• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARADIGMA, EPISTEMOLOGI DAN JENIS. PENELITIAN

Dalam dokumen paradigma-heddy.doc (Halaman 41-46)

Hasil Analisis (Teori)

Dalam hipotesa juga terdapat berbagai macam konsep penting yang kemu- dia harus didefinisikan dengan baik. Definisi-definisi seringkali disebut sebagai definisi operasional, dan upaya untuk merumuskannya disebut operasionali- sasi definisi. Pendefinisian konsep-konsep yang ada dalam hipotesa harus di- lakukan sedemikian rupa sehingga definisi tersebut kemudian dapat diwujud- kan, dioperasionalkan, menjadi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang kemudi- an disusun menjadi sebuah kuesioner, atau menjadi sejumlah konsep-konsep yang lebih jelas acuannya pada realitas empiris. Dengan begitu data yang di- perlukan untuk membuktikan wujud konsep tersebut dalam kenyataan empiris dapat diketahui, dan metode pengumpulannya dapat ditentukan.

Dengan demikian perumusan hipotesa -seperti halnya perumusan pertanya- an penelitian- juga menduduki posisi sangat penting dalam penelitian. Dalam hal ini seorang peneliti dapat memilih apakah dia akan memulai penelitiannya dari sejumlah pertanyaan atau dari sejumlah hipotesa. Bisa saja dia memulai dari dua-duanya, namun hal itu tidak begitu dianjurkan, karena hanya akan membebani diri peneliti sendiri.

struktural, penelitian fungsional, penelitian fenomenologis, penelitian interpretif, dan seterusnya.

Oleh karena landasan dari sebuah paradigma adalah asumsi-asumsi dasar yang berupa pandangan-pandangan filosofis, yang disebut „epistemologi“ ma- ka pemahaman yang baik dan tepat mengenai epistemologi yang ada dalam ilmu-ilmu sosial-budaya ini menjadi sangat penting untuk penelitian masalah- masalah sosial-budaya.

1. Epistemologi dan Paradigma Ilmu Sosial-Budaya (Antropologi)

Apa yang dimaksud dengan epistemologi? Secara sederhana epistemologi dapat didefinisikan sebagai teori tentang pengetahuan (theory of knowledge).

Dalam epistemologi dibicarakan antara lain asal-usul pengetahuan, sumber pe- ngetahuan, kriteria pengetahuan, dan sebagainya, serta perbedaan-perbedaan antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan (science).

Epistemologi atau epistemology berasal dari kata episteme, “pengetahuan”

dan logos, ilmu pengetahuan, sehingga secara harafiah ‘epistemologi’ dapat di- artikan sebagai ‘ilmu tentang pengetahuan’ atau ‘teori tentang pengetahuan’.

Epistemologi juga diartikan sebagai “the philosophical examination of human knowledge” (Cornman, 1973: 517), atau “telaah filosofis atas pengetahuan ma- nusia”, atau “that branch of philosophy which studies the source, limits, me- thods, and validity of knowledge” (The World University Encyclopedia, vol.4 , 1965), yaitu “cabang filsafat yang mempelajari sumber, batas-batas, metode dan validitas pengetahuan”. Dengan demikian telaah epistemologi pada dasar- nya merupakan telaah yang lebih filosofis sifatnya.

H.P.Rickman (19 ) mengatakan bahwa epistemologi pada dasarnya membi- carakan tentang: (a) “what principles and presuppositions are involved in know- ing something” (prinsip-prinsip dan presuposisi-presuposisi seperti apa yang terlibat ketika orang mengetahui sesuatu); (b) “how these may very according to the subject of inquiry” (bagaimana variasi berbagai prinsip dan presuposisi tersebut sejalan dengan variasi subyek telaahnya) serta apa implikasinya ter- hadap metode-metode yang ada dalam pendekatan yang digunakan; (c) kon- sep-konsep umum yang mengacu pada gejala yang dipelajari atau pada gejala-gejala yang ada dalam kehidupan manusia; (d) bagaimana mengaitkan kon-sep-konsep umum yang penting ini satu sama lain dengan cara yang sistema-tis.

