BAB II GAMBARAN UMUM
3. Model Bisnis Sektor Perkebunan
76
dalam proses perencanaan strategis Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat. Indikator kinerja sasaran merupakan ukuran keberhasilan dari suatu sasaran strategis organisasi yang bersifat kuantitatif atau kualitatif dan dijadikan patokan/tolak ukur dalam menilai keberhasilan atau kegagalan penyelenggaraan pemerintahan dalam mencapai visi dan misi organisasi, maka Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat menetapkan sasaran sebagai berikut:
1) Mengembangkan usaha agribisnis komoditas tanaman pangan dan hortikultura yang berbasis sumberdaya lokal, dengan sasaran: (a) meningkatkan produksi tanaman pangan, dengan indikator kinerja sasaran luas panen, produktivitas dan produksi komoditi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar, (b) meningkatkan produksi tanaman hortikultura, dengan indikator kinerja sasaran produksi buah-buahan, sayuran, florikultura dan biofarmaka;
2) Mengembangkan pengolahan dan pemasaran produk pertanian tanaman pangan dan hortikultura, dengan sasaran: (a) meningkatkan sumberdaya lokal yang berdaya saing, dengan indikator kinerja sasaran jumlah pelaku usaha yang produktif, (b) meningkatkan usaha agribisnis tanaman pangan yang berorientasi pasar melalui penurunan tingkat kehilangan hasil, dengan indikator kinerja sasaran persentase penurunan tingkat kehilangan hasil komoditas pangan, (c) meningkatkan penerapan dan penyebaran informasi pasar produk pertanian tanaman pangan dan hortikultura, dengan indikator kinerja sasaran jumlah informasi pasar yang terbangun.
77 Pembangunan sektor perkebunan di Kalimantan Barat dalam pelaksanaannya oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat senantiasa diselaraskan dengan kebijakan pembangunan sektor pertanian secara nasional yaitu prioritas peningkatan ketahanan pangan dan pencapaian ketahanan energi nasional, serta sejalan dengan Prioritas Program Pembangunan Daerah untuk meningkatkan produksi komoditas unggulan perkebunan sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2013-2018.
Keberhasilan pembangunan sektor perkebunan di Provinsi Kalimantan Barat tidak terlepas dari pengaruh dinamika lingkungan strategis, baik lingkungan internal maupun eksternal sektor perkebunan, dengan demikian arah kebijakan, strategi dan program pembangunan perkebunan yang dikembangkan didasarkan atas hasil analisa lingkungan strategis. Dengan mengemban visi terwujudnya usaha perkebunan yang maju, mandiri, berkeadilan dan berkelanjutan dengan sasaran strategis meningkatkan produksi dan produktivitas perkebunan rakyat dan perkebunan besar dengan indikator kinerja jumlah produksi dan produktivitas lima komoditas unggulan perkebunan rakyat dan meningkatnya produksi dan produktivitas perkebunan besar jumlah produksi dan produktivitas dua komoditas unggulan perkebunan besar; tentu merupakan sebuah tantangan besar dan berat yang membutuhkan sebuah strategi yang tepat.
Untuk mendorong produksi dan produktivitas komoditi unggulan perkebunan rakyat yang terdiri dari komoditas karet, kelapa, kelapa sawit, kakao dan lada; dan komoditas unggulan perkebunan besar yaitu karet dan kelapa sawit; membutuhkan sebuah model bisnis yang tepat. Berdasarkan angka sementara tahun 2016, dari lahan potensial perkebunan di Provinsi Kalimantan Barat seluas 3,5 juta Ha, telah dimanfaatkan seluas 2.183.237 Ha, meliputi komoditi: Karet 597.989 Ha; Kelapa 106.991 Ha; Kelapa Sawit 1.439.815 Ha; Lada 8.030 Ha; Kakao 11.503 Ha; dan aneka tanaman seluas 18.909 Ha.
Tabel 2.25
Pemanfaatan Lahan Potensial Berdasar Komoditi di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2016
Sumber : Kalimantan Barat Dalam Angka 2016
43 perkebunan besar yaitu karet dan kelapa sawit; membutuhkan sebuah model bisnis yang tepat.
