BAB 9 LEMBAR KERJA SISWA IPA
A. PENGERTIAN LEMBAR KERJA SISW
Lembar Kerja Siswa adalah sumber belajar penunjang yang dapat meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi kimia yang harus mereka kuasai (Senam, 2008).
LKS merupakan alat bantu untuk menyampaikan pesan kepada siswa yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Menurut Sriyono (1992), LKS adalah salah satu bentuk program yang berlandaskan atas tugas yang harus diselesaikan dan berfungsi sebagai alat untuk mengalihkan pengetahuan dan keterampilan sehingga mampu mempercepat tumbuhnya minat siswa dalam
mengikuti proses pembelajaran. Sedangkan menurut Devi (Yunitasari, 2013) Lembar Kerja Siswa adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa yang biasanya berupa petunjuk dan langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. berdasarkan beberapa devinisi LKS di atas dapat disimpulkan bahwa LKS merupakan salah satu sumber belajar yang dapat membantu guru dalam
menyampaikan pesan kepada siswa yang berisi langkah dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa.
Menurut Hanafita (2012) LKS biasanya berupa petunjuk dan langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Bentuk-bentuk LKS terdiri dari LKS eksperimen dan LKS non eksperimen. LKS eksperimen berupa lembar kerja yang memuat petunjuk praktikum yang menggunakan alat-alat dan bahan-bahan. LKS non eksperimen berupa lembar kegiatan yang memuat teks yang menuntut siswa
melakukan kegiatan diskusi suatu materi pembelajaran. LKS menjadi sumber belajar dan media pembelajaran tergantung pada kegiatan pembelajaran yang dirancang
LKS sebagai sumber belajar dapat digunakan sebagai alternative media
pembelajaran. LKS termasuk media cetak hasil pengembangan teknologi cetak yang berupa buku berisi materi visual, seperti yang diungkapkan oleh Arsyad (2011). LKS merupakan hand out yang dimaksudkan untuk membantu siswa belajar secara
AKTIVITAS BELAJAR IPA MENGGUNAKAN LEMBAR KERJA, MEDIA DAN ALAT PERAGA
BAB 7
terarah. Menurut Slamet (2003) pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal berupa kemampuan awal siswa dan faktor eksternal berupa pendekatan pembelajaran. Pendekatan dapat dilakukan dengan menggunakan media LKS.
1. Fungsi Lembar Kerja Siswa (LKS)
Menurut Sudjana (Djamarah dan Zain, 2000), fungsi LKS adalah:
a. Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif b. Sebagai alat bantu untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih
menarik perhatian siswa.
c. Untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian-pengertian yang diberikan guru.
d. Siswa lebig banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi lebih aktif dalam pembelajaran
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan pada siswa.
f. Untuk mempertinggi mutu belajar mengajar, karena hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama, sehingga pelajaran mempunyai nilai tinggi.
Menurut Sudjana (Djamarah dan Zain, 2000), fungsi LKS adalah:
a. Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
b. Sebagai alat bantu untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih menarik perhatian siswa
c. Untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian-pengertian yang diberikan guru.
d. Siswa lebig banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi lebih aktif dalam pembelajaran.
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan pada siswa.
f. Untuk mempertinggi mutu belajar mengajar, karena hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama, sehingga pelajaran mempunyai nilai tinggi.
g. Membantu guru dalam menyusun pelajaran.
h. Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.
i. Membantu siswa memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari melalui
j. Membantu siswa untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.
2. TujuanLembar Kerja Siswa (LKS)
Depdiknas dalam panduan pelaksanaan materi pembelajaran (2008), tujuan pengemasan materi dalam bentuk LKS adalah:
a. LKS membantu siswa untuk menemukan suatu konsep LKS mengenai suatu fenomena yang bersifat kongkrit, sederhana, dan berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari. LKS memuat apa yang harus dilakukan siswa seperti melakukan, mengamati dan menganalisis
b. LKS membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan.
c. LKS berfungsi sebagai penuntun belajar, LKS berisi penyataan atau isian yang jawabannya ada dalam buku. Siswa dapat mengerjakan LKS jika membaca buku.
d. LKS berfungsi sebagai penguatan
e. LKS berfungsi sebagai petunjuk Praktikum.
