• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

E. Particulate Matter

Particulate Matter merupakan salah satu pencemar udara menurut PP Nomor 22 Tahun 2021. Particulate Matter (PM) adalah campuran kompleks partikel padat dan cair yang tersuspensi di udara. Particulate Matter merupakan debu partikulat

28 yang dibedakan berdasarkan ukurannya yaitu PM2,5 dan PM10. PM merupakan jenis polutan yang berbahaya karena dapat mengakibatkan penyakit dan kematian akibat polusi udara (Arba, 2019). Konsentrasi dan penyebaran Particulate Matter disebabkan oleh proses disperse dan difusi (Aprianto dkk, 2018). Menurut Salim (2014), proses pembentukan partikulat di udara terdiri dari beberapa fase:

1. Pengintian (nukleasi) partikulat dari gas bertekanan uap rendah yang diemisikan atau yang terbentuk di atmosfir oleh reaksi kimia

2. Kondensasi gas bertekanan uap rendah pada partikulat yang ada 3. Koagulasi partikulat

Oleh karena itu partikulat di udara kemungkinan dapat berisi partikulat dari berbagai sumber. Partikulat dari sumber tertentu dapat tersusun dari campuran komponen kimia dan partikulat dari sumber berbeda dapat terkoagulasi menjadi bentuk partikulat baru, maka partikulat di udara dapat dianggap sebagai satu campuran dari berbagai campuran.

Menurut Departemen Kesehatan RI yang dikutip oleh Sitepu (2002), partikulat di udara mempunyai sifat:

1. Sifat Pengendapan

Adanya sifat partikulat yang cenderung selalu mengendap proporsi partikel yang lebih daripada yang ada di udara

2. Sifat Permukaan Basah

Permukaan partikulat akan cenderung selalu basah, dilapisi oleh lapisan air yang sangat tipis. Sifat ini penting dalam pengendalian partikulat.

3. Sifat Penggumpalan

Oleh karena permukaan partikulat yang selalu basah maka dapat menempel antara debu satu dengan yang lainnya sehingga menjadi menggumpal. Turbulensi udara membantu meningkatkan pembentukan gumpalan.

4. Sifat Listrik Statis

Sifat listrik statis yang dimiliki partikulat dapat menarik partikel lain yang berlawanan sehingga mempercepat terjadinya proses penggumpalannya.

29 5. Sifat Optis

Partikulat yang basah/lembab dapat memancarkan sinar sehingga dapat terlihat di dalam ruangan yang gelap

Partikulat terdiri dari ion organik, senyawa logam, elemen karbon, senyawa organik dan senyawa lainnya. Beberapa partikulat tersebut bersifat higroskopis dan berisi partikulat yang terikat air. Partikulat organik terutama yang berbentuk kompleks, berisi ratusan sampai ribuan senyawa organik. Partikel primer secara langsung diemisikan dari sumber, sedangkan partikulat sekunder terbentuk dari gas melalui reaksi kimia dalam atmosfer. Reaksi kimia dalam atmosfer tersebut meliputi oksigen di atmosfir (O2) dan uap air (H2O), zat reaktif seperti ozon (O3), senyawa radikal seperti hidroksi radikal (COH) dan nitrat radikal (CNO3), serta zat polutan (SO2, NOx, dan gas organik dari alam maupun hasil kegiatan manusia).

Ukuran adalah faktor yang menentukan sifat partikulat. Ukuran umumnya dinyatakan dalam diameter aerodinamika yang mengacu pada kepadatan unit partikulat berbentuk bola (US.EPA, 2004).

Penyebaran partikulat dipengaruh oleh beberapa faktor meteorologi seperti (Sukmawati, 2023):

1. Suhu

Terjadinya perubahan suhu yang terjadi karena peningkatan ketinggian.

Hal tersebut menyebabkan udara dingin terperangkap sehingga kandungan pencemar meningkat.

2. Kecepatan angin

Semakin cepat kecepatan angin maka semakin kecil konsentrasi pencemar karena angin membawa zat pencemar ke segala arah sehingga terdispersi.

3. Kelembaban

kelembaban udara yang tinggi uap air dapat bereaksi dengan polutan.

Kondisi udara yang lembab akan membantu proses pengendapan polutan, sebab dengan keadaan udara yang lembab, beberapa polutan yang berbentuk partikel seperti debu akan berikatan dengan air yang ada di udara dan membentuk partikel yang berukuran lebih besar sehingga mudah mengendap ke permukaan bumi akibat adanya gaya tarik bumi.

