BAB V BAHASA DALAM KARANGAN
5.3 Paragraf dan Pengembangannya
Menurut Poerwadarmita (1979) bahwa paragraf adalah kesa- tuan yang terdiri beberapa kalimat. Gorys keraf (1980) dalam Kom- posisi mengemukakan bahwa paragraf merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk memben- tuk sebuah gagasan atau topik. Zainal Arifin dan Tasai (1987) menya- takan bahwa paragraf adalah satuan bahasa yang membicarakan suatu gagasan atau topik. Biston dkk (1985) menyatakan bahwa paragraf adalah kelompok kalimat atau kesatuan dari keseluruhan arus ujaran.
Dengan memerhatikan sejumlah pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa paragraf atau alinea adalah satuan yang berisi suatu gagasan yang terdiri lebih dari satu kalimat. Dapat kita katakana bahwa paragraf adalah gabungan dari beberapa kalimat, walaupun masih ada sebuah paragraf yang berisi satu kalimat. Hal itu sebenarnya kurang tepat, apalagi jika dikaitkan dengan istilah bahwa sebuah paragraf merupakan suatu bentuk karangan mini.
Meskipun sebuah paragraf terdiri dari beberapa kalimat, semua kalimat itu saling berkaitan dan hanya berisi satu gagasan. Karena itu, tidak mungkin dua gagasan dituangkan ke dalam satu paragraf.
Kedudukan setiap kalimat dalam suatu paragraf berbeda-beda.
Ada yang berfungsi sebagai kalimat utama. Jika sebuah paragraf terbentuk dari tiga kalimat, maka ada dua kalimat yang berfungsi sebagai penjelas dan satu kalimat yang berfungsi sebagai kalimat utama. Ada paragraf yang terbentuk tanpa kalimat utama, semua bersifat sama penting membentuk paragraf yang utuh.
– Kalimat utama yang terdapat di awal paragraf
Kemerdekaan kita peroleh dengan segala pengorbanan. Betapa banyak pahlawan yang gugur di medan perang. Mereka rela mati demi meraih kebebasan yang lama hilang ditelan keangkuhan penjajahan. Tak ada seorangpun dari pejuang kita yang berpaling muka dari penderitaan bangsanya. Karena itu, sudah selayaknya kita menghargai jasa mereka dan mengisi kemerdekaan ini dengan belajar dan bekerja keras.
– Kalimat utama yang terdapat di tengah paragraf
Keadaan desa itu jauh berbeda jika dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu. Jalan-jalan yang dulu tampak rusak berat, kini telah beraspal dan mulus. Bangunan baru bermunculan menghiasi desa.
Berbagai perubahan menandai keberhasilan pembangunan desa tersebut.
Semua warga desa merasakan hasil pembangunan. Mereka dapat menikmati terang-benderang nya lampu pada malam hari. Mereka dengan leluasa bias menyaksikan acara televise. Kemajuan lain yang cukup berarti ialah dengan masuknya Koran yang setiap hari menyajikan berbagai cerita dan informasi.
– Kalimat utama yang terdapat di akhir paragraf
Setiap hari hendaknya ada kegiatan bermanfaat yang kita lakukan.
Membaca buku-buku dan surat kabar bermutu merupakan kebiasaan yang baik. Dengan membaca, kita memperoleh berbagai masukan yang berharga. Tak ada waktu yang lewat tanpa arti. Memang hidup merupakan lapangan buat berkarya.
– Kalimat utama di awal dan akhir paragraf
Keikutsertaan segenap lapisan masyarakat dalam usaha penyuksesan program Keluarga Berencana sangat diharapkan. Sudah saatnya masyarakat lebih mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera. Kesadaran masyarakat dalam ber-KB kini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pada saat awal dicanangkan nya program KB. Kalau dulu banyak terdengar suara yang tidak menyetujui adanya program KB sekarang sudah tidak terdengar lagi. Masyarakat semakin yakin dengan tujuan digalakkannya program KB. Hanya saja dalam pelaksanaannya hendaknya selalu diarahkan agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang hidup di masya- rakat. Hal ini perlu diperhatikan karena keikutsertaan seluruh anggota masyarakat tak dapat diabaikan.
– Paragraf tanpa kalimat utama
Anak itu tampak gembira sekali. Wajahnya berseri dan sesekali tersungging senyum di bibirnya. Terkadang dia berlari-lari kecil dan melompat-lompat kegirangan. Hari itu ia mengenakan baju baru. Karena sangat gembira, dia memeluk ayah dan ibunya.
