• Tidak ada hasil yang ditemukan

Operasional Variabel

BAB III METODE PENELITIAN

3.6. Operasional Variabel

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel input dan variabel output. Menurut Robert N.Anthony et al (2005), input adalah

sumber daya yang digunakan oleh sebuah perusahaan atau institusi dalam mejalankan pekerjaannya demi mencapai tujuan yang diinginkan. Input dapat berupa bahan baku, tenaga kerja bahkan modal yang digunakan oleh suatu perusahaan atau institusi (Robert N.Anthony et al, 2005).

Dalam penelilitian ini variabel input adalah komponen yang digunakan atau dimanfaatkan oleh unit pengambil keputusan untuk menjalankan kegiatannya atau untuk dapat memproduksi outputnya. Variabel input dalam penelitian ini digambarkan oleh simbol (X) yang terdiri dari beberapa variabel input sehingga digambarkan oleh X1, X2, dan seterusnya.

Output merupakan suatu hasil dari suatu produksi yang berasal dari input yang digunakan oleh perusahaan atau institusi untuk menghasilkan output tersebut (Robert N.Anthony et al, 2005). Output dapat berupa barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan atau institusi tersebut.

Dalam penelilitian ini variabel output adalah komponen yang dihasilkan atau diproduksi oleh unit pengambil keputusan dari kegiatan yang sudah dilakukannya yang berasal dari input yang digunakan. Variabel output dalam penelitian ini digambarkan oleh simbol (Y) yang terdiri dari beberapa variabel output sehingga digambarkan oleh Y1, Y2 dan seterusnya.

Berikut adalah definisi variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

3.6.1.Variabel Input

3.6.1.1. Dana Pihak Ketiga (X1)

Menurut Kasmir (2002), total dana pihak ke-III adalah merupakan titipan murni dari nasabah kepada bank dalam bentuk dana pihak ketiga yaitu dapat berupa tabungan, giro maupun deposito. Simpanan tersebut kemudian digunakan oleh bank dalam aktivitas kegiatan ekonomi tertentu dengan catatan bank menjamin akan mengembalikannya secara utuh kepada nasabah (Kasmir, 2002).

Peraturan Bank Indonesia Nomor : 2/19/PBI/2000, menyatakan bahwa simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu, yang merupakan kewajiban bank kepada masyarakat dimana dana/ simpanan tersebut dapat ditarik atau dicairkan oleh masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Menurut Merindawati (2006) dalam Purwanto (2011), semakin besar simpanan yang dihimpun, maka semakin besar kemampuan bank untuk melaksanakan kegiatannya sehingga menghasilkan output atau keluaran yang besar pula dari berbagai produk yang dihasilkan.

3.6.1.2. Biaya Bunga (X2)

Biaya Bunga atau Bunga Simpanan. Bunga ini merupakan bunga yang diberikan sebagai rangsangan atau sebgai balas jasa bagi nasabah yang menyimpan uangnya di bank. Arti dari bunga simpanan tersebut adalah harga yang harus

dibayar bank kepada nasabahnya seperti jasa giro, bunga tabungan, dan bunga deposito. http://gunadarma.ac.id/

3.6.1.3. Biaya Operasional Lainnya (X3)

Biaya operasional adalah biaya bunga, biaya valuta asing, biaya overhead, biaya pegawai, biaya kegiatan kantor, biaya penyusutan

Ciri biaya overhed bank:

1. tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan jasa yang dihasilkan, karena biaya yang dikeluarkan untuk semua kegiatan bank

2. menjadi beban atau biaya pada periode terjadinya

3. biaya overhead yang dikeluarkan tidak memberi manfaat untuk masa yad.

4. Contoh biaya overhead : gaji dan tunjangan pegawai, biaya penyusutan, biaya kegiatan kantor, biaya listrik, biaya air, biaya alat tulis kantor dll. Sumber : http://widi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/28053/Pendapatan+dan+Biaya+

Bank+catatan.doc

3.6.2.Variabel Output

3.6.2.1 Kredit yang Disalurkan (Y1)

Menurut Kasmir (2002), kredit adalah dalam bentuk mata uang rupiah dan dalam bentuk valuta asing (foreign exchange) yang merupakan penyaluran dana oleh bank, dengan sistem pengembalian bunga untuk bank konvensional ataupun bagi hasil untuk bank syariah. Total kredit atau pembiayaan itu sendiri merupakan

jumlah kredit atau pembiayaan secara keseluruhan yang diberikan atau disalurkan kepada masyarakat oleh bank (Kasmir, 2002).

