Jika bertitik tolak dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa kesimpulan mengenai sifat hakikat negara yang memiliki monopoli kekuasaan dan kedudukan yang lebih tinggi daripada individu, kelompok dan organisasi sosial yang lain dan selalu bertindak untuk dan demi kepentingan bersama. Ciri-ciri sifat hakikat negara tersebut adalah sebagai berikut (1) memiliki monopoli kekuasaan, (2) memiliki kekuasaan yang bersifat memaksa secara sah, (3) bertindak untuk dan atas nama masyarakat dan (4) memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada individu atau bentuk pergaulan hidup lain. Sifat dan hakikat negara seperti dikemukakan di atas sama dengan pandangan Miriam Budiardjo mengenai sifat hakikat negara yakni memiliki sifat yang (1) memaksa, (2) memonopoli dan (3) mencakup semua.80
lainnya yang mempengaruhi manusia dalam pandangan hidupnya. Dari pandangan hidupnya itu muncul pengertian-pengertian tentang negara.”81
Istilah-istilah yang berbeda dapat dibaca dalam berbagai literatur (kepustakaan) Ilmu Negara, Teori Politik atau Filsafat Politik. Literatur tersebut merupakan catatan sejarah yang mencatat berbagai macam istilah yang dipakai untuk menyebut negara sepanjang sejarah peradaban manusia. Istilah yang dipergunakan untuk menyebut negara tersebut adalah polis (city state), country (country state), civitas/civiteit, rich atau reich, la stato, staat, state, desh, land dan sebagainya.82 Istilah-istilah tersebut mengandung pengertian atau makna harfiah yang berbeda. Namun, makna konseptualnya memiliki persamaan yaitu hendak menggambarkan suatu bentuk pergaulan hidup manusia yang sekarang disebut negara.
Polis adalah istilah paling tua dan dipakai pada jaman Yunani Kuno. Istilah state adalah istilah yang paling muda yang diadopsi dari istilah la stato dari zaman pertengahan. Istilah polis (city state), republik, imperium, la stato, staat, state, country (country state), civitas/civiteit, rich atau reich, desh, atau land dipakai untuk menggambarkan suatu bentuk pergaulan hidup bersama manusia yang satu sama lain memiliki perbedaan. Pada zaman sekarang sudah tercapai keseragaman istilah yang dipakai untuk menyebut negara yakni staat, staats ataupun state. Pembahasan mengenai sifat hakikat negara yang bertitik tolak dari istilah (term) mengenai negara tersebut tidak terlepas dari tinjauan yang memakai metode pendekatan historis.83
81 Moh. Kusnardi dan Bintan R. Saragih, op. cit., hlm. 45.
82 Hendra Nurtjahyo. op. cit., hlm. 10-11.
83 Ibid., hlm. 11.
Secara harfiah, Polis diterjemahkan sebagai Negara Kota atau City State.84 Polis (city state) atau negara kota adalah suatu bentuk persekutuan hidup yang sifat hakikatnya sama dengan negara zaman sekarang. Ada beberapa Polis (Negara Kota) yang bersifat mandiri pada zaman Yunani Kuno tetapi yang paling terkenal adalah Athena dan Sparta. Athena adalah polis (negara kota) yang bersifat demokratis dan mempraktekkan demokrasi langsung (direct democracy). Hal yang berbeda dengan Athena terdapat pada polis Sparta karena pemerintahan Sparta bersifat otoriter. Wilayah polis tidak lebih luas daripada wilayah sebuah kota jaman sekarang. David Held memaparkan gambaran polis sebagai berikut “Menurut cerita biasanya para penduduk kota kecil ini hidup di kota yang dikelilingi tembok dan bekerja mengolah tanah di luar tembok setiap hari sampai malam. Meski begitu, biasanya wilayah kota ini juga mencakup daerah pedesaan yang didiami para petani dan lahan pertanian mereka.”85
Lembaga-lembaga politik (lembaga-lembaga kenegaraan) polis juga masih sederhana. Dalam polis Athena ada 3 (tiga) lembaga politik.86 Organ negara yang tertinggi ialah Sidang Ekklesia.87 Sidang Ekklesia merupakan lembaga berdaulat yang bersifat Majelis (Assembly).88 Majelis ini rapat 40 (empat puluh) kali setiap tahun.