3. Manfaat Lembar Kerja Siswa (LKS)
LKS memiliki beberapa manfaat dalam pembelajaran diantaranya mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran, membantu siswa dalam mengembangkan konsep, melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan proses belajar mengajar, sebagai alat bantu guru dan siswa dalam melaksanakan proses belajar mengajar, membantu siswa untuk menambah info tentang konsep, membantu siswa
memperoleh catatan materi yang dipelajari dalam melakukan kegiatan
pembelajaran, membantu guru dalam menyusun perangkat pembelajaran, oleh karena itu pembelajaran disekolah juga perlu pengembangan perangkat
pembelajaran, salah satunya LKS yang dikembangkan oleh guru sebagai fasilitator dan pedoman pembelajaran, supaya siswa dapat ikut berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar (Yunitasari, 2013).
LKS dapat membantu siswa dalam pembelajaran lebih menarik, seperti pernyataan dari Yildirim & Kurt (2011) lembar kerja siswa dapat mempengaruhi
faktor keseimbangan pada prestasi siswa. Penggunaan LKS diharapkan dapat memberikan manfaat dalam proses pembelajaran, adapun manfaat LKS menurut Arsyad (Yunitasari, 2013) yaitu:
a. Memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga proses belajar semakin lancar dan dapat meningkatkan hasil belajar.
b. Meningkatkan motivsi siswa dengan mengarahkan perhatian siswa, sehingga memungkinkan siswa belajar sendiri sesuai dengan kemampuan dan
minatnya.
c. Penggunaan media dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.
d. Siswa akan mendapatkan pengalaman yang sama mengenai suatu peristiwa dan memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Menurut Darmojo dan Kaligis (1991) mengajar dengan menggunakan LKS dalam proses belajar mengajar memberikan manfaat antara lain memudahkan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, misalnya dalam mengubah kondisi belajar yang semula berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Pada proses pembelajaran yang berpusat pada guru akan terjadi Menurut Darmojo dan Kaligis (1991) mengajar dengan menggunakan LKS dalam proses belajar mengajar memberikan manfaat antara lain memudahkan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, misalnya dalam mengubah kondisi belajar yang semula berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Pada proses pembelajaran yang berpusat pada guru akan terjad
4. Peranan Lembar Kerja Siswa (LKS)
LKS merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dikembangkan oleh guru sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran. LKS juga berperan sebagai media pembelajaran, karena dapat digunakan secara bersama dengan sumber belajar atau media pembelajaran yang lain. LKS menjadi sumber belajar dan media pembelajaran tergantung pada kegiatan pembelajaran yang dirancang. LKS sebagai sumber
belajar dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran. LKS termasuk media cetak hasil pengembangan teknologi cetak yang berupa buku dan berisi materi visual, seperti yang diungkapkan oleh Arsyad (Yunitasari, 2013).
LKS yang dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum dan karakteristik
pembelajaran yang dihadapi. Pengembangan LKS memerlukan persiapan yang matang dalam perencanaan materi (isi) dan tampilan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Tampilan LKS didesain dengan sedemikian rupa yang nantinya untuk dimanfaatkan dan dijadikan pedoman belajar siswa secara mandiri, dan guru, Jika desain LKS yang dikembangkan terlalu rumit bagi siswa, maka siswa akan kesulitan memahami LKS. Materi LKS harus diturunkan dari standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang telah ditetapkan, sedangkan penampilan yang
dikembangkan harus memudahkan siswa berinteraksi dengan materi yang diberikan (Yunitasari, 2013).
B. PENGERTIAN MEDIA DAN ALAT PERAGA SD 1. Media Pembelajaran
Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Heinich, dkk (1982) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantarkan informasi antara sumber dan penerima. Jadi televisi, film, foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya adalah media komunikasi.
