PERBEDAAN EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING DENGAN
dengan berpikir logis dan reflektif dalam memahami permasalahan, menganalisis permasalahan, dan memutuskan solusi yang tepat.
Kemampuan berpikir kritis meruapakan kemampuan yang sangat penting untuk bekal siswa dalam memecahkan suatu permasalahan, namun meskipun kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan dan penting dimiliki, nyatanya kebanyakan siswa belum mampu menguasai kemampuan tersebut dengan baik. Berdasarkan hasil observasi, sebelum dilakukan penelitian yaitu masih kurangnya kemampuan berpikir kritis siswa dalam proses pembelajaran di kelas, dimana siswa masih kurang percaya diri atau masih takut dalam menyampaikan pendapat. Kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru atau masih menggunakan model pembelajaran ceramah serta kurang dalam menerapkan variasi model di kelas. Selama proses kegiatan belajar mengajar siswa kurang aktif dalam mengemukakan pendapat dan juga kurang aktif dalam bertanya atau pun menjawab pertanyaan dari guru. Selain itu kurangnya juga strategi penerapan pembelajaran di dalam kelas.
Untuk mengatasi permasalahan yang dipaparkan di atas, maka pembelajaran yang akan digunakan di dalam kelas adalah pembelajaran aktif yang mengajak peserta didik untuk berpikir kritis dalam menyikapi suatu permasalahan, sehingga merekalah yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Pembelajaran aktif merupakan suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar aktif mengoptimalkan potensi yang dimiliki, sehingga pembelajaran aktif didominasi oleh siswa dan guru berperan sebagai fasilitator. Untuk itu peneliti menggunakan model Problem Based Learning dan model Inkuiri Terbimbing untuk mengatasi permasalahan tersebut. Menurut Wena, (2014:91), Model pembelajaran Problem Bassed Learning merupakan strategi pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa belajar melalui permas alahan-permasalahan, sedangkan Menurut Syarifuddin (2018:66) Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis kritis dan logis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri temuannya dari sesuatu yang dipertanyakan. Penggunaan model ini menuntut siswa untuk mampu tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan atau mendapatkan jawaban yang benar. Model ini menuntut siswa untuk melakukan serangkaian investigasi, eksplorasi, pencarian, eksperimen, penelusuran, dan penelitian.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan penelitian quasi eksperimen (eksperimen semu). Desain penelitian eksperimen yang digunakan adalah Non Equivalent Control Grup Design. Penelitian dilakukan di kelas IV SD Negeri 16 Tempilang pada pada tahun ajaran 2019/2020 semester 2. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV A dan IV B. Teknik yang digunakan untuk memperoleh sampel pada penelitian ini adalah sampling Purposive, adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2010:124). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Inkuiri Terbimbing, sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan berpikir kritis siswa. Instrument penelitian yang digunakan dalam pnelitian ini berbentuk tes tertulis.
Tes tertulis tersebut digunakan untuk mengumpulkan data dari berbagai sum ber dan instrumen tes digunakan untuk mengukur kemampuan berfikir kriitis siswa serta model pembelajaran Problem Based Learning dan model Inkuiri Terbimbing. Tes tertulis berbentuk soal uraian yang terdiri dari 5 soal. Data hasil tes akhir yang telah diperoleh dibuat ke dalam bentuk tabel dn dianalisis menggunakan statistic uji independent –test. Uji statistic ini untuk mengetahui perbedaan pengaruh model Problem Based Learning dengan model Inkuiri Terbimbing terhadap kemampuan berpikir kritis siswa serta ingin mengetahui model mana yang lebih efektif diterapkan di dalam kelas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Model Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang mengasah kemampuan berpikir kritis setiap siswa. Penerapan model Problem Based Learning ini dilakukan di kelas IV A yang terdiri dari 15 siswa dengan materi “sikap toleransi dalam keberagaman di masyarakat dan kegiatan ekonomi di lingkungan sekitar”. Tahap mengajar dikelas ini dilakukan sendiri oleh peneliti. Peneliti terlebih dahulu memberikan soal pretest untuk mengetahui kemampun awal siswa, kemudian memberikan penjelasan model pembelajaran yang akan diterapkan dan menjelaskan materi tentang
“sikap toleransi dalam keberagaman di masyarakat dan kegiatan ekonomi di lingkungan sekitar”.