Pada umumnya, kebanyakan penulis lebih terbiasa meletakkan kalimat utama pada awal paragraf. Mungkin hal itu dirasakan lebih mudah daripada meletakkannya pada akhir paragraf. Yang terpenting ialah bahwa suatu paragraf mempunyai gagasan inti. Jika kalimat utama dalam paragraf dibuat secara tersirat atau tidak tersurat, maka hal demikian cocok untuk karangan cerita atau deskripsi khu- sus. Suatu paragraf tentunya mempunyai kalimat utama. Dengan adanya kalimat utama itulah pembaca akan dapat membutiri makna paragraf secara mudah dan tepat. Dengan kata lain, dengan kalimat utama itu pembaca akan memperoleh inti bahasan yang dikemukakan penulis.
Hal yang perlu kita perhatikan ialah bahwa penulis mungkin tidak secara sadar menyatakan dan memikirkan akan adanya kalimat utama dalam paragraf-paragraf yang dibuatnya. Apalagi bagi penulis yang sudah banyak pengalaman, semua bentuk pengungkapan bahasa dalam karangan berjalan lancer sekali, mulai memilih kata, menyusun kalimat, dan sampai membentuk paragraf bagi mereka hal itu keluar dengan sendirinya, bahkan cukup teratur serta mudah untuk dipahami pembaca.
Bagi penulis pemula, sebaiknya mempelajari tentang wujud bahasa karangan yang baik, termasuk cara pembentukan paragraf.
Dengan demikian, tidak akan terjadi tumpang-tindih pikiran utama yang mengisi paragraf. Apabila ada penumpukan kalimat utama dalam sebuah paragraf, hal ini merugikan penulis. Sebaiknya kalimat utama yang lebih dikembangkan lagi menjadi paragraf yang baru. Hal demikian akan berpengaruh pada upaya pengembangan paragraf sebagai perluasan karangan. Dengan demikian, kemacetan penuangan pikiran dapat teratasi, sehingga secara langsung diperoleh hal yang harus diisi dalam paragraf yang akan ditulis.
Sebuah paragraf yang baik harus mempunyai kesatuan, dalam arti bahwa kalimat-kalimat dalam paragraf itu saling berkaitan dan hanya membicarakan satu pokok bahasan. Seluruh kalimat harus mencerminkan kekompakan, tidak ada kalimat yang lepas atau tidak berfungsi. Di samping itu, sebuah kalimat yang baik harus dapat merinci kan pokok pembicaraan secara jelas dan terarah.
Bagaimana kesatuan paragraf yang tertulis berikut ini?
Banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya kenakalan remaja.
Orang tua sebagai lingkungan terdekat harus dapat mendidik anak- anaknya. Pendidikan yang dilakukan harus bijaksana dan memperhatikan serta mengenal ciri-ciri kehidupan remaja. Dengan demikian, diharapkan dapat menekan munculnya berbagai kenakalan remaja. Faktor lingkungan luar keluarga turut memengaruhi pembentukan sikap dan perilaku anak.
Kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan dan pembinaan bagi kehidupan anak tentu harus ditingkatkan. Remaja perlu juga dilatih untuk dapat memanfaatkan waktu sehari-harinya dengan kegiatan yang terarah.
Faktor pemanfaatan waktu ini juga bila tidak diarahkan dapat merupakan penyebab munculnya kenakalan remaja.
Paragraf di atas tidak menunjukkan adanya kesatuan. Gagasan yang ingin ditonjolkan dalam paragraf itu berkisar tentang faktor-
faktor yang melatarbelakangi munculnya kenakalan remaja (tampak pada kalimat awal). Sebenarnya faktor-faktor yang akan disebutkan ada pada paragraf itu, tetapi karena tidak disusun dan dirumuskan secara cermat, maka peran masing-masing kalimat kurang jelas.
Tampak pula adanya suatu pokok pikiran yang seharusnya tidak baik untuk dimasukkan, ada dalam paragraf itu. Kalimat “Pendidikan yang dilakukan harus bijaksana dan memerhatikan serta mengenal cirri-ciri kehidupan remaja” sebaiknya dilepas, bahkan mungkin dapat diuraikan dalam paragraf lain.
