BAB 3 FIRQAH-FIRQAH YANG BERKEMBANG
D. Metode Berpikir Asy’ariyah dan Maturidiyah
Aqidah Asy’ariyah merupakan jalan tengah (tawasuth) di antara kelompok yang berkembang pada saat itu. Yaitu, kelompok Jabbariyah
dan Qadariyah yang dikembangkan oleh Mu’tazilah. Kelompok Jabbariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia seluruhnya adalah diciptakan oleh Allah. Manusia tidak memiliki andil sedikitpun dalam perbuatannya. Sebaliknya, golongan Qadariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia mutlak diciptakan oleh manusia itu sendiri sedangkan Allah tidak turut campur sama sekali terhadap perbuatan manusia tersebut.
Asy’ariyah menengahi keduanya. Menurut Asy’ariyah, perbuatan manusia adalah diciptakan oleh Allah, tetapi manusia memiliki bagian yang disebut kasb dalam perbuatannya. Dalam konsep keadilan Tuhan pun Asy’ariyah berbeda dengan Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah, Tuhan wajib memasukkan manusia yang baik ke dalam surga dan memasukkan orang jahat ke dalam neraka. Sedangkan Asy’ariyah berpendapat bahwa memasukkan manusia ke dalam surga atau neraka adalah hak Allah bukan kewajiban Allah.
Mu’tazilah menempatkan rasio di atas wahyu sedangkan Asy’ariyah menempatkan wahyu di atas rasio. Meskipun demikian, kerja-kerja rasio dihormati.
Prinsip-prinsip Maturidiyah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Asy’ariyah. Hanya saja, Maturidiyah fiqihnya menggunakan madzhab Hanafi saja sedangkan Asy’ariyah menggunakan fikih madzhab Syafii dan Maliki. Asy’ariyah hanya menghadapi ideologi Mu’tazilah saja tetapi Maturidiyah menghadapi berbagai ideologi, ada Mu’tazilah, Mujassimah, Qaramithah, dan Jahamiyah. Selain itu Maturidiyah harus menghadapi kelompok agama lain seperti Majusi, Nasrani, dan Yahudi.
Sikap tawasuth yang ditunjukkan oleh Maturidiyah adalah upaya pendamaian antara naqli dan aqli (nash dan akal). Maturidiyah berpendapat bahwa suatu kesalahan apabila kita berhenti berbuat pada saat tidak ada nash (naql), sama juga salah apabila kita larut tidak terkendali dalam menggunakan rasio (akal). Menggunakan akal sama pentingnya dengan menggunakan naql. Sebab, akal yang dimiliki oleh manusia juga pemberian dari Allah. Karena itu, Al-
Qur’an memerintahkan umat Islam untuk menggunakan akal dalam memahami cara yang dilakukan harus menyesuaikan dengan kondisi dan situasai masyarakat setempat.
Aqidah Asy’ariyah merupakan jalan tengah (tawasuth) di antara kelompok yang berkembang pada saat itu.
Baik Asyariyah maupun Maturidiyah menolak cara penyebaran ajaran dengan kekerasaan dan pemaksaan sebagaimana yang dilaku- kan oleh Mu’tazilah.
Hal ini sesuai dengan firman Allah:
مُهۡلِد ٰ�َجَو ِۖةَن َسس َحۡلٱ� ِةَظِعۡوَمۡلٱ�َو ِةَ ۡكِحۡلٱ�ِب َكِّبَر ِليِب َ� ٰ َلىإا ُعۡدُٱ�
ۦِ ِليِب َ� نَع َّل َض نَمِب ُ َلۡعأ� َوُه َكَّبَر َّنإا . ُۚن َس ۡحأ� َ ِه ِتَّلٱ�ِب
﴾١٢٥﴿ َنيِدَتۡهُمۡلٱ�ِب ُ َلۡعأ� َوُهَو
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl: 125)
Sesuai ayat di atas, amar ma’ruf nahi munkar itu harus dilaksanakan dengan kebijaksanaan dan bukan dengan kekerasan. Bahkan, dalam berdebat pun kita harus dengan cara yang lebih baik daripada lawan bicara.
