• Tidak ada hasil yang ditemukan

MetodeIqro’ sebagaisalahsatuUpaya Meningkatkan

Dalam dokumen DAFTAR LAMPIRAN (Halaman 47-53)

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teoretik

3. MetodeIqro’ sebagaisalahsatuUpaya Meningkatkan

Tanda-tanda waqof diantaranya adalah sebagai berikut:34

Boleh waqof boleh terus

ج

Bukan tempat waqof utama terus

Dibaca terus lebih utama

ﻰﻠﺻ

Harus waqof

Berhenti lebih utama

ﻰﻠﻗ

Boleh waqof disalah satu tanda tersebut

Jilid 6 ini ditutup dengan pesan-pesan penting penyusun berupa kriteria seorang anak lulus dari Iqro’ dan kemudian bisa melanjutkan tadarusan al-Qur’an dari juz pertama (bukan juz 30). Dan bila dalam mengajarkan buku-buku Iqro’ sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang ada, dapat dipastikan anak telah mampu membaca al-Qur’an dengan benar walaupun masih pelan.35

3. Metode Iqro’ sebagai salah Satu Upaya Meningkatkan Kemampuan

Metode ini adalah metode yang mudah, praktis, cepat bagi yang ingin belajar membaca al-Qur’an karena metode ini menekankan langsung pada latihan membaca.Di dalam mengajarkan al-Qur’an diperlukan adanya suatu metode pengajaran yang baik agar dapat memenuhi tuntutan dalam era globalisasi khususnya di bidang mental dan spritual.

Untuk menciptakan proses belajar mengajar yang baik tidaklah mudah, hal ini disebabkan permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar begiru kompleks, dalam arti untuk menciptkan kondisi yang efektif sangatlah dipengaruhi oleh komponen-komponen yang ada dalam proses belajar mengajar itu sendiri baik yang sifatnya intern maupun ekstern.

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan agar bisa membaca al-Quran dengan baik dan benar, antara lain:

a. Harus bisa membaca huruf hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf.

Sama seperti jika hendak belajar membaca bahasa Indonesia.

Jikamengetahui dan bisa membaca 28 huruf hijaiyyah dengan benar, hal ini merupakan modal utama untuk bisa membaca al- Qur’an, karena isi al-Quran adalah bacaan yang didalamnya tersusun dari 28 huruf hijaiyyah.

b. Setelah faham dan mampu membaca huruf hijaiyyah dengan fasih, tahapan selanjutnya adalah mempelajari tanda baca, yaitu, fathah, kasrah, dan dhommah.

c. Langkah terakhir adalah “praktek”. Seseorang tidak akan bisa membaca al-Quran dengan fasih jika tidak pernah mempraktekkannya. Bacalah al-Quran secara rutin, sebelum waktu masuk subuh atau setelah maghrib adalah waktu yang bagus untuk membaca al-Quran. Perlu diingat, jikamasih belum fasih dalam membaca al-Quran, ada baiknya jika ada yang membimbing selama membaca al-Quran, agar jika ada

kesalahan baca, pendamping bisa membetulkan dan bisa langsung memperbaiki kesalahannya.36

Upaya guru juga memegang peranan penting karena dengan adanya guru dalam mengajar maka akan sangat mempengaruhi santridalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an melalui metode Iqro’. Mengingat begitu pentingnya upaya guru bagi santri dalam belajar membaca al-Qur’an baik itu dilakukan melalui pemberian penguatan secara verbal (perkataan) maupun non verbal (perbutan).

Upaya guruberfungsi juga sebagai pendorong, pengarah dan penggerak tingkah laku para santriwan/ santriwati.

Selain itu juga, upaya yang lebih penting dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an melalui metode Iqro’ diperlukan metode-metode (Ath-Thoriqah) yang harus diterapkan kepada santri dalam membaca al-Qur’an. Metode-metode (Ath-Thoriqah) yang bisa diterapkan tersebut ialah, sebagai berikut :

a. At Thoriqah bil Muhaakah, yaitu metode pengajaran dengan cara meniru. Ustadz memberikan contoh-contoh bacaan yang benar kemudian menirukannya. Oleh karena itu bagaimanapun juga tingkat kefasihan anak banyak bergantung pada kefasihan ustadznya.

b. At Thoriqah bil Musyaafahah, yaitu metode pengajaran dengan cara anak melihat gerak-gerik bibirnya ustadz dan ustadzah juga melihat gerak-gerik bibirnya anak. Metode ini sangat penting untuk mengajarkan makhorijul huruf.

c. At Thoriqah bil Kalaa Missorih, yaitu ustadz mempergunakan ucapan yang jelas dan komunikatif. Ustadz tetap aktif menyimak bacaan anak sambil memberikan motivasi dan komentar-komentar komunikatif.

36http://www.Dwulandari221.wordpress.com/2014/01/11/cara-membaca-Al- Qur’an-yang-baik-dan-benar, diambil tanggal 6 Agustus 2014, pukul 19.00 WITA.

d. At Thoriqah bi Suaal Limaqoo Shidit Ta’limi, yaitu ustadz mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan anak menjawabnya. Ustadz menunjuk bagian-bagian huruf tertentu dan anak membacanya.37

Demikianlah beberapa metode pengajaran membaca al-Qur’an yang mungkin dapat dikembangkan. Seorang ustadz/ustadzah tidak harus terikat secara ketat dengan metode-metode tersebut, akan tetapi para ustadz/ustadzah harus lebih kreatif dan dinamis serta mampu menciptakan cara atau metode mengajar yang lebih baik untuk dapat mempermudah dan memperlancar membaca al-Qur’an. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dewasa ini terdapat banyak inovasi metode pengajaran membaca al-Qur’an yang diciptakan untuk mempermudah dan memperlancar membaca al-Qur’an yaitu dapat dilakukan dengan cara metode Iqro’.

