BAB I PENDAHULUAN
D. Definisi Operasional
2. Murabahah
Jual beli dalam istilah fiqh disebut dengan al-bai’ yang berarti menjual, mengganti dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Lafal al’ba’i dalam bahasa Arab digunakan untuk mengganti lawannya yaitu kata asy’syira’ (beli). Dengan demikian, kata al-bai’ berarti jual, tetapi sekaligus juga berarti beli.30 Ba’i al- murabahah adalah bagian dari jenis bai’ yaitu jual beli dimana harga jual terdiri dari harga pokok barang yang dijual ditambah dengan sejenis keuntungan (ribhun) yang disepakati oleh kedua belah pihak, pembeli dan penjual. Pada transaksi murabahah,
29 Ismail, Perbankan Syariah, None (Jakarta: Prenada media, 2016), 83.
30 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2013), 111.
13
penyerahan barang dilakukan saat transaksi sementara pembayaran dapat dilakukan secara tunai, tangguh ataupun dicicil.31
Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Dalam murabahah, bank Syariah dapat bertindak sebagai penjual dan juga sebagai pembeli.
Sebagai penjual apabila bank Syariah menjual barang kepada nasabah, sedangkan sebagai pembeli apabila bank Syariah membeli barang kepada supplier untuk dijual kepada nasabah.32 Murabahah dalam pengertian aslinya menurut Islam adalah “is simply a sale”, jual beli. Pembayaran, bisa dilakukan secara tunai atau pada suatu tanggal yang telah disepakati para pihak.33
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah diutarakan sebelumnya dapat disimpulkan murabahah merupakan transaksi diantara penjual dan pembeli, dimana pihak penjual menyatakan keuntungan yang diperoleh atas traksaksi yang dilakukan diantara penjual dan pembeli serta transaksi bisa dilakukan secara tunai atau angsuran/bertahap.
Dasar Hukum Murabahah sama seperti dalil tentang transaksi jual beli dalam surat “Al-Baqarah 275”34 :
ْۚ ا ٰﻮَ ِّﺮﻟٱ َمﱠﺮ َﺣَو َﻊۡﻴَﺒۡﻟٱ ُﮫﱠﻠﻟٱ ﱠﻞ َﺣ َ أ َو
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..”
“surat An-Nisa’ 29”35 :
َﺮ ﺗ ﻦ َﻋ َ ً ةَﺮ ﺠِﺗ َٰ َ
نﻮ ُ ﻜ ﺗ ن َ َ
أ ٓ ﱠ
ﻻ ِإ ِﻞ ِﻄ َٰﺒۡﻟﭑ ِﺑ ﻢ ُ ﻜ ﻨۡ َﺑ ﻢ َ ُ
ﻜ َ
ﻟ َٰﻮۡﻣَأ ْآﻮُﻠُ ۡﺄَﺗ َﻻ ْاﻮُﻨ َﻣاَء َﻦﻳ ِﺬﱠﻟٱ ﺎَ ﱡ َ ﺄ ﻳ َٰٓ
ۚۡﻢ ُﻜﻨِّﻣ ٖضا
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekalian saling memakan hartamu dengan cara bathil kecuali dengan jalan perdagangan yang didasari suka sama suka diantara kamu…”
31 Wiyono dan Maulamin, Akuntansi Syariah Di Indonesia, 34.
32 Wiyono dan Maulamin, Akuntansi Syariah Di Indonesia.129
33 Sugeng Widodo, Seluk Beluk Jual Beli Murabahah Pepspektif Aplikatif (Yogyakarta: Asgard Chapter, 2010), 19.
34Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya (Jakarta: Pantja Cemerlang, 2020).
35 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya.