E. LATIHAN SOAL
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
1. Apakah yang Anda ketahui tentang firqah?
2. Bagaimanakah sebab-sebab timbulnya berbagai firqah dalam agama Islam?
3. Firqah-firqah di bawah ini termasuk firqah yang berpengaruh.
Kemukakanlah prinsip-prinsip ajarannaya!
a. Syi’ah b. Khawarij c. Mu’tazilah
d. Ahlussunnah Waljama’ah e. Qadariyah
f. Jabbariyah
4. Sebutkan beberapa prinsip ajaran Mu’tazilah dan jelaskan secara ringkas!
5. Jelaskan prinsip-prinsip ajaran Ahlussunnah Waljama’ah!
BAB POSISI DAN HUBUNGAN 4
AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH DI ANTARA FIRQAH-FIRQAH YANG ADA
Kompetensi Inti:
1. Meyakini, menghayati, dan mengamalkan ajaran Ahlussunnah WalJamaah Annahdliyyah
2. menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dan menunjukkan sikap tawasuth, tawazun, ta’adul dan tasammuh dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan, factual, konseptual, procedural berdasarkan rasa ingin tahu nya tentang tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaaan, kebangsaan, kenegaraan, dan perdaban terkait penyebab fenomena dan kejadian serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajiannya spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah dalam persepektif Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyyah
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrfak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di madrasah/sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai dengan kaidah keilmuan dalam persepektif Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyyah
Kompetensi Dasar:
1. Menjelaskan perbedaan dan persamaan paham firqah-firqah dalam masalah status mukmin dan kafir
2. Menjelaskan perbedaan dan persamaan paham firqah-firqah dalam masalah kebaikan dan keburukan
3. Menjelaskan perbedaan dan persamaan paham firqah-firqah dalam masalah ikhtiar manusia
4. Menjelaskan perbedaan dan persamaan paham firqah-firqah dalam masalah kekuasaan Allah
5. Menjelaskan perbedaan dan persamaan paham firqah-firqah dalam masalah sifat Allah
A. STATUS MUKMIN DAN KAFIR DALAM PANDANGAN BERBAGAI FIRQAH
Ada perbedaan antara berbagai firqah tentang status mukmin dan kafir. Menurut Ahlussunnah, seseorang disebut mukmin jika ia beriman kepada keenam rukun iman. Keimanan tersebut tidak hilang meskipun dia melakukan dosa besar. Mukmin yang melakukan dosa besar dan mati sebelum bertaubat statusnya tetap menjadi mukmin, tetapi mukmin yang berdosa. Kelak dia akan dimasukkan ke dalam neraka, setelah hukumannya sesuai dengan dosa yang telah dilakukannya, ia bisa masuk ke surga.
Golongan Khawarij berpendapat bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalam arti keluar dari Islam atau tegasnya murtad sehingga ia wajib dibunuh.
Golongan Murji’ah berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar tetap masih mukmin dan bukan kafir. Adapun soal dosa yang telah dilakukannya terserah kepada Allah untuk mengampuninya atau tidak mengampuninya.
Golongan Muktazilah tidak menerima kedua pendapat di atas.
Bagi mereka orang yang berdosa besar bukan kafir tetapi juga bukan mukmin. Orang yang serupa ini menurut mereka mengambil posisi di antara kedua posisi mukmin dan kafir yang di dalam bahasa Arabnya dikenal dengan posisi manzilah bainal manzilatain (posisi di antara dua posisi).
Golongan Muktazilah berbeda pendapat dengan golongan Asy’ariyah. Menurut Mu’tazilah, mukmin yang berdosa dan mati sebelum bertaubat dikategorikan sebagai orang yang fasik. Tempatnya kelak tidak di surga dan tidak pula di neraka, melainkan di satu tempat di antara surga dan neraka atau yang biasa disebut dengan manzilah bainal manzilatain.