Menurut Kasmir (2002), pendapatan operasional lainnya merupakan pendapatan atau penghasilan dari suatu perusahaan, instutusi maupun lembaga atas hasil operasional dari kegiatan lainnya yang bukan merupakan kegiatan utamanya atau non bunga. Dalam penelitian ini, variabel pendapatan operasional lainnya , merupakan hasil dari kegiatan jasa- jasa yang diberikan oleh bank kepada nasabah.

3.6.2.2 Total Pendapatan (Y3)

Menurut M. Munandar, pengertian pendapatan adalah suatu pertambahan aset yang mengakibatkan bertambahnya Owner’s Equity, tetapi bukan karena penambahan modal dari pemiliknya dan bukan pula merupakan pertambahan aset yang disebabkan karena bertambahnya liabilities.

Dalam Penelitian ini total pendapatan yang dimaksud adalah total dari pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya sesuai dengan jurnal (Abidin, Nirmalawati, 2008)

Pendapatan Bunga Debitur dari aktiva produktif non performing tidak diakui sebagai pendapatan periode berjalan sejak aktiva tersebut dinyatakan non performing. Dan akan dicatat ke dalam rek administrative karena merupakan peristiwa kontijensi. Pendapatan Operasional lainnya (penerimaan dividen dari anak perusahaan) dan Pendapatan non operasional (pendapatan penjualan aktiva).

Sumber :

http://widi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/28053/Pendapatan+dan+Biaya+

Bank+catatan.doc

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa dan Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Non Devisa di Indonesia 2015- 2016. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bank uang terdaftar sebagai BUSN Devisa dan BUSN non Devisa yang terdapat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2015-2016. Dari seluruh populasi tersebut kemudian dipilih kembali menggunakan teknik purposive sampling, sehingga didapatlah sampel dari objek terpilih yang akan digunakan sebagai model penelitian.

Berdasarkan kriteria tersebut di dapat 56 bank yang akan digunakan sebagai sampel.

4.2 Analisis dan Pembahasan

perhitungan efisiensi teknik 39 bank Devisa dan 17 bank non Devisa menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) ini menggunakan tiga variabel input, yaitu: dana pihak ketiga, biaya bunga, dan biaya operasional lainnya.

Sedangkan outputnya meliputi kredit yang disalurkan, pendapatan bunga, dan pendapatan operasional lainnya. DEA merupakan ukuran efisiensi relatif, yang mengukur inefisiensi unit unit yang ada dibandingkan dengan unit lain yang dianggap paling efisien dalam set data yang ada. Sehingga dalam analisis DEA dimungkinkan beberapa unit mempunyai tingkat efisiensi 100 persen yang artinya adalah bahwa unit tersebut merupakan unit yang terefisien dalam set data tertentu dan waktu tertentu (Hadad, 2003:14). Adapun penjelasan dan penjabaran dengan

analisis DEA ini dibagi atas dua bank, yaitu bank konvensional dan bank syariah.

Setelah diketahui tingkat efisiensi masing-masing kelompok bank maka akan dilakukan uji normalitas data dan melakukan uji beda independent sample t-test.

4.3 Hasil perhitungan Efisiensi dengan Data Envelopment Analysis (DEA)

Berdasarkan hasil perhitungan metode DEA berasumsikan CRS (Constant Return to Scale) dengan menggunakan Software Frontier Analysis, dapat dilihat tingkat efisiensi 39 bank Devisa pada tabel 4.1 hasil yang didapat menggambarkan pencapaian nilai efisiensi pada masing-masing bank.

