• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model-Model Pondok Pesantren

Dalam dokumen modernisasi pondok pesantren di lombok (Halaman 39-44)

BAB I PENDAHULUAN

G. Kerangka Teori

3. Model-Model Pondok Pesantren

Bahri Ghazali menyebutkan, secara faktual, ada beberapa tipe Pondok Pesantren yang berkembang dalam masyarakat, yaitu meliputi;

a. Pondok Pesantren Tradisional

Pondok Pesantren ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke 15 dengan menggunakan bahasa Arab. Pola pengajarannya dengan menerapkan sistem

“halaqoh” yang dilaksanakan di masjid atau surau. Hakekat dari sistem pengajaran halaqoh adalah penghapalan yang titik akhirnya dari segi metolologi cendrung kepada terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu. Artinya ilmu itu tidak berkembang ke arah paripurnanya ilmu itu, melainkan hanya terbatas pada apa yang diberikan olek kyainya. Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada kyai pengasuh pondoknya. Santrinya ada yang menetap di dalam pondok (santri mukim), dan santri yang tidak menetap di dalam pondok (santri kalong).

b. Pondok Pesantren Modern

Pondok Pesantren ini merupakan pengembangan tipe pesantren karena orientasi belajarnya mengadopsi seluruh sistem belajar secara klasik dan meninggalkan sistem belajar tradisional. Penerapan sistem belajar modern ini terutama nampak pada penggunaan kelas belajar baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah.

Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah dan madrasah yang berlaku secara nasional. Santrinya ada yang menetap ada yang tersebar di sekitar desa itu. Kedudukan para kyai sebagai coordinator pelaksana proses belajar mengajar dan sebagai pengajar langsung di kelas. Perbedaan sekolah dan madrasah terletak pada porsi pendidikan agama dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal.

c. Pondok Pesantren Komprehensif

Pondok Pesantren ini disebut komprehensif karena merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara tradisional dan yang modern.

Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan sistem sorogan, bandongan dan wetonan, namun secara regular sistem persekolahan terus dikembangkan. Bahkan pendidikan keterampilanpun diaplikasikan sehingga menjadikannya berbeda dari tipologi kesatu dan kedua. 59

Selanjutnya Mastuhu menyebutkan bahwa sistem pendidikan pesantren telah mengalami perkembangan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

1) Tetap berbentuk lama maksudnya tetap sebagai pendidikan non formal yang khusus menjalani kajian-kajian keagamaan, yang lebih menekankan pada pentingnya pengalaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keseharian, yang disiplin ilmunya bersumber pada kitab-kitab fiqih dan tasawuf klasik.

2) Berbentuk tetap sebagai pendidikan non formal di bidang agama, tetapi disertai dengan berbagai pelatihan keterampilan dengan penegasan bahwa kajian keagamaan juga terus dikembangkan seiring perkembangan pemikiran dalam

59 Bahri Ghazali, Pesantren Berwawasan Lingkungan (Jakarta: Prasasti, 2002), cet. II, hlm. 14- 15

Islam. Dalam bentuk ini disiplin keilmuan pesantren tidak hanya terbatas pada sumber-sumber ajaran lama seperti tersebut di atas tetapi dilengkapi dengan kajian kefilsafatan dan kajian-kajian kontemporer dalam Islam sesuai dengan perkembangan zamannya.

3) Berbentuk seperti alternatif kedua ditambah dengan penyelenggaraan pendidikan formal, baik berupa madrasah maupun sekolah umum.

4) Berubah menjadi bentuk pendidikan formal yang lebih mengkhususkan pada kajian-kajian ilmu keagamaan murni.

5) Berubah menjadi alternatif keempat ditambah dengan ilmu-ilmu pengetahuan umum, dan ilmu-ilmu agama yang dikajinya juga dikembangkan sesuai dengan perkembangan pemikiran dalam Islam. Jadi dalam alternatif kelima ini kandungan materi ilmu agama lebih menonjol dari pada ilmu umum, prosentase ilmu-ilmu agama mencapai 70% sedang ilmu-ilmu umum hanya 30%

6) Berubah menjadi pendidikan formal sebagaimana alternatif kelima diatas, tetapi dengan perbandingan terbalik yaitu 70% diajarkan ilmu pengetahuan umum, sedangkan 30%, ilmu-ilmu agama. 60