Menurut paham Ahlussunnah Waljama’ah , seseorang disebut mukmin jika ia beriman kepada
keenam rukun iman. Keimanan tersebut tidak hilang meskipun
dia melakukan dosa besar.
B. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN PAHAM FIRQAH-FIRQAH DALAM MASALAH IKHTIAR MANUSIA
Ada perbedaan di antara berbagai firqah seputar ikhtiar manusia.
Hal ini disebabkan karena perbedaan pemahaman mereka terhadap takdir sebagaimana terdapat di sejumlah ayat Al-Qur’an. Golongan Qadariyah berpendapat bahwa ikhtiar manusia itu bersifat mutlak.
Artinya, nasib manusia ditentukan sendiri oleh ikhtiarnya. Allah tidak turut campur dalam hal itu. Baik dan buruk itu adalah semata-mata pilihan dan kehendak manusia. Golongan Mu’tazilah pun berpendapat serupa. Ada banyak dalil yang mereka ajukan, diantaranya firman Allah:
ْمِه ِسُفْنأ�ِب اَم اوُ ِّيرَغُي َّت َح ٍمْوَقِب اَم ُ ِّيرَغُي َلا َ َّللا َّنإا
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar Ra’du: 11)
Golongan Jabbariyah berpendapat sebaliknya. Menurut mereka, segala perbuatan manusia itu telah diciptakan oleh Allah. Manusia bagaikan wayang yang selalu mengikuti lakon yang dimainkan oleh sang dalang. Atau seperti pemain sandiwara yang hanya mengikuti penulis naskah dan sutradaranya.
Jadi, apapun yang dilakukan oleh manusia, tidak pernah terlepas dari apa yang telah ditakdirkan oleh Allah. Surga dan nerakanya telah ditentukan sejak zaman azali. Manusia tidak pernah bisa mengubah takdir. Mereka (golongan Jabbariyah) pun mengajukan banyak argumen, di antaranya adalah firman Allah:
َنوُلَمْعَت اَمَو ْ ُكمَقَلَخ ُ َّللاَو
Artinya: “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS Ash-Shaffat: 96)
Jadi, menurut golongan ini, semua perbuatan manusia sudah diciptakaan oleh Allah, manusia hanya menjalankan takdir Allah saja.
Jika manusia mencuri, maka itu memang sudah ditakdirkan oleh Allah.
Surga dan neraka semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Pokoknya kita tinggal menjalankan takdir itu saja.
Golongan Ahlussunnah berpendapat lain. Menurut mereka, Allah memang menakdirkan hidup manusia. Akan tetapi, manusia memiliki bagian usaha atau yang disebut dengan kasb. Jadi, Ahlussunnah Waljama’ah tidak sepakat dengan golongan Qadariyah yang menafikan Allah dalam perbuatannya dan juga tidak sepakat dengan golongan Jabbariyah yang berpendapat bahwa manusia itu dipaksa oleh Allah dalam segala perbuatannya tanpa adanya kemampuan untuk berusaha.
Ada perbedaan di antara berbagai firqah seputar ikhtiar
manusia. Hal ini disebabkan karena perbedaan pemahaman
mereka terhadap takdir sebagaimana terdapat di
sejumlah ayat Al-Qur’an.
C. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN PAHAM FIRQAH-FIRQAH DALAM MASALAH SIFAT-SIFAT ALLAH
Menurut Asy’ariyah, Allah mempunyai sifat-sifat. Allah hidup dengan hayat, mendengar dengan sama’, mengetahui dengan ilm, dan berkuasa dengan qudrah. Sifat-sifat itu melekat pada Dzat-Nya dan tidak dapat dipisahkan. Bagi Asy’ari, sifat-sifat Allah tidak identik dengan Dzat-Nya. Karena Allah bersifat qadim, berarti sifat-sifat Allah juga ‘azali dan qadim.
