BAB II. KAJIAN PUSTAKA
3. Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Nilai dalam bahasa Inggris berarti value yang berasal dari istilah latinvalere yang berarti berguna, mampu akan, berdaya, berlaku sehingga nilai diartikan sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang. Menurut Adisusilo (2012:56) nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu disukai, diinginkan, dikejar, dihargai, berguna dan dapat membuat orang yang menghayatinya menjadi bermartabat.
Nilai akan selalu berhubungan dengan kebaikan, kebajikan dan keluhuran budi serta akan menjadi sesuatu yang dihargai dan dijunjung tinggi serta dikejar oleh seseorang sehingga ia merasakan adanya suatu kepuasan, dan ia merasa menjadi manusia yang sebenarnya. Linda dan Richard (dalam Adisusilo, 2012:57) mengemukakan, “Yang dimaksudkan dengan nilai adalah standar-standar perbuatan dan sikap yang menentukan siapa kita, bagaimana kita hidup, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Tentu saja, nilai-nilai yang baik, dan memperlakukan orang lain secara lebih baik”.
Nilai adalah sesuatu yang abstrak, bukan sesuatu yang kongkrit yang hanya bisa dipikirkan, dipahami dan dihayati.Nilai berkaitan dengan cita-cita,
harapan, keyakinan dan hal-hal yang bersifat batiniah (Suwardi dan Syaiful, 2005:38).
Selanjutnya, Koentjaraningrat (2009:153), menjelaskan nilai merupakan konsep-konsep mengenai sesuatu yang ada dalam alam pikiran sebagian besar dari masyarakat yang mereka anggap bernilai, berharga dan penting dalam hidup sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberikan arah dan orientasi pada kehidupan masyarakat. Nilai merupakan sesuatu yang abstrak tetapi secara fungsional mempunyai ciri yang membedakan satu dengan yang lainnya.
Suatu nilai jika dihayati akan berpengaruh terhadap cara berpikir, cara bersikap, maupun cara bertindak seseorang dalam mencapai tujuan hidupnya.
Kaelan (2010:87), menjelaskan bahwa nilai itu pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, bukan objek itu sendiri.Sesungguhnya itu mengandung nilai artinya ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu itu.Misalnya, bunga itu indah, perbuatan itu susila.Indah dan susila adalah sifat atau kualitas yang melekat pada bunga dan perbuatan.Dengan demikian nilai adalah suatu kenyataan yang tersembunyi di balik kenyataan- kenyataan lainnya.
Nilai dapat dianggap sebagai keharusan suatu cita yang menjadi dasar bagi keputusan yang diambil seseorang. Menurut Sjakarwi (2011:29), nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, dihargai, dan dapat menjadi objek kepentingan. Oleh karena itu nilai tidak dapat dipisahkan atau diabaikan sebab setiap orang bertingkah laku sesuai dengan seperangkat nilai.
Selanjutnya, konsep nilai yang dipaparkan oleh Sadulloh (2011:124) adalah suatu realitas dalam kehidupan yang dapat dimengerti sebagai suatu wujud dalam perilaku manusia, sebagai suatu pengetahuan, dan sebagai suatu ide.Suatu perilaku, pengetahuan, atau ide dikatakan benar apabila mengandung kebaikan, berguna, dan bermanfaat bagi manusia untuk penyesuaian diri dalam kehidupan pada suatu lingkungan tertentu.Dengan begitu, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan.
Berdasarkan beberapa pendapat pakar tentang nilai tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai merupakan tolak ukur yang dibuat oleh seseorang terhadap sesuatu, seperti baik atau buruk, buruk atau cantik, besar atau kecil, dan lain sebagainya.Tolak ukur tersebut bersifat relatif atau abstrak karena hanya dapat dinilai oleh individu yang bersangkutan.Dengan demikian, nilai menjadi sesuatu yang pokok dalam kehidupan manusia.
b. Pengertian Pendidikan
Istilah pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Hasbullah (2009:1) menjelaskan:
“Istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar Ia menjadi dewasa.
Tujuan pendidikan nasional ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, dengan ciri-ciri sebagai berikut: (a) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (b) berbudi pekerti luhur, (c) memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, (d) kepribadian yang mantap dan mandiri, (e) bertanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa”.
