B. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran Kooperatif
Mengenai pengertian dari model pembelajaran kooperatif merupakan konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang dimaksud.20
Pembelajaran koopertaif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran, dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif, yang anggotanya terdiri dari 4 sampai dengan 6 orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.21 Dampak posotif dari pembelajaran kooperatif adalah siswa diberi kebebasan untuk terlibat secara aktif dalam kelompok mereka. Dalam lingkungan pembelajaran koopertaif siswa harus menjadi partisipan aktif dan melalui kelompoknya dapat membangun komunitas pembelajaran yang saling membantu antar satu sama lain.22
20 Agus Suprijono, Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM) (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2017), 54.
21 Abdul Majid, Strategi Pembelajaran (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2017), 174
22 Miftahul Huda, Cooperative Learning(Metode, Struktur dan Model Penerapan) (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2017), 33.
2. Numbered Heads Together (NHT)
Numbered Heads Together merupakan suatu pendekatan yang pertama kali dikembangkan oleh Spence Kagen (1992) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.23 Pada dasarnya Numbered Heads Together merupakan variasi dari diskusi kelompok, teknik pelaksanaannya hampir sama dengan diskusi kelompok.24
Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together atau penomoran berpikir bersama merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memenuhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.25 Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang memberdayakan kemampuan berpikir kritis yaitu dengan mengkondisikan siswa untuk berpikir bersama secara kelompok dan masing-masing siswa diberi nomor kemudian diberi
23 Shilphy A. Oktavia, Model-Model Pembelajaran (Yogyakarta : Deepublish, 2020),39.
24 Miftahul Huda, Cooperative Learning(Metode, Struktur dan Model Penerapan) (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2017), 130.
25 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif (Jakarta : PT Fajar Interpratama Mandiri, 2013), 82.
23
kesempatan yang sama dalam menjawab permasalahan yang diajukan oleh guru melalui pemanggilan nomor secara acak.26
Model pembelajaran Numbered Heads Together bisa digunakan untuk semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.27 Model pembelajaran Numbered Heads Together mendorong siswa untuk berpikir dalam suatu tim dan berani tampil mandiri, sedangkan guru hanya bertugas sebagai fasilitator, struktur atau langkah-langkahnya sebagai berikut:
a. Persiapan
Pada langkah ini guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil, jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari. Jika jumlah siswa dalam satu kelas terdiri dari 40 orang dan terbagi menjadi 5 kelompok, maka tiap kelompok terdiri dari 8 siswa, sehingga tiap-tiap siswa dalam tiap-tiap kelompok diberi nomor 1-8. 28
b. Pelaksanaan
Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok, pertanyaanya dapat bervariasi. 29 Berikan kesempatan pada tiap-tiap kelompok untuk menemukan jawabannya. Pada kesempatan ini pula tiap-tiap
26 Bintana Alin Hilwa dan Umi Farihah, “Pengaruh Model Pembelajaran Grup Investigation (GI) dan Numbered Head Together (NHT) Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelas VIII Pada Konsep Bangun Ruang Sisi Datar,” Semnasmat, (2019): 98.
27 Shilphy A. Oktavia, Model-Model Pembelajaran (Yogyakarta : Deepublish, 2020), 40.
28 Agus Suprijono, Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM) (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2017), 92.
29 Abdul Majid, Strategi Pembelajaran (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2017), 192.
kelompok akan menyatukan isi kepalanya “Heads Together” siswa akan berdiskusi menyatukan pendapatnya terhadap jawaban atas pertanyaan dari guru.30 Pada tahap ini pula tiap-tiap kelompok memastikan semua anggota kelompoknya mengetahui jawaban tersebut.31 Selanjutnya guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.32 Hal itu dilakukan terus menerus hingga semua peserta didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru. 33
c. Evaluasi
Pada tahap ini guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertayaan yang berhubungan dengan materi yang telah disajikan, pada tahap ini guru juga mengulang materi dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa secara acak.34
Tujuan yang hendak dicapai model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together adalah:
a. Hasil belajar akademik srtuktural, bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
30 Agus Suprijono, Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM) (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2017), 92.
31 Miftahul Huda, Cooperative Learning(Metode, Struktur dan Model Penerapan) (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2017), 138.