Dalam memandang masalah sifat-sifat Allah ini, pendapat kaum Asy’ariah bertentangan dengan pendapat Mu’tazilah. Dalam pandangan Mu’tazilah, Tuhan tidak mempunyai sifat. Demikian kata Al-Juba’i. Sebab menurutnya, apa yang disebut dengan sifat itu pada dasarnya adalah esensi Dzat-Nya. Hudzail (tokoh Mu’tazilah) berpendapat bahwa Allah mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan adalah Dzat-Nya. Tuhan berkuasa dengan Dzat-Nya dan
Pendapat Mu’tazilah di atas ditentang oleh Asy’ariyah. Menurutnya, tidak mungkin Allah mengetahui dengan pengetahuan-Nya, melihat dengan penglihatan-Nya. Sebab, jika demikian Allah itu sama dengan pengetahuan, penglihatan, dan sebagainya.
Menurut Asy’ariyah, Allah
mempunyai sifat-sifat. Sifat-sifat itu melekat pada Dzat-Nya dan
tidak dapat dipisahkan.
D. LATIHAN SOAL
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
1. Jelaskan status mukmin dan kafir menurut: (a) Ahlussunnah Waljama’ah, (b) Khawarij dan (c) Muktazilah!
2. Jelaskan tentang ikhtiar manusia menurut: (a) Jabbariyah, (b) Qadariyah dan (c) Ahlussnnyah wal Jama’ah!
3. Jelaskan tentang Sifat Allah menurut: (a) Ahlussunnah dan (b) Muktazilah
SEMESTER 2
BAB IJTIHAD DAN TAKLID 5
BESERTA BATASAN-BATASAN DAN SUMBER HUKUMNYA
Kompetensi Inti:
1. Meyakini, menghayati, dan mengamalkan ajaran Ahlussunnah WalJamaah Annahdliyyah
2. menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung- jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dan menunjukkan sikap tawasuth, tawazun, ta’adul dan tasammuh dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan, factual, konseptual, procedural berdasarkan rasa ingin tahu nya tentang tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaaan, kebangsaan, kenegaraan, dan perdaban terkait penyebab fenomena dan kejadian serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajiannya spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah dalam persepektif Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyyah
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrfak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di madrasah/sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai dengan kaidah keilmuan dalam persepektif Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyyah
Kompetensi Dasar
1. Menjelaskan pengertian ijtihad menurut para tokoh 2. Menyebutkan dasar hokum ijtihad
3. Menyebutkan dalil yang menjelaskan tentang sumber hukum Islam.
4. menyebutkan cara ijtihad dalam masalah yang tidak disebutkan secara harfiyah dalam Al-Qur’an dan Sunnah
A. PENGERTIAN IJTIHAD
Bahtsul Masail
Sumbar: http://www.satuharapan.com
Kata Asal kata Artinya
Ijtihad Dari isim mashdar al-juhd at-taqah (tenaga, daya upaya, kuasa)
Jihaad dan
mujaahadah Dari bentuk masdar
Jaahada Pengerahan kemampuan
Ijtihad al-ijtihad dan at-tajahud Pengerahan segala kemampuan dan tenaga
Konsep ijtihad yang dirumuskan oleh Imam Al-Ghazali adalah pencurahan segala daya upaya dan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang berat atau sulit.
Muhammad Iqbal, menjelaskan sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
َيِن ِسس ۡحُمۡلٱ� َعَمَل َ َّللٱ� َّنإاَو ۚاَنَلُب ُس� ۡمَُّنَيِدۡ َنَل اَنيِف ْاوُدَه ٰـَج َنيِ َّلٱ�َو ﴾69﴿
Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Kata jihaad dan mujaahadah memang memiliki makna yang sama karena keduanya satu akar kata, yaitu bentuk mashdar dari kata jaahada. Keduanya memiliki arti pengerahan kemampuan.
Dalam pengertian secara khusus, mujahadah secara fisik disebut jihad sementara mujahadah dengan akal disebut ijtihad.
