MITIGASI BENCANA
musim peralihan (pancaroba), kemungkinan terjadinya bencana angin puting beliung sangat besar. Hal ini dikarenakan adanya 3 model hujan yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia yaitu model hujan ekuatorial, model hujan monsun, serta model hujan lokal. Model hujan monsun biasanya terjadi di wilayah Jawa, Sumatra Timur, Bali, NTB, NTT, dan Kalimantan Selatan dengan kulminasi hujan yang biasanya terjadi ketika bulan Desember, Januari serta Februari. Model hujan ekuatorial biasanya terjadi di pulau Kalimantan Tengah, Sulawesi, Sumatra Barat, Kalbar, Kalimatan Utara, dan juga di Papua, dengan kulminasi hujan biasanya terjadi ketika bulan Maret dan Oktober. Sedangkan model hujan lokal biasanya terjadi di pulau Maluku dan Papua Barat dengan kulminasi hujan biasanya terjadi ketika bulan Juni, Juli dan Agustus.
Hal-hal tersebut adalah contoh awal dari berbagai kemungkinan bencana yang dapat terjadi di Indonesia.
Kerugian dari berbagai bencana tersebut dapat dikurangi dengan proses mitigasi bencana. Proses mitigasi ini dapat dilatih dan dilakukan melalui dihidupkannya proses tanggap darurat, dengan penerapannya di seluruh sektor kehidupan masyarakat. Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 13/ PRT/ M/ 2015 mendeskripsikan
“Tanggap darurat bencana sendiri adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi,
penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana”.
Manajemen darurat yang komprehensif akan menghasilkan banyak keuntungan untuk penyelamatan dokumen dari sebuah organisasi, informasi, serta juga dari aset penting yang menyimpan sebuah arsip dari peristiwa darurat yang terjadi. Stakeholder dalam organisasi dapat memperolah kenyamanan dengan mengetahui sebuah langkah-langkah yang cepat untuk melindungi organisai dari kerugian bencana yang sudah terjadi. Digalakkannya manajemen darurat ini dapat dilakukan di berbagai sektor pekerjaan di Indonesia. Handoyo (2014) dalam Pemasaran Jasa Kearsipan menuliskan, dari sisi organisasional, manajemen keadaan darurat memiliki potensi keuntungan atau nilai-nilai positif sebagai berikut.
1. Operasional organisasi yang dapat segera dimiulai.
Pada organisasi dengan anggota yang sudah dilatih untuk membuat rencana, melakukan pelatihan terhadap anggota lainnya, melakukan kegiatan kesiapan, serta melakukan pengujian atas rencana tersebut, organisasi tersebut dapat dianggap telah siap untuk melakukan penanganan atas keadaan darurat.
Dengan pelatihan terhadap situasi-situasi darurat, anggota organisasi dapat kembali menjalankan kegiatannya setelah keadaan darurat (dalam konteks ini, bencana) sudah selesai.
2. Terlindunginya aset vital.
Manajemen darurat mengindahkan pentingnya asset vital pada organisasi, terlepas sektor yang dipegang oleh organisasi tersebut. Perencanaan yang komprehensif dan mendetil serta kesadaran atas situasi bencana dapat menjamin seluruh sektor untuk menjaga
dan melakukan antisipasi atas aset-aset vital yang dimilikinya.
3. Berkurangnya pengeluaran untuk biaya asuransi.
Organisasi yang telah melakukan perencanaan dan antisipasi atas situasi darurat dapat mengurangi biaya pengeluaran yang tidak perlu karena telah membuat program-program yang spesifik. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk premi-premi asuransi dapat dipangkas karena organisasi memiliki perencanaan yang sudah jelas.
4. Terciptanya kepatuhan terhadap hukum atau faktor-faktor yuridis
Organisasi yang tanggap dengan manajemen darurat dapat menetapkan tanggung jawab hukum secara jelas dan lebih komprehensif kepada stakeholder nya. Mulai dari pemegang saham, karyawan, instansi pemerintah, warga dan pelanggan. Tanggung jawab ini berkaitan erat dengan tindakan-tindakan perlindungan atas asset organisasi, catatan penting dan informasi yang dapat mempengaruhi jalannya organisasi.
