• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mercusuar

Dalam dokumen Jejak Pers di Sulawesi Tengah (Halaman 34-41)

BAB III PERKEMBANGAN MEDIA CETAK

A. Mercusuar

Sebagai surat kabar tertua di Sulawesi Tengah yang masih ber- operasi hingga saat ini, Mercusuar (1962-2016) adalah penerbitan pers yang punya sejarah panjang di Sulawesi Tengah. Meskipun da- lam catatan sejarah pers (media cetak) di Sulawesi Tengah, pernah ada Zamroed Paloe dan Penjedar sebagai media yang pernah eksis di tahun 1930-an, namun harian Mercusuar termasuk media langka yang eksistensinya bertahan hingga saat ini. Jurnalis di Palu sering menyebutkannya sebagai Mercusuar adalah media yang utama dan terlama. Bahkan harian ini hadir di saat Sulawesi Tengah sedang di- perjuangkan menjadi sebuah provinsi. Usia yang sudah lebih dari se- tengah abad (54 tahun) untuk ukuran pers lokal di Indonesia adalah sejarah apalagi menghadapi kompetisi media yang sangat beragam dan maju dari segi teknologi.

Berawal dari surat kabar harian Mercusuar yang didirikan 1 September 1962 oleh almarhum Letkol Inf. Rusdy Toana dan dilan- jutkan oleh Tri Putra Toana. Awalnya media ini bernama Suara Rak- yat, di mana almarhum Rusdy Toana adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan berdirinya provinsi Sulawesi Tengah di Jakarta.

Setelah beliau kembali ke Palu dan mendirikan media ini dengan visi

misi sebuah media yang merupakan agent of change serta agen revo- lusi pemikiran bagi rakyat Sulawesi Tengah. Tujuan dari didirikan- nya media ini yaitu sebagai penyambung lidah antara rakyat dengan pemerintah dan juga agar sebagai perjuangan berdirinya Sulawesi Tengah. Rusdy Toana adalah seorang tokoh Muhammadiyah di Su- lawesi Tengah dan apa yang adalah menggunakan media sebagai alat syiar, walaupun juga memang tidak terlepas dengan muatan-muatan politik. Berikut ini adalah gambar pendiri harian Mercusuar, yang juga termasuk sebagai salah seorang perintis berdirinya Universitas Tadulako dan pers lokal di Sulawesi Tengah.

Gambar 3.1 Almarhum Letkol Inf. Hi. Rusdy Toana dan istri (Pendiri Mercusuar)

Peristiwa G 30 S/PKI pada tahun 1965 berdampak pada Su- ara Rakyat yang dianggap condong ke komunis maka pada tahun tersebut Suara Rakyat berganti nama menjadi Mercusuar. Arti dari Mercusuar itu sendiri yaitu “penerang” dan dari nama Mercusuar di- harapkan menjadi media yang dapat menjadi penerang atau cahaya

untuk perubahan revolusi pemikiran dan menjadi pedoman rakyat.

Ia mendirikan Mercusuar hanya sebagai corong perjuangan dan pe- nyambung lidah perjuangan rakyat Sulteng untuk memupuk poten- si.21

Selain itu, berdasarkan informasi dari Tri Putra Toana bahwa sebenarnya namanya Mercusuar itu, biasanya perumpamaannya ada di mimbar mesjid-mesjid Muhammadiyah (logo yang bersinar). Di tiap mimbar ada tulisan Muhammad, dan matahari. Jadi Mercusu- ar jika dilihat sejarahnya hampir di seluruh wilayah Indonesia ada karena ia merupakan corong dari Muhammadiyah. Ada Mercusuar Gorontalo, ada Mercusuar Yogyakarta, artinya, media ini merupa- kan suara misi organisasi itu adalah koran yang namanya Mercusuar, yang tertinggal di Indonesia hanya di Sulawesi Tengah. Kalau di Yog- yakarta tidak mati, tetapi berubah dari Mercusuar menjadi Masa Kini dan diambil oleh Jawa Pos dengan nama Jogja Pos. Suatu ketika, Ba- pak ditanya Amien Rais sebagai Pimpinan Muhammadiyah saat itu bilang “Kalo bisa coba orang Muhammadiyah belajar ke Mercusuar Palu, kok Mercusuar Yogyakarta saja bisa mati”. Tahun 1992 ketika ada Seminar Pers Daerah, dimana disebutkan bahwa 9 (sembilan) provinsi di Indonesia masih dianggap termuda karena indikatornya belum ada koran harian di wilayah tersebut termasuk Sulawesi Te- ngah. Seminar yang diprakarsai oleh LP3ES UI (litbangnya kala itu adalah Thamrin Amal Tomagola dan Didik Rachbini) menyebutkan bahwa ternyata Sulawesi Tengah sudah ada media yang mempunyai gaya (style) liputan tersendiri yakni disebut Jurnalis Menantang, ar- tinya satu peristiwa bisa menjadi tiga berita. Berikut ini adalah tam- pilan harian Mercusuar ketika masih didominasi warna hitam putih dengan desain (lay out) yang masih sangat sederhana.

21 Wawancara dengan narasumber yakni Tri Putra Toana, Pemimpin Perusahaan Mercu- suar yang dilakukan pada tanggal 1 September 2016.