Adapun pengertian ijtihad menurut para ulama ada berbagai macam. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Menurut Imam Asy-Syaukani:
ِطاَبْنِت ْس�ِلاْا ِةَقْيِر َطِب ٍّ ِلِ َع ٍّيِعْ َش ٍ ْكمُح ِلْيَن ِف ِدْهُجْلا ُلْذَب
Mengerahkan kemampuan memperoleh hokum syari’at yang bersifat praktis (amali) dengan cara istinbath.
2. Menurut As-Subki:
ٍّيِعْ َش ٍ ْكمُ ِب ّنَظ ِلْي ِصْحَتِل َعْ�ُوْلا ِهْيِقَفْلا ُغاَرْفِت ْس�ِا
Pengerahan segala kemampuan seorang ahli fiqih untuk menghasilkan dugaan yang kuat tentang hukum syari’at.
3. Menurut Saifuddin Al-Amidi:
ِةَّيِعْ َّشلا ِم َك ْحألْا َنِم ٍء ْ َشِب ِّنَّظلا ِبَلَط ِف ِع ْ�ُوْلا ُغاَرْفِت ْس�ِا
ِهْيِف ِدْيِزَمْلا ِنَع ِز ْجَعْلا ِسْفَّنلا َنِم ُّسِ ُي ٍه ْجَو َلَع
Mencurahkan kemampuan dalam mendapatkan hukum-hukum syara’ yang bersifat zhanni, sehingga ia tidak mampu lagi mengusahakan yang lebih dari itu.
Dalam definisi yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani di atas digunakan kata badzlul wus’i untuk menjelaskan bahwa ijtihad adalah usaha besar yang memerlukan pengerahan kemampuan. Artinya jika usaha tersebut tidak dilakukan dengan kesungguhan dan tidak sepenuh hati, maka itu bukan ijtihad. Sedangkan penggunaan kata syar’i mengindikasikan bahwa yang dihasilkan dalam usaha ijtihad adalah hukum syar’i atau ketentuan yang menyangkut tingkah laku manusia. Penggunaan term ini untuk membedakan pengertian ijtihad sebagai usaha menemukan sesuatu yang bersifat aqli, lughawi, dan hissi. Pengerahan kemampuan untuk kategori tiga hal tersebut tidak dinamakan ijtihad.
Dalam defini Asy-Syaukani di atas juga disebutkan cara menemukan hukum syara’ dengan metode istinbath yang berarti mengeluarkan sesuatu dari kandungan lafal. Artinya, ijtihad adalah usaha memahami lafal dan mengeluarkan hukum dari lafal tersebut. Kata istinbath maksudnya adalah mengeluarkan hukum fikih dari Al-Qur’an dan As- Sunnah melalui kerangka teori yang dipakai oleh ulama ushul sehingga term istinbath identik dengan ijtihad.
Menurut Asy-Syaukani Ijtihad adalah usaha besar yang memerlukan pengerahan
kemampuan. Metode yang dipakai adalah Istinbath. Hasil usaha ijtihad adalah ketentuan yang menyangkut tingkah laku
manusia.
Ali Hasballah melihat bahwa ada dua cara ulama ushul dalam melakukan istinbath, yakni:
1. Pendekatan melalui kaidah kebahasaan
2. Pendekatan melalui pengenalan makna atau maksud syari’at (maqashidusy syari’ah).
Sementara itu dalam definisi yang dikemukakan oleh Ibnu Subki terdapat penambahan kata al-faqih sebelum kata al-badzlu dan kata dhan sebelum kata hukmin syar’iyyin. Penambahan kata fakih berarti bahwa orang yang melakukan ijtihad bukanlah sembarang orang, melainkan harus orang yang pemahaman agamanya luas dan mendalam. Ada derajat dan kualifikasi tertentu bagi orang untuk disebut sebagai fakih.