Untuk apa kita memperhatikan elemen-elemen yang ada dalam pembicara- an tentang epistemologi? Agar kita dapat membahas berbagai macam episte- mologi yang ada dalam ilmu sosial-budaya dengan cara yang sistematis, leng- kap dan konsisten. Tanpa pengetahuan mengenai hal-hal yang dibicarakan da- lam epistemologi, pembicaraan tentang berbagai epistemologi ilmu sosial-bu-

daya bisa berkembang tidak beraturan, dan tidak konsisten, sehingga pembaca akan sulit memahami berbagai epistemologi tersebut.

Sebagai landasan filosofis dari sebuah paradigma, epistemologi tentu juga ada beberapa macam, dan karena tingkatnya yang paling abstrak, maka sebu- ah epistemologi juga dapat menghasilkan beberapa paradigma yang berbeda.

Oleh karena itu peta paradigma yang berkembang dalam kajian sosial-budaya tidak sama dengan peta epistemologinya.

Secara garis besar epistemologi dalam ilmu social-budaya dapat dikelom- pokkan menjadi : (1) Positivisme; (2) Historisisme; (3) Fenomenologi; (4) Her- meneutik; (5) Semiotik (Strukturalisme); (6) Materialisme (Budaya dan Historis) dan (7) Post-Modernisme.

Klasifikasi epistemologi yang ada di balik paradigma-paradigma ilmu-ilmu sosial-budaya di atas berbeda dengan jenis-jenis paradigma yang tumbuh dari berbagai macam epistemologi tersebut. Sampai saat ini, setahu saya berbagai paradigma yang telah muncul dalam kajian-kajian sosial-budaya adalah seba- gai berikut.

1. Paradigma Evolusionisme 2. Paradigma Diffusionisme

3. Paradigma (Partikularisme) Historis 4. Paradigma Fungsionalisme

5. Paradigma Fungsionalisme Struktural 6. Paradigma Analisis Variabel

7. Paradigma Cross-Cultural

8. Paradigma Kepribadian dan Kebudayaan 9. Paradigma Strukturalisme (Levi-Strauss) 10. Paradigma Tafsiriah

11. Paradigma Materialisme Budaya 12. Paradigma Materialisme Historis 13. Paradigma Perubahan

14. Paradigma Etnosains 15. Paradigma Etnometodologi 16. Paradigma Fenomenologi Sosial 17. Paradigma Post-Modernisme

Untuk memudahkan melihat keterkaitan antara pandangan-pandangan filo- sofis yang abstrak dengan berbagai jenis paradigma yang ada, berikut ini saya paparkan secara garis besar (belum komplit) jenis-jenis epistemologi dengan paradigma-paradigma yang bersumber pada epistemologi tersebut.

1. Positivisme : (1) Paradigma Evolusionisme (2) Paradigma Fungsionalisme

(3) Paradigma Fungsionalisme-Struktural (4) Paradigma Analisis Variabel

(5) Paradigma Cross-Cultural 2. Historisisme : (6) Paradigma Diffusionisme

(7) Paradigma (Partikularisme) Historis (8) Paradigma Perubahan

3. Fenomenologi : (9) Paradigma Fenomenologis (Etnosains) (10) Paradigma Etnometodologi

(11) Paradigma Fenomenologi Sosial (Konstruksionis) 4. Hermeneutik : (12) Paradigma Kepribadian Kebudayaan

(13) Paradigma Tafsiriah

5. Semiotik : (14) Paradigma Strukturalisme (Lévi-Strauss) 6. Materialisme : (15) Paradigma Materialisme Historis

(16) Paradigma Materialisme Budaya 7. Post-Modernisme : (17) Paradigma Post-Modernisme

Gambaran di atas hanyalah sebuah contoh kasar dari keterkaitan antara pandangan filosofis dengan paradigma-paradigma yang ada dalam ilmu-ilmu sosial-budaya, terutama dalam disiplin antropologi, sosiologi, politik, dan seba- gainya, yang perhatian utamanya adalah gejala-gejala sosial-budaya.