Tabel 4.1

Nilai Efisiensi Bank Devisa

No Nama Bank Tahun

2015 2016

1 PT BANK ANTARDAERAH 100 100

2 PT BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL, Tbk 79,61 76,25

3 PT BANK BUKOPIN, Tbk 86,76 91,76

4 PT BANK BUMI ARTA, Tbk 87,18 88,69

5 PT BANK CAPITAL INDONESIA, Tbk 79,46 82,33

6 PT BANK CENTRAL ASIA, Tbk 100 100

7 PT BANK CHINA CONSTRUCTION BANK INDONESIA, Tbk 81,83 76,09

8 PT BANK CIMB NIAGA, Tbk 100 100

9 PT BANK DANAMON INDONESIA, Tbk 100 100

10 PT BANK GANESHA 100 100

11 PT BANK HIMPUNAN SAUDARA 1906, Tbk 84,58 87,34

12 PT BANK HSBC INDONESIA 80,02 87,95

13 PT BANK ICBC INDONESIA 100 100

14 PT BANK INDEX SELINDO 93,16 97,35

No Nama Bank Tahun 2015 2016

15 PT BANK JTRUST INDONESIA, TBK 72,73 83,02

16 PT BANK KEB HANA INDONESIA 100 100

17 PT BANK MASPION INDONESIA 86,47 89,63

18 PT BANK MAYAPADA INTERNATIONAL, Tbk 100 100

19 PT BANK MAYBANK INDONESIA, Tbk 89,96 93,7

20 PT BANK MAYORA 85,13 86,43

21 PT BANK MEGA, Tbk 81,27 84,98

22 PT BANK MESTIKA DHARMA 100 100

23 PT BANK MNC INTERNASIONAL, Tbk 73,25 76,39

24 PT BANK MULTIARTA SENTOSA 94,33 89,52

25 PT BANK NATIONALNOBU 74,87 69,27

26 PT BANK NUSANTARA PARAHYANGAN,Tbk 85,14 84,48

27 PT BANK OCBC NISP, Tbk 100 100

28 PT BANK OF INDIA INDONESIA, Tbk 100 100

29 PT BANK PERMATA, Tbk 100 98,74

30 PT BANK QNB INDONESIA, Tbk 87,13 79,62

31 PT BANK RABOBANK INTERNATIONAL INDONESIA 87,76 87,46

32 PT BANK SBI INDONESIA 98,79 100

33 PT BANK SHINHAN INDONESIA 100 100

34 PT BANK SINARMAS, Tbk 100 100

35 PT BANK TABUNGAN PENSIUNAN NASIONAL, Tbk 100 100

36 PT BANK UOB INDONESIA 100 100

37 PT BANK VICTORIA INTERNATIONAL, Tbk 100 100

38 PT BRI AGRONIAGA, Tbk 88,87 92,42

39 PT PAN INDONESIA BANK, Tbk 100 100

Sumber : Diolah Penulis

Statistik pada Tabel menunjukkan bahwa pada tahun 2015 terdapat 18 bank Devisa yang mencapai tingkat efisiensi teknik 100 persen (efisien), yaitu Bank Antardaerah, Bank Central Asia, Bank CIMB Niaga, Bank Danamon Indonesia, Bank Ganesha, Bank Icbc Indonesia, Bank Keb Hana Indonesia, Bank Mayapada International, Bank Mestika Dharma, Bank OCBC Nisp, Bank Of India Indonesia, Bank Permata, Bank Shinhan Indonesia, Bank Sinarmas, Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Bank UOB Indonesia, Bank Victoria International, Dan Pan Indonesia Bank. Sedangkan 21 bank lainnya belum mencapai tingkat efisiensi teknik 100 persen (inefisien) yang meliputi Bank Artha Graha Internasional (79,61), Bank Bukopin (86,76), Bank Bumi Arta (87,18), Bank Capital Indonesia (79,46), Bank China Construction Bank Indonesia (81,83), Bank Himpunan Saudara 1906 (84,58), Bank HSBC Indonesia (80,02), Bank Index Selindo (93,16), Bank Jtrust Indonesia (72,73), Bank Maspion Indonesia (86,47), Bank Maybank Indonesia (89,96), Bank Mayora (85,13), Bank Mega (81,27), Bank MNC Internasional (73,25), Bank Multiarta Sentosa (94,33), Bank Nationalnobu (74,87), Bank Nusantara Parahyangan (85,14), Bank Qnb Indonesia (87,13), Bank Rabobank International Indonesia (87,76), Bank SBI Indonesia (98,79), Dan BRI Agroniaga (88,87).

Pada tahun 2016 Bank SBI Indonesia mampu mencapai tingkat efisien teknik 100 persen (efisien) setelah pada tahun sebelumnya termasuk bank yang inefisien.

Sedangkan Bank Permata mengalami penurunan tingkat efisiensi menjadi 98,74 (inefisien) setelah sebelumnya mencapai tingkat efisiensi 100 persen pada tahun 2015. Bank- bank lain yang mengalami inefisiensi pada tahun 2016 meliputi Bank

Artha Graha Internasional (76,25), Bank Bukopin (91,76), Bank Bumi Arta (88,69), Bank Capital Indonesia (82,33), Bank China Construction Bank Indonesia (76,09), Bank Himpunan Saudara 1906 (87,34), Bank Hsbc Indonesia (87,95), Bank Index Selindo (97,35), Bank Jtrust Indonesia (83,02), Bank Maspion Indonesia (89,63), Bank Maybank Indonesia (93,70), Bank Mayora (86,43), Bank Mega (84,98), Bank Mnc Internasional (76,39), Bank Multiarta Sentosa (89,52), Bank Nationalnobu (69,27), Bank Nusantara Parahyangan (84,48), Bank Qnb Indonesia (79,62), Bank Rabobank International Indonesia (87,46), Dan Bri Agroniaga (92,42).

Keseluruhan hasil pencapaian nilai efisiensi Bank BUSN Devisa menunjukkan rata- rata nilai efisiensi pada tahu 2015 sebesar 91,75 persen dan pada 2016 nilai efisiensi bank- bank BUSN Devisa mengalami peningkatan menjadi 92,39 persen.

Bank- bank yang mengalami peningkatan nilai efisiensi meliputi Bank Bukopin, Bank Bumi Artha, Bank Capital Indonesia, Bank Himpunan Saudara 1906, Bank HSBC Indonesia Bank Index Selindo, Bank Jtrust Indonesia, Bank Maspion Indonesia, Bank Maybank Indonesia, Bank Mayora, Bank Mega, Bank MNC Internasional, Bank SBI Indonesia, Bank BRI Agroniaga.

Penambahan kredit, pendapatan operasional dan pendapatan lainnya yang seharusnya ditambah agar mencapai tingkat efisiensi maksimal pada bank devisa pada tahun 2015 bisa dilihat dalam tabel 4.2

Tabel 4.2

Target Output untuk Mencapai Efisiensi Bank Devisa pada Tahun 2015

No Nama Bank Devisa

2015

Pend.Bunga kredit Pend.op 2 PT BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL,

Tbk 618800,94 4441798,62 153974,46

3 PT BANK BUKOPIN, Tbk 1167572,84 9411782,49 210347,73

4 PT BANK BUMI ARTA, Tbk 97169,53 634521,09 30211,08

5 PT BANK CAPITAL INDONESIA, Tbk 288737,83 3836464,33 19618,6 7 PT BANK CHINA CONSTRUCTION BANK

INDONESIA, Tbk 215198,51 1612670 32620,33

11 PT BANK HIMPUNAN SAUDARA 1906, Tbk 281952,18 2545074,01 69241,52

14 PT BANK INDEX SELINDO 52600,7 368947,34 4735,35

15 PT BANK JTRUST INDONESIA, TBK 391730,8 3511650,55 163869,91

17 PT BANK MASPION INDONESIA 76523,62 631744,01 30183,9

19 PT BANK MAYBANK INDONESIA, Tbk 1363972,1 10584044,84 261093,39

20 PT BANK MAYORA 77647,15 616374,41 13282,13

21 PT BANK MEGA, Tbk 1355811,37 14060245,93 584957,51

23 PT BANK MNC INTERNASIONAL, Tbk 373175,59 2587507,09 44179,4 24 PT BANK MULTIARTA SENTOSA 24336,29 182874,71 21449,12

25 PT BANK NATIONALNOBU 166604,88 1169219,82 33615,02

26 PT BANK NUSANTARA PARAHYANGAN,Tbk 169393,17 1131023,85 35945,98 30 PT BANK QNB INDONESIA, Tbk 301322,7 3075870,06 293989,8 31 PT BANK RABOBANK INTERNATIONAL

INDONESIA 195193,94 1631238,17 42850,67

32 PT BANK SBI INDONESIA 18769,45 26584,16 19759,3

38 PT BRI AGRONIAGA, Tbk 98575,33 757383,94 21870,09

Penambahan kredit, pendapatan operasional dan pendapatan lainnya yang seharusnya ditambah dalam persen agar mencapai tingkat efisiensi maksimal pada bank devisa pada tahun 2015 bisa dilihat dalam tabel 4.3

Sumber : Diolah Penulis

Tabel 4.3

Target Output untuk Mencapai Efisiensi Bank Devisa pada Tahun 2015 (dalam persen)

No Nama Bank Devisa

2015

Pend.Bunga kredit Pend.op 2 PT BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL,

Tbk 25,62% 25,62% 81,95%

3 PT BANK BUKOPIN, Tbk 15,26% 15,26% 15,26%

4 PT BANK BUMI ARTA, Tbk 14,71% 14,71% 118,57%

5 PT BANK CAPITAL INDONESIA, Tbk 25,85% 63,43% 25,85%

7 PT BANK CHINA CONSTRUCTION BANK

INDONESIA, Tbk 22,21% 22,21% 36,42%

11 PT BANK HIMPUNAN SAUDARA 1906, Tbk 18,23% 18,23% 25,69%

14 PT BANK INDEX SELINDO 7,34% 7,34% 7,34%

15 PT BANK JTRUST INDONESIA, TBK 37,49% 37,49% 37,49%

17 PT BANK MASPION INDONESIA 15,64% 15,64% 70,54%

19 PT BANK MAYBANK INDONESIA, Tbk 11,16% 11,16% 11,16%

20 PT BANK MAYORA 17,46% 17,46% 29,58%

21 PT BANK MEGA, Tbk 23,04% 43,40% 23,04%

23 PT BANK MNC INTERNASIONAL, Tbk 36,52% 36,52% 36,52%

24 PT BANK MULTIARTA SENTOSA 6,01% 6,01% 122,50%

25 PT BANK NATIONALNOBU 33,57% 33,57% 248,61%

26 PT BANK NUSANTARA PARAHYANGAN,Tbk 17,46% 17,46% 45,98%

30 PT BANK QNB INDONESIA, Tbk 14,77% 14,77% 129,58%

31 PT BANK RABOBANK INTERNATIONAL

INDONESIA 13,95% 13,95% 13,95%

32 PT BANK SBI INDONESIA 6,79% 1,22% 165,84%

38 PT BRI AGRONIAGA, Tbk 12,53% 12,53% 39,60%

Penambahan kredit, pendapatan operasional dan pendapatan lainnya yang seharusnya ditambah agar mencapai tingkat efisiensi maksimal pada bank devisa

Sumber : Diolah Penulis

Tabel 4.4

Target Output untuk Mencapai Efisiensi Bank Devisa pada Tahun 2016

No Nama Bank

2016

Pend.Bunga kredit Pend.op 2 PT BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL,

Tbk 708027,95 5609724,9 113666,63

3 PT BANK BUKOPIN, Tbk 782881,38 6059002,93 129079,14

4 PT BANK BUMI ARTA, Tbk 91477,58 573936,71 29404,16

5 PT BANK CAPITAL INDONESIA, Tbk 265816,4 3814957,19 32337,12 7 PT BANK CHINA CONSTRUCTION BANK

INDONESIA, Tbk 324071,97 2585413,67 59205,68

11 PT BANK HIMPUNAN SAUDARA 1906, Tbk 257196,67 2384058,44 34124,09

14 PT BANK INDEX SELINDO 19887,94 131852,42 1588,41

15 PT BANK JTRUST INDONESIA, TBK 258875,82 2298988,43 87654,67 17 PT BANK MASPION INDONESIA 60519,53 483908,62 27643,39 19 PT BANK MAYBANK INDONESIA, Tbk 855341,63 6446215,9 135333,25

20 PT BANK MAYORA 78926,16 530571,91 12945,93

21 PT BANK MEGA, Tbk 1081327,9 18717943,61 353027,05

23 PT BANK MNC INTERNASIONAL, Tbk 353607,08 2470881,67 46714,63 24 PT BANK MULTIARTA SENTOSA 65108,28 459393,19 13259,54

25 PT BANK NATIONALNOBU 248546,31 1772925,94 97907,09

26 PT BANK NUSANTARA PARAHYANGAN,Tbk 160036,5 976297,44 15728,78

29 PT BANK PERMATA, Tbk 183032,17 12185937,57 34116,14

30 PT BANK QNB INDONESIA, Tbk 524310,2 4680551,24 134977,86 31 PT BANK RABOBANK INTERNATIONAL

INDONESIA 180633,44 1347462,82 57076,21

38 PT BRI AGRONIAGA, Tbk 79145,64 670813,35 6641,11

Penambahan kredit, pendapatan operasional dan pendapatan lainnya yang seharusnya ditambah dalam persen agar mencapai tingkat efisiensi maksimal pada bank devisa pada tahun 2016 bisa dilihat dalam tabel 4.5