Apabila media tersebut membawa informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud pengajaran maka media disebut dengan media pengajaran.
Menurut Gerlach secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Jadi dalam pengertian ini media bukan hanya perantara seperti TV, radio, slide, bahan cetakan, tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar atau kegiatan semacam diskusi, seminar, karyawisata, simulasi, dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa, atau untuk menambah keterampilan.
Dari beberapa pengertian yang telah di sebutkan di atas Mahnun (2012)
menyimpulkan menjadi tiga batasan yaitu pertama, para ahli membatasi pengertian media dengan, orang, bahan, tekhnologi, sarana, alat, dan saluran atau berupa kegitan yang dirancang untuk terjadinya proses belajar. Kedua, para ahli membatasi pengertian media dengan pesan atau informasi, yang dibawa atau disampaikan
melalui hardware sebagaimana tersebut di atas. Batasan ketiga, bahwa pesan yang dibawa diperuntukan sebagai perangsang terjadinya proses belajar (bahan ajar).
a. Prinsip Media Pembelajaran
Kesederhanaan
Bentuk media ini harus ringkas, sederhana dan dibatasi pada halhal yan penting saja. Konsepnya harus tergambar dengan jelas serta mudah dipahami. Tulisan cukup jelas, sederhana dan mudah dibaca. Hindarilah bentuk tulisan yang artistik, karena tidak setiap orang bisa membacanya.
Misal seperti dibawah ini.
Kesatuan
Prinsip kesatuan ini adalah hubungan yang ada diantara unsurunsur visual dalam kesatuan fungsinya secara keseluruhan. Bentuk kesatuan ini dapat dinyatakan dengan unsur-unsur yang saling menunjang, atau dengan menggunakan petunjuk seperti anak panah atau alat-alat visual seperti garis, bentuk, warna, tekstur, dan ruang yang dilukiskan dalam satu halaman.
Penekanan
Walaupun media ditunjukkan dengan gagasan tunggal, dikembangkan secara sederhana, merupakan satu kesatuan, sering diperlukan penekanan pada bagian-bagian tertentu untuk memusatkan minat dan perhatian.
Penekanan tersebut dapat ditunjukkan melalui penggunaan ukuran
tertentu, gambar perspektif atau dengan warna tertentu pada unsur yang paling penting.
b. Macam-Macam Media
Pembelajaran Menurut Rahardjo (Mahnun, 2012) media dibedakan menjadi dua macam menurut kriteria aksesibilitasnya, yaitu:
Media yang dimanfaatkan (media by utilization), artinya media yang biasanya dibuat untuk kepentingan komersial yang terdapat di pasar bebas. Dalam hal ini, guru tinggal memilih dan memanfaatkannya, walaupun masih harus mengeluarkan sejumlah biaya.
Media yang dirancang (media by design) yang harus dikembangkan sendiri. Dalam hal ini, guru dituntut untuk mampu merancang dan mengembang sendiri media tersebut sesuai dengan sarana dan kelengkapan yang dimilikinya
c. Penilihan Media Dalam Pembelajaran
Pemilihan media dan sumber belajar merupakan komponen dari sistem instruksional secara keseluruhan. Oleh sebab itu, meskipun tujuan dan isinya sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti siswa, strategi belajar mengajar, organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan sumber, serta prosedur
penilaiannya perlu dipertimbangkan. Menurut Degeng (1993), faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih, mengembangkan, dan menggunakan media pembelajaran adalah:
Tujuan instruksional. Media hendaknya dipilih yang dapat menunjang pencapaian tujuan instruksional yang telah ditetapkan sebelumnya.
Mungkin ada sejumlah alternative media yang dianggap cocok untuk tujuan-tujuan itu. Sedapat mungkin pilihlah yang paling cocok. Kecocokan banyak ditentukan oleh kesesuaian karakteristik tujuan dan karakteristik media pembelajaran yang akan dipakai.