32 Shilphy A. Oktavia, Model-Model Pembelajaran (Yogyakarta : Deepublish, 2020), 41.
33 Agus Suprijono, 92.
34 Shilphy A. Oktavia, 41.
25
b. Pegakuan adanya keragaman, bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
c. Pengembangan keterampilan sosial siswa.35 3. Motivasi Belajar
a. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Motivasi oleh Mc. Donald diartikan sebagai perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.36
Motivasi adalah energi aktif yang menyebabkan tejadinya suatu perubahan pada diri seseorang yang tampak pada gejala kejiwaan, perasaan, dan juga emosi sehingga mendorong individu untuk bertindak atau melakukan sesuatu dikarenakan adanya tujuan, kebutuhan, atau kenginan yang harus terpuaskan.37
Sedangkan belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik penguatan (motivasi) yang dilandasi tujuan tertentu.38 Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
35 Shilphy A. Oktavia, Model-Model Pembelajaran (Yogyakarta : Deepublish, 2020), 39-40.
36 Sardiman A.M, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada), 73.
37 Abdul Majid, Strategi Pembelajaran (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2017), 309.
38 Agus Suprijono, Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM) (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2017), 163.
pergerakan di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar dapat tercapai.39
Dapat disimpulkan bahwa hakikat dari motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan perilaku. Motivasi belajar adalah proses yang memberi semangat belajar, arah, dan kegigihan perilaku. Sehingga dapat diartika perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama.40
Dalam proses belajar mengajar peranan motivasi sangat diperlukan, dengan adanya motivasi yang mendukung pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegitan belajar.41
b. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik merupakan model motivasi dimana siswa termotivasi untuk mengerjakan tugas karena dorongan dari dalam dirinya sendiri, memberikan kepuasan tersendiri dalam proses pembelajaran atau memberikan kesan tertentu saat menyelesaikan tugas.42 Yang termasuk dalam motivasi intrinsik adalah:
39 Sardiman A.M, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada), 75.
40 Agus Suprijono, Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM) (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2017), 163.
41 Sardiman A.M, 91-95.
42 Abdul Majid, Strategi Pembelajaran (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2017), 310.
27
1) Perhatian
Dalam proses belajar perhatian sangat dibutuhkan dimana siswa memilih dan merespon sekian dari banyak rangsangan yang diterima selama proses pembelajaran baik rangsangan yang diberikan oleh guru atau antar siswa.
2) Keingintahuan
Keingintahuan memiliki arti perasaan atau sikap untuk mengetahui lebih banyak dan lebih mendalam apa yang dipelajarinya. Siswa diharapkan memilki dorongan rasa ingin tahu dan ingin meyelidiki dunia yang lebih luas agar berkembang.43 3) Minat
Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang tersebut yang dapat menjadi sumber motivasi seseorang untuk melakukan apa yang ingin dilakukan.44
c. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik dapat diartikan sebagai motivasi yang datangnya dari luar individu, atau motivasi ini tidak ada hubungannya
43 Lidia Susanti, Prestasi belajar akademik dan non akademik (Malang : CV Literasi Nusantara Abadi, 2019), 56.
44 Lidia Susanti, 50.
dengan tujuan belajar.45 Yang termasuk dalam motivasi ekstrinsik adalah:
1) Orang tua
Orang tua adalah lembaga pendidikan pertama dan utama, kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan akan membentuk kepribadian anak dalam menyikapi pendidikan.
Dukungan dari orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan individu dalam belajar.46
2) Guru
Sudah menjadi tugas guru untuk mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi, keberhasilan belajar mendorong guru harus terampil mengembangkan strategi motivasi khususnya yang terkait dengan pencapaian kepuasan belajar.47
3) Lingkungan
Lingkungan belajar siswa sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar, lingkungan belajar meliputi lingkungan sekolah dan lingkungan rumah. Lingkungan yang memilki suasana dan iklim yang bagus akan meningkatkan motivasi belajar siswa.48
45 Sarwan, Belajar dan Pembelajaran (Jember : STAIN Jember Press, 2013), 132.
46 Lidia Susanti, Prestasi belajar akademik dan non akademik (Malang : CV Literasi Nusantara Abadi, 2019), 132.
47 Agus Suprijono, Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM) (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2017), 171.
48 Lidia Susanti, 48.
29 BAB III
METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian ini yang dipilih adalah pendekatan penelitian kuantitatif dan jenis penelitian ini merupakan penelitian korelasi. Penelitian korelasi adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan dua atau lebih fakta-fakta dan sifat-sifat objek yang di teliti.49
Jenis penelitian korelasi akan menjawab pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together terhadap motivasi belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti siswa kelas X di SMK 01 Diponegoro Tahun Pelajaran 2021/2022, serta jenis penelitian ini akan menguji hipotesis yang telah diuraikan di atas dengan bentuk paradigma sebagai berikut:
Variabel (Y1) Variabel (X)
Variabel (Y2)
49 Samsu, Metode Penelitian: Teori dan Aplikasi Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, Mixed Methods, Serta Research & Development (Jambi : Pusaka Jambi, 2017), 118.
Model Pembelajaran Numbered Heads
Together
Motivasi Belajar Intrinsik
Motivasi Belajar Eksntrinsik