Selanjutnya peneliti mengorganisasikan siswa untuk membentuk 7 kelompok kecil yang masing- masing kelompok berjumlah 2-3 siswa untuk mendiskusikan masalah yang diberikan peneliti. Peneliti membantu dengan mendorong siswa untuk mengumpulkan data/penjelasan secara mandiri da n kelompok, setelah kegiatan diskusi selesai siswa merefleksi hasil diskusi mereka baik secara mandiri maupun kelompok. Setelah kegiatan belajar berkelompok selesai siswa diminta untuk mengerjakan soal berkaitan dengan materi yang sudah dijelaskan, hal ini untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa setelah diberi perlakuan dengan model Problem Based Learning.
Menurut Syarifuddin (2018:66) Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kem ampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis kritis dan logis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri temuannya dari sesuatu yang dipertanyakan. penerapan model sampai dengan tahap akhir yaitu melakukan posttest. Proses pembelajaran dengan menggunakan model Inkuiri Terbimbing juga berjalan dengan lancar. Model pembelajaran ini juga merupakan salah satu model pembelajaran yang mengasah kemampuan berpikir kritis siswa. Penerapan model Inkuiri Terbimbing ini dilakukan di kelas IV B yang terdiri dari 15 siswa dengan materi “sikap toleransi dalam keberagaman di masyarakat dan kegiatan ekonomi di lingkungan sekitar”.
Tahap mengajar di kelas ini dilakukan sendiri oleh peneliti. Peneliti terlebih dahulu memberikan soal pretest untuk mengetahui kemampun awal siswa, kemudian memberikan penjelasan model pembelajaran yang akan diterapkan dan menjelaskan materi tentang “sikap toleransi dalam keberagaman di masyarakat dan kegiatan ekonomi di lingkungan sekitar”. Selanjutnya peneliti mengorganisasikan siswa untuk membentuk 3 kelompok yang masing-masing kelompok berjumlah 5 siswa untuk mendiskusikan masalah yang diberikan peneliti. Peneliti membantu mendorong siswa untuk mengajukan hipotesis atau mengajukan jawaban sementara tentang masalah yang diber ikan, kemudian siswa diminta mengumpulkan data untuk membuktikan hipotesis mereka benar atau tidak, kemudian data yang dikumpulkan dianalisis untuk membuktikan hipotesis mereka, setelah kegiatan diskusi selesai perwakilan setiap kelompok diminta untuk mnyimpulkan hasil diskusi masing-masing kelompok I depan kelas.
Setelah kegiatan belajar berkelompok selesai siswa diminta untuk mengerjakan soal berkaitan dengan materi yang sudah dijelaskan, hal ini untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa setelah diberi perlakuan dengan model Inkuiri Terbimbing. Sebelum menganalisis data menggunakan Independt t-test, dilakukan uji normalitas dan homogenitas terlebih dahulu. Hasil menujukkan bahwa kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan data pada kondisi awal, menujukkan bahwa kemampuan awal antara kelas eksperimen model PBL maupun kelas eksperimen model Inkuiri Terbimbing relatif sama. Kemampuan berpikir kritis baik pada kelas eksperimen model PBL maupun pada kelas eksperimen model Inkuiri Terbimbing diperoleh hasil pretest kelompok eksperimen PBL memiliki rerata 76,53 dengan nilai minimum 60 dan nilai maksimum 90. Sementara untuk kelas eksperimen Inkuiri Terbimbing memiliki rerata 72,4 dengan nilai minimum 52 dan nilai maksimum 90. Dalam penelitian ini diperoleh pula data siswa kelas eksperimen model PBL dan Inkuiri Terbimbing. Hasil uji hipotesis kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 dihitung meggunakan bantuan software SPSS 20.
Sesuai dengan kriteria pengujian hipotesis, jika menggunakan koefisien t hitung terlihat bahwa nilai t : 2,172 dan t tabel sebesar :1,701, (t=2,171 > t tabel=1,701) yang artinya ditolak. Begitu juga jika kriteria keputusan diambil dengan Menggunakan koefisien Sig, terlihat bahwa nilai signifikannya menujukkan 0,038 < 0,05 sehingga ditolak. Oleh sebab itu hasil uji hipotesis menyatakan terdapat perbedaan efektifitas model pembelajaran Problem Based Learning dengan Inkuiri Terbimbing terhadap kemampuan berpikir kritis dalam mata pelajaran Tematik siswa kelas IV SD. Berdasarkan uji beda rata-rata Posttest dapat dilihat bahwa kemampuan berpikir kritis siswa kelompok eksperimen 1 (model PBL) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok eksperimn 2 (model IT). Hal ini menujukkan bahwa perlakuan yang dilakukan pada kelompok eksperimen 1 lebih efektif dibandingkan dengan perlakuan kelompok eksperimen 2. Dimana nilai rata-rata eksperimen 1(model PBL) sebesar 86,13, sedangkan nilai rata-rata eksperimen 2 (model IT) sebesa 78,93.
Hasil penelitian ini juga diperkuat dari teori Krisanti & Mulia, ( 2016 :14), dimanaa Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model/strategi pembelajaran untuk menempatkan situasi dunia nyata dengan jelas dan kontekstual ke dalam kelas, melalui pemberian permasalahan nyata atau seperti nyata. Permasalahan tersebut memberikan informasi, arahan, serta penjelasan pada pembelajaran saat mereka membangun pengetahuan baru selain mengembangkan kecakapan menyelesaikan masalah. Maka dengan kata lain model Problem Based Learning bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Dari penelitian-penelitian relavan juga memperkuat hasil penelitian peneliti, dimana penelitian yang oleh Tiya Rahmawati, dkk dan penelitian yang dilak ukan oleh Adean Mayasari & Ratu Fazli juga menyatakan hasil penelitiannya bahwa ada perbedaan antara model Problem Based Learning dan model Inkuiri terbimbing. Dan model Problem Based Learning lebih efektiv diterapkan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siwa dibandingkan dengan model Inkuiri terbimbing.
SIMPULAN
Berdasarkan penelitian eksperimen yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Terdapat perbedaan berpikir kritis siswa antara model Problem Based Learning dan model Inkuiri Terbimbing terlihat dari hasil perolehan Pengujian hipotesis terhadap kemampuan berpikir kritis
siswa, hasil dari koefisien t hitung diperoleh nilai t : 2,172 dan t tabel sebesar :1,701, (t=2,171 > t tabel=1,701) yang artinya ditolak. sedangkan hasil nilai menggunakan koefisien Sig menujukkan 0,038 < 0,05 sehingga ditolak.
2. Model pembelajaran Problem Based Learning lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada pelajaran Tematik siswa kelas IV SD Negeri 16 Tempilang dibandingkan dengan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing. Dilihat dari hasil nilai rata-rata berpikir kritis siswa kelas eksperimen dengan model Problem Based Learning sebesar 86,13 dan kelas eksperimen dengan model Inkuiri Terbimbing sebesar 78,93.
SARAN
Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan saran yang diajukan peneliti sebagai berikut:
1. Karena pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning lebih efektif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, maka guru bisa menerapkan model PBL dalam proses pembelajaran.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap penelitian ini bila di luar kemampuan berpikir kritis siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Lismaya, Lilis. 2019. Berpik ir Kritis & PBL. Surabaya: Media Sahabat Cendikia
Wena, Made. 2014. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontenporer. Jakarta: Bumi Akssara
Syarifuddin K. 2018. Inovasi Baru Kurik ulum 2013 Pendidik an Agama Islam dan Budi Pek erti.
Yogyakarta: Penerbit Deepublish
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidik an. Bandung: Alfabeta
Krisanti, Elsa dan Mulia Kamarza. 2016. Penerapan Metode Problem Based Learning (PLB).
Yogyakarta: PT Leutika Nouvalitera