Berdasarkan angka sementara tahun 2016, dari lahan potensial perkebunan di Provinsi Kalimantan Barat seluas 3,5 juta Ha, telah dimanfaatkan seluas 2.183.237 Ha, meliputi komoditi: Karet 597.989 Ha; Kelapa 106.991 Ha; Kelapa Sawit 1.439.815 Ha; Lada 8.030 Ha; Kakao 11.503 Ha; dan aneka tanaman seluas 18.909 Ha.
Tabel 2.25
Pemanfaatan Lahan Potensial Berdasar Komoditi di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2016 Jenis Komoditi Luas Lahan yang
Termanfaatkan Produksi Total Komoditi (ton)
Kelapa Sawit 1.439.815 Ha 2.001.943 ton
Karet 597.989 Ha 260.179 ton
Kelapa 106.991 Ha 84.313 ton
Lada 8.030 Ha 4.244 ton
Kakao 11.503 Ha 2.750 ton
Aneka Tanaman 18.909 Ha 5.737 ton
Produksi Total 2.183.237 Ha 2.359.166 ton
Sumber : Kalimantan Barat Dalam Angka 2016
Produksi total komoditi perkebunan pada tahun 2016 sebanyak 2.359.166 ton, terdiri dari produk sawit 2.001.943 ton CPO, karet 260.179 ton, kelapa 84.313 ton, kakao 2.750 ton, lada 4.244 ton, aneka tanaman 5.737 ton. Total Volume Ekspor karet adalah 15.781,48 ton sedangkan Volume Perdagangan antar pulau Tahun 2015 berjumlah 1.247.921 ton terdiri dari karet 148.215 ton serta Komoditi Lain, Tingginya Volume antar pulau sebagian besar dibawa keluar pulau disebabkan belum memadainya industri hilir yang tersedia di Kalimantan Barat. Secara ekonomis perkebunan telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pembangunan di Kalimantan Barat, salah satunya ditengarai dengan nilai tambah perkebunan (atas dasar harga berlaku) yang mencapai sebesar Rp. 12.6 triliun meningkat 34.52% dibanding dengan tahun sebelumnya yaitu Rp. 9.74 triliun.
Berdasarkan komposisi kepemilikan nilai tambah tersebut dihasilkan dari perkebunan rakyat Rp. 7.1 triliun dan perkebunan besar Rp. 5.5 triliun. Demikian juga untuk penyerapan tenaga kerja di sub sektor perkebunan diprediksi akan terus mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan luas tanaman perkebunan13.
Dalam rangka upaya pembangunan ekonomi daerah, inventarisasi potensi wilayah (daerah) mutlak diperlukan agar dapat ditetapkan kebijakan pola pengembangan baik secara sektoral maupun secara multisektoral. Salah satu langkah inventarisasi potensi ekonomi daerah adalah dengan menginventarisasi produk-produk potensial, andalan dan unggulan daerah tiap-tiap sub sektor serta tingkat kabupaten/kota.
Tabel 2.26
Kabupaten/Kota Potensial Dalam Pengembangan Komoditas Unggulan Perkebunan
Kabupaten/Kota Karet Kelapa Kelapa Sawit Kakao Lada
[01] Sambas
[02] Bengkayang
[03] Landak - -
[04] Mempawah
[05] Sanggau -
[06] Ketapang
13 Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat. 2017. Rencana Strategis Tahun 2013-2018, Edisi Revisi Tahun 2017.
Diterbitkan oleh Disbunprov Kalbar. Pontianak.
78
Produksi total komoditi perkebunan pada tahun 2016 sebanyak 2.359.166 ton, terdiri dari produk sawit 2.001.943 ton CPO, karet 260.179 ton, kelapa 84.313 ton, kakao 2.750 ton, lada 4.244 ton, aneka tanaman 5.737 ton. Total Volume Ekspor karet adalah 15.781,48 ton sedangkan Volume Perdagangan antar pulau Tahun 2015 berjumlah 1.247.921 ton terdiri dari karet 148.215 ton serta Komoditi Lain, Tingginya Volume antar pulau sebagian besar dibawa keluar pulau disebabkan belum memadainya industri hilir yang tersedia di Kalimantan Barat.