Menurut Zamahsyari Dhofir, secara garis besar tipologi pesanteren terbagi menjadi dua kelompok;

1) Pesantren salafi yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren tradisional. Sistem madrasah diterapkan untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum

2) Pesantren modern yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkannya, atau membuka tipe-tipe sekolah umum dalam lingkungan pesantren, tetapi tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik.61

Sementara Ridwan Nasir mengelompokkan model pasantren menjadi lima, yaitu:

1) Pesantren salaf, yaitu pesantren yang di dalamnya terdapat sistem pendidikan salaf (wetonan dan sorogan) dan sistem klasikal

2) Pesantren semi berkembang, yaitu pesantren yang di dalamnya terdapat sistem pendidikan salaf (wetonan dan sorogan) dan sistem madrasah swasta dengan kurikulum 90% agama dan 10% umum

3) Pesantren berkembang, yaitu pesantren seperti semi berkembang, hanya saja lebih variatif, yaitu 70% agama dan 30% umum

4) Pesantren modern, yaitu seperti pesantren berkembang, hanya saja sudah lebih lengkap dengan lembaga pendidikan yang ada di dalamnya sampai perguruan tinggi, dan dilengkapi dengan takhashus hbahasa Arab dan Inggris

5) Pesantren ideal, yaitu pesantren sebagaimana pesantren modern, hanya saja lembaga pendidikan yang ada lebih lengkap terutama dalam bidang keterampilan yang meliputi teknik, perikanan, pertanian, perbankan, dan

60Mastuhu, DinamikaSistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 151-152

61Zamahsyari Dhofir,, Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia (Jakarta: LP3ES, 2011), cet. IX, hlm. 41-42

lainnya yang benar-benar memerhatikan kualitas dengan tidak menggeser ciri khas pesantren. 62

Sedangkan menurut Abdul Mujib, dalam perkembangan terakhir, pesantren mempunyai kecendrungan-kecendrungan baru dalam rangka inovasi terhadap sistem yang selama ini digunakan, yaitu:

1) Mulai akrab dengan metodologi modern

2) Semakin berorientasi pada pendidikan yang fungsional, terbuka atas perkemabangan di luar dirinya

3) Diversifikasi program dan kegiatan semakin terbuka, ketergantungannya sama kyai tidak absolut, dan dapat membekali santri dengan berbagai pengetahuan di luar mata pelajaran agama maupun keterampilan yang diperlukan di lapangan kerja

4) Dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat. Hal ini mengasumsikan bahwa pada dasarnya pesantren kini telah mengalami transformasi kultur, sistem, dan nilai. 63

Di dalam buku Pola Pengembangan Pondok Pesantren dijelaskan tentang model-model Pondok Pesantren adalah sebagai berikut;

a. Pondok Pesantren Salafiyah

Pondok Pesantren Salafiyah adalah Pondok Pesantren yang menyelenggarakan pengajaran al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama Islam yang kegiatan pendidikan dan pengajarannya sebagaimana yang berlangsung sejak awal pertumbuhannya. Pembelajaran (pendidikan dan pengajaran) yang ada pada Pondok Pesantren ini dapat diselenggarakan dengan cara non-klasikal atau dengan klasikal.

Jenis Pondok Pesantren ini pun dapat meningkat dengan membuat kurikulum sendiri, dalam arti kurikulum ala Pondok Pesantren yang bersangkutan yang disusun sendiri berdasarkan ciri khas yang dimiliki oleh Pondok Pesantren. Penjenjangan dilakukan dengan cara memberikan kitab pegangan yang lebih tinggi dengan funun (tema kitab) yang sama, setelah tamatnya suatu kitab. Para santri dapat tinggal dalam asrama yang disediakan dalam lingkungan Pondok Pesantren, dapat juga mereka tinggal di luar lingkungan Pondok Pesantren (santri kalong).

b. Pondok Pesantren Khalafiyah

Pondok Pesantren Khalafiyah adalah Pondok Pesantren yang selain menyelenggarakan kegiatan kepesantrenan, juga menyelenggarakan kegiatan pendidikan formal (sekolah), baik itu jalur sekolah umum (SD, SMP, SMU dan SMK), maupun jalur sekolah berciri khas agama Islam (MI, MTs, MA atau MAK).