Paragraf tersebut dapat kita perbaiki sehingga mempunyai kesatuan seperti dibawah ini.
Banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya kenakalan remaja. Peran orang tua atau keluarga merupakan faktor utama yang memengaruhi tingkah laku seorang remaja. Faktor lingkungan pergaulan remaja di luar keluarganya sedikit banyak memengaruhi munculnya kenakalan remaja itu sendiri. Faktor lain yang cukup besar pengaruhnya adalah tentang pemanfaatan waktu, yang apabila tidak diisi dengan kegiatan positif, tentu membuka kemungkinan timbulnya perilaku-perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Selanjutnya, bagaimana kejelasan urutan pikiran dalam para- graf di bawah ini?
Orang tua perlu menyediakan buku cerita bagi anak-anaknya. Ada banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh anak-anak bila mereka gemar membaca cerita-cerita. Dengan kegiatan ini, anak dapat mengisi waktu- nya sebaik mungkin dan tidak melupakan kesempatan mereka untuk bermain dan bergaul dengan teman-temannya. Membaca buku cerita yang bermutu dan sesuai dengan tingkat usia anak dapat mendorong mereka untuk memulai hidup teratur, tertib, dan memupuk rasa kemanu- siaan yang tinggi, yang mampu menyerap pesan-pesan berharga dari setiap cerita yang dibacanya dapat menjadikannya sebagai bahan renungan dan teladan dalam berbuat.
Paragraf di atas perlu diperbaiki dan kalimat-kalimatnya harus ditata sehingga lebih jelas serta gagasannya akan mudah dipahami.
Perbaikannya sebagai berikut:
Orang tua perlu menyediakan buku cerita bagi anak-anaknya.
Banyak manfaat yang dirasakan oleh anak-anak bila mereka gemar membaca buku cerita. Dengan kegiatan itu, anak-anak dapat mengisi
waktunya sebaik mungkin, walaupun tak dilupakan kesempatan mereka untuk bermain dan bergaul dengan teman-temannya. Membaca buku cerita yang bermutu dan sesuai dengan tingkat usia anak dapat mendorong mereka untuk memulai hidup teratur, tertib, dan memupuk rasa kemanusiaan yang tinggi. Anak-anak yang mampu menyerap pesan-pesan berharga dari setiap cerita yang dibacanya dapat menjadikannya sebagai bahan renungan dan teladan dalam berbuat.
Apa guna paragraf yang kurang jelas urutan pikirannya? Harus- kah kita perbaiki? Memang tampak sepele, padahal untuk menentu- kan sampai tidaknya gagasan yang diungkapkan melalui paragraf, terasa cukup sulit. Karena itu, perlu peninjauan kembali terhadap paragraf yang kita tulis apakah sudah cukup jelas atau masih meragu- kan?
Keteraturan pengemukakan pokok-pokok pikiran utama dan penjelasan-penjelasannya dalam karangan merupakan ciri bahasa karangan yang komunikatif (tersambung). Apabila semua paragraf telah menunjukkan kesatuan dan ketepatan dalam urutan pikirannya, maka secara langsung mencerminkan keutuhan bagian demi bagian karangan. Bukankah secara lahiriah karangan itu merupakan kum- pulan paragraf? Karena kedudukan paragraf sangat penting, seorang penulis perlu menguasai cara pembentukan dan pengembangannya.
Berikut ini dikemukakan tentang upaya pengembangan paragraf yang dapat dipraktikkan dalam rangka membuat karangan.
a. Pengembangan paragraf dengan memberikan contoh-contoh Seorang penulis dapat mengembangkan paragraf dengan memberikan suatu keterangan atau penjelasan berupa contoh-contoh untuk memperkuat gagasan yang disampaikannya. Memang, para pembaca akan merasa puas bila yang diserap nya dari karangan disertai contoh. Tidak jarang bahwa pemberian contoh menjadi suatu keharusan. Mari kita perhatikan paragraf di bawah ini.
Kegiatan pramuka sudah memasyarakat sampai ke desa-desa terpencil. Misalnya, di Desa Tambangan sudah banyak anak-anak yang aktif menjadi anggota pramuka. Mereka mengadakan latihan setiap Sabtu sore di halaman balai desa. Warga desa merasa bangga dengan adanya kegiatan pramuka itu. Sebelum itu anak-anak Desa Tambangan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain bebas dan tidak terarah.
Sekarang, setelah mereka menjadi anggota pramuka, mereka belajar dan
bermain teratur. Selain itu, dampak positif yang dapat dirasakan masya- rakat, di antaranya, anak-anak desa sudah pandai mengabdikan dirinya kepada masyarakat melalui kegiatan aksi kebersihan jalan dan tempat- tempat ibadah.
b. Pengembangan paragraf dengan memberikan fakta-fakta
Pemberian fakta-fakta juga salah satu cara dalam mengem- bangkan paragraf. Fakta sebagai suatu kenyataan atau peristiwa yang benar-benar terjadi dapat berfungsi sebagai penjelas, penguat dan pemadat suatu paragraf. Untuk itu, seorang penulis perlu menyer- takan fakta untuk mendukung setiap gagasan yang akan disampai- kannya kepada pembaca. Mari kita perhatikan paragraf di bawah ini.
Siswa SMA Sumber Ilmu Daha Utara tergolong siswa yang giat belajar. Mereka membentuk kelompok-kelompok belajar pada setiap kelas. Mereka mengadakan kegiatan belajar kelompok dua kali seminggu yaitu setiap Sabtu sore dan Rabu sore. Tempat mereka belajar tidak menetap, ada kalanya di rumah, di balai desa, dan ada kalanya di kebun.
Sesekali guru mereka ikut dalam kegiatan belajar itu untuk memberikan bimbingan dan semangat kepada para siswa.
c. Pengembangan paragraf dengan memberikan alasan-alasan Alasan merupakan keterangan atau dasar yang kuat untuk lebih mengukuh suatu pendapat, pernyataan atau hal tertentu. Karena itu, alasan amat berguna untuk mengembangkan suatu paragraf.
Semakin mantap alasan yang dikemukakan, semakin utuh suatu paragraf.
Ketetapan alasan yang dikemukakan penulis akan dapat meng- hilangkan keraguan dan tanda tanya pembaca. Dengan alasan yang kuat, kita mampu menghindari penguraian yang setengah-setengah.
Sudah merupakan hal wajar bila pembaca ingin memperoleh penje- lasan yang lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, setiap-setiap penulis harus terlatih dalam menyampaikan alasan- alasan. Alasan akan mengisi dan menentukan upaya pengembangan paragraf. Hal itu bukan berarti bahwa pemberian alasan yang dipakai itu memegang diperlukan pemuatannya dalam paragraf. Marilah per- hatikan paragraf berikut.
Guru adalah orang digugu dan ditiru. Ungkapan itu menunjukkan bahwa guru sumber keteladanan tindak-tanduk atau pola anutan, khususnya bagi anak didik. Karena itu, predikat guru yang melekat pada seseorang mengandung tanggung jawab moral yang besar. Sebab, bagaimanapun seorang guru harus dapat membina kepribadian dirinya semapan mungkin agar bisa diteladani anak didiknya. Jelaslah bahwa untuk men- jadi guru yang baik, guru yang patut dijadikan cermin bagi anak didiknya, bukanlah hal yang mudah. Seorang guru harus dapat menilai kemampuan dan keberadaannya agar mampu meningkatkan kualitas kepribadiannya.
Semua tuntutan dan sikap yang harus dijiwai oleh guru itu mengharuskan dirinya untuk menjaga sebutan yang diberikan kepadanya, yakni sebagai panutan bagi anak didiknya.
d. Pengembangan paragraf dengan cara bercerita
Seorang penulis dapat membeberkan suatu peristiwa dengan bercerita untuk mengembangkan paragraf. Dengan bercerita, kita dapat lebih menghidupkan suatu peristiwa atau kejadian sehingga pembaca merasa lebih yakin dan tersentuh pikiran dan perasaannya.
Tentu saja cerita yang disajikan merupakan cerita yang menarik dan mampu menimbulkan kesan, seakan-akan pembaca menyaksikan sendiri kejadian yang disampaikan itu. Dalam karya sastra pengembangan paragraf dengan cara demikian sangat kuat, bervariasi dan tidak menjenuhkan. Mari kita perhatikan paragraf berikut ini.