Sumber : Diolah Penulis

Tabel 4.5

Target Output untuk Mencapai Efisiensi pada Tahun 2016 (dalam persen)

No Nama Bank

2016

Pend.Bunga kredit Pend.op 2 PT BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL,

Tbk 31,15% 31,15% 67,39%

3 PT BANK BUKOPIN, Tbk 8,98% 8,98% 8,98%

4 PT BANK BUMI ARTA, Tbk 12,75% 12,75% 120,24%

5 PT BANK CAPITAL INDONESIA, Tbk 21,46% 57,34% 21,46%

7 PT BANK CHINA CONSTRUCTION BANK

INDONESIA, Tbk 31,42% 31,42% 78,70%

11 PT BANK HIMPUNAN SAUDARA 1906, Tbk 14,50% 14,50% 14,50%

14 PT BANK INDEX SELINDO 2,73% 2,73% 2,73%

15 PT BANK JTRUST INDONESIA, TBK 20,46% 20,46% 20,46%

17 PT BANK MASPION INDONESIA 11,57% 11,57% 66,69%

19 PT BANK MAYBANK INDONESIA, Tbk 6,72% 6,72% 6,72%

20 PT BANK MAYORA 15,70% 15,70% 35,48%

21 PT BANK MEGA, Tbk 17,67% 66,20% 17,67%

23 PT BANK MNC INTERNASIONAL, Tbk 30,91% 30,91% 30,91%

24 PT BANK MULTIARTA SENTOSA 11,71% 11,71% 44,33%

25 PT BANK NATIONALNOBU 44,37% 44,37% 543,23%

26 PT BANK NUSANTARA PARAHYANGAN,Tbk 18,37% 18,37% 18,37%

29 PT BANK PERMATA, Tbk 1,27% 12,99% 1,27%

30 PT BANK QNB INDONESIA, Tbk 25,59% 25,59% 67,12%

31 PT BANK RABOBANK INTERNATIONAL

INDONESIA 14,34% 14,34% 14,34%

38 PT BRI AGRONIAGA, Tbk 8,20% 8,20% 9,39%

Tingkat efisiensi 26 bank non Devisa pada tabel 4.6 hasil yang didapat menggambarkan pencapaian nilai efisiensi pada masing-masing bank.

Sumber : Diolah Penulis

Tabel 4.6

Nilai Efisiensi Bank non Devisa

No Nama Bank Tahun

2015 2016

1 PT BANK AMAR INDONESIA 100 100

2 PT BANK ANDARA 100 100

3 PT BANK ARTOS INDONESIA 84,78 57,8

4 PT BANK BISNIS INTERNASIONAL 100 100

5 PT BANK DINAR INDONESIA 87,42 81,34

6 PT BANK FAMA INTERNASIONAL 100 100

7 PT BANK HARDA INTERNASIONAL 90,83 81,81

8 PT BANK INA PERDANA 89,13 89,1

9 PT BANK JASA JAKARTA 100 100

10 PT BANK KESEJAHTERAAN EKONOMI 100 97,72

11 PT BANK MANDIRI TASPEN POS 100 100

12 PT BANK MITRANIAGA 100 100

13 PT BANK PEMBANGUNAN DAERAH BANTEN, TBK 100 100

14 PT BANK ROYAL INDONESIA 81,18 91,91

15 PT BANK SAHABAT SAMPOERNA 100 100

16 PT BANK YUDHA BHAKTI 100 100

17 PT PRIMA MASTER BANK 100 87,53

Statistik pada Tabel menunjukkan bahwa pada tahun 2015 terdapat 12 bank non-Devisa yang mencapai tingkat efisiensi teknik 100 persen (efisien), yaitu Bank Amar Indonesia, Bank Andara, Bank Bisnis Internasional, Bank Fama

Sumber : Diolah Penulis

Internasional, Bank Jasa Jakarta, Bank Kesejahteraan Ekonomi, Bank Mandiri Taspen Pos, Bank Mitraniaga, Bank Pembangunan Daerah Banten, Bank Sahabat Sampoerna, Bank Yudha Bhakti, Dan Prima Master Bank. Sedangkan 5 bank lainnya belum mencapai tingkat efisiensi teknik 100 persen (inefisien) yang meliputi Bank Artos Indonesia (84,78), Bank Dinar Indonesia (87,42), Bank Harda Internasional (90,83), Bank Ina Perdana (89,13), Bank Royal Indonesia (81,18).

