).
Gambar 22. Menu proyeksi produksi, biaya dan pendapatan usaha jabon
137 7. Menu biaya KPH
Menu ini berisi informasi biaya KPH diluar biaya budiaya pohon pada menu-menu sebelumnya. Biaya yang dimaksud meliputi biaya operasional kantor, biaya pembangunan infrastruktur, biaya pengadaan kendaraan serta biaya gaji (Gambar 23).
Gambar 23. Menu biaya KPH 8. Menu Biaya dan Pendapatan KPH
Menu ini berisi informasi biaya dan pendapatan KPH sesuai yang di inputkan pada menu-menu sebelumnya baik pada menu unit usaha dan menu biaya KPH (Gambar 24).
Gambar 24. Menu proyeksi biaya dan pendapatan KPH 9. Menu Analisis Finansial KPH
Menu Gambar 25 memberikan informasi analisis finansial KPH berdasarkan unit usaha yang akan dikembangkan serta biaya yang dikeluarkan KPH. Pada menu ini suku bunga untuk mendiskonto biaya dan pendapatan KPH dapat dilakukan perubahan dengan memasukkan input nilai suku bunga pada menu ini.
138
Gambar 25. Menu analisis finansial usaha KPH KESIMPULAN
Program simulasi perencanaan usaha ini merupakan program komputer yang dapat digunakan oleh pengelola KPH dalam merencanakan jenis usaha di wilayah kerjanya. Program ini dapat diaplikasikan dalam memproyeksikan biaya yang dibutuhkan dan pendapatan yang akan diterima oleh KPH. Pada kesempatan kali ini kami menyajikan simulasi usaha budidaya 5 jenis tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Eriyatno. 1999. Ilmu Sistem Maningkatkan Mutu dan Efektifitas Manajemen. IPB Press. Bogor.
Grant, E., K. P. Ellen and S. L. Sandra 1997. Ecology and Natural Resource Management, System Analysis and Simulation. John Willley & Son, Inc. Toronto.
Hartrisari, 2007. Sistem Dinamik: Konsep Sistem Untuk Industri Dan Lingkungan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Law, A.M. andW.D. Kelton. 1991. Simulation Modeling and Analysis. 2nd ed. New York:
McGraw- Hill.
Purnomo, 2005. Teori Sistem Kompleks, Pemodelan dan Simulasi Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Fakultas Kehutanan. Institiut Pertanian Bogor.
Sushil.1993. System Dynamics: A Practical Approach for Managerial Problems. New Delhi:
Willey Eastern Ltd.
Walukow, A. F. 2012. Analisis Kebijakan Penurunan Luas Hutan di Daerah Aliran Sungai Sentani Berwawasan Lingkungan. Jurnal Manusia dan Lingkungan Hidup. Vol. 19, No.1, Maret.
2012: 74- 84.
Widodo L. 2005. Kecenderungan Reklamasi Wilayah Pantai dengan Pendekatan Model Dinamik.
Jurnal Tek. Lingkungan. P3TL-BPPT.6.(1) : 330-338.
139
PENGARUH BAHAN SETEK TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK JABON (Anthocepalus cadamba)
Nurmawati Siregar
Peneliti Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan
ABSTRAK
Jabon (Anthocepalus cadamba) merupakan salah satu jenis penghasil energi terbarukan yang mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan dalam kegiatan pembangunan hutan tanaman.
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan untuk pengembangan jenis-jenis ini adalah ketersediaan bibit bermutu. Bibit bermutu dapat diperoleh dari perbanyakan generatif (biji) dan vegetatif (setek). Penerapan perbanyakan vegetatif dengan cara setek dalam kegiatan produksi bibit dilakukan dalam rangka untuk mendapatkan bibit yang memiliki sifat genetik yang sama dengan tanaman induknya. Teknik perbanyakan vegetatif dengan cara setek adalah teknik yang tidak memerlukan alat khusus, dengan cara yang sederhana dapat diproduksi bibit bermutu dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu serta tidak tergantung musim. Bahan setek merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan setek, oleh karena itu dilakukan penelitian terhadap pengaruh bahan setek terhadap pertumbuhan setek jabon. Bahan setek yang digunakan terdiri dari setek pucuk (tanpa daun) dan setek pucuk (mempunyai daun). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tunas setek mulai tumbuh sekitar 2 - 3 minggu setelah tanam dan akar mulai tumbuh sekitar 3 - 4 minggu setelah tanam.
Persen tumbuh setek pucuk sekitar 90,5% dan setek batang sekitar 83,2% pada umur 3 bulan setelah tanam.
Kata kunci: jabon, setek
I. PENDAHULUAN