Keefektifan. Dari beberapa alternative media yang sudah dipilih, mana yang dianggap paling efektif (tepat guna) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Siswa. Apakah media yang dipilih sudah sesuai dengan kemampuan, perbendaharaan pengalaman, dan menarik perhatian siswa?
Digunakan untuk siapa? Apakah secara individual atau kelompok kecil, kelas atau massa? Untuk kegiatan tatap muka atau jarak jauh?
Ketersediaan. Apakah media yang diperlukan itu sudah tersedia? Kalau belum, apakah media itu dapat diperoleh dengan mudah? Untuk
tersedianya media ada beberapa alternatif yang dapat diambil yaitu membuat sendiri, membuat bersama-sama siswa, meminjam, menyewa, membeli dan mungkin dapat “dropping” dari pemerintah.
Biaya pengadaan. Bila memerlukan biaya untuk pengadaan media, apakah tersedia biaya untuk itu? Apakah yang dikeluarkan seimbang dengan
manfaat dan hasil penggunaannya? Adakah media lain yang mungkin lebih murah, tetapi memiliki keefektifan setara?
Kualitas teknis. Apakah media yang dipilih itu kualitasnya baik? Jika menggunakan media gambar misalnya, apakah memenuhi syarat sebagai media pembelajaran? Bagaimana keadaan daya tahan media yang dipilih itu?
d. Peranan Media Pembelajaran
Media belajar yang baik adalah yang mempunyai peranan dan manfaat dalam penggunaannya. Ada beberapa peranan media pembelajaran menurut Ahmad Rohani (1997), diantaranya adalah:
Media pembelajaran mengatasi perbedaan pengalaman pribadi peserta didik.
Media pembelajaran mengatasi batas-batas ruang kelas
Mengamati benda yang terlalu kecil
Mengamati benda yang bergerak terlalu cepat atau terlalu lambat.
Mengamati suara yang halus untuk didengar.
Mengamati peristiwa-peristiwa alam.
Media pembelajaran berperan membangkitkan minat belajar yang baru.
Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa media pembelajaran berperan untuk membantu mewujudkan tujuan pembelajaran. Media pembelajaran dapat mengatasi permasalahan yang menyangkut pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sudjana (2005) bahwa media pembelajaran berperan untuk
mengatasi kesulitan proses pembelajaran.
2. Alat Peraga IPA SD
Menurut Gagne alat peraga adalah komponen sumber belajar di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Sedangkan Menurut Briggs adalah wahana fisik yang mengandung materi pembelajaran. Dengan demikian alat peraga merupakan sesuatu yang digunakan untuk mengomunikasikan materi pembelajaran agar terjadi proses belajar. Menurut Schramm bahwa alat peraga adalah suatu teknik untuk menyampaikan pesan sehingga sehingga alat peraga sebagai teknologi
pembawa informasi atau pesan pembelajaran. Miarso secara makro adalah sebagai segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar .
a. Tujuan Menggunakan Alat Peraga
Memperjelas informasi atau pesan pembelajaran
Memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting
Memberi variasi dalam pengajaran
Memperjelas struktur pengajaran
Memotivasi siswa belajar b. Bentuk Alat Peraga
Buku, koran, majalah (bahan-bahan cetakan)
Alat-alat audio dan visual
Sumber-sumber masyarakat( monumen,candi dan peninggalan sejarah lainnya)
Koleksi benda-benda seperti benda-benda mata uang kuno
Prilaku guru ketika mengajar yang dicontokan kepada siswa c. Mendesain Alat Peraga
Mendesain alat peraga IPA di SD meliputi merancang, memilih dan membuat alat peraga IPA yang sesuai untuk mengajarkan suatu konsep, prinsip dan teori-teori IPA di SD. Mendesain alat peraga dapat pula berarti menampilkan bentuk asli atau memodifikasi benda asli menjadi sebuah model tertentu. Sebelum kita membuat alat peraga sederhana terlebih dahulu kita harus menganalisis materi IPA.