Di dalam mengajarkan al-Qur’an diperlukan adanya suatu metode pengajaran yang baik agar dapat memnuhi tuntutan dalam era pembangunan khusunya pembangunan dibidang spiritual.TPQ merupakan suatu lembaga pendidikan awal dalam pengajaran yang bervariasi dirancang sesuai dengan perkembangan anak.

TKA-TPAbertujuan untuk menyiapkan anak didiknya agar menjadi generasi Qur’ani yaitu generasi yang mencintai al-Qur’an, komitmen dengan al-Qur’an dan menjadikan al-Qur’an sebagai bacaan dan pandangan hidup sehari-hari.Untuk tercapainya tujuan tersebut, TKA-TPA perlu merumuskan pula target-target operasionalnya. Dalam

37 Budiyanto, Prinsip-Prinsip Metodologi, h. 23.

waktu kurang lebih satu tahun, diharapkan setiap anak didiknya akan memiliki kemampuan, antara lain:

a) Membaca al-Qur’an dengan benar, sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid

b) Melakukan shalat dengan baik dan terbiasa hidup dalam suasana yang islami

c) Hafal beberapa surat-surat pendek, ayat-ayat pilihan dan do’a sehari- hari

d) Menulis huruf al-Qur’an.38

Untuk mengetahui apakah tujuan belajar telah tercapai secara efektif atau tidak, maka dapat diketahui dengan evaluasi atau penilaian hasil belajar santrisecara individu. Penilaian ini memegang peranan penting dan sangat berorientasi pada bahan pengajaran yang diberikan dan metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar.39

Dengan demikian, pentingnya penilaian itu dapat dilihat dari segi fungsi dan tujuannya, yaitu sebagai berikut:

1) Dalam rangka motivasi, yaitu mendorong aktifitas belajar santri 2) Dalam rangka prestasi, yaitu memacu keberhasilan dalam

pencapaian target kurikulum

3) Dalam rangka klasifikasi dan kualifikasi, yaitu sebagai bahan masukan bagi guru dalam rangka pengelompokkan santri kedalam kelompok privat yang setarap

38As’ad Humam,Pedoman Pengelolaan, h. 4.

39Chairani Idris dan Tasyrifin Karim, Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-kanak/ Taman Pendidikan Al- Qur’an ( Jakarta:

BKPRMI, 1996), h. 42.

4) Dalam rangka koreksi, yaitu menjadi bahan masukan dan umpan balik bagi guru dalam rangka perbaikan mutu pembelajaran.40

Maka penilaian pada dasarnya berlangsung terus menerus, baik yang bersifat harian maupun yang bersifat periodik. Dan jenis peniliaiannya pun, lebih banyak menggunakan penilaian dalam bentuk tes lisan, tes perbuatan dan penugasan dan hanya sedikit saja/ pada taraf tertentu yang menggunakan tes tertulis.41

Adapun penilaian efektifitas metode Iqro’, sebagaimana diungkapkan di atas adalah sebagai berikut:

1) Istimewa/maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa.

2) Baik/optimal: apabila sebagian besar (76%–99%) bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa

3) Cukup/minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya (60%- 75 %) dikuasai oleh siswa.

4) Kurang: apabila bahan pelajaran yang diajarkan itu kurang dari 60

% dapat dikuasai oleh siswa.42

Disamping itu efektif dari segi hasil yang dicapai, metode Iqro’

juga efektif dalam penggunaan waktu dalam proses pembelajaran.

Metode iqro’ ini merupakan suatu metode yang menekankan langsung pada latihan membaca yang dimulai dari tingkatan yang sederhana, tahap demi tahap, sampai pada tingkat yang sempurna menggunakan waktu secara kondisional. Artinya ketika santri sudah bisa lulus satu jilid, maka tanpa menunggu waktu atau teman-temannya yang lain bisa langsung meningkat ke jilid selanjutnya.

40Ibid.,h. 42.

41Ibid., h. 43.

42Syaiful Bahri Djamarah, Stratergi Belajar Mengajar ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), h. 107

Kelebihan metode Iqro’ adalah sebagai berikut:

a. Menggunakan metode CBSA, jadi bukan yang aktif melainkan santri yang di tuntut untuk aktif.

b. Dalam penerapannya menggunakan klasikal (membaca secara bersama), privat maupun cara eksistensi (santri yang lebih tinggi jilidnya dapat menyimak bacaan temannya yang berjilid rendah).

c. Komunikatif, artinya jika santri mampu membaca dengan baik dan benar guru dapat memberikan sanjungan, perhatian dan penghargaan.

d. Bila ada santri yang sama tingkat pelajarannya, boleh dengan sistem tadarrus secara bergiliran membaca sekitar dua baris sedangkan yang lainnya menyimak.

Kelemahan metode Iqro’ adalah sebagai berikut:

a. Bacaan-bacaan tajwid tidak diperkenalkan sejak dini b. Tidak ada media belajar.

c. Tidak dianjurkan menggunakan irama murrottal.43

G. Metode Penelitian

Dalam dokumen DAFTAR LAMPIRAN (Halaman 47-53)

Dokumen terkait