B. Dharma Sebagai Landasan Penyaluran Kama
III. Penutup
2.2 Pandangan Pustaka Suci Hindu Terhadap Wanita dalam Seksualitas
pengaruh lingkungan dalam membentuk pandangan tentang seksualitas yang akhirnya membentuk perilaku seksual. Dimensi kultural menunjukkan perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang ada di masyarakat.
2.2 Pandangan Pustaka Suci Hindu Terhadap Wanita dalam Seksualitas
Agama Hindu dengan tegas menyatakan seks (kama) sebagai satu dari empat tujuan hidup manusia, yang disebutkan dalam Catur Purusharta. Tiga tujuan yang lain adalah “Dharma“, hidup bermoral, “Artha“, harta kekayaan material, dan
“Moksha“ bersatunya atman dengan Brahman (Tuhan). Seks sendiri memiliki dua tujuan: tujuan antara (prokreasi) dan tujuan dalam dirinya sendiri, yaitu untuk kenikmatan seks itu sendiri (rekreasi).
Seks di sini bukan suatu kejahatan (evil) tetapi suatu karunia atau keutamaan (virtue). Konsep penciptaan di dalam Hindu, sesuai dengan filsafat Samkya adalah perjumpaan antara Purusa dan Predana, dari sini alam semesta beserta isinya lahir melalui proses panjang. Keberadaan manusia di dunia ini dengan seks, seks diciptakan agar manusia saling membutuhkan satu sama lain, saling berkomunikasi satu sama lain, saling mencintai, dan untuk belajar rendah hati. Supaya dapat menikmati seks, kita perlu untuk dipersatukan dengan manusia yang lain untuk secara fisik menjadi cukup dekat bagi pemuasan seksual. Kita perlu mengatasi keangkuhan kita untuk membuat teman, untuk menjadi baik, romantis. Seks mengajari kita kerendahan hati, Kita harus memberi untuk menerima kasih sayang, dan kita perlu saling membantu satu sama lain. Seks mengajarkan tanpa-keserakahan, cinta dan kemurahan hati. Perempuan tidak dianggap penggoda moral, yang seluruh tubuhnya dianggap pembangkit nafsu birahi, karena itu harus ditutupi dari ujung rambut sampai ujung kaki (Maswinara, 1997: 2)
Di dalam agama Hindu, ada dua aliran pemikiran tentang seks dan wanita yang saling berlawanan. Aliran pemikiran pertama memandang seks dan wanita secara negatif dipimpin oleh Bhagawan Wararucci dengan bukunya Sarasamuccaya. Aliran pemikiran kedua memandang seks dan wanita secara positif dipimpin oleh Bhagawan Vatsyayana dengan bukunya Kama Sutra dan Bhagawan Bhrigu dalam bukunya Manava Dharmasastra.
Buku terjemahan Sarasamuccaya Dengan Teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna menyebutkan ada beberapa sloka yang memandang seks dan wanita secara negatif diantaranya yaitu:
Sarasamuccaya, sloka 436 menyebutkan:
“Adalah suatu alat pada tubuh si wanita, sangat menjijikkan dan sangat kotor;
mestinya dibenci, dan dijauhi, jangankan dapat demikian, untung sekali, jika orang tidak sampai lekat, rindu berahi dan cinta kasmaran pada alat tersebut; orang yang bersikap demikian, apakah mungkin tidak terikat pada asmara”. (Kajeng, 1997:325) Sarasamuccaya, sloka 438 menyebutkan:
Di tengah-tengah kulit sebesar jejak kaki/ kijang, terdapatlah luka menganga yang tak pernah sembuh, yang menjadi saluran jalan air seni dan darah, penuh berisi keringat dan segala macam kotoran; itulah yang membuat orang bingung di dunia ini, kegila-gilaan, buta dan tuli karenanya. (Kajeng, 1997:326)
Sarasamuccaya, sloka 440 menyebutkan:
Terlalu menjijikkan luka itu, menurut pendapat hamba; mengeluarkan segala macam kotoran badan;luka itu diselubungi oleh semacam jerat burung (bahasa Bali, tampus) yang berlemak lagi sangat alot, itulah yang menyebabkan berahi, terikat cinta asmara di dunia ini;heran sesungguhnya hamba bukan alang kepalang bencana di dunia ini.
(Kajeng, 1997:327)
Adanya buku ini menafsirkan banyak pertanyaan Bagaimana bisa manusia lahir bila tidak melalui seks, dan bila tidak
ada perempuan. Banyak pula yang menafsirkan pandangan Wararucci tentang seks disebabkan karena ia adalah seorang sanyasin, seorang yang sudah sepenuhnya di jalan spiritual. Dan pandangannya ini ditujukan kepada para sanyasin lain yang sama seperti dirinya.
Menurut buku terjemahan Manava Dharmasastra (Manu Dharmasastra) atau Veda Smrti Compendium Hukum Hindu disebutkan ada beberapa sloka yang memandang seks dan wanita secara positif diantaranya :
Manava Dharmasastra IX.26 menyebutkan:
Diantara wanita yang ditakdirkan untuk mengandung anak, yang menjamin rakhmat pahala, yang layak untuk dipuja dan yang menyemarakkan tempat tinggalnya dan diantara dewi-dewi yang merakhmati rumah seorang laki-laki tak ada bedanya diantara mereka. (Pudja dan Sudharta, 2004:445)
Manava Dharmasastra IX. 27 menyebutkan:
Kelahiran dari anak-anak, pemeliharaan terhadap mereka yang lahir itu dan kehidupan sehari-hari bagi orang laki-laki, akan semua kejadian itu nyatanya wanitalah yang menyebabkannya. (Pudja dan Sudharta, 2004:445).
Manava Dharmasastra IX.28 menyebutkan:
Keturunan, terselenggaranya upacara keagamaan, pelayanan yang setia, hubungan sanggama yang member nikmat tertinggi dan mencapai pahala di sorga bagi nenek moyang dan seseoran, tergantung pada isteri sendiri. (Pudja dan Sudharta, 2004:445).
Maswinara (1997:5) dalam buku terjemahan Kama Sutra Asli Dari Watsyayana pada Bab II menyebutkan:
Seksualitas adalah penting bagi kehidupan manusia, seperti makanan perlu untuk kesehatan badan, dan atas mereka bergantung dharma dan artha.
Seseorang tidak dapat memberikan dirinya kesenangan tanpa batasan. Aktivitas seseorang harus dikoordinasikan dengan memperhatikan Dharma dan Artha Kama harus diletakkan dalam bingkai Dharma dan Moksha. “Tiga tujuan pertama (Dharma, Artha dan Kama) tidak hanya dikejar demi kesenangan yang mereka berikan, tetapi juga demi pertumbuhan spiritual, menggabungkannya dengan tujuan keempat (Moksha) menjamin tiga tujuan pertama tidak dikejar secara tidak etis atau berlebihan, dan menyesuaikan seluruh kehidupan dan banyak kesenangannya dengan kesenangan tak terbayangkan dari pencerahan.
Kama Sutra bukanlah karya pornografi. Ia adalah studi sistematik dan tidak berat sebelah mengenai salah satu aspek esensial dari keberadaan kita. Pertama dan utamanya, ia adalah satu gambar dari seni kehidupan khususnya seksualitas pada tubuh wanita, bagi warga kota yang beradab dan canggih, memenuhi tataran cinta, erotisme dan kenikmatan hidup, sejajar dengan risalah di bidang politik, ekonomi dan etik, Dharma Sastra dan Artha Sastra”.
Berbagai teknik percumbuan dan hubungan seksual dalam Kama Sutra ditujukan kepada laki-laki dan perempuan. Dengan menguasai teknik-teknik itu secara baik, kedua pasangan akan mencapai kepuasan. Jadi perempuan bukan sekedar sawah yang dapat digarap oleh laki-laki sesuka hatinya sendiri.
Tujuan Kama Sutra adalah untuk menjamin kepuasan maksimal bagi suami istri, sehingga mereka dapat memelihara kasih sayang dan kesetiaan dalam berumah tangga mereka. Dan karena itu tidak mencari yang lain (selingkuh).
Seks adalah sesuatu yang alamiah. Narasi dan simbolisasi seks dalam agama Hindu dilakukan dengan bebas dan penuh rasa hormat. Gambar-gambar wanita dengan dada subur yang terbuka, relief-relief tentang hubungan seks dipahatkan di candi-candi, dipandang secara wajar. Patung-patung itu memang tidak dibuat untuk merangsang nafsu rendah manusia. Itu adalah simbol penciptaan dan pemeliharaan. Orang-orang Hindu memandang seksualitas, tanpa kecurigaan atau ketakutan. Para lelaki Hindu tidak memandang seksualitas pada tubuh wanita sebagai godaan bagi kesehatan moral mereka.. Seks tidak dibebani dengan konsep negatif seperti dosa atau penggodaan. Kama tidak pernah dipandang sebagai suatu yang kotor. Melalui seks kehidupan manusia terus berlanjut di muka bumi ini. Seks yang baik akan melahirkan generasi yang baik. Oleh karena itu perilaku seksual harus di atur oleh Dharma atau moral. Dharma dan moral menuntut pengendalian diri.
Jadi seks di samping baik harus juga benar. Dalam pandangan Hindu perempuan bukan sumber dosa, setumpuk daging yang hanya berfungsi membangkitkan nafsu seksual laki-laki, atau pabrik untuk melahirkan anak-anak, tetapi partner sejajarnya untuk membagi cinta kasih dan melahirkan generasi demi generasi.
2.3 Etika Seksualitas dalam Pustaka Suci Hindu untuk