Mereka telah melewati Desa Muning. Kini jalan tampak berbatu- batu dan banyak berlubang. Mobil yang mereka tumpangi berjalan perlahan. Sopir mobil beberapa kali membelokkan mobil untuk menghindari bagian jalan yang berlubang. Di kiri kanan jalan terhampar sawah nan luas menghijau. Sungguh indah pemandangan itu sehingga guncangan mobil ketika menerpa batu yang agak besar atau tergeser ke lubang jalan, seolah-olah tak terasa. Itulah Desa Muning, 7 Km Dari Kota Negara.
e. Pengembangan paragraf dengan cara membandingkan dan mempertentangkan
Seorang penulis dapat membandingkan dan mempertentangkan antara hal yang satu dengan hal yang lain, antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain, dan sebagainya. Dengan cara begitu, akan jelas keberadaan suatu hal, benda dan lain-lain yang menjadi sorotan
penulis. Untuk membandingkan dan mempertentangkan, diperlukan daya pemikiran dan pengamatan yang cermat agar pembaca betul- betul dapat mengenal dan memahami hal yang dibicarakan penulis.
Bila kita membandingkan dan mempertentangkan sesuatu, berarti kita tidak mengungkapkan ciri-ciri dan batas-batas hal yang kita bicarakan.
Penulis harus mampu memanfaatkan cara tersebut dalam rang- ka mengembangkan suatu paragraf. Mungkin penulis dapat dengan panjang lebar melakukan perbandingan dan pertentangan terhadap pokok pembicaraan dalam suatu paragraf sehingga paragraf menjadi lebih luas dan hidup. Dengan cara demikian , akan terpenuhi hasrat setiap pembaca yang suka membandingkan dan mempertentangkan suatu benda kemudian berpindah ke benda lain.
Dengan cara memperbandingkan dan mempertentangkan, penulis dapat mengajak pembaca untuk memilih dan menilai hal-hal yang patut diambil, disenangi, maupun dibuang untuk dijadikan sekadar pengetahuan. Untuk memperjelas perbandingan dan perten- tangan itu, penulis hendaknya mampu mengungkapkan hal yang diperbandingkan dan dipertentangkan itu dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak bertele-tele, dan sesuai dengan pertimbangan akal sehat. Marilah kita perhatikan paragraf berikut ini:
Roman lebih panjang daripada novel, sedangkan novel lebih panjang daripada cerpen. Roman menceritakan seluruh kehidupan tokohnya dari kecil sampai mati, novel menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang yang menimbulkan pergolakan jiwa sehingga mengubah nasib hidup tokohnya, dan dalam cerpen hanya menceritakan suatu kejadian hidup yang luas. Dalam cerpen terjadi pergolakan jiwa(krisis) tetapi tidak mengakibatkan perubahan nasib sang tokoh.
Roman dan novel terdiri dari beberapa alur, bahkan memungkinkan adanya degresi. Cerpen hanya terdiri dari satu alur cerita. Roman terdiri atas beberapa bagian dan bab, sedangkan pada novel dan cerpen tidak.
Roman menceritakan perihal tokoh-tokohnya secara panjang lebar mengenai perbuatan lahirnya dan perbuatan batinnya. Novel melukiskan watak dan perbuatan tokoh-tokohnya tidak mendalam. Cerpen menceritakan kejadian atau tokoh-tokohnya tidak mendalam. Cerpen menceritakan kejadian atau tokoh-tokohnya dengan singkat, hanya diambil sarinya (dikutip dari buku Penuntut Pelajaran Bahasa Indonesia oleh Dra. Suparni, 1987, dengan perubahan seperlunya).
f. Pengembangan paragraf dengan penguraian dari hal yang umum ke hal yang khusus dan dari hal yang khusus ke hal yang umum
Penulis biasanya menggunakan kedua cara tersebut dalam mengembangkan suatu gagasan yang membentuk paragraf-paragraf.
Dengan kata lain, ada dua kemungkinan yang harus dipilih: apakah ia lebih dahulu mengemukakan hal yang paling penting atau utama, kemudian mengemukakan hal yang bersifat penjelas, atau sebaliknya.
Itulah yang disebut pengembangan paragraf dari umum ke khusus dan dari khusus ke umum. Kedua cara demikian berkaitan dengan penempatan kalimat utama dalam paragraf. Bila kalimat utama ter- letak pada awal paragraf, ini disebut penguraian dari umum ke khusus;
dan bila kalimat utama terletak pada akhir paragraf, ini disebut penguraian dari khusus ke umum.
Berikut ini adalah contoh paragraf dengan penguraian dari umum ke khusus.