30 4. Hujan

Merupakan pelarut zat pencemar diudara oleh karena itu semakin tinggi curah hujan maka konsentrasi zat pencemar akan mengalami penurunan.

PM10 merupakan partikulat yang berukuran lebih kecil daripada 10 m. PM10

terdiri dari partikel halus berukuran kecil dari 2,5 m dan sebagian partikel kasar yang berukuran 2,5 m sampai 10 m. Partikel-partikel ini terdiri dari berbagai ukuran, bentuk, dan ratusan bahan kimia yang berbeda. PM10 berasal dari debu jalan, debu konstruksi, pengangkutan material, buangan kendaraan, dan cerobong asap industri, serta aktivitas crushing dan grinding (US.EPA, 2013). Sistem Pemantauan Lingkungan Global yang disponsori PBB memperkirakan pada 1987 ba hwa 70% penduduk kota di dunia hidup dengan partikel yang mengambang di udara melebihi ambang batas yang ditetapkan WHO. PM10 merupakan salah satu bahan pencemar udara yang digolongkan ke dalam kelompok pencemar primer (primary polutant), yaitu bahan pencemar yang diemisikan langsung ke udara dari sumber cemaran (Wijayanti, 2010). Sumber-sumber PM10 sering kali lebih sporadis dan terkait dengan aktivitas seperti debu jalanan, konstruksi, penambangan, dan aktivitas industri yang menghasilkan partikel lebih besar. Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu udara ambien untuk PM10

dengan waktu pengukuran 24 jam ialah 75 µg/m3. PM10 dapat menyebabkan berbagai penyakit pada pernapasan bahkan dapat menyebabkan kematian. Paparan PM10 dalam waktu yang lama juga dapat menyebabkan gejala gangguan pernapasan bawah, asma, penurunan fungsi baru bahkan kematian (WHO, 2011 dalam Saputra dkk, 2019). Pada konsentrasi PM10 yang mencapai 140 µg/m3 dapat menurunkan fungsi paru-paru pada anak-anak dan pada konsentrasi 350 µg/m3 dapat memperparah kondisi penderita bronchitis (Anggraeni dkk, 2021).

Kerusakan kesehatan akibat PM10 tergantung pada lamanya kontak, konsentrasi partikulat dalam udara, jenis partikukat itu sendiri dan lain-lain (Agusnar, 2008).

PM2.5 merupakan partikel dengan diameter 2.5 m atau lebih kecil sehingga mudah untuk terhirup. Partikel ini lebih sering berasal dari pembakaran bahan bakar, seperti emisi kendaraan bermotor, pembangkit listrik, dan pembakaran biomassa. Sumber ini menghasilkan partikel yang lebih kecil dan seringkali lebih konsisten dalam emisi (Hastiti, 2012). Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021,

31 baku mutu udara ambien untuk PM2.5 ialah 55 µg/m3. PM2.5 yang masuk ke dalam alveolus di paru paru dapat melemahkan sistem pernapasan manusia dari pertukaran udara di paru-paru kemudian terikat oleh darah. Partikulat yang masuk ke dalam saluran pernapasan dapat mengendap dan menyebabkan berbagai gangguan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) (Sembiring, 2020).

PM2.5 dapat dengan mudah terhirup oleh manusia yang dapat terjebak didalam bronkus dan alveolus paru-paru setelah memasuki rongga pernafasan. Hal ini dapat menimbulkan bahaya lebih besar bagi kesehatan manusia dibandingkan dengan partikulat yang berukuran lebih besar dari 2,5 μm. Paparan berlebih terhadap partikulat pada manusia dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi pernafasan dan dapat memperparah penyakit pernafasan yang ada, seperti asma dan bronkitis kronis (Adams dkk, 2014).

Ada tiga cara masuknya bahan polutan seperti PM10 dan PM2.5 dari udara ke tubuh manusia yaitu melalui inhalasi, ingesti dan penetrasi kulit. Inhalasi bahan polutan udara ke paru-paru dapat menyebabkan gangguan pada paru-paru dan saluran nafas. Refleks batuk juga akan mengeluarkan bahan polutan dari paru- paru yang kemudian bila tertelan akan masuk ke saluran pencernaan. Permukaan kulit juga dapat menjadi pintu masuk bahan polutan di udara khususnya bahan organik yang dapat melakukan penetrasi kulit dan dapat menimbulkan efek sistemik.

Dokumen terkait