2. Jenis Penelitian : Paradigma, Epistemologi dan Lain-lain

Jika paradigma adalah sebuah kerangka pemikiran yang mencakup di da- lamnya metode penelitian, dan jika epistemologi merupakan dasar filosofis dari sebuah paradigma maka dengan sendirinya penelitian-penelitian yang ada da- lam ilmu-ilmu sosial-budaya dapat kita golongkan menurut paradigma atau me- nurut epistemologinya. Menurut paradigmanya maka jenis penelitian paling se- dikit ada tujuh belas (17), yakni:

--- (1) Penelitian Evolusionistis --- (2) Penelitian Diffusionistis

--- (3) Penelitian (Partikularisme) Historis --- (4) Penelitian Fungsionalistis

--- (5) Penelitian Fungsionalistis-Struktural --- (6) Penelitian Analisis Variabel

Penelitian --- (7) Penelitian Cross-Cultural (Komparatif) Sosial- --- (8) Penelitian Kepribadian dan Kebudayaan Budaya --- (9) Penelitian Struktural (Semiotis)

--- (10) Penelitian Tafsiriah/Interpretif (Hermeneutis) --- (11) Penelitian Materialisme Budaya

--- (12) Penelitian Materialisme Historis --- (13) Penelitian Perubahan

--- (14) Penelitian Etnosains (Fenomenologis) --- (15) Penelitian Etnometodologis

--- (16) Penelitian Sosial Fenomenologis --- (17) Penelitian Post-Modernistis

Berdasarkan epistemologinya, berbagai penelitian dapat dikelompokkan menjadi:

(1) Penelitian Positivistik (2) Penelitian Historis

(3) Penelitian Fenomenologis Penelitian --- (4) Penelitian Hermeneutis

Sosial-Budaya (5) Penelitian Struktural (Semiotis)

(6) Penelitian Materialistis (Budaya dan Historis) (7) Penelitian Post-Modernistis

Selain menurut paradigma dan epistemologinya berbagai penelitian sosial- budaya juga dapat dibedakan menurut : (a) fokus kajian atau unit analisisnya dan (b) sifat penelitian. Pembedaan jenis penelitian atas dasar hal-hal inilah yang biasa dipaparkan dalam buku-buku metode penelitian.

Berdasarkan atas fokus kajian atau unit analisisnya penelitian sosial-budaya dapat dibedakan menjadi: (a) penelitian tentang perilaku; (b) penelitian tentang kebudayaan; (c) penelitian tentang sejarah individu; (d) penelitian tentang kelu- arga; (e) penelitian tentang komunitas; (f) penelitian tentang negara dan (g) pe- nelitian tentang wilayah.

Penelitian perilaku (behavioral research)

Penelitian sejarah individu (life-history research) Penelitian keluarga (family studies)

Penelitian komunitas (community studies) Penelitian negara (country studies)

Penelitian wilayah (area studies)

Penelitian kebudayaan (cultural research)

Berdasarkan atas sifatnya, penelitian sosial-budaya dapat dibedakan menja- di : (a) penelitian dasar (basic research); (b) penelitian terapan (applied re- search); (c) penelitian menjelajah (exploratory research); (d) penelitian menje- laskan (explanatory research)

Selain penelitian-penelitian seperti di atas, juga masih ada jenis-jenis pene- litian lain yang diberi nama menurut topiknya, menurut tujuannya, seperti misal- nya: riset kebijakan (policy research); kaji tindak (action research), dan seba- gainya. Meskipun demikian, berbagai jenis penelitian dengan berbagai nama ini sebenarnya menggunakan salah satu paradigma atau epistemologi yang telah disebutkan di atas. Oleh karena suatu penelitian selalu berada dalam sebuah kerangka berfikir ilmiah tertentu, berbagai jenis penelitian yang tidak dibedakan menurut paradigma atau epistemologinya tersebut menurut hemat saya tidak terlalu penting untuk diperhatikan.

Dalam dokumen paradigma-heddy.doc (Halaman 41-46)

Dokumen terkait