BAB II KAJIAN PUSTAKA
4. Modal Manusia ( Human Capital )
memenuhi kebutuhannya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Dalam hal ini perlu kemauan keras, semangat yang tinggi dengan memadukan pengalaman, pengetahuan dan penguasaan teknologi yang tepat.
Seiring dengan itu dinamika ekonomi petani karet yang dikaitkan dengan mata pencahariannya akan mengalami pasang surut karena tergantung pasar, maka pada saat harga karet murah masyarakat petani karet harus membuat usaha-usaha tambahan, sehingga masyarakat petani karet tidak identik masyarakat miskin. Karena masyarakat desa identik dengan kemiskinan. Kemiskinan adalah kondisi kehidupan seseorang atau masyarakat serba berkekurangan, tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Kemiskinan juga akan membuat masyarakat hilang kedaulatannya, masyarakat akan terkebelakang, kebodohan, dan tidak mampu menguasai alam yang seharusnya alam memberi manfaat kepada manusia atau masyarakat. Jadi kemiskinan mempunyai dimensi aktual dan pontensial.
Human capital bukanlah memposisikan manusia sebagai modal layaknya mesin, sehingga seolah-olah manusia sama dengan mesin. Human Capital justru bisa membantu pengambil keputusan untuk memfokuskan pembangunan manusia dengan menitikberatkan pada investasi pendidikan dalam rangka peningkatan mutu organisasi sebagai bagian pembangunan bangsa.
Penanganan SDM sebagai human capital menunjukkan bahwa hasil dari investasi non fisik jauh lebih tinggi dibandingkan investasi berupa pembangunan fisik. Human capital (modal manusia) harus di bantu dengan manusia kreatif atau human creatif, menurutn Dedi Supriadi (1996:7) manusia kreatif adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang ada sebelumnya. Berkaitan dengan itu sumber daya petani perlu ditingkatkan guna mencapai kehidupan petani dimasa datang lebih baik dan sejahtera.
Lebih jelas Safja Anantanyu (2004:11) mengemukakan bahwa petani sebagai subyek pembangunan, petani lebih didorong untuk lebih mandiri.
Kemandirian dipandang sebagai sebuah konsep yang utuh, tetapi memiliki berbagai muka dan tercermin dalam berbagai bidang kehidupan (Kartasasmita, 1997:22). Kemandirian (self-reliance) pertanian mengandung pengertian yang lebih jauh dari swasembada (self-sufficiency).
Rita Hanafie (2010; 86) menyatakan bahwa pendidikan merupakan faktor pelancar pengembangan pertanian. Pendidikan pembangunan
merupakan pendidikan yang cocok untuk masyarakat yang ingin maju.
Pendidikan pembangunan yaitu pendidikan yang bersifat selektif dalam memilih materi ajar membuat setiap generasi baru mengenal masa lalunya sebagai cerminan dalam mengambil langkah ke depan, serta diharapkan mampu mendorong masyarakat lebih berinovasi dalam bertani.
Secara hakiki tidak hanya menuntut kebutuhan dari produksi sendiri, menciptakan penerimaan yang mampu menutupi pengeluaran tingkat petani, tetapi juga keleluasaan dalam menentukan keputusan yang bekaitan dengan kepentingan. Kemandirian petani sangat dibutuhkan untuk mengangkat kehidupan petani yang sejahtera sehingga kemandirian petani adalah kondisi tertentu yang membuat seseorang individu atau kelompok manusia yang telah mencapai kondisi itu tidak lagi tergantung pada bantuan atau kedermawanan pihak ketiga untuk mengamankan kepentingan individu atau kelompok.
Pendidikan menurut Delors, (2000) adalah suatu alat utama untuk memelihara suatu bentuk pembangunan manusia yang lebih dalam dan serasi, dengan demikian akan mengurangi kemiskinan, pengasingan, kebodohan, penindasan dan peperangan.
Pendidikan juga dapat menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan berarti menggapai masa depan, seharusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa. Tidak kecuali, keadilan dalam
memperoleh pendidikan harus diperjuangkan dan seharusnya pemerintah berada di garda terdepan untuk mewujudkannya.
Pendidikan memberikan konstribusi terhadap kemajuan suatu bangsa dan merupakan wahana dalam menterjemahkan pesan-pesan konstitusi, serta sarana dalam membangun watak bangsa. Masyarakat yang cerdas akan memberi nuansa kehidupan yang cerdas pula, dan secara progresif akan membentuk kemandirian dan kreatifitas (Mulyasa,2005:4). Pernyataan tersebut berarti pendidikan yang diperoleh oleh manusia, bisa dijadikan investasi atau modal untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Sedikitnya terdapat dua alasan untuk memprioritaskan pendidikan sebagai investasi jangka panjang.
Pertama, pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan.
Produktivitas seseorang tersebut dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup. Sementara itu lulusan pendidikan lanjutan hanya berpanghasilan rata-
rata 19 juta dollar per tahun. Pada tahun yang sama struktur ini juga terjadi di Indonesia.
Manfaat non-meneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih lama karena peningkatan gizi dan kesehatan. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan pendapatan seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya.Sumber daya manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama pembangunan nasional, terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk membangun bangsanya. Untuk mengukur pendapatan seseorang, dapat digunakan persamaan berikut :
NI = P1Q1 + P2Q-2 + ….. + PnQn atau NI = PQi i
i n
∑
= 1Dimana : NI merupakan pendapatan petani, Q merupakan banyaknya produksi P merupakan harga barang.
(Murtiasih, 2010) Kedua, investasi pendidikan memberikan nilai balik (rate of return) yang lebih tinggi dari pada investasi fisik di bidang lain. Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja.Keadaan ini dapat dijelaskan
bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang terampil dan ahli di negara berkembang relatif lebih terbatas jumlahnya dibandingkan dengan kebutuhan sehingga tingkat upah lebih tinggi dan akan menyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi