• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pajak Karbon Dalam Perspektif Akuntan

Dalam dokumen pumpunan - Repository Poltekbang Surabaya (Halaman 94-104)

- 85 -

B A B S E M B I L A N

86. Pajak Karbon Dalam Perspektif Akuntan

Akhir-akhir ini, perubahan iklim semakin membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia di semua negara di dunia. Oleh karena itu, upaya pencegahan kerusakan lingkungan menjadi tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan di dunia. Indonesia sebagai negara tropis dengan kawasan hutan tropis terluas ke-3 di dunia (Ginoga, et al., 2005; Nugroho, et al., 2019) dan memiliki hutan terluas ke-9 di dunia memiliki peran penting bersama dengan negara-negara lain di dunia dalam melindungi bumi. Indonesia juga berada di kawasan hutan konservasi yang merupakan ekosistem paling dominan dalam konsumsi karbon dioksida (Goulden, et al., 2004; Junaedi, 2008).

Beberapa kebijakan diambil oleh masing-masing negara, salah satunya Indonesia. Di Indonesia sendiri, salah satu kebijakan yang diambil adalah kebijakan pembiayaan dalam pelestarian lingkungan telah dilakukan dengan kerjasama dari berbagai pihak baik Pemerintah maupun masyarakat (Utami, et al., 2021), dan kebijakan pajak karbon merupakan kebijakan lainnya yang diambil pemerintah dalam mengendalikan iklim lebih optimal.

Tidak banyak negara telah mengadopsi kebijakan pajak karbon dalam mengurangi tingkat polusi di negaranya, hal tersebut karena hasilnya belum sesuai target (Kurular, 2020).

Meskipun begitu, pengenaan pajak karbon di suatu negara dapat

Agustine Dwianika, Deden Tarmidi. 87

mempengaruhi perusahaan untuk mengubah perilaku mereka terhadap polusi karbon yang dihasilkan perusahaan tersebut (Kumarasiri, 2020).

Di Indonesia sendiri, pemerintah telah mengesahkan aturan pajak mengenai karbon, atau lebih sering disebut sebagai Pajak Karbon pada Tahun 2021 yang saat itu rencananya akan mulai dilakukan pada April 2022 kemudian terjadi penundaan.

Penerapan pajak karbon diharapkan dapat mengubah perilaku para pelaku ekonomi untuk beralih kepada aktivitas ekonomi hijau yang rendah karbon. Aturan tersebut tertuang dalam pengesahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Tujuan utamanya bukan hanya menambah penerimaan APBN, namun juga polluter pays priciple atau prinsip pencemaran yang perlu adanya konsekuensi membayar. Hal ini diharap menjadi salah satu instrumen penting dalam pengendalian iklim demi ekonomi berkelanjutan yang semakin bertumbuh.

Pengejawantahan konsep ini dituangkan dalam Perpres 98/2021, antara lain terkait tata laksana penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Nationally Determined Contributions (NDC) di Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) dan Komite Pengarah Nilai Ekonomi Karbon di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

88. Pajak Karbon Dalam Perspektif Akuntan

Di sisi lain, teknis pelaksanaan pajak karbon berupa tarif dan dasar pengenaan, cara penghitungan, pemungutan, pembayaran atau penyetoran, pelaporan, serta peta jalan pajak karbon. Sedangkan aturan teknis lainnya, yaitu Batas Atas Emisi untuk subsektor PLTU dan tata cara penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon pada pembangkit tenaga listrik akan ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana para akuntan memahami pajak karbon dan pandangan mereka terhadap upaya pemerintah menekan pencemaran lingkungan dengan memberlakukan pajak karbon. Tentu saja, dengan pemberlakuan aturan yang satu ini merupakan potensi baru penambahan penerimaan pajak nasional.

Analisis dan Hasil

Studi literasi yang dilakukan melaporkan bahwa kerusakan iklim berakibat pada banyak kerugian, termasuk menurunkan kinerja perusahaan. Studi sebelumnya milik (Dwianika et. al., 2020) melaporkan bahwa upaya peningkatan kesadaran akan air dalam laporan keuangan perusahaan, mampu meningkatkan kinerja perusahaan. Pengurangan biaya dapat dilakukan dengan adanya efisiensi terhadap tata kelola air.

Dorongan kesadaran lingkungan yang baik, sangat penting

Agustine Dwianika, Deden Tarmidi. 89

dalam praktik tata kelola. Fenomena kelangkaan air terutama untuk industri dapat menghambat laju usaha. Terutama terkait kinerja perusahaan secara berkelanjutan, termasuk dalam pengurangan emisi karbon.

Dengan diberlakukannya pajak karbon di suatu negara, Perusahaan dengan sendirinya memperhitungkan beban tambahan yang harus dikeluarkan atas karbon yang dihasilkan.

Hal tersebut tentu berdampak pada asset perusahaan, sehingga dengan tujuan memaksimalkan laba maka perilaku perusahaan dalam pengelolaan karbon berubah ke arah minimalisasi jumlah karbon yang dikeluarkan (Kumarasiri, 2020).

Pemerintah baru-baru ini telah mencanangkan target penurunan emisi karbon per sektor setiap tahunnya. Sebut saja, penurunan emisi karbon sebesar 29%, dengan target dalam MTon CO2e dalam sektor kehutanan 497, sektor energi dan transportasi 314, limbah 11, pertanian 9, dan IPPU 3. Biaya yang diprediksi juga tidak sedikit. Menurut data Roadmap NDC Mitigasi (2020) pembiayaan tiap sektor dalam triliun rupiah yaitu sektor pertanian 93,28; sektor energi dan transportasi 3,500; IPPU 0,92; limbah 181,40; dan pertanian 4,04.

90. Pajak Karbon Dalam Perspektif Akuntan

Gambar 1. Kebijakan Emisi Perdagangan Karbon (Kemenkeu, 2021)

Gambar 2. Kebijakan Emisi Perdagangan Non-Karbon (Kemenkeu, 2021)

Agustine Dwianika, Deden Tarmidi. 91

Pentingnya dukungan pendapatan pajak untuk pembiayaan ini telah jelas, sehingga Pajak karbon adalah salah satu instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Tujuan NEK diantaranya adalah untuk mengubah perilaku para pelaku ekonomi untuk beralih kepada aktivitas ekonomi hijau yang rendah karbon, mendukung target penurunan emisi GRK dalam jangka menengah dan panjang, dan mendorong perkembangan pasar karbon, inovasiteknologi, maupun investasi yang lebih efisien, rendahkarbon, dan ramah lingkungan.

Bahkan pemerintah melalui Kementrian Keuangan Republik Indonesia telah memetakan skema perdagangan izin emisi dan offset emisi untuk perdagangan karbon, seperti nampak pada gambar 1. Dan skema kebijakan pajak karbon untuk non perdagangan dengan kategori tidak ada perpindahan hak atas karbon, seperti nampak pada gambar 2. Kemudian dikembangkan pula mekanisme Result-Based Payment (RBP) yang bertujuan untuk memberikan insentif guna mendukung pengembangan deforestasi rendah.

92. Pajak Karbon Dalam Perspektif Akuntan

Simpulan

Karbon sebagai salah satu limbah industri memiliki dampak negatif bagi lingkungan, baik alam semesta maupun manusia dan mahluk hidup lain di dalamnya. Kesadaran dari masyarakat tentu bagus untuk ditingkatkan sehingga perilaku dalam menjaga lingkungan berjalan ke arah yang lebih baik. Di satu sisi, peran serta pemerintah sebagai regulator juga sangat penting dalam tujuan pelestarian lingkungan. Pajak karbon merupakan salah satu kebijakan yang baik untuk digunakan, karena selain dapat menambah penerimaan negara juga sekaligus menjaga alam untuk lebih baik dan memiliki manfaat panjang bagi manusia.

Agustine Dwianika, Deden Tarmidi. 93

Referensi

Direktorat Jendral Perubahan Iklim. (2020). Dokumen Perubahan Iklim. Available online at http://ditjenppi.menlhk.go.id

Dwianika, A., Murwaningsari, E, & Suparta, W. (2020). Analysis of Water Awareness, Accountability, and Governance to Improve Sustainability of Firm’s Performance in Urban Area. Geographia Technica, 5 (1). pp. 35-42.

Ginoga, K., Lugina, M., & Djaenudin, D. (2005). Kajian Kebijakan Pengelolaan Hutan Lindung. Jurnal Penelitian Sosial &

Ekonomi, 2(2), 203–231.

Goulden, M. L., Miller, S. D., da Rocha, H. R., Menton, M. C., de Freitas, H. C., e Silva Figueira, A. M., & de Sousa, C. A. D.

(2004). Diel and Seasonal Patterns of Tropical Forest CO2 Exchange. Ecological Applications, 14(4), 42–54.

https://doi.org/10.1890/02-6008

Junaedi, A. (2008). Kontribusi Hutan sebagai Rosot Karbondioksida. Info Hutan, 1(1), 1–7.

Kementrian Keuangan Republik Indonesia.(2021), Undang- Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Available online at https://kemenkeu.go.id

Kurular. (2020). Tax as a Solution for Climate Change.

Contemporary Studies in Economic and Financial Analysis.

104, 165-178. https://doi.org/10.1108/S1569- 375920200000104011

94. Pajak Karbon Dalam Perspektif Akuntan

Kumarasiri, J. & Lodhia. (2020). The Australian carbon tax:

corporate perceptions, responses and motivations.

Meditari Accountancy Research, 28(3), 515-542.

https://doi.org/10.1108/MEDAR-10-2019-0590

Nugroho, L., Badawi, A., & Hidayah, N. (2019). Discourses of sustainable finance implementation in Islamic bank (Cases studies in Bank Mandiri Syariah 2018).

International Journal of Financial Research, 10(6), 108–

117. https://doi.org/10.5430/ijfr.v10n6p108

Utami., Nugroho., & Jayasinghe, (2021). Carbon Credit Risk Mitigation of Deforestation: A Study on the Performance of P2H Products and Services in Indonesia. International Journal of Financial Research, 12(2), 125-137.

https://doi.org/10.5430/ijfr.v12n2p125

- 95 -

B A B S E P U L U H

Minat Investasi Saham Masyarakat Urban

Dalam dokumen pumpunan - Repository Poltekbang Surabaya (Halaman 94-104)