Secara ekonomis perkebunan telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pembangunan di Kalimantan Barat, salah satunya ditengarai dengan nilai tambah perkebunan (atas dasar harga berlaku) yang mencapai sebesar Rp. 12.6 triliun meningkat 34.52% dibanding dengan tahun sebelumnya yaitu Rp. 9.74 triliun. Berdasarkan komposisi kepemilikan nilai tambah tersebut dihasilkan dari perkebunan rakyat Rp. 7.1 triliun dan perkebunan besar Rp. 5.5 triliun. Demikian juga untuk penyerapan tenaga kerja di sub sektor perkebunan diprediksi akan terus mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan luas tanaman perkebunan.
Dalam rangka upaya pembangunan ekonomi daerah, inventarisasi potensi wilayah (daerah) mutlak diperlukan agar dapat ditetapkan kebijakan pola pengembangan baik secara sektoral maupun secara multisektoral. Salah satu langkah inventarisasi potensi ekonomi daerah adalah dengan menginventarisasi produk-produk potensial, andalan dan unggulan daerah tiap-tiap sub sektor serta tingkat kabupaten/kota.
Tabel 2.26
Kabupaten/Kota Potensial Dalam Pengembangan Komoditas Unggulan Perkebunan
Kabupaten/Kota Karet Kelapa Kelapa Sawit Kakao Lada
[01] Sambas
[02] Bengkayang
[03] Landak - -
[04] Mempawah
[05] Sanggau -
[06] Ketapang
[07] Sintang
[08] Kapuas Hulu -
[09] Sekadau -
[10] Melawi - - -
[11] Kayong Utara - -
[12] Kubu Raya
[72] Singkawang
Sumber : Renstra 2013-2018 Disbunprov Kalbar, 2017
Pengembangan produk unggulan dan pemberdayaan sebagai potensi ekonomi daerah pada era otonomi adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah dilaksanakan, hal tersebut disebabkan karena pengembangan Produk Unggulan Daerah (PUD) terkait erat dengan kemauan politik atau kebijakan dari Pemerintah Daerah. Peranan pemerintah daerah sangat diperlukan dan sangat penting dalam pengembangan dan pemberdayaan produk unggulan daerah sebagai salah satu tonggak dari pada ekonomi daerah. Oleh karena, produk unggulan daerah terkait beberapa stakeholders yang saling berperan sesuai dengan kewenangannya masing-masing.
Stakeholders dimaksud adalah pemilik bahan baku dan pengolah/penghasil bahan baku, pengguna atau konsumen, fasilitator atau pemerintah dan lembaga sosial masyarakat. Stakeholders tersebut saling terkait dan menunjang satu sama lain sehingga peranan koordinasi dalam pencapaian tujuan menjadi unsur utama dalam pengembangan PUD. Koordinasi ini menjadi instrumen penting dalam pengembangan produk unggulan daerah.
Pembangunan subsektor perkebunan yang dilaksanakan selama ini telah ditempuh melalui berbagai pola pengembangan, yaitu pola PIR, pola UPP, pola perkebunan besar dan pola swadaya. Menyikapi perubahan lingkungan strategis dan tuntutan pembangunan, dalam 5 tahun terakhir, pengembangan perkebunan telah mengadopsi pola-pola pengembangan, yang pada intinya lebih mengedepankan peran masyarakat petani/pekebun dalam pembangunan perkebunan melalui kemitraan dengan perusahaan. Dengan memperhatikan ciri-ciri umum sub sektor perkebunan, pola-pola pengembangan dan tuntutan pembangunan, maka pembangunan agribisnis perkebunan ke depan perlu dilakukan penyesuaian pendekatan dan orientasi sebagai berikut :
(1) Dari pendekatan yang berorietasi peningkatan produksi kepada pendekatan pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi.
(2) Dari pendekatan produktivitas tanaman kepada pendekatan peningkatan produktivitas usahatani melalui pemanfataan asset agribisnis secara optimal.
(3) Dari pendekatan hanya penggunaan paket teknologi baku/konvensional yang mengandalkan penggunaan agro input dari luar sistem pertanian kepada pendekatan penggunaan paket teknologi yang tersedia dan diterima oleh budaya setempat, diantaranya dengan menggunakan agro input dari internal sistem pertanian secara berkelanjutan.