Gambar 3.2 Tampilan

Mercusuar tahun 1991 Gambar 3.3 Tampilan Mercusuar tahun 1997

Sebelum kerjasama dengan Jawa Pos tahun 1993, Mercusuar diambil alih kepemimpinannya tahun 1986 oleh anaknya Tri Putra Toana, kerjasama dengan Jawa Pos masih dalam bentuk mingguan, nanti tahun 1992 berubah menjadi harian dan yang memutuskan untuk mengubah nama Mercusuar menjadi Radar Sulteng adalah Tri Putra Toana. Kerja sama yang dijalin oleh Jawa Pos (yang digagas oleh dahlan Iskan) merupakan niat dari Dahlan Iskan untuk men- dirikan surat kabar di daerah Sulawesi Tengah, tetapi karena Mercu- suar adalah media lama dan sudah punya SIUPP maka pihak Jawa Pos tertarik untuk melakukan kerjasama dengan pembagian saham 50:50.

Pada tahun 1993-2001 sempat bermitra dengan Jawa Pos Gro- up, kemudian lahirlah surat kabar bernama Radar Sulteng dan me- misahkan diri. Tri Putra Toana selaku pimpinan Mercusuar mundur dari Radar Sulteng dan kembali menghidupkan Mercusuar dengan nama tabloid Tonakodi pada tahun 2004 setelah vakum selama tiga tahun. Mulai terbit lagi tahun 2005 (Februari) ketika terjadi Gempa

Bora di Kabupaten Sigi. Vakum dari tahun 2001-2004. Melalui per- juangan dan kerja keras akhirnya pada tahun 2005 surat kabar ini berubah menjadi harian dan kembali menggunakan nama Mercu- suar, meskipun saat itu masih dicetak dengan lembaran hitam-putih (belum berwarna). Nanti di tahun 2006, Mercusuar hadir dengan ha- laman berwarna dan menggunakan mesin cetak sendiri. Berikut ini adalah tampilan Mercusuar yang telah berwarna dengan desain yang lebih variatif. Media ini juga rutin mengirim sejumlah terbitan untuk dijadikan koleksi atau arsip pada Museum Pers di Solo.

Gambar 3.4 Arsip Mercusuar di Museum Pers

Gambar 3.5 Tampilan Mercusuar tahun 2015

Di usianya yang ke 54 tahun, Tri Media Group merupakan hol- ding yang dibentuk tahun 2015 yang membawahi 6 (enam) peru- sahaan. Bermula dari surat kabar harian Mercusuar sebagai perusa- haan induk telah menelurkan 5 (lima) anak perusahaan surat kabar harian guna memenuhi kebutuhan pembaca di 10 kabupaten dan 1 kota di Sulawesi Tengah. Mercusuar memiliki Rakyat Tolis berpu- sat di Kabupaten Toli-Toli tersebar hingga Kabupaten Buol. Rakyat

Sulbar berpusat di Kabupaten Mamuju tersebar hingga Provinsi Su- lawesi Barat. Banggai Raya berpusat di Kota Luwuk tersebar di Ka- bupaten Banggai, Banggai Kepulauan, Morowali dan Tojo Una-Una.

Poso Raya untuk wilayah Kabupaten Parigi dan berpusat di Kabupa- ten Poso. Sulteng Pos sebagai surat kabar bergaya metropolis tersebar di 10 kabupaten dan Kota Palu. Kini jumlah sebaran sirkulasi ham- pir mencapai 3.500 eksamplar. Untuk surat kabar harian Mercusuar telah menjadi bacaan edukatif di penerbangan langsung ke Jakarta maskapai Garuda Indonesia. Gambar di bawah ini adalah contoh pers lokal yang berada dalam naungan harian Mercusuar yang terbit di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.

Gambar 3.6 Jaringan Media Mercusuar (Rakyat

Post, Poso Raya)

Gambar 3.7 Jaringan Media Mercusuar (Sulteng

Post, Banggai Raya)

Melalui jargon “Korannya Rakyat Sulteng”, Mercusuar berha- sil menjadi bacaan pilihan masyarakat. Jargon ini sudah ada sejak tahun 2005 setelah bangkit dari kevakuman dan inilah strategi un- tuk menarik pembaca Mercusuar yang dahulu memilih membaca

media lainnya. Saat ini ada sekitar 23 jurnalis yang bergabung di surat kabar Mercusuar dengan latar pendidikan pada umumnya sarjana. Dari sisi redaksional, para jurnalis di Mercusuar melaku- kan rapat redaksi setiap sore jam 16.00 wita. Fokus yang dibahas dalam rapat redaksi tersebut adalah seputar kebijakan pemerintah, kasus korupsi hingga persoalan keseharian masyarakat Kaili. Surat kabar ini juga sering dikunjungi oleh pejabat publik untuk seke- dar melakukan diskusi lepas tentang berbagai persoalan di Sulawe- si Tengah. Pada gambar di bawah ini dijelaskan tentang ekspansi Mercusuar yang berani mengangkat tema etnisitas sebagai salah satu nama pers lokal di Sulawesi Tengah. Ada juga gambar Calon Walikota (Hidayat) dan Calon Wakil Walikota (Sigit Purnomo/Pas- ha Ungu) ketika berkunjung ke redaksi Mercusuar saat menjelang pelaksanaan pemilukada serentak.

Gambar 3.8 Kaili Post

diterbitkan Oktober 2016 Gambar 3.9 Calon Walikota dan Wakil Walikota Palu ketika berkunjung ke Redaksi Mercusuar

Dalam dokumen Jejak Pers di Sulawesi Tengah (Halaman 34-41)

Dokumen terkait