5. Pengurangan kesalahan yang ada akibat faktor kejut/factor shock
Tanpa perencanaan yang baik, situasi darurat seperti bencana akan membuat orang melakukan aksi dan reaksi secara serampangan. Karena kurangnya informasi dan latihan, manusia dapat melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, terkejut dan panik.
Proses manajemen darurat ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi efek kejut yang dialami oleh anggota organisasi.
Lebih lanjut selain diperlukannya pembelajaran atas manajemen darurat di sektor organisasi, masyarakat Indonesia juga harus lebih diberikan pendidikan dan pengarahan mengenai situasi-situasi bencana. Hayudityas (2020) mengungkapkan jika penerapan pemahaman atas mitigasi bencana di dunia pendidikan Indonesia, khususnya dari tingkat Sekolah Dasar masih sangat diperlukan. Dalam penelitiannya, terungkap bahwa masih banyak siswa yang belum siap dan tidak tanggap atas terjadinya bencana. Dalam kegiatan simulasi mitigasi bencana, terlihat bahwa siswa yang ada mengalami kepanikan dan kebingungan yang menyebabkan mereka lari tak terarah. Namun dengan beberapa kali pelatihan yang dilakukan melalui simulasi berkelanjutan dan edukasi atas mitigasi bencana melalui video pembelajaran, simulasi dengan permainan serta penyisipan materi pembelajaran mitigasi bencana pada ruang-ruang kelas, sikap panik dan kejut yang dialami oleh siswa Sekolah Dasar dapat dikurangi, sehingga kepanikan mereka dapat dikurangi dan saat terjadi bencana, korban jiwa yang tidak perlu dari siswa Sekolah Dasar dapat dihindari.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo kepada Antara News (28 Februari 2020) menyatakan jika 31 persen dari korban yang meninggal dan hilang karena bencana pada periode Januari hingga Februari 2020 adalah anak-anak. Data awal ini menandakan bahwa hilangnya nyawa dari generasi penerus bangsa ini dapat dihindari jika pelaksanaan mitigasi bencana dilakukan secara lebih mendalam dan
menjangkau berbagai sektor dan kalangan umur, termasuk anak-anak.
Selain kerugian pada sisi korban jiwa, kerugian akibat bencana alam juga berdampak pada ekonomi. Artiani (2015) menuliskan jika secara makro, dampak dari bencana akan memukul ekonomi, termasuk ekonomi nasional. Sebagai contoh, dampak yang digolongkan sebagai dampak nyata atau dampak yang langsung dirasakan adalah infrastruktur, bangunan, instalasi, mesin, barang jadi, bahan baju, peralatan, transportasi, pertanian, tanaman yang siap panen dan situas irigasi serta berbagai kondisi fisik lain yang mencakup seluruh sektor adalah kerugian yang dialami secara nyata dan berdampak langsung.
Kerugian-kerugian secara tidak langsung dapat lebih banyak lagi dan lebih memukul perekonomian. Seperti kondisi arus barang dan jasa yang terpengaruh pasca bencana akibat infrastruktur yang rusak, hasil panen yang gagal, terhambatnya produksi karena pabrik yang rusak, pasokan listrik dan air bersih yang terganggu, komunikasi yang terputus, hingga manusia sebagai pekerja yang terkena dampak psikologis dan menjadi tidak produktif untuk bekerja, Untuk mengantisipasi hal tersebut, tindakan-tindakan mitigasi bencana harus selalu menjadi indicator dan acuan dalam pembuatan kebijakan di tingkat makro. Sehingga, penanganan yang dilakukan pasca terjadinya bencana dapat dilakukan dengan lebih cepat karena seluruhnya sudah terproyeksikan dengan baik (Artiani, 2015).