Biasanya kegiatan pembelajaran kepesantrenan pada Pondok Pesantren ini memiliki kurikulum Pondok Pesantren yang klasikal dan berjenjang, bahkan pada sebagian kecil Pondok Pesantren pendidikan formal yang diselenggarakannya berdasarkan pada kurikulum mandiri, bukan dari Kementerian Pendidikan Nasional atau Kementerian Agama. Pondok Pesantren ini mungkin dapat pula dikatakan sebagai Pondok Pesantren Salafiyah plus, Pondok Pesantren Salafiyah yang menambah lembaga pendidikan formal dalam pendidikan dan pengajarannya.

Penjenjangan dapat dilakukan berdasarkan pada sekolah formalnya atau berdasarkan pengajiannya (seperti pada Pondok Pesantren Salafiyah). Para santri yang ada pada Pondok Pesantren tersebut pun adakalanya “mondok,” dalam arti

62Ridwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal: Pondok Pesantran di Tengah Arus Perubahan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 87-88

63Abdul Mujib, Ilmu Pendidkan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hlm. 237

sebagai santri dan sebagai siswa sekolah, adakalanya pula sebagian siswa lembaga sekolah bukan santri Pondok Pesantren, hanya ikut pada lembaga formal saja, bahkan dapat pula santrinya hanya mengikuti pendidikan kepesantrenan saja.64

Pembagian jenis lainnya yang lebih rinci tentang Pondok Pesantren terlihat dari Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 1979 yang mengungkapkan bentuk Pondok Pesantren sebagai berikut:

1. Pondok Pesantren Tipe A, yaitu Pondok Pesantren di mana para santri belajar dan bertempat tinggal di asrama lingkungan Pondok Pesantren dengan pengajarannya yang berlangsung secara tradisional (wetonan atau sorogan).

2. Pondok Pesantren Tipe B, yaitu Pondok Pesantren yang melaksanakan pengajaran secara klasikal (madrasah) dan pengajaran oleh Kyai bersifat aplikasi dan diberikan pada waktu-waktu tertentu. Para santri tinggal di asrama lingkungan Pondok Pesantren.

3. Pondok Pesantren Tipe C, yaitu Pondok Pesantren yang hanya merupakan asrama, sedangkan para santrinya belajar di luar (madrasah atau sekolah umum) dan Kyai hanya merupakan pengawas dan pembina mental para santri tersebut.

4. Pondok Pesantren Tipe D, yaitu Pondok Pesantren yang menyelenggarakan sistem Pondok Pesantren dan sekaligus sistem sekolah atau madrasah.

Selanjutnya, dalam upaya mengakomodasi perkembangan yang terjadi dalam jenis/bentuk pesantren, Kementerian Agama mengemukakan berbagai bentuk Pondok Pesantren yang muncul yang sering menunjukkan kombinasi bentuk di antaranya sebagai berikut:

1. Pondok Pesantren yang menyelenggarakan pengajian kitab-kitab klasik (salafiyah), sebagaimana pengertian umum yang telah diungkap di atas. Para santri dapat diasramakan, kadangkala tidak diasramakan. Mereka yang tidak diasramakan tinggal di masjid dan atau rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar masjid atau rumah Kyai.

2. Pondok Pesantren seperti yang telah diungkapkan pada poin a namun memberikan tambahan latihan keterampilan atau kegiatan kepada para santri pada bidang-bidang tertentu dalam upaya penguasaan keterampilan individu atau kelompok. Termasuk dalam kategori ini adalah Pondok Pesantren yang menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan potensi umat.

3. Pondok Pesantren yang menyelenggarakan kegiatan pengajian kitab namun lebih mengarah pada upaya pengembangan tarekat/sufisme, namun para santrinya kadang-kadang ada yang diasramakan, adakalanya pula tidak diasramakan.

4. Pondok Pesantren yang hanya menyelenggarakan kegiatan keterampilan khusus agama Islam, kegiatan keagamaan, seperti tahfidz (hafalan) Al-Quran dan majelis taklim, seperti halnya dengan yang tersebut sebelumnya, adakalanya santri diasramakan, adakalanya tidak.