Sidang rutin dilaksanakan 10 (sepuluh) kali setahun dan sidang luar biasa sesuai dengan
84 David Held, Models of Democracy terjemahan Abdul Haris, Model-model Demokrasi (Jakarta, 2006), hlm. 3.
85 Ibid.
86 J.H. Rapaar, Filsafat Politik Plato (Jakarta, 1988), hlm. 28.
87 Ibid.
88 David Held, op. cit.
kebutuhan.89 Sidang Ekklesia wajib dihadiri segenap pria Athena berusia 20 (dua puluh tahun) ke atas. Jumlah minimal korum Sidang Ekklesia adalah 6000 (enam ribu) orang.
Sidang Majelis sebagai lembaga berdaulat mempunyai tugas-tugas penting. Menurut David Held ruang lingkup tugas Ekklesia atau Sidang Majelis adalah sebagai berikut:
“Semua persoalan besar seperti kerangka kerja hukum untuk pemeliharaan tatanan publik, finansial dan pajak langsung. Pengasingan dan urusan luar negeri (termasuk menilai performa militer dan angkatan laut, membentuk persekutuan, deklarasi perang, deklarasi perdamaian) akan dibahas dan diputuskan para warga dalam Majelis. Majelis memutuskan komitmen politik dari negara Athena.”90 Selain Ekklesia, ada lembaga Dewan Lima Ratus (Boule) sebagai badan penyelenggara pemerintahan Athena.91 Dewan Lima Ratus merupakan institusi berbentuk Dewan (Council). Jumlah anggota Council sebanyak 500 (lima ratus) orang sehingga disebut Dewan Lima Ratus. Council bertanggung jawab mengorganisir dan mengajukan keputusan-keputusan untuk kepentingan publik.92 J.H. Rapar menggambarkan fungsi Dewan Lima Ratus sebagai berikut “Dapatlah dikatakan bahwa Dewan Lima Ratus adalah mandataris Sidang Ekklesia karena ia adalah pelaksana dari segala ketetapan dan keputusan Sidang Ekklesia.”93
Dewan Lima Ratus dengan 500 (lima ratus) orang anggota merupakan lembaga besar sehingga tidak dapat secara langsung menangani urusan pemerintahan rutin. Dewan Lima Ratus membentuk badan pekerja harian yang berbentuk subkomite. Dewan Lima
89 J.H. Rapar, op. cit.
90 David Held, op. cit.
91 J.H. Rapar, op. cit.
92 David Held, op. cit.
93 J.H. Rapar, op. cit.
Ratus dibagi menjadi 10 (sepuluh) sub-komite dengan anggota masing-masing 50 (lima puluh) orang. Masa tugas masing-masing subkomite adalah sepersepuluh masa bakti Dewan Lima Ratus.94 Masing-masing subkomite mendapat giliran untuk melakukan kontrol atas pemerintahan sehari-hari. Dari 50 (lima puluh) anggota subkomite dipilih seorang ketua yang disebut presiden. Di Athena, badan ini merupakan suatu komite yang disebut Prytaneis. Anggota Prytaneis 50 (lima puluh) orang yang dipilih dari setiap suku untuk suatu masa jabatan. Masa jabatan digilir secara merata di antara kesepuluh suku ditambah masing-masing satu orang dari sembilan suku yang tidak bertugas.95
Lembaga politik ketiga adalah mahkamah atau pengadilan. Dalam mahkamah atau pengadilan, rakyat berkedudukan sebagai juri. Lembaga politik ini penting karena memegang kekuasaan yang besar. J.H. Rapar mengemukakan tugas dan wewenang mahkamah tersebut dengan komentar sebagai berikut :
“Badan itulah yang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan hukuman dan keputusan pengadilan. Badan ini memiliki kekuasaan yang lebih besar dari kekuasaan judikatif karena ia dapat menolak keputusan dari Dewan Lima Ratus yang merupakan badan eksekutif. Bahkan, ia juga dapat membatalkan keputusan dan ketetapan Sidang Ekklesia yang merupakan badan legislatif apabila mahkamah itu menemukan dan dapat membuktikan bahwa keputusan dan ketetapan ditolaknya itu bertentangan dengan UUD.”96
Pada jaman Romawi, istilah polis tidak lazim dipakai. Istilah yang lazim dipakai bangsa Romawi adalah Civitas.97 Makna konseptual istilah Civitas bukan organisasi melainkan anggota masyarakat. Istilah civitas menunjuk pada sifat keanggotaan warga