Sarana utama dari menganalisis materi IPA adalah :
Terjabarnya tema/materi pokok/pokok bahasan
Terpilihna pendekatan dan metode yang efektif dan efisien
Terpilihnya alat peraga atau sarana pembelajaran yang tepat atau cocok
Terjadinya alokasi yang sesuai.
Dalam menganalisis tersebut perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1) Metode dan pendekatan seperti apa yang sesuai?
2) Apakah diperlukan alat peraga?
3) Bagaimana pengelolaan kelas bila mengerjakan metode percobaan?
4) Bagaimana cara mendesain alat peraga?
Dalam mendesain alat peraga perlu memperhatikan konsep yang mendasari kegunaan alat atau prinsip kerja alat tersebut. Ada tiga kelayakan untuk memilih alat peraga yang baik :
1) Kelayakan praktis
Pengenalan dan pemahaman guru dengan jenis alat peraga
Ketersediaan alat peraga dilingkungan belajar setempat
Ketersediaan waktu untuk mempersiapkannya
Ketersedian sarana dan fasilitas pendukungnya
Keluwesan, yaitu: mudah dibawa serta mudah dipergunakan pada waktu kapan dan digunakan oleh siapa saja
2) Kelayakan teknis atau Pedagogis
Relevan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
Merangsang motivasi terjadinya proses belajar yang optimal
3) Kelayakan biaya Disamping itu alat peraga IPA sederhana yang kita buat harus memiliki nilai bantu terhadap pelajaran IPA yang dapat kita
nyatakan dengan output pedagogis, yaitu hasil interaksi dari kegunaan alat peraga dengan yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar.
Adapun alat dan bahan yang kita butuhkan untuk membuat alat peraga IPA yang sederhana hendaknya bisa diperoleh dari lingkungan sekitar rumah dan sekolah
A. KONSEP EVALUASI PEMBELAJARAN 1. Pengertian Evaluasi
Aspek yang harus dikembangkan dalam proses belajar mengajar IPA, sebagaimana tercantum dalam Tujuan Pendidikan IPA di SD meliputi ketiga ranah dalam Tujuan Pendidikan Nasional: yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Dengan demikian selama proses pembelajaran berlangsung ketiga ranah tersebut
dikembangkan oleh guru. Untuk mengetahui sejauh mana ketiga ranah telah dikuasai oleh peserta didik, guru harus mengukurnya dan menentukan hasil pengukurannya. Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh guru adalah evaluasi pembelajaran. Kompetensi ini sejalan dengan tugas dan tanggung jawab guru dalam pembelajaran, yaitu mengevaluasi pembelajaran termaksud di dalamnya melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar. lstilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu Evaluation yang artinya penilaian. Evaluasi memiliki banyak arti yang berbeda, menurut llang dan Brown dalam buku yang berjudul Essentials of
Educational Evaluation, dikatakan bahwa "Evaluation rekr to the act or process to determining the yalue of something", artinya "evaluasi adalah suahr tbdakan atau suatu proses untuk menentukan nilai daripada sesuatu". Sesuai dengan pendapat tersebut maka evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pandidikan
2. Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
b. Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran.
c. Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.
ALAT EVALUASI PEMBELAJARAN IPA SD IPA
BAB 8
d. Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.
Selain fungsi di atas, penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi,
penempatan, dan diagnostik, guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah
a. Fungsi Evaluasi Secara Umum
Untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik Melalui evaluasi yan dilakukan terhadap proses pembelajaran yang telah disampaikan di depan kelas.
Memberikan dorongan belajar bagi peserta didik Bagi peserta didik yang memiliki prestasi belajar yang baik melalui tes yang dilakukan, dapat memberikan dorongan yang kuat untuk meningkatkan dan
mempertahankan prestasi yang telah dicapainya.
Sebagai laporan bagi orang tua peserta didik. Hasil penilaian kemajuan belajar yang biasanya berbentuk "Buku Raport" sangat penting bagi orang tua peserta didik, sebagai bahan informasi mengenai kemajuan belajar yang dicapai anaknya (Sakni, 2006).
Evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses yang memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu
mengukur kemajuan,
menunjang penyusunan rencana, dan
memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali (Sudijono, 2011).
Menurut Nofiyanti dkk., fungsi evaluasi terbagi menjadi empat macam yaitu:
Fungsi penempatan (placement), yaitu evaluasi yang hasilnya digunakan sebagai pengukur kecakapan yang disyaratkan di awal suatu program pendidikan.
Fungsi selektif, yaitu evaluasi yang dilaksanakan sebagai upaya untuk memilih (to select), yaitu memilih peserta didik yang dapat diterima di sekolah tertentu; memilih peserta didik yang dapat naik kelas atau tidak;
memilih peserta didik yang seharusnya mendapat beapeserta didik
Fungsi diagnostik, apabila alat atau teknik yang digunakan dalam
melakukan kegiatan evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan peserta didik,
demikian juga sebab- sebab kelemahan itu.
Fungsi pengukur keberhasilan, yaitu evaluasi yang dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program pendidikan berhasil diterapkan (Nofiyanti, et. al., 2008)
b. Fungsi Evaluasi Bagi Pendidik
Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi) yang telah dicapai oleh peserta didiknya.
Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik di tengah- tengah kelompoknya.
Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik.
Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi memerlukannya. peserta didik yang memang
Memberikan petunjuk tentang sudah sejauh manakah program pengajaran yang telah ditentukan telah dapat dicapai.
c. Fungsi Evaluasi secara Administratif
Memberikan laporan
Memberikan bahan-bahan keterangan
Memberikan gambaran data
3. Prinsip-Prinsip Umum Evaluasi Pembelajaran
a. Komprehensif, kegiatan evaluasi pembelajaran hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh, yakni dengan mencakup seluruh aspek pribadi peserta didik, baik kognitif, afekif, maupun psikomotirik
b. Mengacu kepada tujuan, pelaksaaan evaluasi pembelajaran juga harus mengacu pada tujuan pembelajaran yang ditetapkan
c. Objektif, kegiatan evaluasi pembelajaran juga harus dilaksanakan secara objetif. Artinya apabila evaluasi dilaksanakan memang benar-benar sesuai dengan kenyatan yang ada.
d. Kooperatif, dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran, juga harus bekerja sama dengan semua pihak yang terlibat dalam kegitan evaluasi.
e. Kontinue, Evalusi pembelajaran harus dilaksanakan secara terus menerus atau berkesinambungan selama proses pelaksanaan pembelajaran
f. Praktis, ekonomis, dan mendidik, Evaluasi pembelajaran yang baik harus mudah dilaksanakan, rendah biaya, efisien waktu, tenaga serta bias mencapai tujuan secara optimal
B. ALAT EVALUASI PEMBELAJARAN IPA DI SD
1. Pengertian Alat Evaluasi Pembelajaran IPA SD
Dalam pengertian umum alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien. Kata “alat” biasa disebut juga dengan “instrument”. Dengan demikian alat evaluasi juga dikenal dengan instrument 8 evaluasi. Dalam kegiatan evaluasi, fungsi alat juga untuk memperoleh hasil lebih sesuai dengan kenyataan yang di evaluasi. Menurut Norman E Grounlund dalam Purwanto evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh sisiwa. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa alat evaluasi adalah sesuatu yang digunakan untuk menilai atau mengukur suatu tujuan dalam rangka pembuatan keputusan.
2. Alat Evaluasi Proses Belajar IPA di SD
Dengan pengertian tersebut maka alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan hassil evaluasi seperti keadaan yang dievaluasi. Alat evaluasi proses pembelajaran IPA yang diperlukan terdiri dari alat evaluasi untuk mengukur kognitif, alat evaluasi untuk menentukan kualitas hati nurani, dan alat untuk mengukur kemampuan keterampilan.
a. Alat evaluasi untuk mengukur kognitif