14
Adapun skema dari transaksi bai’ al-Murabahah digambarkan pada gambar berikut ini:36
Gambar 1.1
Skema transaksi bai’ al-Murabahah Sumber : Wiyono, Selamet dan Maulamin Taufan. 2013
Berdasarkan gambar 1.1. skema murabahah tersebut dapat diuraikan gambaran skema dari murabahah yaitu penjual akan menyerahkan barang kepada pembeli yang disertai dengan akad murabahah atau akad transaksi jual beli. Setelah dilakukan akad diantara penjual dan pembeli dengan adanya keuntungan disepakati barulah dilakukan transaksi pembanyaran yang dilakukan oleh pembeli kepada penjual bisa secara tunai ataupun dicicil atau berangsur.
a. Rukun dan Syarat Murabahah
Berikut ini diuraikan rukun dan syarat murabahah yaitu : 1) Penjual, dengan syarat penjual memberitahu biaya modal
kepada pembeli (nasabah), dan penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian, serta penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
36 Wiyono dan Maulamin, Akuntansi Syariah Di Indonesia.35 2. Akad Murabahah
15
2) Pembeli, memahami kontrak yang telah disepakati bersama dan tidak ada unsur merugikan pembeli.
3) Barang yang dibeli, tidak cacat dan sesuai dengan kesepakatan bersama.
4) Akad/sighat, kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan dan kontrak harus bebas dari riba.
5) Secara prinsip, jika syarat penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah, penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesuadah pembelian, dan penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang tidak dimemenuhi, maka pembeli mempunyai pilihan : a) Melanjutkan pembelian seperti apa adanya,
b) Kembali kepada penjual dan menyatakan ketidaksetujuan atas barang yang dijual,
c) Membatalkan kontrak.37
b. Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syariah
Adapun ketentuan umum murabahah dalam bank Syariah berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN- MUI/IV/2000 tentang murabahah yaitu bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba yaitu :
1) Barang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh Syariah Islam.
2) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang dengan disepakati kualifikasinya.
3) Bank membeli barang berdasarkan keperluan nasabah dengan nama bank serta pembelian harus bebas riba dan sah.
4) Bank akan menyampaikan segala hal berkaitan mengenai pembelian yang dilakukan oleh nasabah apabila dilakukan secara hutang
5) Bank akan menjual barang kepada nasabah yang disebut pemesan dengan harga jual ditambah dengan keuntungan yang disepakati diantara bank dengan nasabah.
37Abu Azam Al Hadi, Fikih Muamalah Kontemporer (Depok: Raja Grafindo Persada, 2017), 55.
16
6) Beserta harga pokok dan biaya yang dikeluarkan
7) Nasabah membayar berdasarkan jangka waktu tertentu berdasarkan kesepakatan.
8) Dalam pencegahan penyalahgunaan akad ataupun kerusakan didalam akad, pihak bank dapat mengadakan perjanjian dengan nasabah.
9) Bank mewakilkan nasabah dalam memberi barang yang dipesan, akad murabahah dilakukan setelah barang menjadi milik pihak bank.
c. Ketentuan Murabahah kepada Nasabah
Adapun ketentuan murabahah kepada nasabah bank berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN- MUI/IV/2000 tentang murabahah yaitu :
1) Nasabah dapat mengajukan permohonan pembelian terhadap suatu barang ataupun aset kepada bank.
2) Apabila pihak bank menerima permohonan tersebut maka nasabah membeli barang/set yang dipesannya dengan pedagang secara sah.
3) Kemudian pihak bank akan menawarkan barang/aset tersebut kepada nasabah. Nasabah akan membeli barang tersebut sesuai dengan kesepakatan dengan perjanjian dan antara bank dan nasabah membuat kontrak jual beli.
4) Bank hanya diperbolehkan meminta uang muka kepada nasabah saat penandatangan perjanjian pada awal pemesanan.
5) Apabila nasabah menolak pembelian barang yang dipesan tersebut maka biaya yang dikeluarkan bank atau biaya rill bank diambil dari uang muka tersebut.
6) Apabila nilai uang muka tersebut kurang, maka resiko ditanggung oleh bank dan bank dapat juga meminta sisa kerugian yang ada kepada nasabah
7) Apabila memakai kontak “urbun”, sebagai salah satu alternatif uang muka maka :
a) Nasabah yang memutuskan dalam memberli barang, maka nasabah ia akan membayar sisa harga
17
b) Apabila nasabah batal membeli barang tersebut, maka uang muka menjadi milik bank dengan jumlah maksimal sebesar kerugian dan kerugian tersebut ditanggung oleh bank. Apabila uang muka tidak mencukupi untuk menutupi kerugian maka nasabah wajib melunasi kekurangan dari kerugian tersebut.