Tak ada bahasa yang sama di dunia ini. Bukan hanya bahasa Inggris berbeda dari bahasa Rusia, Bahasa Cina dan Bahasa Indonesia, tetapi juga Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Batak Toba, Bahasa Makasar, dan 200 bahasa lain di Indonesia ini berbeda-beda. Salah satu prinsip linguistik ialah bahwa tidak bahasa merupakan sistem yang unik; kaidah yang berlaku bagi suatu bahasa belum tentu kena bagi bahasa lain. Tiap bahsa mempunyai pola bunyi, pola bentuk, pola makna, perbendaharaan kata yang khas dengan kaidahnya yang khas pula. Contoh: Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Bali, Bahasa Madura, dan Bahasa Sasak membeda- kan tingkat-tingkat bahasa menurut stratifikasi sosial yang berlaku dalam masyarakat masing-masing. Tingkat-tingkat bahasa itu tidak bisa diterje- mahkan dalam bahasa-bahasa lain yang tidak mempunyai sistem itu, dalam Bahasa Melayu misalnya. Kecuali itu, tingkat-tingkat bahasa yang ada dalam Bahasa Jawa tidak sama dengan yang ada dalam Bahasa Bali serta dengan yang lainnya. ( dikutip dari buku Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa oleh Harimurti Kridalaksana).
Contoh paragraf dengan penguraian dari khusus ke umum dapat dilihat berikut ini.
Jika kita akan menulis suatu karangan ilmiah, maka kita perlu memer- hatikan tentang kelogisan hal-hal yang dikemukakan dalam karangan.
Segala penjelasan atau penguraian harus dapat diterima dengan cara berpikir yang benar. Kesistematisan hal-hal yang dimuat dalam karangan
juga merupakan faktor penting keutuhan suatu karangan ilmiah. Dari situ tampak diperlukan adanya kaitan dan kesinambungan setiap gagasan yang diungkapkan. Dengan demikian, akan dapat terjalin suatu urutan yang tepat sehingga dapat memberikan kemudahan kepada pembaca dalam menyerap isi karangan. Hal yang perlu diperhatikan ialah tentang kelugasan bahasa dan penyajian yang digunakan agar tidak terjadi kesim- pangsiuran penafsiran. Ketiga hal itu, yakni kelogisan, kesistematisan, dan kelugasan karangan merupakan faktor penentu utama untuk dapat tidaknya suatu karangan merupakan faktor penentu utama untuk dapat tidaknya suatu karangan dipahami dan diserap pembaca.
Dari uraian tersebut jelas bahwa banyak cara yang dapat dipa- kai penulis untuk membentuk dan mengembangkan paragraf yang merupakan isi karangan. Cara lain yang sering berkaitan dan kadang- kadang satu paragraf terdapat dua atau lebih cara yang dipakai penulis dalam mengembangkan paragraf, antara lain: dengan mema- parkan suatu proses, dengan mengemukakan hal-hal yang kurang penting beranjak ke hal yang amat penting, atau sebaliknya, dengan memakai sebab-akibat atau akibat-sebab. Kita tidak harus terikat pada satu cara saja, kita bebas menggunakan cara-cara itu dalam karangan.
Kevariasian dalam pengembangan paragraf akan dapat mem- buat daya tarik pembaca terhadap keseluruhan bahasa dalam ka- rangan. Jika sudah terlatih, penulis dapat dengan lancar membentuk dan mengembangkan paragraf tanpa harus berpikir tentang cara yang harus dipakainya. Ada baiknya bagi penulis pemula untuk lebih banyak meneliti paragraf-paragraf yang ditulis oleh penulis kenamaan agar mampu mengisi diri untuk cepat dan tepat dalam mengembang- kan paragraf.
Apabila kita ingin mengembangkan suatu paragraf, langkah awal ialah dengan menentukan hal yang akan dimuat dalam paragraf itu. Sebuah paragraf yang sudah terbentuk hendaknya dapat memacu diri kita untuk menciptakan paragraf-paragraf baru. Jangan sampai terjadi setelah kita selesai menulis satu paragraf lantas macet total, sehingga lama sekali untuk bisa membentuk paragraf baru. Dengan demikian, kita selalu berusaha agar ide-ide itu perlu kita inventarisasi secermat mungkin supaya tidak terlewatkan atau terlupakan. Dari situ dapat dikatakan bahwa yang disebut mengarang merupakan suatu kerja mengorganisasikan dan mewujudkan berbagai ide.