Selanjutnya, Zuriah (2008:26) menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan itu adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sadulloh (2011:57) menambahkan bahwa pendidikan dalam arti luas berarti suatu proses untuk mengembangkan semua aspek kepribadian manusia, yang mencakup pengetahuannya, nilai dan sikapnya, serta keterampilannya.
Pendidikan untuk mencapai kepribadian individu yang lebih baik bukan untuk merusak kepribadian manusia.Dengan demikian, pendidikan pada hakikatnya mencakup kegiatan mendidik, mengajar, dan melatih yang berhubungan dengan hati nurani, nilai-nilai, perasaan, pengetahuan, dan keterampilan. Sesuai dengan paparan di atas, Muslich (2011:69) juga menyatakan,
“Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab.
Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi
lebih luas lagi, yaitu sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai.
Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal yang mendasar, yaitu (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estesis; (2) koqnitif yang tercermin pada kapasitas piker dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestesis”.
Berdasarkan beberapa pengertian pendidikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok masyarakat yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan dengan kebribadian yang lebih baik.Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, setidaknya melibatkan kegiatan mengajar, mendidik dan melatih.Dengan demikian, pendidikan berguna untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.
c. Pengertian Karakter
Pengertian Karakter secara etimologis berasal dari bahasa latin
“kharakter”, “kharassein”, “kharax”, dalam bahasa Yunani character dari kata charassein, yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Dalam bahasa Inggris character dan dalam bahasa Indonesia lazim digunakan karakter (Majid dan Andayani 2012:11).
Dalam bahasa latin karakter dapat diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, tabiat/watak. Karakter dalam American heritage dictionary, merupakan kualitas sifat, ciri, atribut, serta kemampuan khas yang dimiliki individu yang
membedakannya dari pribadi yang lain. Selanjutnya, Narwanti (2011:27) menjelaskan karakter adalah suatu hal yang unik hanya ada pada individu ataupun pada suatu kelompok atau bangsa.Karakter itu adalah landasan dari kesadaran budaya, kecerdasan budaya dan merupakan pula perekat budaya. Sedangkan core values digali dan dikembangkan dari budaya masyarakat itu sendiri.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:623) karakter memiliki arti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Menurut Gordon W.Allport karakter merupakan suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik individu yang menentukan tingkah laku manusia.
Karakter bukan sekedar sebuah kepribadian (personality) karena karakter sesungguhnya adalah kepribadian yang ternilai (personality evaluated).
Menurut Samani dan Hariyanto (2011:41-42), karakter adalah sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika.
Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bersikap maupun bertindak.
Menurut Elfindri (2012:89), karakter didirikan melalui suatu tatanan atau prosedur yang berlandaskan sesuatu norma yang berlaku di masyarakat tersebut.
Karakter tumbuh dalam lingkungan sosial budaya dan alam dimana suatu masyarakat tinggal. Adanya peluang dan pembatasan-pembatasan (kendala, konstrain) akan membatasi pada hal tertentu dan menguatkan pertumbuhan pada arah lain. Dalam proses kehidupan dimana pendidikan kurang dominan, pembentukan karakter cendrung kearah kurang kerja keras (malas), kurang produktif dan kurang kreatif
Ahli pendidikan nilai, Darmiyati Zuchdi (dalam Adisusilo, 2012:77) menyatakan, “karakter sebagai seperangkat sifat-sifat yang selalu dikagumi sebagai tanda-tanda kebaikan, kebijakan, dan kematangan moral seseorang”.Pendidikan karakter bertujuan untuk menumbuhkan rasa hormat, tanggung jawab, rasa kasihan, disiplin, loyalitas, keberanian, toleransi, keterbukaan, etos kerja, dan kecintaan pada Tuhan dalam diri seseorang.Jadi, pendidikan karakter pada dasarnya adalah pendidikan nilai, yaitu penanaman nilai-nilai agar menjadi sifat pada diri seseorang dan karenanya mewarnai kepribadian seseorang.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.
d. Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Pembahasan mengenai nilai-nilai pendidikan karakter dijabarkan berdasarkan nilai-nilai karakter.Ada beberapa nilai pendidikan karakter yang dikembangkan oleh pakar pendidikan. Menurut Darmadi (2009:18), pendidikan setidaknya melukiskan manusia yang: (1) beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) menguatkan nilai sosial dan etis, (3) memiliki kepribadian yang tangguh, (4) berdisiplin, (5) kerja keras, (6) tangguh, (7) bertanggung jawab, (8) mandiri, (9) cerdas, (10) berketerampilan tinggi, (11) sehat jasmani, (12) sehat rohani, (13) cinta bangsa dan bernegara, (14) berkesadaran nasionalisme yang tinggi, (15) memiliki kesadaran solidaritas sosial, (16) percaya diri, (17) inovatif, (18) kreatif, (19) berjiwa pembangunan, dan (20) memiliki loyalitas yang tinggi.
Sementara itu menurut pakar pendidikan, Suyanto (2011:80) terdapat Sembilan pilar karakter, yaitu: (1) cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, (2) kemandirian dan tanggung jawab, (3) kejujuran/amanah, (4) hormat dan santun, (5) dermawan, suka tolong-menolong, dan gotong royong/kerja sama, (6) percaya diri dan kerja keras, (7) kepemimpinan dan keadilan, (8) baik dan rendah hati, dan (9) toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Lickona (2012:69-70) mengemukakan, “Terdapat dua nilai utama dalam pendidikan karakter yaitu sikap hormat dan bertanggung jawab”.Kedua nilai utama tersebut kemudian secara khusus dijabarkan menjadi nilai-nilai karakter sebagai berikut.Pertama, kejujuran adalah salah satu bentuk nilai. Dalam
hubungannya dengan manusia, tidak menipu, berbuat curang, atau mencuri merupakan salah satu cara dalam menghormati orang lain.
Kedua, toleransi merupakan bentuk refleksi dari sikap hormat.Meskipun toleransi dapat berbaur menjadi sebuah relativisme netral untuk menghindari berbagai prasangka yang menyangkut etika, toleransi pada akhirnya tanda dari salah satu arti kehidupan yang beradab.Toleransi dapat menciptakan kerukunan dan keharmonisan hidup di antara sesama manusia.
Ketiga, disipliln diri membentuk diri seseorang untuk mengejar apa-apa yang baik bagi dirinya dan mengejar keinginan sehat/positif dalam kadar yang sesuai. Disiplin diri juga membentuk diri untuk tidak mudah puas terhadap apa yang telah diraih. Disiplin dapat dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan, bekerja dengan manajemen waktu yang bertujuan, dan menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan.
Keempat, jiwa tolong-menolong memberikan bimbingan untuk berbuat kebaikan dengan hati. Orang yang berjiwa tolong menolong tidak akan membiarkan orang lain kesusahan. Bantuan dan pertolongan yang diberikan berdasarkan dorongan dari hati untuk selalu berbuat kebaikan dengan sesama.
Kelima, sikap peduli sesama (dengan arti “berkorban untuk”) membantu kita untuk tidak hanya mengetahui apa yang menjadi tanggung jawab kita, tetapi juga merasakannya. Mengetahui ada orang terdekat atau tetangga yang tertimpa musibah, seseorang sebagai makhluk sosial tentu saja akan melakukan sesuatu untuk memberikan bantuan. Dalam keluarga, sikap peduli dapat dicontohkan oleh
orangtua kepada anak-anak, misalnya ayah rela meninggalkan pekerjaannya di kantor demi menghadiri penyerahan rapor nilai anaknya di sekolah.
Keenam, sikap saling bekerja sama mengenal bahwa tidak ada yang mampu hidup sendiri. Manusia sebagai makhluk sosial harus bekerja secara bersama-sama dalam meraih tujuan yang pada dasarnya sama dengan upaya pertahanan diri. Kerja sama dapat menumbuhkan jalinan rasa persaudaraan yang tinggi dengan sesama.
Ketujuh, sikap berani akan membantu seseorang untuk menghormati dirinya sendiri agar dapat bertahan dalam berbagai tekanan yang membahayakan keselamatan hidup, menghormati hak-hak orang lain, dan membentuk diri untuk bertindak tegas dan positif terhadap orang lain. Orang yang berani, memiliki hati yang mantap, tekad yang bulat, dan tidak ada keraguan untuk menghadapi segala hal. Oleh karena itu, timbul sikap percaya diri yang tinggi bahwa keputusan yang akan dilakukan merupakan pencapaian atas kebenaran.