Pada tahun 2016 terdapat 10 bank yang mencapai tingkat efisiensi 100 persen (efisien) meliputi Bank Amar Indonesia, Bank Andara, Bank Bisnis Internasional, Bank Fama Internasional, Bank Jasa Jakarta, Bank Mandiri Taspen Pos, Bank Mitraniaga, Bank Pembangunan Daerah Banten, Bank Sahabat Sampoerna, Bank Yudha Bhakti jumlah bank yang mencapai tingkat efisien menurun dari 12 bank menjadi 10 bank, Bank Kesejahteraan Ekonomi dan Prima Master Bank pada tahun 2016 mengalami penurunan tingkat efisiensi masing- masing menjadi 97,72 dan 87,53 dari tahun sebelumnya kedua bank tersebut tingkat efisiensi 100 atau dianggap efisien. Bank- bank lain yang mengalami tingkat efisiensi kurang dari 100 persen (inefisien) meliputi Bank Artos Indonesia (57,80), Bank Dinar Indonesia (81,34), Bank Harda Internasional (81,81), Bank Ina Perdana (89,10), Bank Royal Indonesia (91,91).

Hasil rata- rata dari keseluruhan nilai efisiensi bank- bank Non Devisa pada tahun 2015 sebesar 96,08 persen dan pada tahun 2016 mengalami penurunan nilai efisiensi menjadi 93,36 persen. Bank- bank yang mengalami penurunan efisiensi pada tahun 2015 ke 2016 meliputi Bank Artos Indonesia, Bank Dinar Indonesia,

Bank Harda Internasional, Bank Ina Perdana, Bank Kesejahteraan Ekonomi, dan Prima Master Bank, dan hanya Bank Royal Indonesia dalam kelompok bank BUSN non Devisa yang mengalami peningkatan nilai efisiensi.

Penambahan kredit, pendapatan operasional dan pendapatan lainnya yang seharusnya ditambah agar mencapai tingkat efisiensi maksimal pada bank non devisa pada tahun 2015 bisa dilihat dalam tabel 4.7

Tabel 4.7

Target Output untuk Mencapai Efisiensi Bank non Devisa pada Tahun 2015

No Nama Bank

2015 Pendapatan Bunga kredit

pendapatan operasional selain bunga

3 PT BANK ARTOS INDONESIA (83.002) 209.517 2.183

5 PT BANK DINAR INDONESIA 26.690 275.139 5.662

7 PT BANK HARDA INTERNASIONAL 24.152 271.059 789

8 PT BANK INA PERDANA 27.311 282.419 972

14 PT BANK ROYAL INDONESIA 15.997 118.972 604

Penambahan kredit, pendapatan operasional dan pendapatan lainnya yang seharusnya ditambah dalam persen agar mencapai tingkat efisiensi maksimal pada bank non devisa pada tahun 2015 bisa dilihat dalam tabel 4.8

Sumber : Diolah Penulis

Tabel 4.8

Target Output untuk Mencapai Efisiensi Bank non Devisa pada Tahun 2015 (dalam persen)

No Nama Bank

2015 Pendapatan Bunga kredit

pendapatan operasional selain bunga

3 PT BANK ARTOS INDONESIA -87,68% 44,78% 56,65%

5 PT BANK DINAR INDONESIA 14,39% 24,20% 229,32%

7 PT BANK HARDA INTERNASIONAL 10,10% 18,01% 10,10%

8 PT BANK INA PERDANA 12,20% 19,40% 12,20%

14 PT BANK ROYAL INDONESIA 23,18% 25,46% 25,34%

Penambahan kredit, pendapatan operasional dan pendapatan lainnya yang seharusnya ditambah agar mencapai tingkat efisiensi maksimal pada bank non devisa pada tahun 2016 bisa dilihat dalam tabel

Tabel 4.9

Target Output untuk Mencapai Efisiensi Bank non Devisa pada Tahun 2016

No Nama Bank

2016 Pendapatan

Bunga kredit

pendapatan operasional selain bunga

3 PT BANK ARTOS INDONESIA 57.227 348.042 5.457

5 PT BANK DINAR INDONESIA 44.797 305.697 8.038

7 PT BANK HARDA INTERNASIONAL 47.998 310.882 2.243

8 PT BANK INA PERDANA 29.458 349.610 1.486

10 PT BANK KESEJAHTERAAN EKONOMI 8.813 158.732 409

Sumber : Diolah Penulis

14 PT BANK ROYAL INDONESIA 14.603 49.736 1.736

17 PT PRIMA MASTER BANK 36.156 241.853 2.106

Penambahan kredit, pendapatan operasional dan pendapatan lainnya yang seharusnya ditambah dalam persen agar mencapai tingkat efisiensi maksimal pada bank non devisa pada tahun 2016 bisa dilihat dalam tabel 4.10

