• Tidak ada hasil yang ditemukan

Obyek PPh Pasal 4 Ayat (2)

Dalam dokumen Tinjauan Umum dan Implementasi (Halaman 97-107)

C. Penghitungan PPh Pasal 21 Atas Bonus

8. PPh Final

8.2 Obyek PPh Pasal 4 Ayat (2)

f. Wajib Pajak yang ditunjuk sebagai pemotong PPh Final atas penghasilan dari persewaan tanah dan bangunan adalah:

Akuntan, arsitek, dokter, notaris, PPAT ( kecuali camat PPAT), pengacara dan konsultan yang melakukan pekerjaan bebas.

Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan g. Kewajiban penyewa sebagai pemotong pajak :

Memotong PPh pada saat pembayaran atau terutangnya sewa dan memberikan bukti pemotongan kepada pihak yang menyewakan.

Menyetorkan PPh selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya.

Melaporkan ke KPP terkait selarnbat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya (menggunakan formulir laporan pemotongan/penyetoran PPh atas persewaan tanah dan/atau bangunan dengan dilampiri SSP Lembar ke-3 dan bukti pemotongan lembar ke-2).

h. Wajib pajak yang usaha pokoknya pesewaan tanah dan/atau bangunan tetap wajib menyampaikan SPT Tahunan PPh disertai Laporan Keuangan atas seluruh usahanya.

8.2.2 PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN

a. Wajib Pajak, orang pribadi dan badan, yang menerima atau memperoleh Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan meliputi penjualan, tukar-menukar, perjanjian pemindahan hak, pelepasan hak, penyerahan hak, lelang, hibah, atau cara lain yang disepakati.

b. Tarif PPh:

1) 5% dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan; atau 2) 1% dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dalam hal

pengalihan berupa rumah sederhana dan rumah susun sederhana oleh Wajib Pajak yang usaha pokoknya adalah melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan.

c. Pengertian Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan transaksi penjualan atau pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan:

Wajib Pajak yang melakukan transaksi penjualan atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan sebagai barang dagangan, termasuk pengembang kawasan perumahan, pertokoan, pergudangan, industri, kondominium, apartemen, rumah susun, dan gedung perkantoran.

d. Pengertian Rumah Sederhana dan Rumah Susun Sederhana:

1) Rumah Sederhana meliputi Rumah Sederhana Sehal dan Rumah Intl Tumbuh, yang mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan PPN yaitu:

a) harga jual tidak meiebihi Rp 55.000.000.- (lima puluh lima juta rupiah); dan b) merupakan rumah pertanna yang dimiliki, digunakan sendiri sebagai tempat

tinggal dan tidak dipindahtangankan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak dimiliki.

2) Rumah Susun Sederhana adalah bangunan bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang dipergunakan sebagai tempat hunian yang dilengkapi dengan KM/WC dan dapur baik bersatu dengan unit hunian maupun terpisah dengan penggunaan komunal termasuk Rumah Susun Sederhana, yang mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan PPN yaitu:

a) luas untuk setiap hunian lebih dari 21 m2 (dua puluh satu meter persegi) dan tidak meiebihi 36 m2 (tiga puluh enam meter persegi);

b) harga jual untuk setiap hunian tidak meiebihi Rp144.000.000.00

c) diperuntukkan bagi orang pribadi yang mempunyai penghasilan tidak meiebihi Rp 4.500.000.00 per bulan dan telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

d) pembangunannya mengacu kepada Peraturan Menteri Pekerjaan umum yang mengatur mengenai persyaratan teknis pembangunan rumah susun sederhana; dan

e) merupakan unit hunian pertama yang dimiliki, digunakan sendiri sebagai tempat tinggal dan tidak dipindahtangankan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak dimiliki.

e. Dasar pengenaan pajak:

1) Nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan yaitu nilai tertinggi antara nilai berdasarkan akta pengalihan hak dengan Nilai Jual Objek Pajak kecuali

pengalihan kepada pemerintah.

2) Dalam hal penjualan secara angsuran DPP-nya adalah jumlah setiap pembayaran angsuran termasuk uang muka, bunga, pungutan dan pembayaran tambahan

lainnya yang dipenuhi oleh pembeli, sehubungan dengan penjualan atau pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan.

f. Pembebasan pajak dapat diberikan atas pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan kepada:

DENGAN SKB (Surat Keterangan Bebas)

1) Orang pribadi yang mempunyai penghasilan di bawah PTKP yang jumlah bruto pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunannya kurang dari Rp 60.000.000 (enam puluh juta rupiah) dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah 2) Warisan.

3) Hibah kepada ketuarga sedarah satu derajat sepanjang tidak ada hubungan usaha, pekerjaan atau kepemilikan.

4) Hibah kepada badan keagamaan, sosial, pendidikan, pengusaha kecil sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan atau kepemilikan.