(4) Dari pendekatan yang lebih berorientasi pada pengembangan komoditas utama/
tradisional, kepada pendekatan berbagai komoditas potensial lainnya yang secara teknis sesuai dan tersedia peluang pasarnya, termasuk pengembangan komoditi bahan bakar nabati dan komoditi lokal spesifik. Selain itu juga dari pendekatan pengembangan pada wilayah konvensional ke pengembangan wilayah bukaan baru.
(5) Dari pendekatan penyelenggaraan pembangunan yang bertumpu pada peran pemerintah, kepada pendekatan pelayanan, fasilitasi, pendampingan, advokasi
80
dan penciptaan iklim yang bertumpu pada peran serta masyarakat Usaha Kecil Menengah (UKM), Koperasi, dan dunia usaha.
Melalui penyesuaian pendekatan dan orientasi dimaksud pembangunan perkebunan harus dilaksanakan secara bertahap, berkelanjutan dan konsisten, sehingga akan lebih berperan dalam pembangunan nasional. Dengan memperhatikan potensi dan peluang pengembangan serta berbagai kecenderungan dan tuntutan pembangunan perkebunan, maka kebijakan umum pengembangan lima komoditas unggulan perkebunan yang terdiri dari komoditas karet, kelapa, kelapa sawit, kakao dan lada dalam jangka panjang 2017- 2033 di Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut:
a. Komoditas Unggulan Perkebunan Karet
Sejalan dengan Program Pengembangan Agribisnis berbasis karet Rakyat (Probangkara) yang telah dicanangkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat, maka dalam rangka percepatan pengembangan karet dalam jangka panjang s/d tahun 2033 disinergikan dengan Probangkara yaitu Peremajaan dan perluasan tanaman karet seluas 1.200.000 ha. Oleh karena itu penekanan upaya kedepan adalah bagaimana meningkatkan produktifitas dan peningkatan mutu karet. Agar tercapainya sasaran tersebut, maka kebijakan pengembangan agribisnis diarahkan kepada :
1) On-farm
Upaya yang ditempuh dibidang on-farm adalah meningkatkan produktivitas perkebunan karet secara berkelanjutan melalui :
a) Intensifikasi pemeliharaan tanaman karet dengan target minimal seluas 44.836 ha (5% dari areal TM) sampai tahun 2033.
b) Peremajaan dan rehabilitasi tanaman karet secara bertahap dan berkelanjutan sebesar 2 % /tahun dengan menggunakan klon unggul penghasil lateks dan pemanfaatan kayu yang mempunyai potensi produksi latek lebih dari 1.500 kg/
ha/tahun dan mempunyai potensi produksi kayu karet lebih dari 300 m3/ha/
siklus. Percepatan peremajaan dan rehabilitasi karet tua dan tidak produktif pada perkebunan karet rakyat ditujukan dalam upaya peningkatan adopsi klon unggul dari hanya 50 % pada tahun 2013 menjadi 80 % pada tahun 2033, yang direalisasikan melalui gerakan peremajaan karet rakyat minimal seluas 206.933 ha sampai tahun 2033 yang dicapai melalui program Peremajaan berbantuan (Pemerintah) dan Swadaya Masyarakat.
c) Perluasan areal karet minimal seluas 681.593 ha yang dicapai melalui program pembangunan karet berbantuan (pemerintah). Perluasan areal dilakukan pada wilayah yang secara agroklimat sesuai untuk karet, di samping mempertimbangkan skala usaha ekonomi.
d) Pembangunan sumber benih karet pada setiap wilayah sentra produksi karet serta peningkatan kemampuan para penangkar bibit/Usaha Perbenihan Kecil
(UPK) melalui penerapan teknologi dan kebutuhan pasar dengan model waralaba dalam mendukung upaya percepatan peremajaan dan perluasan karet rakyat.
e) Tersedianya sarana produksi lainnya (pupuk, pestisida dan peralatan) dalam jumlah cukup dengan tingkat mutu dan harga bersaing.
f) Diversifikasi usaha tani melalui optimasi pemanfaatan lahan dengan pengusahaan tanaman sela, ternak serta tanaman hijauan dan tanaman keras lainnya dalam mendukung peningkatan pendapatan keluarga tani.
g) Peningkatan efisiensi usaha pada setiap tahapan proses produksi untuk menjamin marjin keuntungan dan daya saing yang tinggi.