Sedangkan kata dhan mengandung arti bahwa yang dicapai oleh mujtahid itu hanyalah bersifat dhan (dugaan) semata. Yang mengetahui kebenarannya yang hakiki hanyalah Allah. Jika ada firman Allah atau hadits Nabi yang menjelaskan status hukumnya, maka tidak lagi diperlukan ijtihad. Hal ini berdasarkan kaidah:
ِّصَّنلا َعَم َداَ ِت ْجِا َلا
Artinya: Tidak ada ijtihad jika sudah terdapat nashnya
Dari ketiga definisi di atas terlihat bahwa kata ijtihad dalam hukum Islam adalah pengerahan kemampuan intelektual secara optimal untuk mendapatkan satus hukum amali (praktis) suatu persoalan pada tingkat dhanni (dugaan).
Kata Amali memiliki pengertian bahwa ijtihad hanya sebatas pada hal-hal yang bersifat operasional sementara pada aspek yang bersifat teoritis tidak termasuk dalam kategori ini. Sedangkan kata dhanni maksudnya adalah persoalan yang diijtihadi itu masih memungkinkan untuk dilakukan interpretasi, bukan sesuatu yang bersifat qath’i (pasti) Sehingga hasil yang diperoleh seorang mujtahid dalam ijtihadnya bersifat relatif, tidak mutlak kebenarannya.
Sebagai konsekwensinya, hasil ijtihad dari satu mujtahid itu bisa berbeda-beda. Bahkan Imam Syafi’i memiliki dua pendapat yang terkenal yang disebut sebagai qaul qadim (pendapat lama) dan qaul jaded (pendapat baru). Qaul qadim adalah pendapat (madzhab) yang beliau bangun ketika masih di Iraq sedangkan qaul Jadid adalah madzhab yang beliau bangun ketika beliau berada di Mesir.
Adanya qaul qadim dan qaul jaded ini bukan karena beliau tidak konsisten dalam keilmuannya, namun lebih menunjukkan elastisitas fikih dan menggambarkan perjalanan intelektual beliau sekaligus rasa rendah hati beliau. Elastisitas fikih karena dengan dua qaul tersebut terbukti bahwa produk fikih itu tidak bersifat statis namun bersifat dinamis.
Perjalanan hidup beliau tidak pernah berhenti untuk mencari ilmu.
Kerendahan hati beliau ditunjukkan dengan tidak merasa gengsi untuk mengubah pendapatnya jika didapatkan ada dalil lain yang lebih kuat.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, ijtihad merupakan konsep yang sangat penting dalam ajaran agama Islam. Ijtihad sebagai sarana berdialektika dengan realitas kehidupan dalam menjawab persoalan- persoalan kehidupan yang timbul. Sebagai ajaran Islam yang berfungsi membawa rahmat bagi semesta dan selalu dapat beradaptasi dengan dimensi ruang dan waktu (Shalihatun likulli makan wa zaman).
Ijtihad dilakukan hanya pada yang bersifat operasional.
Yang di ijtihadi bukan sesuatu yang pasti (qath’i) sehingga
kebenarannya tidak mutlak dan ada kemungkinan
untuk berubah.
B. DASAR HUKUM IJTIHAD 1. Dasar Al-Qur’an
Dasar hukum ijtihad adalah Al-Qur’an, hadits, dan ijmak. Adapun dasar hukum ijtihad yang berasal dari Al-Qur’an adalah firman Allah:
ۖۡ ُكمنِم ِرۡمأ ۡلٱ� ِلْوأ�َو َلو ُ�َّرلٱ� ْاوُعيِطأ�َو َ َّللٱ� ْاوُعيِطأ� ْآوُنَماَء َنيِ َّلٱ� اَ ُّيأ�آٰ�َي
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (QS An-Nisa:
59)
Dalam ayat di atas, ada tiga komponen yang harus ditaati, yaitu Allah, Rasulullah, dan Ulil Amir (pemegang urusan). Taat kepada Allah berarti taat adalah dengan melaksanakan isi dari Al-Qur’an.