5. Pondok Pesantren yang menyelenggarakan pengajian kitab klasik, namun juga menyelenggarakan kegiatan pendidikan formal ke dalam lingkungan Pondok Pesantren. Siswa pada lembaga pendidikan formal ada yang tidak tinggal di asrama bukan termasuk kategori santri (tidak ikut pengajian). Kadang-kadang ada santri yang hanya ikut pengajian saja dan tidak tinggal di asrama.

64Departemen Agama RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003), 41.

6. Pondok Pesantren yang menyelenggarakan pengajaran pada orang-orang yang menyandang masalah sosial. Patut dicatat bahwa dalam rangka pemerataan pemenuhan hak warga negara untuk memperoleh pengajaran yang layak, maka diupayakan adanya penyelenggaraan Pondok Pesantren yang memberikan bentuk pengajaran khusus mereka yang memiliki cacat tubuh atau keterbelakangan mental dalam sebuah penyelenggaraan Madrasah Luar Biasa di Pondok Pesantren dan juga bagi mereka yang yatim atau anak jalanan dalam sebuah panti asuhan yang dikelola sebagai Pondok Pesantren.

7. Pondok Pesantren yang merupakan kombinasi dari beberapa poin atau seluruh poin yang tersebut di atas (konvergensi).65

Yacub menambahkan dua jenis pesantren lainnya yaitu Pesantren Kilat dan Pesantren Terintegrasi. “Pesantren kilat adalah pesantren yang berbentuk semacam training dalam waktu relatif singkat. Sedangkan Pesantren Terintegrasi adalah pesantren yang lebih menekankan pada pendidikan vocasional atau kejuruan, di mana santrinya kebanyakan berasal dari kalangan/anak putus sekolah atau para pencari kerja.”66

Menurut Yasmadi, “Realitas pesantren saat ini berkata lain, pesantren dengan sistem pendidikan yang tumbuh dan lahir dari kultur Indonesia yang bersifat indigenous ini, telah dijadikan pijakan dasar yang menyimpan khazanah Islam klasik menuju perkembangan yang dinamis dengan tanggap atas sentuhan nilai-nilai modernitas.”67

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Zubaidi bahwa “Pesantren sekarang ini membutuhkan sentuhan nilai-nilai yang diusung dan dibawa oleh gerbong modernitas, seperti sentuhan teknologi modern, globalisasi, nilai-nilai pluralisme, multikulturalisme, inklusifisme, dan yang lain sebagai dinamika, eksistensi, dan bahkan transformasi yang dilakukan pesantren dalam berbagai bidang demi kehidupan masyarakat luas.”68

Dalam buku Pola Pengembangan Pondok Pesantren dijelaskan bahwa, “Dalam perkembangannya, pesantren karena dipengaruhi oleh perkembangan pendidikan dan tuntutan dinamika masyarakat, pesantren tidak lagi hanya berkutat pada pendidikan keagamaan saja, namun telah menyelenggarakan pendidikan jalur sekolah formal dan berbagai kegiatan lain yang tidak hanya bersifat keagamaan.”69

Bentuk atau jenis Pondok Pesantren seperti yang diungkapkan di atas amat penting untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas terkait dengan Pondok Pesantren. Dan dari penjelasan di atas, nampak betapa banyak variasi jenis pesantren.

Namun demikian suatu lembaga dapat disebut Pondok Pesantren apabila komponen- komponen dan unsur-unsur utama yang merupakan ciri Pondok Pesantren terdapat di

65Departemen Agama RI, Pola Pembelajaran di Pesantren (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003), 25-26.

66 Yakub, Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyarakat Desa (Bandung: Angkasa, 1985), 70.

67 Yasmin, Modernisasi Pesantren (Jakarta: Ciputat Press, 2005), hlm. 3

68 Zubaidi, Moralitas Pendidkan Pesantren (Yogyakarta: Kurnia Alam Semesta, 1996), hlm.

56

69Departemen Agama RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam dan Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, 2005), hlm. 3

dalamnya. Ia dapat dikatakan sebagai Pondok Pesantren jika sekurang-kurangnya telah terpenuhinya unsur-unsur Pondok Pesantren berupa; Pondok, Masjid, Pengajaran Agama, Kyai, dan Santri.

Dalam dokumen modernisasi pondok pesantren di lombok (Halaman 39-44)