Tabel 4.10

Target Output untuk Mencapai Efisiensi Bank non Devisa pada Tahun 2016 (dalam persen)

No Nama Bank

2016 Pendapatan

Bunga kredit

pendapatan operasional selain bunga

3 PT BANK ARTOS INDONESIA 74,17% 73,02% 73,02%

5 PT BANK DINAR INDONESIA 22,94% 22,94% 230,05%

7 PT BANK HARDA INTERNASIONAL 22,23% 22,23% 22,23%

8 PT BANK INA PERDANA 12,23% 25,37% 12,23%

10 PT BANK KESEJAHTERAAN EKONOMI 2,33% 6,97% 2,33%

14 PT BANK ROYAL INDONESIA 19,73% 8,80% 74,21%

17 PT PRIMA MASTER BANK 14,25% 14,76% 14,25%

4.4 Uji Normalitas (Kolmogorov-Smirnov Test)

Sebelum menguji perbedaan tingkat efisiensi antara bank devisa dan bank non devisa, maka dilakukan uji normalitas dahulu sebagai syarat uji beda independent sample t-test. Uji normalitas dalam penelitian ini akan menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov.

Sumber : Diolah Penulis

Sumber : Diolah Penulis

Tabel 4.11

Tabel Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Test

Test Statisticsa

efisiensi_bank Most Extreme Differences

Absolute ,192

Positive ,192

Negative -,029

Kolmogorov-Smirnov Z ,932

Asymp. Sig. (2-tailed) ,350

a. Grouping Variable: jenis_bak

Hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 21 menunjukkan bahwa nilai K-S untuk efisiensi 0,932 dengan probabilitas signifikasi 0,350 dan nilainya diatas α = 0,05, hal ini berarti bahwa H0 diterima atau data berdistribusi normal.

4.5 Uji Beda Independent Sample T-Tes

Dari hasil pengujian Levene’s test untuk kesamaan ragam, diperoleh nilai sig F sebesar 0,912 (sig > α 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa kedua populasi berasal dari ragam yang sama. Karena kedua ragam sama, maka menggunakan uji t pada baris pertama (equal variance assumed) (Nurjannah, 2008: 14). Berdasarkan nilai probabilitasnya diperoleh nilai probabilitas sebesar 0.157. Karena probabilitas α >

= 0,05 maka H0 diterima. Dengan melihat probabilitas yang didapat, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan efisiensi antara bank devisa dengan bank non devisa selama periode 2015-2016.

Tabel 4.12 Tabel Hasil Uji Beda

Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. t df Sig. (2-

tailed) efisiensi_bank

Equal variances assumed ,912 ,342 -1,423 110 ,157

Equal variances not assumed

-1,409 61,474 ,164

4.6 Implikasi Manajerial

Berdasarkan hasil analisis yang didapatkan nilai efisiensi yang dicapai pada masing- masing kelompok bank memiliki nilai efisiensi diatas 90 persen dari tahun ke tahun. Dari hasil rata- rata nilai efisiensi, nilai efisiensi dari kelompok bank Devisa memiliki rata- rata nilai efisiensi yang sedikit lebih kecil dari rata- rata yang diperoleh oleh kelompok bank non Devisa, hal ini disebabkan oleh metode yang digunakan merupakan metode perhitungan efisiensi relatif yang dimana hasil yang didapat dipengaruhi oleh banyaknya sampel yang digunakan, semakin banyak sampel yang digunakan semakin sulit menemukan nilai yang efisien, dan semakin sedikit pula sampel yang digunakan akan semakin sering pula ditemukan nilai yang efisien.

Rata- rata efisiensi yang didapat dari tahun ke tahun kelompok Bank Devisa cenderung mengalami kenaikan dari tahun 2015 ke tahun 2016 dari 91,75 persen menjadi 92,39 persen, sedangkan kelompok bank non Devisa cenderung mengalami penurunan dari tahun 2015 ke tahun 2016 dari 96, 08 persen menjadi 93,36 persen.

Dokumen terkait