TANPA SKB (SURAT KETERANGAN BEBAS)

1) Pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan kepada pemerintah guna pelaksanaan pennbangunan untuk kepentingan umum yang memertukan persyaratan khusus.

2) pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang ditakukan oleh orang pribadi atau badan yang tidak termasuk subjek pajak

g. Tata cara pembayaran:

1) Membayar sendiri dalam hal pengalihan tanah dan/atau bangunan kepada selain pemerintah dan PPh dibayar sebelum akta, ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang. Dalam hal membayar sendiri dan penjualan dilakukan secara angsuran.

PPh dibayar untuk setiap angsuran paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah diterimanya pembayaran

2) Dipungut oleh Bendaharawan atau pejabat yang berwenang melakukan pembayaran atau menyetujui tukar-menukar dalam hal pengatihan tanah dan/atau bangunan kepada pemerintah guna pelaksanaan pembangunan, termasuk pembangunan untuk kepentingan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus. PPh dibayar sebelum bendaharawan melakukan pembayaran kepada orang pribadi atau badan yang berhak menerimanya atau sebelum tukar-menukar dilaksanakan.

h. Tata cara Pelaporan

1) Orang pribadi atau barlan yang rnelakukan pembayaran sendiri PPh wajib menyampaikan SPT Masa paling lama tanggal 20 bulan, berikutnya setelah bulan dilakukan pengalihan atau diterimanya pembayaran.

2) Bendaharawan atau pejabat yang melakukan pembayaran atau pejabat yang menyetujui tukar-menukar yang melakukan pemungutan PPh wajib menyampaikan SPT Masa paling lama tanggal 20 bulan berikutnya setelah bulan dilakukan pengalihan atau diterimanya pembayaran.

8.2.3 Bunga Deposito/Tabungan/Diskonto SBI

a. PPh Final dikenakan atas bunga yang berasal dari deposito/tabungan baik yang ditempatkan pada bank yang didirikan di dalam negeri maupun bank di luar negeri melalui cabangnya di Indonesia, termasuk jasa giro serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia, kecuali WP Orang Pribadi yang seluruh penghasilannya dalam 1 tahun pajak termasuk bunga dan diskonto tidak melebihi PTKP.

b. Pengenaan PPh adalah sebagai berikut

1. PPh yang terutang adalah sebesar 20% dari jumlah bruto terhadap Wajib Pajak dalam negeri dan BUT

2. PPh yang terutang adalah sebesar 20% dari jumlah bruto atau sesuai tarif P3B yang berlaku terhadap Wajib Pajak luar negeri

c. Dikecualikan dari pemotongan PPh :

1. Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI sepanjang jumlah deposito dan tabungan serta sertifikat Bank Indonesia tersebut tidak melebihi Rp 7.500.000.00

dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah.

2. Bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia.

3. Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang telah disahkan Menteri Keuangan, sepanjang dananya diperoleh dari sumber pendapatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 UU Nomor 11 Tahun 1992.

Bunga tabungan pada bank yang ditunjuk Pemerintah dalam rangka pemilikan rumah sederhana dan sangat sederhada. kapling siap bangun untuk rumah sederhana dan sangat sederhana atau rumah susun sederhana sepanjang untuk dihuni sendiri.

8.2.4 Bunga Simpanan Anggota Koperasi

a. Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh anggota koperasi Orang pribadi berupa bunga simpanan koperasi yang didirikan di Indonesia, dikenakan pemotongan PPh Final.

b. Tarif PPh f inal:

1) 0% atas bunga simpanan sannpai dengan Rp240.000 per bulan 2) 10% atas bunga simpanan lebih dari Rp240.000 per bulan Contoh perhitungan Pajak Penghasilan atas bunga simpanan:

1. Bunga dibayarkan pada bulan Februari Rp 240.000 untuk masa Januari, maka PPh terutang 0% x Rp 240.000 = Rp 0.00

2. Bunga dibayarkan pada bulan Februari Rp 245.000 untuk masa Januari, maka PPh terutang 10% x Rp 245.000 = Rp24.500

3. Bunga dibayarkan pada bulan April sebesar Rp 500.000 dengan rincian: Bulan Januari RP 250.000

Bulan Februari RP 150.000 Bulan Maret RP 100.000

Maka yang dikenakan PPh 10% adalah bunga bulan Januari sebesar 10% x Rp250.000 = Rp 25.000 dari untuk bulan Februari dan Maret Rp0.00.

8.2.5 Bunga / Diskonto Obligasi

a. Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak berupa keuntungan modal (capital gain, bunga dan atau diskonto yang berasal dari obligasi.

termasuk Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan sukuk, dikenakan pemotongan PPh Final.

b. Pengenaan Pemotongan PPh Final adalah sebagai berikut:

Atas bunga obligasi dengan kupon (interest bearing bond) dihitung dari dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepernilikan (holding period) obligasi.