Kedelapan, demokrasi merupakan cara terbaik dalam menjamin keamanan dan hak asasi masing-masing individu dan mengangkat makna kesejahteraan umum. Pada prinsipnya, demokrasi selalu mengutamakan persamaan hak dan kewajiban demi suatu keadilan. Dalam kehidupan bernegara, demokrasi mengupayakan perlakuan yang sama bagi semua warga negaranya.
Berkaitan dengan tujuan pendidikan, nilai-nilai pendidikan yang perlu diajarkan menurut Sukanto dalam (Muslich, 2011:79) meliputi: (1) kejujuran, (2) loyalitas dan dapat diandalkan, (3) hormat, (4) cinta, (5) ketidak egoisan dan sensitifitas, (6) baik hati dan pertemanan, (7) keberanian, (8) mandiri dan
potensial, (9) disiplin diri dan moderasi, (10) kesetiaan dan kemurnian, dan (11) keadilan dan kasih sayang. Selanjutnya, Zubaedi (2011:74) menambahkan bahwa nilai untuk pendidikan itu dikelompokkan dalam kategori.Kategori-kategori tersebut dapat dilihat dalam tabel 1 berikut ini.
Tabel 1
Nilai-nilai Pendidikan dan Deskripsinya Menurut Zubaidi
No Nilai Deskripsi
1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agam, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5 Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh- sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8 Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9 Rasa ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan
meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10 Semangat kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11 Cinta tanah air Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12 Menghargai prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13 Bersahabat/komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14 Cinta damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15 Gemar membaca Kebiasaan yang menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16 Peduli lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17 Peduli sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18 Tanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dilakukan terhadap dirinya sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), Negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Zubaidi (2011:74) Pendidikan sebagai pembentuk budi pekerti seseorang ditunjukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti. Nilai-nilai yang harus ada dalam pendidikan menurut Sjarkawi
(2011:34), adalah: (1) amal saleh, (2) amanah, (3) antisipatif, (4) baik sangka, (5) bekerja keras, (6) beradab, (7) berani berbuat benar, (8) berani memikul resiko, (9) berdisiplin, (10) berhati lapang, (11) berhati lembut, (12) beriman dan bertaqwa, (13) berinisiatif, (14) berkemauan keras, (15) berkepribadian, (16) berpikir jauh ke depan, (17) bersahaja, (18) bersemangat, (19) bersifat konstruktif, (20) bertanggung jawab, dan nilai-nilai yang sejenisnya.
Macam-macam nilai pendidikan yang telah dipaparkan di atas terdapat kesamaan dan perbedaan satu sama lain. Nilai-nilai pendidikan itu adalah: (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sesama, dan (18) tanggung jawab. Teori ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Zubaedi, 2011:74).
Menurut Saptono (2011:23) pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk mengembangkan karakter yang baik (goodcharacter) berlandaskan kebajikan-kebajikan inti (core virtues) yang secara objektif baik bagi individu maupun masyarakat. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaranatau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai
karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakanuntuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
Berdasarkan uraian nilai-nilai pendidikan karakter di atas, untuk menganalisis pendidikan karakter dalam novel Rantau Satu Muara, peneliti mengambil pembagian delapan belas nilai karakter yang digunakan oleh Zubaedi.
Untuk kepentingan penelitian nilai-nilai pendidikan karakter menurut Zubaedi disarikan menjadi enam buah nilai, karena pembahasan keenam nilai tersebut erat kaitannya dengan novel yang di bahas, yaitu: (1) nilai-nilai pendidikan yang berhubungan dengan religius, (2) nilai-nilai pendidikan yang berhubungan dengan kerja keras, (3) nilai-nilai pendidikan yang berhubungan tanggung jawab, (4) nilai-nilai pendidikan yang berhubungan cinta tanah air, (5) nilai-nilai pendidikan yang berhubungan komunikatif/bersahabat, dan (6) nilai-nilai pendidikan yang berhubungan dengan gemar membaca.