Taat kepada Rasulullah adalah dengan melaksanakan sunnah-sunnah beliau. Sedangkat taan kepada ulil amri adalah mengikuti hasil dari ijtihad para ulama yang memang memiliki otoritas untuk berijtihad.
Dalam ayat lain Allah berfirman:
ِرۡكِّلٱ� َلۡهأ� ْآوُلأ ۡسَف ۖۡمِ ۡيَلإا آ ِحوُّن ٗلااَجِر َّلاإا َ ِلۡبَق نِم اَنۡلَ�ۡرأ� آاَمَو َنوُمَلۡعَت َلا ۡ ُتنُك نإا
Artinya: Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
2. Hadits
Dasar hukum ijtihad yang kedua adalah hadits, yaitu percakapan Rasulullah pada saat beliau mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman.
Petikan dari percakapan beliau adalah sebagai berikut:
،ِالله ِباَتِكِب ِضْقأ� :َلاَق ؟ٌءا َضَق َ َل َضَرَع اَذإا ِضْقَت َفْي َك
َلاَو ِيأ�َر ُدِ َت ْجأ� ْدِجأ� ْمَل ْنإاَف ِالله ِلْو ُ�َر ِتَّن ُسِبَف ْدِجأ� ْمَل ْنإاَف
َقَّفَو يِ َّلا ِللهِ ُدْم َحْلَا :َلاَقَو ُهَر ْد َص ِالله ُلْو ُ�َر َبَ َضَف اْوُلأ�
ِالله ُلْو ُ�َر َ ض ْرَي اَمِل ِالله َلْو ُ�َر
Artinya: Bagaimana kamu memutuskan jika ada suatu masalah?
Muadz menjawab, «Aku akan memutuskannya berdasarkan kitab Allah. Jika aku tidak mendapatkannya maka aku akan memutuskannya berdasarkan sunah Rasulullah dan jika aku tidak mendapatkannya maka aku akan berijtihad dengan pengetahuanku dan aku tidak akan gegabah dalam berijtihad.
Lalu Rasulullah menepuk dada Mu’adz seraya bersabda, «Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah.
Para Mujtahid adalah orang-orang yang memiliki
pengetahuan. Dan
kepadanyalah seharusnya kita bertanya dalam masalah-
masalah agama yang belum
kita ketahui.
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa ijtihad itu diakui secara sah oleh baginda Rasulullah saw. Namun harus diingat bahwa ijtihad itu haruslah dilakukan oleh seseorang yang mengetahui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain itu masalah-masalah yang diijtihadi adalah masalah yang tidak terdapat dalil qath’inya. Sedangkan masalah yang sudah ada dalil qath’inya tidak tidak boleh diijtihadi lagi.
Selain itu terdapat hadits dari Nabi:
ٌر ْجأ� ُ َلَف أ� َط ْخأ� ْنإاَو ِناَر ْجأ� ُ َلَف َبا َصأ�َف ُِكاَحْلا َدَ َت ْجا اَذإا
ٌدِحاَو
Artinya: Apabila seorang hakim berijtihad lalu dia benar, maka ia mendapatkan dua pahala dan jika dia salah, maka ia mendapatkan satu pahala.
3. Ijmak
Kita mengakui bahwa Al-Qur’an adalah sumber hukum yang lengkap. Akan tetapi, hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an bersifat global, belum terperinci. Selain itu, ada banyak masalah yang diperselisihkan oleh para ulama dan masalah baru yang pada masa Rasulullah belum ada terjadi. Oleh karena itu, umat Islam sepakat menerima ijtihad sebagai salah satu sumber hukum.
C. BATASAN DAN RUANG LINGKUP IJTIHAD
Batasan dan ruang lingkup ijtihad adalah dalam masalah-masalah fiqih yang belum ada nashnya secara qath’i (pasti). Jadi, jika sesuatu itu sudah bernash qath’i tidak boleh ada ijtihad. Misalnya, mendirikan shalat adalah wajib berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Karena itu, tidak boleh seseorang berijtihad untuk merubah hukum tersebut.