94 Ibid., hlm. 29.
95 Ibid.
96 Ibid.
97 Padmo Wahyono, Ilmu Negara, op. cit. hlm. 49.
negara. Istilah civitas tidak tepat dipakai untuk menggambarkan suatu bentuk kehidupan bersama manusia yang zaman sekarang disebut negara. Jika hendak dikemukakan dengan cara lain yakni bahwa istilah civitas tidak dapat dipakai sebagai titik tolak untuk menggambarkan bentuk kehidupan bernegara yang berlangsung pada zaman Romawi Kuno. Dengan demikian, konsepsi civitas yang mengandung pengertian sebagai anggota masyarakat atau warga jelas mengandung pengertian yang sangat berbeda dari istilah negara yang mengandung pengertian konotatif sebagai organisasi.
Istilah lain yang terkenal pada zaman Romawi adalah Res Publica.98 Makna konseptual yang terkandung dalam istialh Res Publica sama sekali tidak ada kaitannya dengan pengertian organisasi dari suatu paguyuban manusia. Istilah respublica berasal dari kata Res yang mengandung arti sesuatu yang menjadi milik (kepunyaan) sedangkan istilah Publica mengandung arti sebagai publik atau rakyat (masyarakat). Dengan demikian, secara harfiah, istilah Res Republica mengandung arti sebagai sesuatu hal yang menjadi milik atau kepunyaan publik (rakyat). Atas dasar pengertian demikian, Padmo Wahyono mengemukakan komentar bahwa istilah Res Publica lebih tepat dipakai untuk menggambarkan kedaulatan rakyat.99
Komentar Padmo Wahyono dapat dipahami dan diterima kebenarannya. Istilah Res Publika memang tidak mengandung makna yang menyentuh sifat dan hakikat negara sebagai organisasi kekuasaan paguyuban manusia. Istilah Res Publika lebih dekat dengan pengertian substansi kekuasaan yang melekat pada rakyat (umum). Oleh karena itu, Padmo Wahyono menyimpulkan bahwa pengertian respublica sebagai kedaulatan rakyat.
98 Ibid.
99 Ibid.
Dari istilah Res Publica lahir istilah Republik yang mengandung arti kepentingan umum.
Istilah republik pada zaman sekarang dipakai untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan. Dengan demikian, istilah republik juga tidak dapat dipakai untuk menggambarkan sifat hakikat negara sebagai organisasi paguyuban manusia.
Ada istilah lain yang dikenal pada jaman Romawi yaitu Res Emperi atau Res Imperantes. Makna konseptual Res Emperi atau Res Imperantes sama sekali tidak ada kaitan dengan pengertian organisasi paguyuban manusia. Makna harfiah Res Emperi atau Res Imperantes bukan menunjuk pada pengertian negara sebagai suatu organisasi. Istilah Res Emperi atau Res Imperantes menunjuk pada pengertian pribadi penguasa. Dari istilah Res Emperi atau Res Imperantes lahir istilah imperium yang menunjuk pada pengertian pusat kekuasaan. Bahkan, dari istilah Res Emperi atau Res Imperantes juga lahir istilah emperor yang dalam bahasa Inggris mengandung arti yang menunjuk pada sosok penguasa yakni kaisar. Istilah Res Emperi atau Res Imperantes lebih tepat dipakai untuk menunjuk pada pribadi raja atau kaisar sebagai pusat kekuasaan negara. Dengan demikian, sama seperti istilah polis, respublica, atau civitas, istilah Res Emperi atau Res Imperantes juga tidak tepat dipakai sebagai titik tolak untuk menggambarkan dan memahami bentuk organisasi kehidupan bernegara yang berlangsung pada zaman Romawi.
Pada Abad Pertengahan, istilah yang dikenal Imperium dengan pengertian sebagaimana dipaparkan di atas. Ada beberapa istilah yang dipakai di Eropa Barat (Jerman dan Italia) dan sekitarnya antara lain civitas, Land dan La Stato. Istilah-istilah tersebut memiliki makna konseptual yang sama berbeda. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah civitas dan land tidak berkembang sehingga lama kelamaan istilah
tersebut tidak dipergunakan. Istilah la stato kemudian berkembang dan dipergunakan pada zaman sekarang.