Atas diskonto obligasi dengan kupon dihitung dari dari selisih lebih harga jual pada saat transaksi atau nilai nominal pada saat jatuh tempo obligasi di atas harga perolehan obligasi, tidak termasuk bunga berjalan (accrued interest).

Atas diskonto obligasi tanpa bunga (zero coupon bond) dihitung dari dari selisih lebih harga jual pada saat transaksi atau nilai nominal pada saat jatuh tempo obligasi di atas harga perolehan obligasi.

c. Tarif PPh atas bunga atau diskonto obligasi adalah:

15% dari jumlah bruto bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap.

20 % dari jumlah bruto atau tarif berdasarkan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang berlaku bagi Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap.

Khusus untuk bunga obligasi yang diterima perusahaan reksadana berlaku tariff sebagai berikut:

0% dari jumlah bruto khusus Tahun 2009 sampai dengan 2010

5% dari jumlah bruto khusus Tahun 2011 sampai dengan 2013

15% dari jumlah bruto Tahun 2014 dan seterusnya

d. Pemotongan PPh final dilakukan oleh:

Penerbit obligasi (emiten) atau kustodian yang ditunjuk selaku agen pembayaran, atas bunga yang diterima atau diperoleh pemegang obligasi dengan kupon pada saat jatuh tempo bunga/obligasi, dan atas diskonto yang diterima atau diperoleh pemegang obligasi dengan kupon/obligasi tanpa bunga pada saat jatuh tempo obligasi;

Perusahaan efek ( broker) atau bank selaku pedagang perantara (dealer).

atas bunga dan diskonto obligasi yang diterima atau diperoleh penjual obligasi pada saat transaksi;

Perusahaan efek (broker), bank, dana pensiun, dan reksadana, selaku pembeli obligasi langsung tanpa meiatui pedagang perantara. atas bunga dan diskonto obligasi yang diterima atau diperoleh penjual obligasi pada saat transaksi.

e. Pemotongan PPh Final tersebut tidak perlu dilakukan apabila capital gain, bunga/diskonto tersebut diterima oleh:

1. Bank Wajib Pajak dalam negeri, cabang bank Wajib Pajak Luar negeri 8.2.6 Transaksi Saham di Bursa Efek

a. Atas transaksi saham PPh yang terutang dan harus dipotong oleh penyelenggara bursa adalah sebesar 0.1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan.

Apabila penjualan saham di bursa termasuk penjualan saham saham pendiri maka dikenai tambahan pengenaan PPh sebesar 0.5% dari jumlah bruto nilai saham pasar saat Penawaran Umum Perdana (IP0) oleh pihak Emiten. Penyetoran PPh sebesar 0.5% tersebut harus dilakukan selambat-lambatnya 1 bulan setelah saham diperdagangkan di bursa.

b Hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun melaluicara undian yang diterima atau diperoleh orang orang pribadi/badan dalam negeri dan orang pribadi atau badan luar negeri dikenakan PPh Final sebesar 25% dari jumlah bruto nilai undian (berupa nilai uang atau nilai pasar jika berbentuk barang).

c Penyetoran PPh tersebut oleh penyelenggara undian dengan SSP secara kolektif selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya.

d Pelaporan ke KPP setempat dengan SPT Masa PPh atas hadiah undian selannbat- lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya setelah dibayarkannya atau diserahkannya hadiah undian tersebut.

8.2.7 Jasa Konstruksi

a. Jasa konstruksi adalah layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi.

layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi.

b. Pekerjaan Konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya untuk nnewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain

c. Perencanaan Konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang perencanaan jasa konstruksi yang mampu mewujudkan pekerjaan dalam bentuk dokumen perencanaan bangunan fisik lain

d. Pelaksanaan Konstruksi adalah pennberian jasa oleh orang pribadi atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pelaksanaan jasa konstruksi yang mampu menyelenggarakan kegiatannya untuk mewujudkan suatu hash l perencanaan menjadi bentuk bangunan atau bentuk fisik lain, termasuk di dalamnya pekerjaan konstruksi terintegrasi yaitu penggabungan fungsi layanan dalam model penggabungan perencanaan, pengadaan, dan pembangunan (enginering, procurement and construction) serta model penggabungan perencanaan dan pembangunan (design and build)

e. Pengawasan konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau

badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pengawasan jasa konstruksi, yang mampu meiaksanakan pekerjaan pengawasan sejak awal pelaksanaan pekerjaan konstruksi sampai selesai dan diserah terimakan.

f. Tarif dan Dasar Pengenaan PPh Final :

g. Pengenaan PPh tersebut dilakukan melalui pemotongan oleh pemberi hasil, kecuali jika pemberi hasil tersebut merupakan Wajib Pajak orang pribadi yang tidak ditunjuk sebagai pemotong pajak atau non subjek pajak.

Dalam dokumen Tinjauan Umum dan Implementasi (Halaman 97-107)