Makna istilah Land sama tidak ada kaitan dengan negara sebagai organisasi kekuasaan. Makna harfiah Land adalah tanah, negeri atau wilayah. Oleh karena itu, istilah land tidak tepat dipakai untuk menyebut negara. Istilah land bukan menunjuk pada sifat hakikat negara tetapi pada wilayah negara sebagai suatu unsur konstitutif. Dari kata Land lahir istilah Deutschland (Jerman), Nederland (Belanda), Ireland (Irlandia), Scotland (Skotlandia), Switzerland (Swiss), England (Inggris). Namun, sebagaimana dikemukakan, dalam perkembangan berikutnya, istilah land tidak dipergunakan. Istilah state dipakai secara lebih umum dengan makna konseptual sebagai organisasi kekuasaan.
Istilah la stato sebenarnya tidak memiliki makna konseptual sebagai organisasi kekuasaan. Istilah stato mengandung arti status. Istilah la stato diadaptasi ke dalam berbagai bahasa seperti staat (Bahasa Belanda dan Jerman), state (Bahasa Inggris) dan Etat (Bahasa Perancis). Menurut F. Isjwara, istilah la stato adalah suatu penemuan baru baik dalam pemakaiannya maupun dalam maknanya.100 Istilah la stato tidak dikenal dalam kepustakaan dan praktik. Istilah la stato dipakai Niccolo Machiavelli dalam karyanya yang terkenal The Prince. Istilah la stato (bahasa Italia) berasal dari istilah status atau statum (bahasa Latin). F. Isjwara mengemukakan sebagai berikut:
“. . . kata Latin status itu rupa-rupanya semula dipergunakan dalam abad ke-15 dalam laporan-laporan wakil persekutuan Italia yang mula-mula berarti pertama keseluruhan jabatan tetap kemudian (berarti --- pen.) pejabat-pejabat jabatan itu sendiri, penguasa beserta pengikut-pengikut mereka dan lebih luas lagi dalam arti kesatuan wilayah yang dikuasai.”101
100 F. Isjwara, Pengantar Ilmu Politik (Bandung, 1999), hlm. 91.
101 Ibid.
Menurut Isjwara, secara etimologi kata status dalam bahasa Latin klassik adalah istilah abstrak yang menunjuk pada suatu keadaan yang tegak dan tetap atau sesuatu yang memiliki sifat-sifat yang tegak dan tetap.102 Makna istilah status berkembang lebih luas daripada makna harfiahnya. Istilah status atau statum lazim diterima sebagai standing atau station (kedudukan) dan dihubungkan dengan kedudukan persekutuan hidup manusia sebagaimana diartikan dalam istilah status civitatis atau status republicae.
Artinya, pada awalnya, istilah la stato atau status sebenarnya tidak berkaitan dengan negara. Namun, secara perlahan-lahan, istilah la stato mengalami perubahan makna yang sangat berbeda daripada makna harfiahnya. Isjwara lebih lanjut mengemukakan komentar bahwa baru pada abad ke-16 istilah status dikaitkan dengan negara.103
Istilah la stato mengalami perkembangan makna baru karena dikaitkan dengan negara. Sekarang, makna la stato atau status adalah negara lazim dipakai sekarang.
Istilah la stato diadaptasi ke dalam berbagai macam bahasa dengan pengertian yang dikaitkan dengan negara yakni Staat (Belanda dan Jerman), state (Bahasa Inggris) dan Etat (Bahasa Perancis). Bahkan, dari istilah state lahir beberapa istilah yang sama sekali tidak ada kaitan dengan negara seperti estate dan real estate atau personal estate dan juga estate dalam arti dewan atau perwakilan golongan sosial. Pada taraf perkembangan terakhir, istilah state dikaitkan dengan istilah nation sehingga lahir suatu pengertian baru yang disebut nation-state (negara bangsa). Istilah nation-state mengandung pengertian bahwa bangsa dan negara merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan kenegaraan pada jaman sekarang.
102 Ibid.
103 Ibid.
BAB III
TEORI-TEORI TENTANG
DASAR PEMBENAR EKSISTENSI (KEBERADAAN) NEGARA